
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Di depan mata sendiri kini Arsy melihat bahwa suaminya telah menduakan dirinya. Air matanya seketika tumpah ketika dia masih berada di salah satu tokoh tekstil dan melihat suami yang tengah berduaan dengan seorang perempuan di salah satu rumah makan tepat berada di depan toko tekstil tersebut.
Kemarin dia masih tidak ingin mempercayai semua karena dia belum melihat dengan matanya sendiri, tetapi sekarang semuanya sangat jelas bagaimana kedekatan mereka berdua. Dan ternyata benar, mereka sudah seperti sepasang suami istri yang tidak malu mengumbar kemesraan di depan semua orang.
Keduanya bahkan saling menyuapi satu sama lain, mereka juga tersenyum dan terlihat begitu bahagia tanpa memperdulikan penderitaan Arsy saat ini. Mereka memang tidak melihat, tapi jika melihat pun pasti mereka akan tetap acuh dan tidak peduli.
"Kenapa kamu begitu tega Mas?" gumam Arsy. Air matanya terus mengalir begitu deras membasahi pipinya.
"Nak, ada apa?" tanya seorang ibu-ibu yang mau masuk dan melihat Arsy dalam keadaan menangis.
"Hem, tidak apa-apa. Hanya kelilipan saja," cepat Arsy menghapus air matanya, dia tidak ingin sampai kesedihannya dilihat oleh semua orang. Apalagi mereka akan tahu nasib buruknya yang ternyata diduakan oleh suaminya sendiri.
"Beneran? atau mungkin kami sakit?" tanyanya begitu perhatian.
Arsy menggeleng, "Tidak, Bu. Hem, saya pamit Bu, Assalamualaikum."
Arsy begitu bergegas pergi dari hadapan Ibu tersebut, entah akan dibawa ke mana hatinya yang begitu hancur saat ini. Apakah mungkin akan menemui suami dan selingkuhannya itu, atau pulang dan menyimpan sendiri dukanya.
"Wa'alaikumsalam," Ibu tersebut masih fokus melihat Arsy yang sudah berlalu dan semakin jauh darinya. Tatapannya berpindah ke arah rumah makan yang ada di seberang jalan, sangat jelas ada sepasang laki-laki dan perempuan yang terlihat begitu mesra.
"Apakah karena mereka?" gumamnya menebak.
"Ah, itu urusan mereka sendiri. Tapi jika benar semoga dia di beri kekuatan." ibu itu kembali melanjutkan langkah, masuk ke toko untuk membeli apa yang menjadi tujuannya datang.
...****************...
Arsy bisa saja mendatangi Adi dan langsung mempermalukan dirinya di sana karena telah berselingkuh dari dirinya, tetapi itu bukanlah pilihan yang tepat bagi dirinya karena dia malah lebih memilih pulang. Dia tidak akan mempermalukan orang lain Apalagi itu suaminya sendiri.
Bodoh. Mungkin itulah kata orang jika mereka tahu apa yang terjadi kepada Arsy. Dan yang jelas mereka akan melakukan yang berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan sekarang.
Arsy terus menangis setelah berada di dalam kamar, menyembunyikan kesedihannya yang begitu besar. Dia juga terus berpikir, menimang-nimang apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus menunggu uangku kumpul dulu baru aku bisa mengambil keputusan. Aku tidak akan mungkin membawa Laili pergi dari sini tanpa ada bekal apapun." ucapnya.
Di hapus air matanya dengan sangat cepat, dia harus bisa membuat pipinya kering.
__ADS_1
"Arsy!" teriakan dari luar begitu sangat lantang membuat Arsy terkejut dan langsung berlari keluar untuk melihat siapa yang memanggil. Betapa malasnya setelah melihat siapa yang datang, dia adalah Rani sang menantu kebanggaan.
"Mbak, ada apa?" tanya Arsy datar.
"Nih ambil! aku punya baju nggak kepake sayang kalau aku buang. Kamu pasti masih membutuhkannya."
Dengan begitu sadis Rani melemparkan sepotong baju kepada Arsy, jelas aja baju tersebut langsung mendarat tepat di tubuh Arsy yang reflek menangkapnya.
Bukan hanya perlakuan dari mertuanya, suaminya bahkan juga dari sesama menantu Arsy tidak mendapatkan sikap baik. Semuanya memandang rendah Arsy yang hanya lulusan SD dan tidak memiliki pekerjaan apapun, juga mereka yakini tidak memiliki penghasilan apapun.
"Kamu kan tidak akan mungkin bisa beli baju mahal, jadi daripada aku buang lebih baik kamu pakai. Benar kan?"
Dengan begitu angkuhnya Rani duduk di kursi ruang tengah dan langsung menyandarkan punggung juga menopang satu kakinya ke atas kaki yang lain. Sungguh, Arsy tidak menyukai perlakuan Rani kepadanya.
"Maaf, Mbak. Saya tidak membutuhkan baju Mbak. Saya tidak punya baju seperti ini bukan karena saya tidak mampu beli, tapi karena saya memang tidak suka dengan baju yang kurang bahan seperti ini. Lebih baik simpan saja bajunya, mungkin suatu saat mbak akan membutuhkannya."
Arsy begitu berani. Dia langsung melemparkan kembali baju yang Rani berikan pada pemiliknya.
Mata Rani seketika membulat sempurna, melotot dengan begitu tidak suka ke arah Arsy yang kini sudah berani menjawab perkataannya.
"Sombong sekali kamu ya! miskin saja sok berlagak kaya, memang bisa kamu bisa beli baju seperti ini? uang dari mana! ngepet!" sorak Rani tak suka.
"Nih ambil!" kembali Rani melemparkan baju tersebut.
"Baiklah, Mbak. Kalau memang Mbak sudah tidak membutuhkannya maka bajunya saya terima. Dan saya ucapkan banyak terima kasih karena bajunya akan bermanfaat di sini.''
"Heh, miskin saja sok berlagak!" Rani kembali bicara dengan begitu angkuh. Dia begitu nyinyir apalagi setelah Arsy menerima baju tersebut.
Arsy berjalan menuju arah pintu masuk dengan membawa baju pemberian dari Rani tersebut, dan meletakkannya di tengah-tengah pintu.
"Nah, bajunya akan lebih bermanfaat di sini." ucap Arsy. Arsy beberapa kali menginjak baju tersebut sebelum dia pergi dari sana. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal yang seperti itu, tetapi Rani yang selalu merendahkan itulah yang membuat dirinya tergerak dan melakukannya.
Mata Rani membulat sempurna saat melihat apa yang telah Arsy dilakukan pada bajunya tersebut. Jelas saja dia marah karena bajunya hanya digunakan sebagai keset oleh Arsy.
"Arsy, berani sekali kamu melakukan itu!" teriak Rani begitu lantang, menghentikan langkah Arsy yang ingin masuk ke dapur.
"Kenapa Mbak marah, lagian baju itu sudah tidak pergunakan untuk Mbak. Jadi itulah kegunaan baju itu sekarang, hanya pantas untuk menjadi keset saja."
__ADS_1
Mata Rani semakin membulat dan sangat lebar. Dia sangat marah kepada Arsy karena perlakuannya.
Ingin sekali dia menghina Arsy dengan kebodohan dan juga kemiskinannya, tapi ternyata sekarang Arsy tidaklah sebodoh yang dia pikirkan yang seperti dulu lagi. Entah dapat keberanian dari mana hingga Arsy selalu saja bisa menentang dan menjawab semua perkataannya.
"Arsy!" pekik Rani begitu marah.
Arsy sama sekali tidak peduli dengan Rani sekarang yang sudah beranjak berdiri dari tempat dia duduk barusan, tidak peduli bagaimana mata dan raut wajahnya karena Arsy lebih memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang sebelum Laili pulang dari sekolah.
"Kurang ajar! awas kamu ya Arsy!"' dengan kasar Rani menyambar tasnya sendiri yang masih ada di atas kursi, dia langsung melenggang pergi begitu saja dari tempat tersebut dan bergegas keluar.
Sampai di pintu Rani ingin menendang bajunya tadi, Dia sangat kesal tapi justru kekesalannya itu yang membuat dirinya harus terjatuh karena keserimpet.
Brukk!
"Aww!" pekiknya yang kesakitan. Langsung tangannya menyentuh tulang belakangnya sendiri karena begitu sakit.
Arsy yang mendengar langsung berlari namun tidak keluar. Dia hanya melihat saja apa yang terjadi dan menutup mulutnya karena tak mampu menahan tawa.
"Awas loh!" mata Rani begitu tajam, dia melihat Arsy yang telah menertawakannya.
"Butuh bantuan Mbak?" tanya Arsy tanpa mendekat.
"Awas kau ya!" hanya itu yang Rani katakan. Dia perlahan berdiri meski dengan susah dia bisa berhasil. Rani berlalu pergi dengan mengendarai motor maticnya yang berwarna putih itu.
"Astaghfirullah,, hahaha!" terlepas juga tawa Arsy setelah Rani pergi.
"Itulah balasan kalau jadi orang yang sombong, sok paling kaya di dunia." ucap Arsy. "Kena batunya sendiri kan?"
Sedikit terobati rasa sakit yang ada di dalam hati Arsy, meskipun niatnya Rani datang hanya untuk menghinanya tapi pada akhirnya malah memberikan hiburan untuk dirinya dan membuat dia tertawa. Sungguh, Allah selalu memberikan cara yang tidak disangka untuk menghibur hati yang tengah terluka.
"Assalamu'alaikum." sapa Laili ketika masuk.
"Wa'alaikumsalam." Arsy kembali menoleh, padahal baru saja dia ingin membalikan badan dan kembali ke dapur ternyata anaknya sudah pulang.
Tersita sudah waktu Arsy, seharusnya makan siang sudah matang tapi karena kedatangan Rani semuanya jadi kacau.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
__ADS_1
Bersambung...