
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Frans Samuel. Laki-laki berusia 30 yang sampai sekarang belum juga memiliki pendamping dalam kehidupannya. Bukan berarti tak ada wanita yang ingin dekat dengannya, ada! tapi dia yang belum merasa sangat cocok.
Hanya satu perempuan yang benar-benar dia harapkan dalam hidupnya, yaitu Arsy. Perempuan yang kini menjadi istri orang. Tapi bukan berarti Frans Samuel egois dan memaksa ingin memiliki, tidak! Bisa melihat perempuan yang di sukai saja bahagia dia sudah sangat bahagia.
Saat jauh rasanya sangat rindu, tapi saat dekat lidah rasanya sangat kelu untuk bicara. Niatnya untuk memberitahu apa yang di lakukan oleh suami Arsy sekarang dia malah diam menunduk.
Frans Samuel yang bekerja di salah satu perusahaan besar di kota dengan jabatan sebagai seorang manajer, dia hanya akan pulang di hari sabtu sore dan akan kembali di saat minggu siang, itulah kegiatannya.
"Mas, Mas mau mengatakan apa pada Arsy?" tanya Arsy sangat penasaran. Berusaha menatap wajah laki-laki itu yang perlahan juga mengangkat wajahnya.
Di desanya tersebut dia lebih di kenal dengan nama Frans, tapi tidak dengan Arsy yang selalu memanggilnya Sam. Entah, tapi Arsy sangat menyukai nama itu.
"Hem, kemarin aku melihat Mas Adi." ucapnya memulai.
"Jelas Mas Sam akan melihatnya, Dia ada dimana-mana kalau siang." Arsy tersenyum.
"Bukan begitu Arsy, tapi... tapi dia bersama dengan perempuan lain." jawabnya dengan semakin menjelaskan.
Arsy langsung terdiam, menghilangkan senyumnya yang tadi begitu manis. Wajahnya seketika berubah sedih, jelas saja Adi berjalan dengan selingkuhannya.
"Kenapa, apakah kamu sudah mengetahuinya kalau Mas Adi ternyata menduakan mu?"
Hembusan nafas panjang keluar dari hidung Arsy, rasanya sangat berat namun tetap berhasil keluar.
"Dia hanya temannya Mas Adi," jawab Arsy menutupi. Seperti apapun Adi masih saja dia ingin menutupi aib suaminya, entah apa yang telah dia pikirkan.
"Tidak mungkin mereka hanya teman, Arsy. Mereka terlihat sangat mesra, bukan seperti teman tetapi malah seperti suami istri." Sam begitu menjelaskan.
'Apakah sudah sedekat itu hubungan mereka? apakah Mas Adi benar-benar sudah ingin melepaskan ku demi perempuan itu? kalau benar aku harus kemana?' batin Arsy pilu.
Tidak mungkin dia akan pergi ke tempat kakaknya, dia juga memiliki tanggung jawab atas keluarganya bahkan orang tuanya jiga di sana, bagaimana mungkin Arsy akan menambah beban lagi untuk kakaknya.
Arsy terdiam, namun tidak dengan pikirannya yang begitu berontak karena rasa sakit yang begitu besar.
"Arsy, kamu tidak apa-apa?" tanya Sam khawatir.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa," bohongnya. Tidak mungkin ada orang yang akan baik-baik saja jika mengetahui bahwa suaminya telah berselingkuh darinya.
"Terus apa yang akan kami lakukan?" Sam kembali bertanya.
"Entah, Arsy bingung." jawab Arsy tak banyak. Dia tidak ingin mengatakan semua sukanya pada seorang laki-laki, tidak ingin kalau nanti akan ada fitnah di dalamnya,a atau ada niat-niat buruk yang hadir.
"Tidak usah kamu khawatir, apapun keputusanmu aku akan..., aku akan membantumu." ucap Sam begitu ragu.
"Hem," hanya tersenyum kecil saja yang Arsy keluarkan, apakah dia harus senang karena ada dukungan dari Frans Samuel? atau dua harus sedih?
"Hem. Maaf, a_ aku harus pergi. Hem, pikirkan baik-baik apa yang akan kami lakukan, masa depan mu ada pada dirimu sendiri." Frans mulai beranjak.
"Assalamu'alaikum," pamitnya. Sebenarnya sangat berat untuk pergi meninggalkan Arsy dalam keadaan seperti sekarang, tapi waktu! dia tak bisa berkelak lagi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Arsy..
Frans Samuel benar-benar pergi dari sana meninggalkan Arsy dan semua yang sudah dia katakan dan membuat Arsy semakin gelisah.
Tak lama setelah kepergian Frans Budhe Tantri datang, dia nampak terkejut dan mencari keberadaan pria tadi.
"Loh, Nak Frans kemana?" tanyanya dan Arsy seketika menoleh.
Senyum Arsy paksakan untuk keluar, dia tidak ingin Budhe Tantri tau apa yang tengah dia rasakan.
"Kenapa, Nak. Apakah ada masalah?" tanya Budhe Tantri. Meski Arsy tidak mengatakan dan menyembunyikannya tapi dapat dia lihat dengan sangat jelas.
"Hem, tidak apa-apa, Budhe." Arsy tetap tak mau mengatakan. Jika dia menutup aib siapapun maka Allah akan menutup aibnya sendiri, itulah yang selalu Arsy ingat.
"Saya mulai saja, Budhe." Arsy seketika beranjak, berjalan menuju tempat dimana dia akan menyelesaikan jahitannya.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada anak ini? sebenarnya apa yang Frans katakan tadi dengannya sampai membuat dia berubah sedih seperti ini.' batin Budhe Tantri.
...****************...
"Baru pulang, Mas?" hingga begitu larut Adi baru pulang. Tanpa salam juga tanpa mengetuk pintu saat masuk.
Semua sudah tidur hanya Arsy saja yang belum karena dia memang menunggu kepulangan suaminya.
__ADS_1
"Hem," hanya sesingkat itu Adu menjawab, dia juga berjalan acuh tak menghiraukan Arsy yang sudah lelah menunggu dia pulang.
"Apa Mas memerlukan air hangat untuk mandi?" tanya Arsy.
"Tidak," kembali Adi menjawab begitu singkat.
"Apa Mas sudah makan?"
"Sudah."
"Mas mau kopi?" semua Arsy tawarkan.
Meski dia sudah tau Adi tak akan butuh apapun tapi dia ingin melayaninya sebagai istri, memberikan pelayanan terbaik supaya suaminya juga akan kembali lagi kepadanya dan melupakan wanita yang entah seperti apa.
Berusaha Arsy untuk mempertahankan hubungan mereka, memang akan sangat menyakitkan, tapi jika mengakhiri dan dia mendapatkan pendamping yang baru apakah bisa di pastikan akan lebih baik darinya? Arsy takut akan hal itu.
"Kamu tuh ya! tanya terus dari tadi. Aku tuh capek, ingin istirahat!" ucap Adi kasar. Matanya bahkan sudah melotot sangat tajam ke arah Arsy.
"Ma_ maaf, Mas." Arsy menundukkan wajahnya, pasti ini yang akan dia dapatkan.
"Maaf maaf! apa dengan kata maaf lelahku akan hilang!" semakin keras ucapannya dan setelah itu Adi berlalu pergi dari hadapan Arsy.
Hembusan nafas keluar begitu jelas di hidungnya, Arsy ingin menetralkan perasaan di dalam hatinya supaya tidak sampai mengeluarkan air mata.
'Apakah memang sudah tidak bisa di perbaiki lagi?' batin Arsy.
Arsy terus melihat Adi yang pergi dia juga ikut melangkah dan masuk ke dalam kamar. Ternyata Adi sudah langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Laili yang tidur dengan sangat pulas.
Matanya terpejam meski Arsy tau Adi sama sekali belum tidur. Dia hanya ingin menghindarinya saja.
'Ya Allah, aku harus bagaimana?' batin Arsy dilema. Kakinya mengayun langkah dan mengambil posisi tidur di sebelah Laili yang lain dan miring menghadap Laili dan Adi.
Adi tetap diam, tak mengatakan apapun bahkan juga tidak membuka matanya. Apakah dia benar-benar gak sudi lagi untuk berbicara dengan Arsy?
'Apakah hubungan Mas Adi dengan perempuan itu memang sudah begitu dekat seperti yang Mas Sam katakan?' batinnya lagi.
Terus saja pikiran Arsy menerawang dengan pikiran yang sangat tidak ingin dia pikir, tapi mau bagaimana? yang terus keluar di pikirannya adalah masalah itu.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung....