
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Tak mudah memang untuk menjadi seorang Arsy. Perempuan berstatus istri tapi tak mendapatkan perlakuan yang seharusnya di dapat oleh seorang istri. Tak mendapatkan pengakuan yang pantas juga tak mendapatkan hak-hak yang seharusnya.
Tapi, Arsy juga tidak bisa memaksa semua orang untuk menerimanya, tak bisa memaksa untuk mereka memberikan haknya karena dirinya tak akan pernah ada kuasa. Yang terpenting dirinya tetap boleh tinggal di sana saja dia sudah sangat untung.
Arsy seperti seekor burung yang terus terikat di tempat majikannya, dia tak bisa pergi karena tak akan tau pergi ke arah mana. Dia hanya bisa mengikuti semua permainan mereka.
Tapi tidak! Dia harus tetap berusaha untuk bisa melepaskan diri dari sarang yang seperti neraka baginya. Arsy harus bisa mencari surganya sendiri untuk bisa lebih baik di masa depan. Itu yang harus dilakukan.
Dipertemukan dengan orang sebaik Bude Tantri bagaikan seperti mukjizat untuk Arsy, dia seperti malaikat yang membantu Arsy untuk berusaha menjadi lebih baik dan bisa berdiri sendiri tanpa harus mengandalkan siapapun dari keluarga suaminya.
Bukan hanya seperti seorang penolong saja tetapi Bude Tantri sudah seperti seorang ibu bagi Arsy yang selalu memberikan petuah-petuah yang membuat hatinya semakin kuat dan tenang.
"Budhe, terima kasih ya," ucapnya.
"Untuk?" Budhe Tantri mengernyit di hadapan Arsy.
"Untuk ilmu yang Budhe ajarkan pada Arsy. Dan ini, ini hasil dari kerja keras Arsy dan Budhe, kita bagi dua." ucap Arsy.
Begitu senang hati Arsy akhirnya dia bisa menghasilkan pundi-pundi uang dari menjahitnya yang dibantu oleh Bude Tantri, meskipun belum seberapa tetapi itu sangat berharga untuknya.
"Tidak usah, Nak. Ini untuk kamu saja, kamu yang mengerjakan semuanya." Bude Tantri ingin menolak karena merasa dia hanya membantu saja dan tidak mengerjakan apapun, tapi tetap saja Arsy tidak mau menerima penolakan itu dan tetap memberikan hasil separuhnya untuk Bude Tantri.
"Tidak, Budhe. Ini hak Budhe. Arsy tidak akan bisa mendapatkan uang ini tanpa bantuan dari Budhe, jadi ada hak Budhe juga di sini." Arsy tetap bersikeras.
Dengan terpaksa akhirnya Bude Tantri menerima uang yang diberikan oleh Arsy barusan, dia begitu berterima kasih karena mendapatkan uang yang terbilang cuma-cuma menurut dirinya padahal tidak untuk Arsy sendiri.
"Oh iya, Nak. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Kamu jadi buka rumah jahit di mana?" tanya Budhe Tantri.
"Belum tau, Budhe. Tapi akan Arsy pikirkan." ucapnya.
Sebenarnya bukan hanya karena tempatnya saja yang belum dapat tapi juga karena biaya sewanya yang belum mencukupi. Arsy baru mengumpulkan sedikit demi sedikit uangnya dan baru akan dia gunakan setelah semuanya sudah mencukupi.
Bukan hanya mengumpulkan uang untuk menyewa rumah jahit, tapi Arsy juga akan mengumpulkan uang untuk bekal dia pergi dari rumah suaminya, dia tidak akan bisa berlama-lama lagi di sana karena pada kenyataannya sudah tidak ada harapan. Rumah tangganya tidak akan bisa di pertahankan lagi.
"Hem, semoga cepat menemukannya ya. Dan ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita sama Budhe, Budhe akan berusaha membantumu sebisa Budhe." ucapnya.
__ADS_1
"Iya, Budhe." Begitu beruntung Arsy mengenal Budhe tantri.
"Kalau begitu Arsy pamit dulu ya, Budhe." Pamitnya. Langsung berdiri dan menyalami Budhe Tantri dengan takzim. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
*******
Amarah Adi begitu besar kala dia sampai rumah tapi Arsy tidak ada. Dia sangat lelah tapi tak ada siapapun yang bisa mengambilkan minum untuk dirinya.
"Dasar istri sialan. Suami pulang bukannya di rumah untuk menyambut dan melayani malah pergi entah kemana. Dasar!" umpatnya.
Adi begitu marah, dia menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan kasar. Matanya sudah begitu bulat terang karena kemarahan, hingga saat pintu terbuka semakin lebar dia langsung meraih gelas kosong yang ada di hadapannya dan melemparkan.
Prank!
"Akk!" Pekik Arsy begitu terkejut karena gelas itu terjun dan hancur tepat di hadapannya.
"Pulang juga kamu ya! Dari mana, hah!" Ucapannya begitu kasar, matanya melotot namun sama sekali tidak beranjak dari tempat.
"M_mas," Arsy tergagap, dia masih begitu syok dengan apa yang terjadi di hadapannya. Gelas itu hancur dan ada juga yang berhasil melukai kakinya hingga berhasil mengeluarkan darah.
"Ta_ tapi, Mas? Bagaimana dengan tanaman Arsy?" Jelas saja Arsy memikirkan itu.
"Memangnya apa yang kamu dapat dari tanaman mu, kamu tidak bisa membeli emas dengan itu."
"Setidaknya Arsy bisa mencukupi kebutuhan kita semua, Mas!" Arsy mulai berani.
Sebenarnya dia tidak akan berani, dan baru kali ini dia berani membantah apa yang Adi katakan, mungkin itu karena dia sudah terlalu lelah karena perlakuan Adi selama ini.
"Halah, alasan. Aku tau, kamu keluar supaya kamu bisa selalu bertemu dengan perjaka tua itu kan?!"
"Astaghfirullah, Mas! Mas jangan keterlaluan ya. Mas selalu menuduh Arsy melakukan yang tidak-tidak tapi nyatanya mas sendiri kan yang melakukan itu, mas yang mengkhianati pernikahan kita dan berhubungan dengan mantan kekasih yang tak tau malu itu. Iya kan, Mas!"
Adi beranjak dengan cepat, dia berjalan menghampiri Arsy dan...
Plak!
__ADS_1
"Ya, aku melakukan itu karena dia lebih baik darimu. Dia lebih cantik, lebih bisa membahagiakan ku dan juga bisa lebih memuaskan ku." ucap Adi mengakuinya.
Pedih, mata Arsy. Sakit, hatinya.
"Kamu keterlaluan, Mas!" tangis Arsy pecah seiring dia mulai menatap Adi lagi setelah terhuyung sejenak karena tamparannya. Tangannya juga langsung memegangi pipinya yang begitu perih.
"Kenapa, kamu tidak suka! Ingat ya Arsy." Dengan begitu kuat Adi mencengkram rahang Arsy juga dengan tatapannya yang tajam ke arahnya, jelas saja Arsy akan kesakitan.
"Kamu itu tak lebih dari seorang budak di sini. Aku akan mempertahankan mu di sini karena kamu masih berguna, jika tidak maka kamu akan aku usir dari rumah ini."
"Apa kamu tau, ibumu itu akan mati kena serangan jantung jika tau kamu menjadi janda. Dan anakmu, akan jadi gelandangan bersama mu."
Begitu tega Adi melakukan itu pada Arsy, benar ini adalah puncak dari amarahnya. Tak pernah Adi begitu tega seperti sekarang ini. Apakah ini karena pengaruh dari perempuan itu?
"Ma_ mas, le_ lepas," ucapan Arsy terbata-bata, dia sangat kesakitan karena Adi.
Air matanya semakin menyeruak keluar dari matanya namun sama sekali tak ada suara. Hanya sesenggukan saja.
Brukk!
Dengan kasar Adi mendorong rahang Arsy dan saking kuatnya membuat Arsy sampai tersungkur di lantai dengan tangan yang terkena pecahan gelas tadi. Bukan hanya hatinya saja yang sakit, tapi tangan dan juga kakinya terluka.
'Ya Allah, kenapa jadi begini. Apa kesalahan ku? Sampai kapan Engkau akan perlihatkan kasih sayang- Mu dengan cara yang seperti ini?' batin Arsy.
Tanpa menoleh lagi Adi meninggalkan Arsy, keluar dengan langkah angkuh dan tak berapa lama terdengar sepeda motornya berbunyi, sepertinya dia akan pergi dari rumah.
Tangis Arsy pecah saat ini, di dalam kesendiriannya, hatinya begitu sakit dengan pikiran yang melanglang buana kemana-mana.
"Astaghfirullah," hanya terus beristighfar yang Arsy lakukan.
"Astaga! Apa- apa-apaan ini Arsy, kamu memecahkan gelas lagi!" teriak Lusi yang baru pulang kerja dan melihat gelas yang pecah di hadapannya, jelas saja Lusi akan menganga.
"Bu_ bukan sa___" Arsy seketika menoleh dan ingin menjelaskan, tapi belum juga selesai Lusi sudah menyambar lagi dengan perkataan yang semakin sadis.
"Alasan apa yang akan kamu gunakan, kamu memang tidak becus Arsy! Kamu memang tidak bisa melakukan apapun! Ku otu bodoh dan akan selalu seperti itu!"
Penderitaan Arsy memang akan terus berlanjut jika dia masih terus berasa di sana, tapi jika pergi dia akan kemana?
__ADS_1
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung...