Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Kesedihan Arsy


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Tidak kemana-mana Adi pergi setelah membuat kekacauan di rumah, dia langsung pergi ke rumah Siska. Perempuan yang menjadi selingkuhannya.


Tok tok tok!


"Siska!" teriaknya memanggil, bersamaan dengan tangan yang terus mengetuk pintu.


"Ya!" Teriak dari dalam, sangat jelas itu adalah suara dari Siska.


Suara langkah terdengar semakin dekat dengan Adi, dan setelah itu tak lama pintu perlahan terbuka. Adi sudah tidak sabar menunggu sampai Siska keluar.


"Mas," Sejenak Siska terkejut dengan kedatangannya tapi itu tak lama karena dia langsung tersenyum.


"Kenapa tidak menghubungiku dulu kalau mas mau datang. Siska bisa siapkan makan dan juga bersih-bersih," ucapnya. Tangannya langsung menggandeng lengan Adi dan mengajaknya masuk. Pintu pun tertutup setelah itu.


"Hem, maaf. Aku lagi kesal di rumah makanya aku datang ke sini. Nggak apa-apa kan?" Adi menoleh sebentar ke arah Siska dan sembari berjalan terus.


"Tidak apa-apa dong, Mas. Siska malah senang kalau mas di sini. Apalagi kalau sampai Mas menginap, Siska jadi tidak kesepian di rumah." ucapnya.


Siska menuntun Adi duduk setelahnya Siska menjauh untuk mengambilkan minum di dapur. Tak lama dia kembali dengan membawa nampan yang terdapat teko kecil juga cangkir.


Siska duduk di sebelahnya dan mulai meracikan minum untuk Adi.


"Pasti ada masalah dengan istri kamu, iya kan Mas?" tanyanya.


"Siapa lagi kalau bukan dia, si bodoh itu selalu saja membuat darahku mendidih." jawab Adi malas jika harus kembali menceritakan tentang Arsy lagi.


"Kan aku sudah bilang, Mas. Lebih baik Mas ceraikan saja dia dengan seperti itu Mas tidak akan pernah kesal lagi padanya." saran Siska, "nih di minum supaya lebih tenang."


"Terima kasih," jawab Adi seraya menerima cangkir dari Siska.


"Orang bodoh seperti dia kenapa juga masih di pertahanin, Mas. Buang-buang tenaga saja." Kembali Siska mengompori, memang itu yang akan selalu dia lakukan supaya Adi secepatnya menceraikan Arsy dan dia bisa menggantikannya. Sungguh jahat niatnya.


"Hem, aku akan lakukan secepatnya." jawab Adi. Kembali dia memberikan cangkir itu pada Siska.


Setelah di taruh di atas meja Siska langsung menyandarkan dirinya di tubuh Adi, tangannya bermain-main di dadanya yang masih tertutup dengan kemeja.


"Mas, Mas mau tidur di sini kan malam ini? Siska butuh kehangatan." ucapnya dengan nada yang begitu menggoda.


"Tentu, aku akan tidur di sini dan akan menghangatkan mu." Tangan Adi merangkul pundak Siska menariknya semakin dekat hingga dia lebih mudah untuk memberikan kecupan pada kening dan puncak kepala Siska.


Aroma pada rambutnya sangat begitu memabukkan bagi Adi, membuat dia betah dan ingin selalu ada di sisinya.

__ADS_1


Siska mengangkat wajahnya dia mendongak dan dengan begitu agresif dia mencium bibir Adi dan tentu saja akan mendapatkan balasan yang sama. Sungguh, mereka adalah pasangan yang sama-sama tidak tau diri.


"Mas mau mandi air hangat dulu biar lebih rileks?" ucap Siska menawarkan setelah melepaskan bibirnya dari Adi.


"Boleh," Tentu saja Adi akan menerima tawaran itu.


Siska beranjak, begitu perlahan tangannya terlepas dari tangan Adi. Kulit mulusnya tentu begitu menggoda bagi Adi, bukan hanya di bagian tangan saja, tapi pada lehernya yang jenjang, bagian dada depannya yang hampir memperlihatkan belahannya juga paha hingga kakinya yang begitu mulus, semua sangat menggodanya.


"Jangan lama-lama," ucap Adi.


"Iya, tidak akan." Sungguh pelan Siska melepaskan dia masuk ke dalam kamar dan aka menyiapkan air hangat untuk mandi Adi. Kamar mandinya ada di dalam kamar Siska, jadi ya di sanalah dia siapkan.


Tak mau berlama-lama Adi langsung beranjak, menyusul Siska ke dalam kamarnya. Melihat Siska yang sedang membungkuk di kamar mandi membuat Adi begitu tak sabar, dia langsung memeluknya dari belakang.


"Hem, bagaimana kalau kita berendam bersama?" Permintaan Adi memang sangat gila, meminta pada perempuan lain yang bukan istrinya. Tapi ternyata, permintaan gila itu di angguki oleh Siska.


"Baiklah, aku juga merasa sangat gerah." Jawabnya.


Adi tersenyum, dia begitu senang dan sangat sumringah. Sungguh menyenangkan dan membuatnya semangat seperti mendapatkan vitamin yang sangat manjur dalam sekejap.


*******


Malam semakin larut. Arsy menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dengan satu tangan menjadi bantalan untuk Laili yang sudah tidur sementara satu tangannya masih terus mengelus rambut bagian depannya.


Arsy tak bisa tidur, dan Adi belum juga pulang. Entah, dia akan pulang atau tidak Arsy tidak tau tapi kalau dia tidak pulang Arsy sangat yakin kalau Adi pasti berada di tempat selingkuhannya.


Tiba-tiba saja air matanya lolos begitu saja, mengalir satu persatu mengingat kenangan manis saat dulu masih menjadi sepasang kekasih, tapi kenangan manis itu berubah begitu saja setelah pernikahan. Dan semuanya perlahan menjadi pahit dan sekarang semakin menyakitkan.


"Kenapa bisa jadi seperti ini, Mas. Dulu kamu begitu baik, begitu manis tapi kenapa sekarang kamu berubah." Tangis Arsy kian pecah.


Meski dulu dia hanya bekerja di salah satu warung makan saja tapi Arsy sudah sempat bekerja. Bahkan di tempat itulah Arsy mengenal Adi karena Arsy bekerja di depan pabrik dimana Adi bekerja hingga sekarang.


Kalau saja Adi tidak memintanya keluar pastilah Arsy masih bisa terus bekerja di sana. Apakah dia yang terlalu bodoh karena selalu mengikuti apa yang Adi katakan?


Perhatian, kata-kata manis, juga semua yang Adi lakukan dulu masih tertata rapi di kaset ingatannya, tak ada secercah saja yang terlupakan. Arsy masih menyimpannya begitu rapat hingga sekarang. Tapi tidak untuk Adi yang sudah melupakan semuanya.


"Apakah hubungan kita akan berakhir dengan perceraian, Mas?" Rasanya masih sangat berat jika mengingat semua kenangan dulu. Tapi mau bagaimana, kenangan hanyalah kenangan yang tidak bisa terjadi di masa sekarang.


Apakah Arsy harus ikhlas dan melepaskan Adi?


Di tatap wajah polos Laili, dia bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya meski mereka berada di bawah satu atap yang sama. Mereka adalah anak dan ayah, tapi bagaikan orang asing yang hanya akan menyapa sekali dua kali saat bertemu.


"Lalu bagaimana dengan Laili?" gumamnya lagi.

__ADS_1


Jika mereka berpisah bagaimana dengan perasaan Laili, apakah dia akan baik-baik saja atau tidak, Arsy sangat takut.


Dia tidak hanya hidup sendiri sekarang, ada Laili juga yang harus dia pikirkan masa depannya. Yang mana yang akan menjadi jalan terbaik, apakah perpisahan atau mungkin bertahan?


Di kecup sekali namun dengan waktu yang lama kening Laili, hingga tak dia sadari ada setetes bening yang menetes pada rambut Laili.


"Sungguh, ini sangat menyakitkan." gumamnya.


'Kenapa Ibu menangis lagi, apakah ini karena ayah?' batin Laili yang tetap pura-pura tidur.


******


Di salah satu perumahan di kota, Frans juga tidak bisa tidur. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia juga masih terus terjaga, bahkan kopi yang menjadi temannya sudah habis sedari tadi.


Tidak mungkin karena kopi kan yang menjadikan dia tak bisa tidur? Frans tidak seperti itu, meski dia mengonsumsi kopi kalau dia merebahkan tubuhnya pasti akan tetap langsung terlelap, tapi kenapa sekarang tidak?


"Astaghfirullah, ada apa ini?" gumamnya.


Frans kembali duduk dari tidurnya, menoleh ke arah jam beker yang menandakan jam sebelas malam. Biasanya jam sembilan dia juga sudah tidur.


"Aku tidak lapar, juga tidak meriang tapi kenapa tidak bisa tidur sih?" Keluhnya.


Terpampang nyata satu pigura yang terdapat foto seorang perempuan di atas nakas. Frans menoleh dan mengambilnya, dia tersenyum melihat foto perempuan itu yang tersenyum.


"Kamu selalu manis, Arsy. Apakah aku begitu pengecut hingga aku tak berani mengungkapkan perasaan ku padamu? Ya! Aku memang pengecut yang hanya bisa mengagumimu dari belakang. Aku memang pengecut." akunya.


Perempuan berhijab hitam dengan wajah tanpa jerawat namun bukan berkulit putih, Arsy yang memiliki kulit kuning langsat dengan senyuman yang begitu manis yang selalu mampu menggetarkan hati Frans Samuel.


"Ya! Aku sadar aku salah. Tidak seharusnya aku menyukai mu Arsy, kamu adalah istri orang. Aku salah." ucapnya.


Terus saja Frans bicara, seolah dia bicara dengan Arsy yang ada di dalam foto.


"Seandainya aku lebih dulu mengenalmu dari pada Adi, pasti aku yang akan memilikimu dan akan aku bahagiakan kamu, Arsy. Tak akan pernah aku biarkan kamu menderita dan berkerja keras sendiri. Tidak akan."


Perlahan Frans kembali merobohkan tubuhnya di kasurnya, foto Arsy dia letakan di depannya yang tidur miring dan terus dia tatap.


"Seandainya kamu ada di sini Arsy bersamaku. Pasti kita akan bahagia." gumamnya.


Sungguh menyakitkan memang, mencintai dalam diam, mencintai perempuan yang menjadi istri dari laki-laki lain dan akan begitu mustahil untuk dia dapatkan. Tapi mau bagaimana? Frans tak bisa menghilangkan perasaan itu meski dia sudah berusaha begitu keras.


Semakin lama perasaannya tidak semakin hilang, melainkan semakin besar.


"Ya Allah, maafkan aku jika perasaan ini aku yang telah memaksakan untuk hadir. Tapi jika perasaan ini datang dari-Mu, maka izinkan aku menjaganya hingga akhir." Gumamnya.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Bersambung...


__ADS_2