Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Jatuhnya Talak


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


"Arsy!" Teriak Adi dengan begitu lantang hingga memenuhi seisi rumah. Tentu saja hal itu akan mengejutkan Arsy yang tengah menjemur pakaiannya di belakang rumah.


Arsy langsung berlari untuk menghampiri suaminya yang berteriak memanggil, entah apa yang dia inginkan sampai dia berteriak seperti itu dan yang pasti para tetangga juga akan mendengarnya.


"Astaghfirullah, apa sih Mas?" Tanya Arsy ketika sampai di hadapan Adi yang terlihat begitu geram dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Arsy.


'Ini ada apa lagi?' batin Arsy bingung.


Sepertinya dia sama sekali tidak membuat masalah pada suaminya itu, lalu apa alasannya dia begitu marah.


Brak!


"Tanda tangani surat itu!" Perintah Adi dengan menegaskan kepada Arsy, sembari membanting berkas ke atas meja dengan begitu kasar membuat Arsy begitu terkejut.


"I_ ini apa, Mas?" tanya Arsy bingung. Perlahan tangannya mengambil berkas tersebut dan melihatnya dengan tangan yang sudah mulai gemetar.


"Itu adalah surat perceraian kita," jawab Adi.


Jantung Arsy seakan berhenti berdetak saat itu juga setelah mendengar kenyataan bahwa suaminya akan menceraikan dirinya. Apakah benar sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bisa memperbaiki hubungan mereka? Apakah benar hubungan mereka yang dia jalani selama bertahun-tahun ini hanya akan berakhir dengan perceraian?


"Ma_ mas, ini tidak benar kan?" ucapannya gemetar juga tergagap. Begitu tak kuasa menerima kenyataan yang sangat pahit.


Bertahan pahit, berpisah juga sama. Itulah yang Arsy alami sekarang.


"Itu nyata, dengarkan baik-baik apa yang akan aku ucapkan, Arsy. Mulai detik ini juga aku menalak kamu dan mulai sekarang kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, aku bukanlah suamimu dan kamu juga bukanlah istriku. Kamu aku ceraikan!"


Tubuh Arsy lemas bersamaan dengan air mata yang terus mengalir begitu deras hingga membasahi kedua pipinya. Apakah dia harus bahagia karena akhirnya terbebas dari hubungan yang tidak sehat dan bagaikan di dalam neraka, ataukah dia harus sedih karena kehilangan status sebagai seorang istri?


"Mas, ka_ kamu bercanda kan?" tanya Arsy. Masih saja dia berharap akan ada jalan lain selain bercerai.


Baru saja semalam Arsy berdoa memohon takdir yang terbaik untuk kehidupannya dan kini takdir itu mengatakan hal lain yang jelas tidak seperti yang dia minta, apakah ini memang takdir yang terbaik untuk dirinya dan juga Laili?

__ADS_1


"Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda? Aku benar-benar serius menceraikan dirimu. Karena apa? Aku akan segera menikahi perempuan yang benar-benar aku cintai selama ini dan yang lebih baik daripada dirimu," ucap Adi.


Belum juga perceraian mereka sah secara hukum negara tapi Adi sudah membicarakan pernikahan dengan wanita lain, rasanya sungguh memilukan bagi seorang Arsy.


"Dan ya! Kamu tidak bisa menuntut apapun dariku karena aku tidak akan pernah memberikan satu sen saja uang untukmu. Dan ya! Aku juga tidak mau mengurus anakmu itu, jadi lebih baik dia ikut denganmu saja karena hanya akan menjadi beban untukku."


Memang tidak ada niat baik dalam diri Adi, dia memang tidak pernah bertanggung jawab pada Arsy ataupun pada Laili darah dagingnya sendiri.


"Baik! Kalau memang Mas maunya seperti itu maka akhiri saja secepatnya, aku juga sudah muak berada di sini dengan semua perlakuanmu dan keluargamu. Dan ya! Aku lebih membutuhkan anakku daripada harta bendamu."


"Dan terima kasih sudah memberikan Laili kepadaku. Aku hanya bisa mendoakan, semoga suatu saat nanti mas akan menyesal."


Terasa sesak ketika mengucapkan tapi tetap saja semuanya keluar dengan sangat rapi, dibarengi dengan gejolak kecewa yang begitu sangat besar.


Arsy memang menangis, karena yang pasti tidak mudah melepaskan sebuah hubungan yang sudah dijalin bertahun-tahun lamanya. Dan kini hanya berakhir dengan perceraian karena Adi lebih memilih wanita lain yang dianggap lebih baik darinya.


"Hem, kamu yang akan menyesal setelah berpisah dariku. Karena kamu tidak memiliki apapun bahkan kamu juga tidak memiliki sesuatu yang bisa kamu banggakan."


Tanpa ragu lagi Arsy langsung menyambar berkas yang ada di atas meja dan langsung menandatanganinya, setelah selesai lalu dilemparkan kertas juga pena tersebut pada Adi hingga tepat mengenai wajahnya.


"Saya harap kamu bisa menyelesaikan dengan cepat. Karena aku juga sudah tidak mau lagi menjadi istrimu!!" Ucap Arsy begitu tegas.


Tangan Adi mengepal begitu sempurna dengan tatapan mata tajam ke arah Arsy yang sudah melenggang masuk ke kamar.


"Beresin semua barang-barang mu, dan secepatnya keluar dari rumah ini!" Teriak Adi namun Arsy tak mengatakan apapun.


Tanpa diminta pun Arsy akan melakukan apa yang diminta oleh Adi barusan. Dia langsung mengambil koper dan juga tas ransel dan memasukkan semua barang-barangnya juga kepunyaan Laili.


Seakan ada kekuatan yang datang di dalam hatinya, meskipun terasa sakit namun dia begitu semangat memasukkan semua barang ke dalam tas juga yang akan dia bawa.


"Ibu, kenapa ayah dan ibu bertengkar?" Suara begitu pilu terdengar di telinga Arsy, dia langsung menoleh dan mendapati Laili yang berjalan masuk dengan begitu pelan dengan derai air mata juga wajah yang ketakutan.


Arsy tahu ini akan terjadi. Laili pasti akan sedih dan juga sangat takut, tapi mungkin inilah yang terbaik untuk mereka berdua.

__ADS_1


Arsy mendekati, mengusap air matanya sendiri hingga kering. Berlutut di hadapan anaknya dan menyentuh kedua lengannya dengan lembut.


"Maafkan ibu ya, Sayang. Ayah dan ibu tidak apa-apa kok, hanya saja mulai sekarang kita tidak bisa tinggal di sini lagi. Kita harus pergi."


"Terus ayah?" tanyanya.


Arsy menggeleng. "Ayah tidak akan ikut, hanya kita berdua. Laili mau kan ikut dengan ibu?" tanya Arsy.


"Iya, Laili mau ikut ibu." Laili mengangguk mantap membuat Arsy tersenyum dan juga langsung memeluknya. Kembali air mata itu terjun bebas karena Arsy begitu bingung dia akan pergi kemana?


"Ibu jangan nangis." ucap si kecil, melepaskan pelukan Arsy lalu menghapus air matanya dengan tangannya yang begitu mungil.


"Tidak," Jawab Arsy. Arsy menggeleng dan ikut menghapus air matanya.


"Kita bersiap sekarang?"


"Iya, Laili bantuin ya, Bu." Jawab Laili.


Meski terdapat semburat kesedihan di wajah Laili tapi itu hanya sebentar saja dan langsung hilang ketika mereka mulai memasukkan semua barang-barang mereka ke dalam tas juga koper.


'Ya Allah, aku harus kemana?' batin Arsy.


"Ibu, ini bawa juga kan?" tanya Laili, memperlihatkan kresek berwarna putih yang berisi kain yang rencana nya ingin Arsy jadikan baju keluarga. Tapi ternyata semua itu hanya tinggal rencana saja karena tidak akan pernah terwujud.


"Iya, kita bawa." Jawab Arsy. Setidaknya dia bisa tetap membuatnya meskipun hanya untuk mereka berdua, tanpa Adi.


Laili begitu antusias menenteng kresek itu dan memasukannya ke dalam koper, sementara Arsy masih terus melihat pergerakan si kecil yang terlihat menggemaskan dan membuatnya menarik ujung bibir hingga bisa tersenyum. Setidaknya ada Laili yang akan selalu menjadi obat untuknya dan menjadi penyemangat.


'Terima kasih Ya Allah, telah Engkau berikan aku bidadari kecil yang begitu menggemaskan. Alhamdulillah...' batin Arsy.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2