
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Arsy begitu lemah, dia tak semangat bahkan setelah sampai di rumah. Matanya terlihat begitu berembun dan siap meluncurkan gelombang besar yang seharusnya tadi dia tahan. Arsy terus saja diam saat berada di mobil membuat Frans bingung mau berbuat apa.
Karena rasa penasaran dan juga khawatir Frans akhirnya ikut masuk ke rumah. Ada Bu Tantri dan Pak Nirwan yang sedang duduk di ruang tengah dan mengobrol hangat di sana.
"Assalamu'alaikum," ucap Arsy. Suaranya begitu lirih seakan hilang ketika memenuhi ruangan tersebut.
Keduanya seketika menoleh meski mendengar suara salam yang tak jelas, "Wa'alaikumsalam," jawab keduanya bersamaan.
Keduanya nampak terkejut melihat Arsy yang pulang lebih awal, bahkan sampai awal. Bahkan mereka berdua berpikir apakah Arsy sudah sampai di pasar atau belum.
"Nak, kamu__," belum juga Bu Tantri menyelesaikan ucapannya Arsy langsung duduk di sebelahnya dan memeluknya.
Bu Tantri dan Pak Nirwan begitu bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada Arsy. Keduanya saling melihat lalu beralih ke arah Frans yang sudah duduk setelah tadi di persilahkan oleh Pak Nirwan dengan isyarat tangan.
Frans yang sadar dilihat dan seolah dimintai penjelasan dia hanya bisa menggeleng karena dia memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
'Aku akan cari tau setelah dari sini. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi di kios Arsy,' batin Frans curiga.
"Nak, ada apa? cerita sama Budhe." ucapan Bu Tantri begitu lembut, kedua tangannya sudah membalas pelukan Arsy dan mengelus punggungnya pelan.
"Budhe, maafkan Arsy. Arsy tidak bisa menjaganya dengan baik," ucap Arsy. Sangat jelas suaranya parau dan juga sesenggukan, pasti Arsy sudah menangis di dalam pelukan Bu Tantri.
Biar bagaimanapun Arsy merasa bersalah karena tidak bisa melindungi semuanya yang sudah rusak. Dia tidak memakai uangnya sendiri untuk modal membuka kiosnya, tapi juga ada beberapa uang yang dia pinjam dari Bu Tantri.
"Apa yang kamu bicarakan, Nak. Apa yang tidak bisa kamu jaga?" Bu Tantri semakin penasaran. Begitu juga dengan kedua laki-laki beda usia yang ada di sana, mendengar dan melihat apa yang keduanya lakukan.
Pelukan Arsy kian terurai, Arsy perlahan menjauh dari Bu Tantri, dia menunduk dengan rasa bersalah yang begitu besar.
"Semuanya rusak, semuanya hancur, Budhe." Arsy semakin terisak.
"Lihat Budhe, apanya yang rusak, hem?" Bu Tantri masih tak mengerti, dia meraih dagu Arsy dan membuat wajahnya terangkat. Bola mata Arsy sudah berakhir tak kuasa menahan tangis, semakin pecah ketika netranya melihat wajah Bu Tantri yang begitu berharap akan keberhasilan untuk dirinya.
Apakah Arsy begitu mengecewakan?
__ADS_1
Itulah yang Arsy sangat takutkan, dia sangat takut jika dia begitu mengecewakan Bu Tantri dan semua yang menaruh harap besar padanya.
"Arsy sudah sampai di kios, tapi saat Arsy masuk, ternyata semua sudah hancur berantakan. Arsy tidak tau siapa yang melakukannya."
"Astaghfirullah," Bu Tantri begitu terkejut. Matanya membulat antara percaya dan tidak. Pantas saja Arsy begitu sedih sekarang.
"Semuanya telah rusak, hanya beberapa saja yang masih bisa dipakai." imbuh Arsy menjelaskan.
Arsy semakin terisak, dalam keadaan hati yang begitu rapuh Bu Tantri kembali memeluknya. Ikut merasakan kesedihan yang Arsy rasakan sekarang ini.
"Yang sabar ya, Nak. Allah tidak pernah tidur, biarkan Allah yang mengurus segalanya." ucap Bu Tantri seraya menguatkan hati Arsy yang begitu rapuh.
"Kamu tidak usah khawatir, Arsy. Aku akan bantu cari tau siapa yang melakukannya. Aku juga akan bantu semuanya supaya kamu bisa tetap menjalankan usahamu." ucap Frans.
"Tidak usah, Mas. Arsy tidak mau merepotkan Mas Sam."
"Tidak, aku tidak merasa direpotkan sama sekali." Frans tersenyum. Jangankan hanya sekedar mengembalikan semua barang-barang yang rusak, membeli kiosnya sekaligus Frans bisa. Tapi belum mau melakukan itu.
"Tolong ya, Nak. Bantu Arsy untuk mengetahui pelakunya. Dia harus diberi hukuman yang pantas." kata Pak Nirwan. Dia juga tak tega melihat Arsy yang sedih. Baginya, Arsy sudah seperti anak untuknya.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Rani terus tersenyum, dia begitu bahagia hingga kebahagiaannya itu dia bawa sampai ke rumah mertuanya.
"Rani, kamu kenapa? kelihatannya kamu begitu bahagia hari ini?" tanya Lusi penuh selidik. Bagaimana tidak! Rani terlihat lain dari hari biasanya.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Rani hanya senang saja karena habis gajian. Nih lihat! Rani bawakan seblak untuk ibu. Spesial," kata Rani.
Tangannya terangkat dan memperlihatkan kresek berwarna putih yang terdapat kotak styrofoam.
Mata Lusi seketika berbinar cerah, tangannya terangkat untuk menerima oleh-oleh yang Rani berikan padanya.
"Terima kasih, Rani. Kamu memang menantu paling mengerti ibu. Sini masuk," ajaknya. Menggandeng tangan Rani dan menariknya hingga benar-benar masuk.
Keduanya duduk bersebelahan, Rani seketika menyandarkan punggungnya dan Lusi sudah mulai membuka plastiknya.
__ADS_1
"Wah, ini mantap sekali." wajah Lusi semakin berbinar melihat isi di dalamnya yang sudah dia ketahui. Mulutnya sudah langsung berkecamuk meski belum mulai memakannya.
"Terima kasih, Rani." Lusi menoleh, dia benar-benar senang dengan perlakuan Rani yang dia anggap begitu perhatian padanya.
"Apa sih, Bu. Tidak usah berlebihan. Rani hanya melakukan apa yang Rani mau saja." jawab Rani dengan wajahnya yang terlihat begitu sombong.
"Iya ibu tau. Kamu memang terbaik."
Sungguh! Rani merasa terbang melayang terus dipuji oleh Lusi. Dia begitu besar kepala, senang mendapatkan pujian. Rani tersenyum, menyeringai penuh maksud yang Lusi tak mengerti dan tidak dia sadari.
"Bu, Mbak Siska mana? Apa dia bekerja?" Tanya Rani basa-basi.
"Kerja apa? kerjaannya saja hanya malas-malasan." jawab Lusi begitu tak suka. "Dia sangat berbeda sama kamu. Kamu pintar, gesit, pekerja keras dan tentunya bisa mengurus keluarga dengan baik, kalau dia?"
"Jangan begitu lah, Bu. Siapa tau Mbak Siska seperti itu karena belum terbiasa saja. Lama-lama juga akan tau dan terbiasa." ucap Rani. Pura-pura tak suka kalau Siska direndahkan oleh mertuanya, padahal di dalam hati dia tengah berteriak kegirangan.
'Hem, meski Mas Adi bersama Arsy ataupun Siska hanya aku yang akan di anggap oleh Ibu. Hanya aku yang akan mendapatkan hati ibu lalu mendapatkan warisannya.' batin Rani.
Ternyata, semua kebaikan yang dia tunjukkan hanyalah kepalsuan hanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi. Apalagi Lusi begitu mudah jika dia pengaruhi.
"Dia sudah dewasa, Rani. Dia bukan bocah yang masih harus diajarkan ini itu. Seharusnya dia sudah tau apa yang seharusnya dia lakukan." Lusi terlihat begitu sengit dengan menantu satunya itu.
"Ya, ya mungkin karena memang belum terbiasa, Ibu. Kan Mbak Siska baru saja menikah dengan Mas Adi, jadi semua masih penyesuaian."
"Sudah lah, capek ngomong sama kamu yang terlalu polos." Lusi memutuskan perbincangan mereka, lebih memilih menikmati seblak yang Rani bawa.
Polos?
Bahkan sebenarnya Lusi yang terlalu polos hingga dengan mudah dibodohi oleh menantunya itu.
'Iya, Ibu. Aku memang sangat polos. polos sekali.' batin Rani sembari menyeringai.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung...
__ADS_1