
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Brak!
Pintu terbuka lebar karena Adi yang masuk, dia juga mendorong dengan sangat keras.
Adi terlihat sangat marah setelah mendapatkan aduan dari Rani tentang Arsy yang di katakan selingkuh. Matanya langsung melotot tajam dan begitu tak suka, juga dengan amarah yang kian sampai pada ubun-ubunnya, apakah akan meledak saat ini juga?
"Apa itu benar, Arsy?! kamu berselingkuh pada perjaka tua itu!" pertanyaan keras langsung tertuju pada Arsy yang sedang diam mendengarkan cerita Laili tentang sekolahnya.
Kedatangan Adi dengan suara kasar dan keras tentu saja langsung membuat Arsy terperanjat juga Laili yang langsung ketakutan.
"Ibu, Laili takut," kata si kecil itu yang langsung mendekati Arsy, duduk di pangkuannya sembari memeluk erat.
Ternyata benar, apa yang Rani katakan tadi. Dia akan menceritakan semuanya pada Adi hingga sekarang berhasil membuat dirinya marah besar.
"Katakan padaku, Arsy! kamu benar-benar berhubungan pada perjaka tua itu!" ulang Adi dan semakin keras.
Melihat ketakutan Laili Arsy langsung memeluknya semakin erat, menutup telinganya dan berharap tidak dia mendengar apapun yang Adi katakan. Semua itu salah, jelas saja.
"Mas," mata Arsy juga membulat, seolah memberikan isyarat pada Adi untuk tidak bicara terlalu keras. Di sana ada Laili dan tak pantas Adi bicara seperti itu.
"Hem, berarti benar! kamu berhubungan dengannya!" tuduh Adi. Tak melihat bagaimana ketakutan Laili saat ini dan lebih mementingkan emosinya.
Hanya karena mendengar dari Rani dia langsung marah, tidak meminta penjelasan lebih dulu pada Arsy apa yang sebenarnya terjadi.
Sakit, jelas saja Arsy sakit hati ketika mendapatkan tuduhan keji seperti itu. Dia terus berjuang dan berusaha setia. Menerima apapun yang Adi berikan dan lakukan padanya, tapi apa? apakah ini sebagai balasannya?
Kesetiaannya diragukan.
__ADS_1
Adi keluar dengan perasaan yang sangat kesal, membanting pintu hingga terdengar sangat kuat. Untung saja pintu itu kuat dalam pemasangannya kalau tidak pasti sudah lepas dari tempatnya dan bisa saja mengenai Arsy juga Laili yang tepat di belakang pintu hanya berjarak sedikit jauh.
"Ibu, Laili takut." Laili semakin ketakutan karena Adi yang menutup pintu dengan sangat keras. Bahkan Laili juga sudah menangis sekarang meski tetap berada di dalam dekapan sang ibu.
"Tidak udah takut, ada ibu di sini." Arsy berusaha menenangkan Laili yang begitu ketakutan.
Hati seorang ibu terluka melihat anaknya seperti sekarang ini, apalagi hal itu disebabkan karena ayahnya sendiri yang terlalu buta dan tidak mau bertanya lebih dulu kepada istrinya dan lebih percaya kepada orang lain.
Terdengar suara yang begitu ramai di ruang tengah, bukan hanya Adi saja yang ada di sana tetapi juga ada kedua orang tuanya beserta Rani yang masih setia di sana. Dia terus mengompori semua orang.
Terdengar begitu meyakinkan apa yang dikatakan oleh Rani, jelas aja dia seperti artis terbaik yang tengah mengatakan semua kebohongan yang dia buat sendiri. Entah apa yang membuat Rani mengatakan semua itu, dia terus saja membuat semua orang membenci Arsy, apa tujuannya?
Tak lagi Arsy merasakan tangis pada Laili, dia menunduk untuk melihat dan ternyata Laili tidur. Mungkin dia sangat lelah dan juga takut, hingga dia langsung tidur karena merasa nyaman ketika berada di dalam dekapan ibunya.
Sangat perlahan Arsy mengangkat tubuh kecil Laili, dan menidurkannya di kasur kapuk yang sudah keras. Sungguh, Adi bahkan tidak memperlihatkan kenyamanan anak dan istrinya untuk tempat istirahat.
"Berani juga kamu keluar, setelah menduakan anakku yang begitu setia." ucapan sinis langsung di lontarkan oleh Lusi.
Matanya melotot dengan tubuh yang kian tegak dan berubah kian condong mendekat pada Arsy yang masih terus melangkah menuju tempat mereka semua.
Adi hanya diam dengan amarah yang sangat jelas, ayah mertua yang diam mendengarkan dengan wajah yang setengah tak percaya, sementara Rani? dia tersenyum sinis seperti penuh dengan kebahagiaan. Mungkin dia puas karena merasa menang.
"Untung saja Rani lihat kalau tidak semua tak akan tau kelakuan buruk kamu saat kami semua pergi," ucap Lusi lagi.
Hembusan nafas panjang keluar dari hidung Arsy, menata hati sebelum dia berbicara. Ini tak akan mudah untuk dia menjelaskan karena sepertinya mereka lebih percaya pada Rani sang menantu kebanggaan.
"Semua itu tidak benar, Bu. Saya tidak pernah berhubungan dengan Mas Sam. Tadi hanya kebetulan bareng saja."
"Awalnya Arsy sudah menolak untuk di ajak boncengan, tapi setelah jatuh dan kaki Arsy sakit. Maka dari itu Arsy menerima tawarannya." Arsy menjelaskan.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tetap menolak, atau jangan-jangan kamu memang sengaja menjatuhkan diri supaya perjaka tua itu menolong mu? iya!" sergah Adi.
"Astaghfirullah, Mas! Arsy sadar Arsy bodoh! tapi Arsy masih bisa membedakan mana yang baik dan juga tidak! saya masih punya harga diri, Mas!" jawab Arsy.
Dengan perkataan Adi barusan bukankah dia menuduh Arsy adalah perempuan yang tidak benar, iya kan?
"Syukurlah kalau kamu masih sadar diri. Tapi aku masih tidak percaya padamu." Adi beranjak, dia melenggang pergi dari hadapan semua orang.
"Mas, kamu mau kemana? Mas!" teriak Arsy yang melihat Adi keluar rumah dan tak lama terdengar Adi menyalakan motornya.
"Mas!" Arsy ingin beranjak untuk mengikuti tapi tangannya di tarik oleh Lusi.
"Biarkan dia pergi. Dia pasti sangat kecewa padamu!" ucapnya dengan tatapan yang kian tajam.
Arsy menoleh kearah Rani, dia terus senang melihat nasibnya yang sudah di benci oleh keluarga suaminya termasuk suaminya sendiri.
"Makanya, kalau orang bodoh itu nyadar diri dong! sudah nggak bisa menghasilkan uang malah buat ulah." Sinis Rani.
Semakin panas hati Arsy, tapi mau bagaimana? dia tidak bisa membalas sekarang karena dia tetap yang akan di salahkan. Tak akan ada orang yang membantunya dan jelas mertuanya akan semakin membenci dirinya.
Arsy memilih pergi, kembali masuk ke kamar untuk melihat Laili, dia adalah sumber kekuatan untuknya dan akan selalu seperti itu.
Arsy duduk di tepi ranjang, melihat Laili yang begitu pulas. Jika tidak karena identitas Laili yang jelas dengan kedua orang tua yang lengkap mungkin Arsy sudah akan membawa dia pergi dari rumah yang sudah seperti neraka baginya.
"Maafkan ibu ya, Nak." ucapnya. Akhirnya pertahanannya runtuh, Arsy menangis. Dan inilah tangisan pertama setelah menikah dengan Adi. Dia selalu kuat menahan apapun, tapi tidak untuk sekarang. Dia begitu rapuh.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung....
__ADS_1