
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Berat ataupun tidak! Tapi Arsy harus tetap pergi dari rumah Adi dan meninggalkan semua kenangan manis yang pernah dia alami di sana. Meski sebenarnya lebih banyak penderitaan yang dia dapat di sana, tapi itu adalah sebagai pembelajaran hidup untuk menjadikan dia wanita yang lebih kuat.
Semula hanya ada Adi saja di rumah, tapi sekarang sudah ada perempuan asing yang Arsy yakini adalah perempuan yang menjadi selingkuhan Adi. Bukan hanya dia saja, tetapi juga Lusi mertuanya dan Rani yang juga datang.
Tatapan mereka begitu sinis, begitu juga dengan senyum mereka yang terlihat begitu bahagia melihat Arsy yang kakinya melangkahkan keluar dari rumah tersebut.
"Akhirnya, benalu di rumah ini pergi juga. Setelah ini rumah pasti akan selalu damai." ujar Rani sinis, sama seperti matanya yang memandang Arsy begitu rendah dan hina.
"Kenapa tidak dari dulu kamu keluarkan dia dari rumah ini, Adi Adi," ucapnya lagi.
Sementara Adi, dia hanya menyandarkan punggungnya pada dinding dengan tangan melipat di depan dada juga dengan satu kaki yang dia tekuk dengan telapak kaki menempel pada dinding. Dia begitu acuh, tak peduli dengan Arsy yang begitu sesak.
"Kita lihat saja, di luar dia akan makan apa. Aku yakin hanya makan dari belas kasihan orang lain." Lusi tak mau kalah, ucapannya juga sama seperti menantu kebanggaannya itu.
Belum tau saja kalau dia hanya memanfaatkannya, dia hanya akan datang saat butuh saja. Dia bukanlah menantu ideal yang seperti dia bayangkan.
Jika Lusi tau, pastilah dia akan syok, bisa jadi akan jantungan. Bukan Rani saja, bahkan anaknya si Adi juga tukang selingkuh, apa yang bisa di banggakan dari orang seperti itu. Tidak ada!
"Ayo, Bu. Kita pergi saja," ajak Laili. Sepertinya anak kecil itu sudah tidak tahan mendengar penghinaan mereka terhadap Arsy.
"Hem," Arsy mengangguk.
Satu tangannya menenteng ransel sementara satunya lagi menarik koper. Sementara Laili, dia menggendong tas sekolahnya yang berisi semua perlengkapan sekolah.
"Tunggu!" Semua menoleh ke arah Siska, entah apa maksudnya dia berteriak dan menghentikan langkah Arsy dan juga Laili.
Siska berjalan mendekat, mengeluarkan uang pecahan berwarna hijau dan hendak memberikan pada Arsy.
"Nih, aku mau bersedekah dengan orang susah. Semoga saja bisa menjadi bekal kalian. Kalau buat beli nasi kucing sih bisa beberapa hari." sinisnya.
Rani dan yang lain pikir Siska menghentikan karena merasa iba dan akan benar-benar menghentikan, tapi ternyata. Hinaan dia lebih menyakitkan lagi karena menganggap Arsy hanyalah seorang pengemis.
"Terima kasih atas niat baik kamu, tapi maaf, saya tidak butuh uangmu yang belum tentu itu uang halal. Aku bisa mencukupi kebutuhan ku sendiri tanpa harus menengadahkan tangan pada orang lain." Arsy mengembalikan uang itu dengan cara melemparkannya.
"Oh iya, semoga kamu bahagia dan jangan sampai menyesal karena telah menghancurkan rumah tangga perempuan lain." ucap Arsy begitu berani.
Mata Siska membulat sangat lebar ketika semua kata Arsy terucap, dia sangat marah jelas saja. "Beraninya kamu!"
__ADS_1
"Ingat ya! aku tidak akan pernah menyesal. Dan aku bukan perempuan yang telah menghancurkan rumah tangga mu, tapi kamu sendiri yang telah menghancurkan karena kamu tidak becus membahagiakan suamimu." Ucapan Siska begitu menegaskan.
"Terserah apa katamu, semoga kamu beruntung dengan kehidupanmu," Arsy tetap mendoakan Siska dengan doa yang baik, padahal dia sudah di hina begitu saja.
"Assalamu'alaikum," pamitnya.
Arsy tetap tersenyum di depan semua orang meski sebenarnya hatinya sangatlah sakit, dia tidak ingin terlihat lemah di mata mereka dan membuat semuanya senang atas penderitaan.
Kembali Arsy melangkah, dia harus secepatnya pergi dari sana dan pergi dari orang-orang yang tidak pernah bisa menghargai dirinya. Semoga saja dia akan mendapatkan tempat di mana orang-orang bisa memperlakukan dirinya dengan baik, tidak seperti mereka.
"Ibu, kita akan pergi ke mana?" tanya Laili.
Arsy terdiam dia juga sangat bingung akan pergi ke mana, tidak ada tempat yang pasti untuk menjadi tujuannya.
"Hem..." Arsy berpikir keras ke mana dia harus pergi?
Di tengah perjalanan ada seseorang yang memanggil, suaranya kian dekat membuat Arsy menghentikan langkah dan melihat siapa yang telah memanggil dirinya.
"Budhe Tantri?" Arsy mengernyit.
"Arsy, kamu mau kemana? Dan..., ini kenapa bawa-bawa tas seperti ini?" Budhe Tantri sangat penasaran. Dia sudah berdiri di hadapannya sekarang.
"Kenapa?" jelas saja Budhe Tantri akan sangat penasaran. "Apakah mereka mengusirmu?" Tebaknya yang ternyata benar. Arsy mengangguk pelan dengan senyum simpul yang tertahan.
"Astaghfirullah, tega benar mereka. Hem, terus kamu mau pergi kemana?"
"Belum tau, Budhe." Arsy menggeleng.
Budhe Tantri terdiam sejenak, namun terlihat dia berpikir sangat keras.
"Hem, bagaimana kalau kamu tinggal di rumah Budhe saja. Kami hanya tinggal berdua saja, dan kami juga sangat kesepian. Dengan adanya kamu dan Laili pasti rumah akan lebih ramai."
Begitu baik Budhe Tantri, dia menawarkan tinggal di rumahnya.
"Tidak usah, Budhe." tolak Arsy. Dia jelas tidak mau menjadi beban untuk Budhe Tantri dan juga suaminya.
"Tidak apa-apa, tinggallah dengan budhe. Ya?" Begitu memohon Budhe Tantri sekarang.
"Memangnya kamu tidak kasihan pada Laili? Oke, kamu bisa tinggal di rumah Budhe untuk sementara, setelah kamu mendapatkan kontrakan kamu boleh pergi. Yang terpenting kamu dan Laili tidak bingung lagi. Ya,"
__ADS_1
"Tapi, Budhe?"
"Sudah, sini biar Budhe bantu." Langsung Budhe menarik koper yang Arsy bawa, tangannya sedikit merangkul Arsy dan menuntunnya untuk menuju rumahnya sendiri.
****
"Jadi Adi telah menceraikan mu?" tanya budhe Tantri. Keduanya sudah ada di rumah budhe Tantri, duduk berhadapan di kursi kayu yang terlihat masih mengkilap meski sudah begitu lama.
"Dasar bodoh itu, Adi. Aku yakin dia akan menyesal. Kamu yang sabar ya, Nduk." ucap Pak Nirwan, suami Budhe Tantri yang juga ada di sana.
"Iya, dia pasti akan menyesal. Orang-orang dzalim seperti mereka pasti akan mendapatkan ganjarannya yang pantas." Rupanya Budhe Tantri yang lebih menggebu-gebu amarahnya.
Kedua orang tua itu begitu kasihan dengan nasib Arsy, mereka tau segalanya sekarang semua perlakuan Adi dan keluarganya pada Arsy, hanya bisa terus beristighfar dan juga mengelus dada.
"Yang sabar ya, Nak. Budhe yakin ada kebahagiaan yang sudah Allah siapkan untuk mu." Budhe Tantri tersenyum, membuat Arsy merasa mendapatkan kekuatan untuk menjalani hidupnya.
"Mulai sekarang, kamu bebas tinggal di sini. Ya meski keadaannya seperti ini." Mata Budhe Tantri mengedar ke segala penjuru, seakan dia tengah menunjukan pada Arsy bagaimana keadaan sesungguhnya.
"Ini sudah lebih dari cukup, Budhe. Justru Arsy yang minta maaf karena jadi merepotkan Budhe dan Pak dhe." ucapnya.
"Enggak lah, kita nggak repot." jawab Nirwan.
Dengan kedatangan Arsy juga Laili akan memberikan warna baru untuk keduanya. Mereka seperti memiliki seorang anak juga seorang cucu sama seperti yang lain, entah takdir apa yang Allah berikan pada mereka.
"Sekarang kamu istirahat saja, dan jangan lagi memikirkan masalah itu. Kamu harus bangkit. Kamu harus bisa buktikan sama mereka kalau kamu bisa sukses melebihi mereka."
Dukungan Budhe Tantri yang sangat berharga. Tak ada dukungan yang lebih baik daripada ini.
"Terima kasih, Budhe." Sungguh bersyukur Arsy menemukan Budhe Tantri, kelembutannya dan sifat mengayominya sama persis seperti ibunya, bagaimana mungkin dia tidak akan betah.
Arsy menjadi merasa begitu dekat dengan ibunya.
'Bu, Arsy kangen sama, Ibu.' batinnya. Langsung Arsy memeluk Budhe Tantri dan membuatnya tercengang dalam beberapa detik sebelum akhirnya membalas pelukannya.
'Ya Allah, Nak. Berat sekali ujian hidup mu. Semoga kamu selalu kuat dan mendapatkan akhir yang baik.' batin Budhe Tantri.
◆◇◆◇◆◇◆◇
Bersambung..
__ADS_1