Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Terlambat menyadari


__ADS_3

◆◇◆◇◆◇◆◇


Semua yang terjadi nyatanya tak sesuai apa yang diinginkan, Lusi yang begitu bahagia mendapatkan menantu yang kaya dengan mobil mewah yang selalu di bawa kemana-mana nyatanya itu tidak membuat dia tenang sekarang. Ternyata Siska adalah perempuan yang ogah-ogahan, perhitungan dan juga begitu banyak menuntut.


Setiap hari rumah terus ramai karena Siska, bukan ramai karena kebahagiaan yang terjalin di dalamnya melainkan karena argumen yang selalu terjadi antara Siska dan juga Adi.


Seperti hari ini.


"Siska, tolong dong buatin aku kopi," ucap Adi. Berbicara dengan pelan, meminta dengan baik-baik tapi ternyata tak disambut baik oleh Siska.


Siska yang sedang asyik pada majalahnya sama sekali bergeming, tetap serius dengan majalahnya bahkan tidak menoleh sebentar saja meski dia tetap menjawab.


"Bikin saja sendiri," jawabnya dengan sangat acuh.


"Kamu saja tidak bisa memberikan apa yang aku mau jadi jangan harap aku akan melakukan apa yang kamu minta," imbuhnya lagi dengan semakin angkuh.


"Siska, jangan bicara seperti itu. Adi adalah suamimu,jadi kamu harus tetap menghormatinya," Lusi seakan tak terima kalau anaknya diperlakukan seperti itu namun Siska tetap tak peduli.


"Suami? buat apa menghormati suami yang tidak bisa memberi apapun. Aku bukan Arsy ya, yang bodoh yang bisa kalian perlakuan sesuka hati kalian."


"Siska!" seru Lusi, amarahnya memuncak sampai pada ubun-ubun sepertinya hingga dia juga langsung berdiri dari duduknya.


Meski sudah mendapatkan bentakan dari Lusi tapi Siska tetap acuh tak peduli. Bahkan dia hanya menyunggingkan bibirnya saja tanpa melihat ke arah Lusi dan bagaimana wajahnya yang penuh dengan amarah.


"Sudah, Bu. Biar Adi bikin sendiri," Adi terpaksa beranjak dari tempatnya duduk, menghentikan Lusi yang akan maju ke tempat Siska.


"Tidak bisa Adi, ibu tidak rela kamu di perlakukan seperti ini." Lusi semakin gerah saja.


"Tidak, biarkan saja." Adi langsung melangkah pergi dari ruangan itu dan pergi ke dapur. Sementara Siska tetap tak peduli dan tetap sibuk dengan majalahnya.


Kesal namun tak bisa berbuat apa-apa membuat Lusi langsung pergi kuga dari sana, membiarkan Siska dan kesenangannya sendiri.

__ADS_1


"Adi!" teriaknya sembari melangkah mengikuti Adi ke dapur.


"Enak saja, dia mau nyuruh-nyuruh, aku bukan babu di sini," gumam Siska, menoleh sebentar ke arah dapur dan sudah tak melihat siapapun.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Di rumah Bu Tantri, Arsy sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Semua masakan untuk sarapan sudah tersedia di atas meja begitu juga dengan minuman Bu Tantri dan sang suami.


Arsy harus bisa lebih gesit lagi, dia harus pergi ke pasar, ke tempat dimana dia membuka usahanya.


"Budhe, Pakde, sarapannya sudah siap. Laili, sarapan yuk!" teriak Arsy dari meja makan.


"Ya," jawab Bu Tantri. segera menuntun suaminya dan juga mengajak Laili yang pagi-pagi sudah bermain.


"Ibu, hari ini Ibu akan ke pasar lagi?" tanya Laili bersamaan dengan usahanya untuk duduk di kursi.


"Iya, Sayang. Ibu harus ke pasar lagi. Nanti pulang sekolah kamu mau di rumah saja atau ikut Ibu?" tanyanya. Arsy mulai sibuk dengan menyiapkan makanan untuk ketiganya di piring.


"Baiklah, sekarang makan yang banyak ya," pinta Arsy dan Laili langsung mengangguk.


"Terima kasih, Nak." ucap pak Nirwan.


Arsy hanya tersenyum saja. Apa yang dia lakukan sekarang tidak bisa di bandingkan dengan kebaikan pak Nirwan dan Bu Tantri untuk dirinya dan Laili. Jika saja tidak ada keduanya mungkin Arsy tidak akan bisa seperti sekarang ini.


~~```


"Laili!"


Seketika Laili menoleh ketika ada yang memanggilnya. Baru saja Arsy pergi dan dia akan masuk ke sekolahnya namun kini di hentikan oleh panggilan seseorang.


A-ayah?" Laili mengernyit. Bingung saja karena tak biasanya Adi datang tapi sekarang dia datang. Laili terus melihat Adi yang kian dekat hingga akhirnya berhenti di depannya dan berlutut di hadapan anak kecil itu.

__ADS_1


"Laili sayang, ini yah bawakan jajanan untuk kamu," ucapnya.


Laili ragu untuk menerimanya, bahkan dia hanya terus terdiam di tempat. Tak biasa Ayahnya akan baik seperti ini.


"Kenapa, apakah kamu tidak mau menerima pemberian ayah?" tanya Adi.


"Apakah ibumu melarang mu? maafkan ayah, Sayang. Ayah tuh sayang sekali sama kamu, maafkan ayah ya," wajah Adi terlihat begitu memelas, berharap Laili akan memaafkannya dan menerima pemberiannya.


"Hem, ada acara apa ayah memberi Laili jajanan? ayah ulang tahun ya?" tanya Laili.


Seseorang yang tak pernah memberi sesuatu sekalinya memunculkan pertanyaan itu dari Laili.


"Teman Laili juga kemarin memberi jajanan pada Laili karena dia ulang tahun, padahal dia tidak pernah memberi apapun pada Laili."


Hati Adi rasanya tertampar dengan begitu keras karena ucapan dari Laili. Menyadari dirinya memang tak pernah memberikan apapun pada Laili bahkan kasih sayang pun juga tidak. Tapi dia tak bisa menyalahkan Laili jika punya pemikiran seperti itu.


"Tidak, Ayah tidak ulang tahun. Ayah memang mau saja memberi kamu ini." hati Adi terasa sakit. Ucapan anaknya sedikit menyadarkan akan perlakuannya selama ini.


"Oh, tapi maaf, Ayah. Ibu memang tidak melarang Laili untuk menerima apapun dari Ayah, tapi ibu melarang Laili untuk makan makanan jajanan seperti itu. Maaf ya," ucap Laili menolak.


"Kemarin saat makan seperti itu Laili sakit jadi Ibu melarang Laili."


Ted!


"Eh udah masuk, Laili belajar dulu ya, Yah." Laili cepat berlari.


Tangan Adi turun dari lengan Laili begitu pelan, terasa luruh semua semangatnya setelah mendengar semua ucapan Laili barusan.


"Ayah macam apa aku ini?" gumamnya. Tatapan kosong dengan mata yang terasa panas.


◆◇◆◇◆◇◆◇

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2