Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Pergi Ke Toko Tekstil


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Laili terlihat begitu senang saat melihat Frans datang. Anak kecil itu menyambut dengan bahagia bahkan langsung berlari menghampiri Frans yang baru saja keluar dari mobil. Terlihat jelas bahwa Laili sangat tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang sudah begitu akrab, dan terlihat begitu menyayangi dirinya lebih dari ayahnya sendiri.


"Om!" teriak Laili. Berdiri menunggu dengan jarak beberapa langkah saja dari Frans yang kembali membuka pintu mobil bagian belakang, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia keluarkan.


"Iya, Sayang. Sebentar ya," jawab Frans. Dia hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke arah dalam dan benar, Frans mengeluarkan beberapa paper bag dan juga ada boneka.


Laili terus melihat dengan begitu bingung, barang sebanyak itu untuk apa, dan untuk siapa?


"Om, ini apa?" tanya Laili.


"Ini oleh-oleh dari Om untuk Laili dan Ibu Laili. Om habis gajian," jawab Frans. Pria itu tersenyum begitu sumringah setelah menjelaskan kepada Laili.


"Tapi ini banyak sekali, Om." ujar Laili. Laili masih saja tertegun di hadapan Frans yang kini berdiri dengan menunduk ke arah bocah kecil itu.


"Tidak apa-apa, kan Om belinya juga jarang-jarang. Ayo masuk," ajak Frans. Mengulurkan tangan dan Laili langsung menyambutnya dengan baik dan mereka berdua masuk bersama-sama.


"Assalamu'alaikum!" seru keduanya bersamaan. Keduanya begitu kompak, membuat Pak Nirwan yang ada di ruang tengah langsung terkejut namun juga langsung tersenyum.


"Wa'alaikum salam," jawabnya. "Eh, ada Nak Frans. Sini masuk, Nak."


"Terima kasih, Pakde." Tanpa berpikir panjang Frans langsung berjalan masuk dan menghampiri Pak Nirwan juga bergegas duduk di salah satu kursi kosong. Tentu hal itu juga dilakukan oleh Laili.


"Nak, apa ini?" tanya Pak Nirwan. Ternyata bukan hanya Laili saja yang penasaran, tapi juga Pak Nirwan melihat apa yang di bawah oleh Frans yang begitu banyak.


"Ini, ada oleh-oleh untuk Laili, Arsy, Pakde juga Budhe. Semoga kalian semua suka." jawab Frans.


"Ya Allah, Nak. Kok malah repot-repot. Seharusnya ini tidak perlu kan?"


"Tidak apa-apa, Pakde. Mumpung Frans ada rezeki."


"Oh iya, Arsy di mana Pakde? Aku sudah berjanji padanya untuk menemani mencari bahan-bahan yang kemarin rusak." tanya Frans. Dia menoleh ke dalam namun tetap belum menemukan Arsy.


"Ada, mungkin sedang di dapur." jawab Pak Nirwan. Dia langsung menoleh ke arah Laili yang sudah asyik dengan boneka dari Frans. "Laili, panggilin ibu di dapur."


"Iya, Kek." Laili seketika beranjak dan meletakkan kembali boneka di kursi. Dia berlari ngacir begitu saja membuat kedua laki-laki beda usia itu tersenyum gemas.


"Anak itu, dia sangat menggemaskan." ujar Pak Nirwan sembari memandangi Laili yang berlari.


"Pakde benar, bahkan setiap hari aku selalu merindukannya." jawab Frans yang juga sama.

__ADS_1


"Rindu anaknya atau Ibunya?" goda Pak Nirwan.


"Apa sih Pakde nih." Frans tersenyum, menunduk karena benar-benar merasa sangat malu. Tebakan Pak Nirwan benar adanya. Dia juga selalu merindukan Arsy.


"Pakde tau, meski kamu tidak mengatakannya semuanya sangat jelas. Pakde hanya berpesan, jika suatu saat kamu bisa mendapatkan Arsy, jangan sakiti dia. Cukup sekali saja dia menderita dan gagal dalam pernikahan."


"InsyaAllah, Pakde. Frans akan melakukan apa yang Pakde katakan. Karena saya benar-benar cinta dengan Arsy, Pakde."


"Terus anaknya?"


"Sama Laili juga, Pakde. Kalau benar, bukan hanya kebahagiaan Ibunya yang menjadi prioritas saya, tapi juga kebahagiaan Laili." Jelas Frans.


"Alhamdulillah, Pakde senang dengarnya." Siapa yang tidak akan bahagia jika anaknya didekati oleh pria sebaik Frans. Meski hanya anak angkat bagi Pak Nirwan.


"Mas, kamu sudah datang?" tanya Arsy, dia benar habis di dapur. Tangannya terlihat masih basah.


"Iya, maaf aku terlambat. Tadi di perjalanan macet." jawab Frans yang langsung menoleh. Hatinya terasa was-was, apakah perbincangannya dengan Pak Nirwan didengar oleh Arsy?


"Nggak apa-apa, Mas. Justru Arsy yang minta maaf karena merepotkan Mas." ujar Arsy begitu tak enak hati. "Kalau begitu saya bersiap dulu."


Arsy ingin memutar tubuhnya lagi, tapi Frans memanggilnya dan menghentikan pergerakannya.


"Arsy, ini. Ada oleh-oleh untuk kamu dan Laili. Semoga kalian suka." Beberapa paper bag Frans berikan tanpa berdiri. Dia tetap duduk di tempat.


"Tidak apa-apa, ambil saja, Arsy." ujar Pak Nirwan. Membuat Arsy menoleh ke arahnya.


"I-iya, Pakde." Jawab Arsy tergagap. "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama. Kalau boleh, bisa di pakai saja sekalian untuk pergi, Arsy. Semoga cocok dengan mu." Sebenarnya Frans hanya ingin lihat saja bagaimana Arsy jika memakai pakaian pemberiannya. Apakah cocok atau tidak.


"I-iya, Mas." Arsy begitu patuh. Meski sangat sungkan tapi dia putuskan untuk menerima saran dari Frans.


*****


Arsy terus diam di dalam mobil yang berjalan. Memangku Laili yang bermain beberapa mainan yang dia bawa dari rumah.


Sesekali Frans melirik, melihat Arsy yang sungguh cantik dengan pakaian pilihannya. Gamis biru dengan tali li bagian pinggang. Juga terdapat aksesoris lain yang menambah kesan mewah.


"Ternyata pas, aku pikir akan kebesaran di kamu. Apakah kamu suka? Kalau tidak sesuai dengan keinginanmu aku minta maaf. Soalnya ini pertama kali aku beli pakaian wanita."


Begitu jujur Frans mengatakan hal itu. Dia memang belum pernah, bahkan untuk baju ibunya saja dia hanya menemani tak mau membelikan langsung.

__ADS_1


"I-ini bagus kok, Mas. Bagus banget malahan. Elegan, tapi terlihat mewah. Sebenarnya, sebenarnya kurang cocok kalau di pakai hanya untuk ke pasar. Lebih cocok di pakai ke acara kondangan. Kalau aku sih, hehe."


"Tidak apa-apa, mau kemanapun kamu bebas memakainya." Frans juga tersenyum menanggapi.


Pakaian yang biasa saja orang-orang pakai ketika ke pasar atau kemanapun tapi Arsy berpikir itu tidak pantas untuk di pakai ke pasar. Apakah itu begitu mewah menurutnya?


"Terima kasih ya, Mas. Tapi seharusnya tidak perlu beli-beli seperti ini. Ini pasti sangat mahal kan?"


"Tidak mahal, hanya beberapa rupiah saja. Kebetulan lagi ada rezeki terus aku lihat baju itu sepertinya cocok di kamu, jadi aku beli." jawab Frans.


"Hem," Arsy tersenyum simpul. Frans memang sangat baik.


"Mulai besok, kita bisa sering-sering jalan bertiga seperti ini."


"Maksudnya?" Arsy kembali menoleh. Matanya mengernyit bingung karena tak tau apa yang Frans maksudkan.


"Aku dipindah tugaskan di perusahaan terdekat. Jadi aku bisa setiap hari pulang."


"Oh," Arsy mengangguk. "Tapi tidak perlu sering-sering juga jalan-jalannya, Mas. Takut akan ada fitnah. Kita bukan pasangan halal, kalau sekali atau dua kali mungkin tidak apa-apa, tapi kalau sering? Pasti omongan orang akan lain."


Frans hanya diam tak menjawab. Memang benar apa yang dikatakan Arsy. Tapi dia sangat ingin, biar saja apa kata orang, karena setelah semua siap Frans juga akan melamar Arsy secara langsung. Tak ada kata pacaran di usianya sekarang.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai." Mobil berhenti.


Arsy langsung terperangah. "Mas, ini kan bukan pasar?"


"Iya, ini toko tekstil yang super lengkap. Kamu bisa cari apapun yang kamu butuhkan di sini tanpa harus lelah keliling pasar." jawab Frans.


"Tapi, Mas?" Arsy begitu ragu. Jelas yang dia pertimbangkan adalah harga yang bisa saja jauh berbeda di bandingkan pasar.


"Kamu tidak usah mikir biaya, di sini harganya lebih ringan dari pasar. Bahkan banyak pedagang pasar yang belanja di sini. Ayo." Ajak Frans. Dia seolah tau apa yang Arsy pikirkan saat ini.


'Benarkah?' batin Arsy. Arsy turun masih dengan ragu. Bagaimana mungkin yang Frans katakan benar.


"Ramai sekali, Mas." Semakin melihat Arsy semakin takjub. Bukan hanya ramai dari para pengunjung saja, tapi juga barang-barang yang sangat lengkap. Bahkan satu gedung yang luas hanya berisi bahan-bahan jahit yang dia butuhkan.


"Setelah masuk kamu pasti akan lebih senang lagi. Ayo," ajak Frans. Dia mendekat dan langsung mengangkat tubuh Laili yang kecil.


"Tidak usah, Om. Laili udah besar, pasti berat."


"Tidak, Laili belum berat sama sekali. Sepertinya Laili masih harus tambah porsi makannya biar makin berat." jawab Frans. Dia melangkah lebih dulu lalu Arsy mengikuti.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Bersambung...


__ADS_2