
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Kedekatan Arsy dan juga Frans membuat Adi kian uring-uringan sendiri, di tambah lagi dengan sikap dari Siska yang tak manis seperti awal pertemuannya. Dia lebih sering menuntut ini dan itu, sungguh berbeda dengan yang dulu Arsy lakukan.
Bukan hanya Adi saja, tapi juga semua keluarganya yang menganggap dulu perpisahan Adi dan Arsy akan membuat Arsy sedih dan terpuruk, nyatanya semua itu tidak terjadi.
Arsy lebih maju sekarang, dengan usaha yang semakin ramai dan mulai di ketahui oleh banyak orang, jelas orderan akan semakin banyak saja.
Duduk di antara Bu Tantri dan juga sang suami, Arsy tengah membicarakan tentang niatnya untuk mengembangkan niatnya. Menyewa sebuah kios dekat pasar yang akan dia jadikan untuk mengais rejeki dengan menjahitnya.
Dia sudah sangat yakin untuk lebih mandiri tampa bantuan dari Tantri, kalau di rumah dia masih tetap meminta bantuannya tapi kalau di tempat yang akan dia sewa mungkin dia hanya akan sendiri saja untuk sementara.
"Nak, kamu beneran akan menyewa kios di dekat pasar?" tanya Pak Nirwan yang kini menatap fokus pada Arsy yang sudah bagaikan anaknya sendiri di rumah itu.
"Iya, Nak. Apa kamu benar-benar sudah yakin?" tanya Bu Tantri juga. Keduanya masih sangat khawatir untuk melepaskan Arsy dengan usahanya sendiri si tempat yang mereka tidak mungkin datangi tapi mereka juga tidak bisa menghalangi niat baik Arsy untuk bisa semakin maju.
"Iya, Pakde, Budhe. Arsy sudah sangat yakin. Apalagi Arsy juga sudah melihat tempatnya yang sangat bagus."
"Tapi, Nak?" sangat jelas kekhawatiran Bu Tantri pada Arsy.
"Tidak apa-apa, Budhe. Arsy pasti bisa. Apalagi mendapatkan doa dari Pakde dan juga Budhe." Arsy tersenyum begitu manis membuat keduanya ikut tersenyum meski terkesan terpaksa.
~~```
Semua mulai di persiapkan oleh Arsy. Dengan mesin second yang dia beli dan juga semua perlengkapan yang belum banyak, dia sudah mulai membereskan kios dan menata tempat itu di temani oleh Laili.
Bocah itu terlihat begitu bahagia meski belum tau banyak hal tentang usaha baru ibunya itu. Hanya menata-nata benang dan juga jarum saja sudah membuat dia begitu senang seperti mendapatkan mainan baru saat ini.
Arsy yang melihat anaknya ikut sibuk dengan duduk di lantai membuat dia tersenyum. Dia begitu bahagia, setidaknya ada Laili yang akan menjadi penguat untuk semua usahanya.
"Ibu, ini sudah belum?" Tanya Laili, menunjukkan benang yang sudah dia tata dalam kotak. Begitu banyak dan juga begitu beraneka macam warna. Meski hanya Arsy beli dengan harga yang murah namun kualitasnya tetap gak di ragukan. Arsy membeli yang kiloan dengan aneka warna jadi lebih murah.
"Sudah, terima kasih cantik. Anak ibu pinter banget sih, makasih ya," ucap Arsy. Berjalan mendekati Laili yang tetap duduk dan menerima kotak tersebut.
"Benar begini kan, Bu?" tanyanya lagi.
"Iya, Sayang. Terima kasih ya sudah bantuin Ibu." di elus sejenak pipi Laili yang kian gembul, mungkin karena dia bisa selalu makan enak dan juga hidup dengan mendapatkan limpahan kasih sayang jadi dia menjadi. lebih baik sekarang.
"Sama-sama, Bu. Apa masih ada lagi?"
__ADS_1
"Hem, sepertinya sudah." jawab Arsy yang sejenak mengedarkan pandangannya.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang.
Keduanya menoleh dengan bersamaan dan seketika membuat Laili tersenyum cerah saat melihat siapa yang datang, bahkan dia juga langsung berdiri untuk menyambutnya.
"Om Sam!" pekiknya. Dia langsung menghampiri padahal masih berdiri di ambang pintu karena ragu untuk masuk.
"Wa'alaikumsalam," jawab Arsy yang juga berdiri setelah tadi dia berjongkok di hadapan Laili.
Sedikit bingung karena Sam yang datang tiba-tiba, darimana dia tau kalau dirinya ada di sana, apakah Bu Tantri yang memberitahu? bisa jadi.
"Lihatlah, Om bawakan makan siang untuk Laili. Laili belum makan kan?" ucapnya. memperlihatkan kresek putih yang berisi tiga kotak nasi di dalamnya.
"Belum, Om. Terima kasih ya, Om. Kebutuhan Laili sangat lapar."
"Silahkan masuk, Mas." ajak Arsy.
Frans tersenyum, dia melangkah masuk dan mengikuti Arsy yang membawanya di tempat duduk sederhana yang tersedia.
"Terima kasih Mas sudah bawakan makan siang untuk kami, seharusnya Mas tidak perlu repot-repot."
Arsy menggeleng, dia memang belum makan bahkan sarapan pun dia juga belum.
"Sekali lagi terima kasih, Mas." Ucap Arsy lagi."
Sam hanya tersenyum saja sebagai jawaban, menatap lekat Arsy yang kini terlihat malu dengan menundukkan wajah karena sadar dia lihat.
"Ma_maaf, kenapa Mas melihatku seperti itu, apakah ada yang aneh?"
"Tidak ada."
Semakin salah tingkah Arsy karena tatapan dari Sam yang terlihat begitu berbeda dari biasanya. Tak tau apa yang Sam rasakan karena Arsy memang belum tau kalau Sam menyukai dirinya.
"Ayo di makan," ucap Sam.
"I_iya," gugup Arsy menjawab.
"Om, Om nggak kerja kah? kok sudah pulang?" tanya Laili. Mulai kepo tuh anak.
__ADS_1
Biasanya Sam akan pulang hanya hari minggu saja tapi akhir-akhir ini dia memang lebih sering pulang dan selalu saja dia sempatkan bertemu dengan Arsy dan juga Laili. Atau mungkin memang kepulangan dia karena keduanya?
"Hem, Om libur jadi Om pulang deh. Om kangen sama Laili," ucapnya dengan wajah yang di bikin seimut mungkin dan juga suara yang merengek.
"Oh, Laili juga kangen sama om."
"Hem, bagaimana kalau nanti om ajak jalan-jalan, mau?"
"Tapi sama ibu kan?"
Sontak Sam menoleh lagi ke arah Arsy yang diam membisu karena mendengar ucapan mereka.
"Kalau ibu Laili mau kenapa tidak," ucap Sam. Tatapannya masih tertuju pada Arsy.
"Bagaimana, Bu, mau kan?" kini Laili yang merengek.
"I_ibu?"
"Mau ya, Bu. Mumpung Ibu belum buka kalau sudah buka nanti nggak ada kesempatan lagi untuk jalan-jalan."
Sam terus melihat seperti dia menunggu jawaban dari Arsy. Apakah mungkin akan bersedia atau menolak?
"Hem," Arsy mengangguk pelan nyaris tak terlihat pergerakannya namun mampu membuat Laili tersenyum bahagia begitu juga dengan Sam.
"Ye!!" sorak nya.
Dengan lahab Laili makan, dia begitu tak sabar untuk segera jalan-jalan dengan Sam, entah akan di ajak kemana setelah ini.
"Hati-hati, Laili," ucap Arsy dan Sam bersamaan bahkan tangan mereka juga bergerak bersamaan mengusap nasi yang tertinggal di sudut bibir bocah itu.
Deg!
Jantung Sam yang begitu cepat bekerja saat jari telunjuk nya menyentuh jari Arsy. Tatapan mata seketika bertemu dengan diam. Canggung, itulah yang terjadi sekarang.
"Ibu dan Om, sehat?" tanya bocil itu dengan polosnya.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung...
__ADS_1