
◆◇◆◇◆◇◆◇
"Wah, tumben masak daging?" kedatangan Rani pasti saja hanya akan membuat Arsy selalu di hina. Kini saat Arsy masak satu macam daging saja dia datang dengan dua jenis olahan daging.
Begitu jelas kalau Rani hanya ingin menyaingi Arsy di mata seluruh keluarganya. Pasti dia sengaja supaya Arsy itu jatuh di hadapan semuanya.
"Wah wah, makan enak nih malam ini." Lusi terlihat begitu bahagia dengan melihat beberapa macam olahan daging di atas meja. Dia yang baru keluar dari kamar langsung duduk begitu saja begitu juga dengan suaminya.
"Jelas dong, Bu. Lihatlah apa yang aku bawa, ada sate juga gulai ini rasanya enak banget loh, Bu. Aku beli di tempat favorit dan yang paling aku suka, tempat langganan Rani, Bu." ucapnya bangga.
"Kamu memang menantu paling baik deh," jawab Lusi. Dia begitu bahagia, tangannya mengelus lengan Rani sejenak lalu beralih melihat makanan yang ada di hadapannya.
"Jelas dong, Bu." Rani menatap Arsy semakin sinis. Sok berbangga dan juga sok sempurna menjadi menantu. Berharap menjadi menantu idaman.
"Ibu kalau ingin apapun bilang saja sama Rani. Kalau Rani pasti bisa selalu memberikan apa yang ibu minta, nggak tau kalau yang situ." Ucapannya pun juga semakin nyinyir.
Jelas saja dia tidak akan suka dengan Arsy, entah kenapa Arsy belum tau alasannya dan juga Arsy belum tau apa yang menjadi tujuan Rani sebenarnya. Akhir-akhir ini dia seringkali datang ke rumah itu dan mencari perhatian.
"Jangankan beli daging, hanya ngasih buat jajan anak saja susah," ucapnya lagi.
Semakin berani Rani menghina Arsy, tak ada henti dan juga tak ada yang mau menghentikan begitu juga dengan Adi sendiri.
"Oh iya, Di. Kemarin aku bertemu dengan Siska loh. Itu tuh, mantan SMA kamu dia semakin cantik bahkan dia juga belum menikah loh, Di. Dan katanya, dia masih suka dengan mu," ucap Rani.
Untuk apa Rani mengatakan itu, apakah untuk membuat hati Adi tersentuh dan mau kembali dengan Siska itu?
Arsy hanya diam, namun hatinya sangat panas. Jelas saja, tak ada istri yang tidak panas hatinya saat ada pembicaraan tentang mantan suaminya. Apalagi dengan statusnya yang belum berubah sampai sekarang.
__ADS_1
"Hem," Adi menoleh ke arah Adi, apakah dia akan diam dan menjaga perasaan Arsy?
"Kalau jodoh juga tidak akan kemana," imbuhnya.
Mata Arsy terbelalak, maksudnya jodoh tidak akan kemana? apakah itu artinya Adi masih berharap juga dengan wanita itu?
"Mas, kamu?" tatap Arsy dengan tajam.
"Memangnya aku kenapa, aku merasa tidak mengatakan hal yang aneh, kamu saja yang berpikir aneh-aneh." jawaban Adi jelas mengelak, padahal tadi dengan sangat jelas apa yang dia katakan.
"Awas ya, Mas kalau sampai kamu kembali berhubungan dengan perempuan itu."
"Memangnya kenapa, bahkan kamu juga berhubungan dengan laki-laki lain kan? dengan perjaka tua itu." masih saja Adi mengungkit masalah Arsy dengan Sam. Padahal dia susah terus saja menjelaskan tapi Adi masih saja tidak percaya.
Apakah benar-benar tak ada kepercayaan lagi untuk Arsy? apakah Adi tidak akan percaya padanya seperti dulu lagi?
Ucapan keduanya tidak jelas di dengar oleh semua orang yang sudah kadung menikmati, mereka hanya berbisik saja sari sama lain.
"Aku tidak percaya, terus kenapa?"
"Mas," Arsy mulai geram, dengan cara apa dia harus menjelaskan.
"Adi, Arsy, kalian bicara apa sih! apa kalian tidak lapar apa?" ucap Lusi.
"Biasa lah bu, Arsy."
"Arsy, suamimu itu sudah seharian bekerja, jangan kamu ganggu dia butuh ketenangan dan juga kedamaian. Jangan di tempat kerja lelah dengan kerjaan di rumah lelah karena ucapan mu. Bisa-bisa kurus anakku," Lusi sangat marah, dia tidak terima.
__ADS_1
"Maaf, Bu." sedikit menyesal, tapi bukan berarti Arsy mengalah.
"Biasa lah, Bu. Kalau orang nggak berpendidikan kan seperti itu, nggak bisa berpikir mana yang baik," ucap Rani, lagi-lagi dia ikut campur dengan keadaan Arsy dan Adi. Selalu saja memperkeruh suasana.
Prank!
Dengan kasar Arsy berdiri, menjatuhkan sendok pada piring dengan sedikit kasar. Dia sangat kesal karena terus saja di hina.
"Memang saya hanya orang bodoh, tapi setidaknya orang bodoh seperti ku tidak pernah menghasut orang untuk membenci orang lain. Apalagi untuk membenci keluarganya sendiri." Arsy langsung melenggang setelah mengatakan itu.
"Tuh, Bu. Ibu bisa lihat sendiri kan betapa belagunya Arsy itu. Kamu tuh, Di. Betah aja sama istri seperti itu, sudah bodoh, kucel, nggak bisa menghasilkan duit lagi." Rani kian nyinyir meski sudah tidak ada Arsy di sana.
"Kamu benar, ibu juga heran dengan adik iparmu ini." Lusi pun menggeleng karena merasa tak mengerti dengan apa yang Adi pikirkan.
◆◇◆◇◆◇◆◇
Ucapan mereka semua jelas saja terdengar sampai telinga Arsy yang sudah ada di kamar. Sedih, sakit hati jelas saja dia rasakan.
Dia sudah terus berjuang, terus berusaha kuat tapi apa? dia tak pernah mendapatkan nama di hadapan mereka, yang ada hanya hinaan dan terus saja seperti itu.
"Ya Allah, sampai kapan hidupku akan seperti ini?" gumam Arsy. Dia begitu sedih namun rasanya susah untuk mengeluarkan air mata meski hatinya terasa sangat sesaat.
Tak ada yang menganggap, tak ada yang membela, tak ada juga yang mengharapkan kedatangannya, tapi Arsy juga tidak bisa pergi kemanapun untuk sekarang. Sungguh takdir yang menyedihkan.
◆◇◆◇◆◇◆◇
Bersambung....
__ADS_1