Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Ditawarkan pada pria lain


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Memikirkan Adi sama sekali tidak akan memberikan keuntungan apapun bagi Arsy, dia lebih baik memutuskan untuk lebih fokus pada dirinya sendiri dan juga pada anaknya yang jelas sangat membutuhkan dirinya. Memikirkan Adi hanya akan mendatangkan penyakit dalam hatinya dan itu tidak akan baik untuk dirinya sendiri, juga untuk Laili.


Tidak peduli dengan semua yang orang lain katakan tentang dirinya, karena dia makan bukan dari meminta kepada mereka semua dan juga tidak berpangku tangan hanya mengharapkan pemberian.


Bagi Arsy sekarang dia hanya membutuhkan biaya untuk dirinya, juga untuk usaha menjahitnya yang jelas tidak akan pernah dia buka di rumah itu, dan tentu saja dengan memikirkan langkah yang harus diambil, karena dia tidak mungkin terus seperti sekarang ini. Tidak mungkin dia terus berada di antara keluarga, berusaha membangun keluarga bahagia namun nyatanya sampai sekarang dia masih saja seperti orang asing.


"Alhamdulillah, akhirnya ada yang jahit juga." gumam Arsy menatap kain-kain yang sudah berhasil dia potong setelah diukur dengan dibantu oleh Budhe Tantri.


Sudah beberapa hari ini dia sudah menerima tawaran menjahit meski masih berada di rumah Budhe Tantri, meskipun seperti itu dia sangat bahagia karena sekaligus bisa membantu keuangan dari Budhe Tantri.


"Alhamdulillah, karena adanya kamu di sini rumah Budhe jadi rame lagi." Budhe Tantri tersenyum. Dia terlihat begitu bahagia seraya mendekat kepada Arsy dengan membawa nampan berisi dua cangkir. Arsy seketika menoleh dan melihat Budhe Tantri yang terus berjalan mendekatinya.


Arsy langsung berdiri dan menyambutnya untuk mengambil alih cangkir tersebut hingga akhirnya dia sendiri yang menaruhnya di atas meja, kemudian Arsi juga menuntun Budhe Tantri hingga akhirnya duduk di kursi.


"Terima kasih ya," ucapnya sembari duduk dengan hati-hati.


"Sama-sama Budhe, seharusnya Budhe tidak perlu repot repot. kalau haus Arsy pasti akan cari sendiri," jawab Arsy. Seketika Arsy juga ikut duduk di sebelahnya namun menoleh dan tubuhnya sedikit miring menghadap ke arah Budhe Tantri.


"Tidak apa-apa, Budhe masih kuat kok hanya sekedar mengambil minum saja. Atau kamu mau makan?" kembali Budhe Tantri menawarkan kepada Arsy. dia begitu baik kepadanya, bahkan rasanya bukan hanya seperti tetangga saja melainkan sudah seperti anaknya sendiri.


Tidak malu Budhe Tantri mengatakan apapun tentang kehidupannya bahkan semua yang dialami, pahit getirnya kehidupan bersama suaminya Arsy mengetahuinya sekarang.


"Tidak usah, Budhe. Ini sudah cukup." Bukan hanya sungkan saja, tapi Arsy jelas saja tidak mau membuat Budhe Tantri repot, dan dia juga tidak mau jika dia terus makan makanan yang seharusnya dimakan oleh Budhe Tantri dan juga suaminya saja. Yah! meskipun Budhe Tantri tidak mempermasalahkan itu, tapi Arsy lebih berasa dalam hal-hal seperti itu.


"Hem, baiklah. Sekarang sudah sampai mana?" tanya Budhe Tantri.


Matanya seketika melihat kearah kain-kain yang ada di lantai, tepatnya di atas karpet.


"Hanya tinggal jahitnya, Budhe."


"Apakah kamu mengalami masalah?" tanyanya dan kembali menoleh ke arah Arsy.


"Tidak," Arsy menggeleng.


"Alhamdulillah," Budhe Tantri begitu bangga dengan Arsy, meski dia tidak pernah mengajarkan ilmunya pada siapapun tapi ternyata dia bisa mengajari Arsy dengan sangat baik.

__ADS_1


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Senyum terus saja keluar dari bibir Adi yang kini tengah berjalan-jalan bersama dengan Siska. Selayaknya seperti seorang remaja yang sedang di madu Asmara keduanya terus berangkulan seolah tidak ada penghalang apapun di antara keduanya. Terus saja Adi menuntun Siska untuk jalan dan kini berhenti di salah satu butik yang cukup ramai akan pengunjung yang berdatangan.


"Mas, kita mau ngapain ke sini?" tanya Siska sembari menoleh.


"Hem, Mas habis gajian. Bolehlah Mas belikan kami sesuatu?" Adi tersenyum.


Keduanya berhenti berjalan dan kini berdiri saling berhadapan bahkan netra hitam mereka saling bertemu satu sama lain.


"Beneran," jelas saja Siska sangat bahagia mendengar perkataan dari Adi, laki-laki yang dari dulu hingga sekarang selalu ada di dalam hatinya dan akan selalu seperti itu. Lagian siapa juga yang tidak akan bahagia jika dibelanjakan oleh sang kekasih, bukan hanya Siska saja tapi yang jelas siapapun wanita pasti akan sangat bahagia.


"He'em." Adi mengangguk cepat, dia yang lebih semangat dan berinisiatif untuk membelanjakan Siska. Dia sangat ingin Siska selalu bahagia berada di sisinya hingga dia tidak akan pernah berpikir lagi untuk meninggalkan dirinya.


"Yuk," ajak Adi. kembali Adi merangkul pinggang Siska dan keduanya melangkah bersamaan masuk ke dalam putik tersebut, menyatu dengan para pengunjung dan memilih-milih pakaian yang mungkin pantas untuk dipakai oleh Siska.


Tidak disadari keduanya Ternyata ada seseorang yang melihat aktivitas mereka berdua yang terlihat begitu mesra, bukan hanya seperti seorang teman saja melainkan sudah seperti suami istri.


"Bukankah itu Mas Adi?" gumam laki-laki yang tak jauh dari sana. Laki-laki yang sedang memilih baju batik, dia adalah Sam.


Sam terus melihatnya bahkan dia terus mengedipkan matanya siapa tahu dia salah lihat, namun tidak! Apa yang dilihat adalah benar, dia adalah Adi suami dari perempuan yang sangat dia idam-idamkan selama ini.


Sam berusaha menepis pikirannya yang negatif tentang Adi dan juga perempuan yang sama sekali dia tidak kenal itu, tetapi melihat kedekatan mereka itu tidak bisa diragukan lagi bahwa mereka berdua memang memiliki hubungan yang bukan hanya sebatas teman saja.


"Tapi kalau di lihat dari cara mereka, mereka pastilah ada hubungan deh." ucapnya lagi.


Sam memutuskan untuk melangkah mendekati Adi dan juga perempuan itu, tentu saja dia ingin tahu apa sebenarnya hubungan mereka, juga ingin tau siapa perempuan itu yang terlihat begitu centil saat bergurau di hadapan Adi dan seperti tengah menggodanya dengan menempelkan pakaian minim di hadapan Adi.


Adi hanya tersenyum melihatnya, jelas saja dia juga merasa tertarik dengan wanita yang berwajah cantik itu.


"Mas, bagaimana kalau aku pakai ini, apakah Mas mau menginap di rumah ku?" tanyanya, suaranya mendayu-dayu centil juga dengan tubuh yang terus meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.


"Benarkah aku boleh menginap di rumahmu?" laki-laki mana yang tidak akan tergoda dengan bujuk rayu perempuan cantik, apalagi dia adalah kekasihnya sendiri. Tentu saja Adi akan bersedia.


"Hem, boleh dong. Aku mau coba dulu, apa Mas mau ikut, malu lihat aku mencobanya?" suara Siska semakin menggoda.


"Hem...?" Adi nampak berpikir, benarkah dia akan boleh melihat Siska yang sedang mencobanya? "Tentu," Adi begitu semangat.

__ADS_1


Kakinya melangkah mengikuti Siska yang berjalan dengan gemulai di hadapannya, tubuhnya yang indah tentu saja membuat Adi semakin berbinar.


"Mas Adi." panggil Sam.


Baru saja Adi bahagia kini malah ada orang yang memanggilnya.


'Siapa sih, menyebalkan!' gerutunya dalam hati sembari menghentikan langkah juga langsung memutar. Begitu juga dengan Siska yang melakukan hal yang sama.


"Kamu!" mata Adi membulat panik, dia juga reflek menoleh ke arah Siska yang ada si belakangnya.


"Dia siapa Mas, pacar?" tanya Sam.


"Bukan urusan mu," Adi nampak langsung kesal. Bagaimana mungkin bisa ada Sam di sana.


"Mas mengkhianati Arsy?" Sam mengernyit.


"Bukan urusanmu juga. Lagian Arsy yang lebih dulu selingkuh kan sama kamu. Kenapa tidak sekalian saja kamu bawa kabur perempuan tidak berguna seperti dirinya."


"Astaghfirullah, Mas. Saya dan Arsy tidak ada hubungan apapun. Mas pasti salah paham."


"Mana ada maling mau ngaku. Kalau kamu memang menginginkannya, bawa saja dia pergi, aku tidak peduli." sungut Adi.


Haruskah Sam senang mendapatkan tawaran dari Adi yang seperti sekarang ini? jika saja bisa dia akan lakukan sekarang juga, tapi tidak dengan seperti itu caranya.


Tanpa mengatakan apapun lagi Adi langsung pergi dari hadapan Sam, dia terlihat sangat kesal karena kedatangan Sam yang telah memergokinya.


"Dasar laki-laki munafik," gerutu Adi sembari melangkah menjauh dari Sam.


"Dia siapa, Mas?" tanya Siska yang kembali menoleh kebelakang dan melihat Sam yang masih dia dengan syok. Ada-ada saja suami yang menyerahkan istri pada laki-laki lain seperti Adi.


"Dia, dia selingkuhannya Arsy." jawabnya.


"Oh, kamu tuh ya, Mas. Tau istrimu selingkuh kenapa tidak kamu ceraikan saja dan menikah dengan ku. Menikahlah dengan ku Mas, dan tinggalkan istri mu itu." ucap Siska mengompori.


"Pasti, itu akan aku lakukan." Adi kembali tersenyum dan melihat Siska.


......◆◇◆◇◆◇◆◇......

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2