Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Keyakinan Arsy


__ADS_3

◆◇◆◇◆◇◆◇


"Mas, bagaimana kalau Arsy pinjam uangnya dulu untuk yang gajian bulan ini. Saya ingin usaha kecil-kecilan. Arsy janji nanti akan aku kembalikan," ucap Arsy.


Ucapan Arsy yang terdengar begitu berharap itu mampu menghentikan Adi yang sedang membaca koran. Mumpung hari minggu dan dia libur makanya bisa santai dengan membaca koran dengan di temani kopi.


Arsy yang selesai menyapu langsung mendekatinya masih dengan sapu yang dia bawa dan kini berhenti tepat di sebelah Adi yang diam.


"Boleh ya, Mas. Aku janji akan mengembalikannya." ucap Arsy. Dia begitu memohon.


"Usaha, emang kamu yakin usahamu akan bisa berhasil dan bisa mengembalikan uang ku?" begitu sinis Adi menjawab, tanpa bertanya usaha apa dan sudah langsung seperti itu. Dia menoleh dengan angkuh dengan melipat lagi koran dan dia letakan di meja dengan sedikit kasar.


Mata Adi membulat dalam sejenak kearah Arsy yang sudah mulai kecewa, ini sudah dia pikirkan. Dia tidak akan pernah mendapatkan pinjaman meski alasannya untuk usaha, dan ternyata itu adalah benar.


"Tidak tidak! Aku tidak akan meminjamkan mu. Aku tidak mau karena kamu uang ku akan hilang dan aku tak bisa menabung untuk bulan ini."


Adi terlihat begitu jengah, dia juga sempat berdecak sangat kesal karena Arsy yang ingin meminjam uang untuk usaha.


"Apa bedanya, Mas. Uang yang aku pinjam tidak akan hilang aku akan kembalikan setelah modalnya itu kembali. Please, Mas!"


Arsy beralih duduk di kursi sebelah Adi yang masih kosong, namun dia menghadap ke arah suaminya dengan mata yang tajam memandangnya. Apakah dengan mengatasnamakan meminjam Arsy tidak akan mendapatkan uangnya juga?


"Please, Mas. Aku akan kembalikan uang mu. Kalau misalnya uangnya lama kembali tanaman ku juga sebentar lagi panen kan? Aku bisa mengembalikan uangnya dengan itu."


"Kalau aku bilang tidak ya tidak! Kalau memang tanaman yang kamu tanam sebentar lagi panen lebih baik kamu menunggu sayuran itu aja jadi kamu tidak perlu meminjam uang dan tidak akan pusing-pusing untuk mengembalikannya."

__ADS_1


Ucapan Adi begitu tegas kepada Arsy, benar-benar tidak ada harapan untuk meminjam uang kepada suaminya sendiri.


Bukankah seharusnya dia yang mencukupi segala kebutuhannya dan bisa mendukung apa yang dia ingin lakukan, tapi ternyata tidak! Arsy tidak pernah mendapatkan dukungan itu dari Adi.


"Mas!" teriak Arsy.


Bukannya meminjamkan uang kepada Arsy tetapi Adi malah cepat-cepat berdiri lalu masuk begitu saja meninggalkan Arsy yang terpaku diam dengan perasaan yang sangat kesal kepada Adi.


Ingin rasanya Arsy menangis tapi buat apa? Dia tidak akan mendapatkan apapun dan hanya akan mendapatkan hinaan jika mertuanya melihat.


Yang jadi pertanyaan di hati Arsy adalah, sudah berapa uang Adi yang sudah ada di tabungan. Kenapa sampai sekarang tak ada kabar tentang itu.


"Bukankah mereka semua ingin aku maju? Tetapi giliran aku ingin usaha dan meminjam uang kepadanya aku tidak mendapatkan pinjaman itu, jangankan pinjaman dukungan pun tidak." sungguh, ucapan Arsy begitu sendu mengingat semua yang telah terjadi kepadanya.


Arsy semakin jengah karena kedatangan Rani di pagi hari seperti saat ini, bukan hanya sendiri saja tetapi dia datang dengan suami beserta anaknya.


"Iya, Sayang. Emang perempuan tanpa wawasan seperti dia bisa apa?" Hendri juga menambahi. Sepertinya Arsy memang tak pernah dianggap mampu di mata mereka.


Hanya karena Arsy lulusan SD saja mereka terus menghinanya dan terus meremehkan apapun yang dia lakukan.


"Yuk kita masuk saja, ayah dan ibu pasti sangat suka dengan kedatangan kita." ucap Hendri lagi.


Dengan begitu sombong kedua berjalan masuk dengan saling berangkulan, sementara anak yang sekitar umur delapan tau dia berjalan di belakangnya.


"Ibunya Laili, maafkan ayah dan ibu ya." ucap bocah laki-laki itu yang menoleh setelah kedua orang tuanya masuk.

__ADS_1


"He'em," Arsy hanya tersenyum menanggapi ucapan keponakannya itu. Dari sekian keluarganya hanya Rey sang keponakan yang bisa selalu lembut dan menghargainya. Dia sangat berbeda dari kedua orang tuanya juga kakek dan neneknya.


"Rey!" Panggil Hendri, dia menoleh sejenak karena Rey tak kunjung bergerak.


"Iya, Yah!" cepat Rey berlari, dia harus bergegas dan tak boleh ketahuan kedua orang tuanya kalau dia menyapa Arsy dengan baik.


Terdengar sambutan yang sangat hangat di dalam, mereka selalu saja senang kala Rani dan juga Hendri datang. Entah apalagi yang mereka berdua inginkan.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Arsy hanya diam mendengarkan semua percakapan dari semuanya yang ada di ruang tengah, sementara dirinya? Dia ada di dapur untuk membuat sarapan untuk Laili.


Rani membawa makanan- makanan yang sangat enak pantas saja mereka semua merasa senang, bahkan Adi pun juga ikutan berasa di sana dan mengabaikan anak dan istrinya.


"Bersenang-senanglah kalian, jika Allah menghendaki aku berhasil di kemudian hari aku pasti akan balas perbuatan kalian semua." gumam Arsy.


Tak masalah dirinya hanya dia anggap numpang hidup oleh mereka, tak berguna, tak dapat memberikan apapun, itu tak jadi masalah. Biarkan semua orang berbicara, Arsy yakin roda kelak akan berputar dan dia akan berada di atas.


"Ibu, Laili sudah lapar. apakah sudah matang?"


"Alhamdulillah sudah sayang. kita makan yuk." Ajak Arsy dan Laili mengangguk semangat.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2