Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Tuduhan Rani


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Alhamdulillah, meski kurang biaya untuk sekolah Laili tapi ternyata dia masih tetap bisa bersekolah. Dia tetap bisa mengenakan seragam meski belum lunas.


Guru-guru yang sangat baik, mereka memberi kelonggaran untuk Arsy untuk menyicil seadanya dan akan di bayar setelah ada uang. Tapi tetap saja tak boleh lebih dari tiga bulan.


"Ibu, nanti jangan lupa jemput Laili ya," ucap si kecil itu sembari menyalami tangan sang ibu ketika berada di depan sekolahan.


Tak seperti yang lainnya yang mengantarkan dengan mengendarai motor Arsy hanya berjalan kaki saja, dan jika Laili mengeluh lelah dia akan menggendongnya. Sungguh pengorbanan seorang ibu yang sangat besar.


"Iya sayang, nanti Ibu akan jemput. Kalau ibu belum datang nanti Laili tunggu sama bu guru ya, jangan kemana-mana, oke," jawab Arsy sedikit memberikan pesan anaknya.


"Iya, Bu. Laili sekolah dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Arsy, meninggalkan kecupan manis penuh kasih pada anaknya yang begitu manis.


Setelah mendapat kecupan Laili langsung berlari, dia sudah tak sabar untuk bisa masuk ke dalam kelasnya. Banyak mainan di sana, tentu saja Laili akan sangat bahagia.


Tak biasanya Laili memainkan mainan yang begitu banyak dengan beraneka mainan karena di rumah dia memang tak punya. Tapi di sekolah? dia bisa memilih apapun.


"Dadah, Ibu!" Laili menoleh sebelum dia masuk ke dalam kelas. Setelah Arsy membalasnya baru Laili langsung masuk.


Semoga saja Laili bisa mulai belajar dengan baik, bisa pandai dalam hal apapun dan akan bisa menjadi kebanggaan orang tua, terutama Arsy yang selalu berjuang untuknya.


Setelah tak melihat Laili lagi Arsy langsung berjalan pergi. Dia harus segera pulang supaya dia bisa lebih leluasa untuk pergi ke ladang. Semoga kali ini apa yang dia tanam bisa di panen.


Langkah pelan namun pasti, begitu tegas dan penuh dengan semangat.


Tin!


Suara klakson berbunyi dan ternyata ada motor yang berhenti di sebelahnya.


"Arsy, kamu dari mana?" tanya orang yang ada di atas motor tersebut. Seorang laki-laki yang sebenarnya adalah tetangga Arsy, tapi sangat jarang pulang karena bekerja di luar kota.


"Mas Sam?" Arsy mengernyit, mengingat wajah laki-laki yang ada di balik kaca helm. Setelah helm di buka baru Arsy yakin kalau itu memang orang yang memiliki nama Sam.


"Kamu dari mana?" tanyanya lagi.


"Ini mas, habis nganterin Laili sekolah."


"Sekarang mau pulang?" tanya Sam dan Arsy mengangguk dan tersenyum kecil. "Kalau begitu bareng saja."


"Tidak usah, Mas." tolak Arsy. Bukan karena apa-apa tapi Arsy hanya tidak mau kalau sampai ada orang yang berasumsi negatif.

__ADS_1


Selama menikah dengan Adi Arsy memang tidak pernah menerima tawaran dari siapapun jika itu seorang laki-laki.


"Tidak apa-apa, kan kita searah. Kita juga tetangga kan?"


"Tidak usah, Mas. Terima kasih tawarannya." Arsy tetap menolak. Dia bergegas untuk jalan karena tak mau sampai Sam masih tetap memaksanya.


''Arsy Arsy, kamu sangat berbeda dengan wanita lain yang akan dengan mudah menerima tawaran dari laki-laki." gumam Sam.


Sangat pelan Sam menjalankan motornya, dia tetap terus berada di belakang Arsy yang berjalan dengan cepat. Sepertinya Arsy memang ingin buru-buru karena tak mau sampai Sam terus mengejarnya.


Meski suaminya tak pernah memberi perhatian padanya, dan tabiatnya yang tak begitu baik tapi Arsy tetap menghargainya, menghormati dan juga akan selalu menjaga hati untuknya.


Bruk!


Akibat buru-buru dan tak bisa fokus dengan jalan membuat Arsy tersandung hingga membuat dia terjatuh. Malu, jelas saja. Sakit, apalagi.


"Arsy!" dengan cepat Sam turun dari motor dan bergegas membantu Arsy yang belum juga berdiri, sepertinya dia memang sangat kesakitan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sam. Dia sudah ada di hadapan Arsy.


"Sa_ saya tidak apa-apa, Mas." Arsy cepat-cepat berdiri dia ingin cepat menjauh dari Sam tapi kakinya ternyata terkilir hingga dia ingin jatuh lagi.


"Arsy!" teriak Sam, dia langsung menangkap Arsy hingga tidak jadi jatuh.


"Maaf maaf," langsung Sam meminta maaf karena dia juga merasa lancang.


"Te_ terima kasih."


"Ka_ kalau begitu bareng saja. Kaki kamu pasti sakit?" kembali Sam menawarkan.


"Tapi?" Arsy masih sangat ragu.


"Tidak apa-apa, nanti kalau ada masalah saya bantu menyelesaikannya."


Sepertinya Sam memang sudah tau apa yang membuat Arsy takut, dia juga sudah sangat kenal dengan suami dan mertuanya jadi dia tau bagaimana tabiatnya.


"Ayo," Sam kembali mengajaknya.


Dengan terpaksa Arsy ikut pada Sam. Menerima tawarannya meski hatinya begitu was-was dan takut.


Sangat pelan motor itu berjalan membuat Arsy nyaman, di tambah dengan semilir angin pagi yang begitu menyejukkan.


"Bagaimana dengan Mas Adi sekarang, masih bekerja di pabrik?" tanya Sam memecah keheningan diantara keduanya.

__ADS_1


"Iya," Arsy hanya menjawab dengan sekilas dan singkat saja.


Tak lagi ada obrolan pada keduanya hingga sampai di depan rumah Arsy.


"Hem, bilangnya mau nganterin Syifa sekolah tapi nyatanya malah berpacaran?"


Baru saja sampai suara dan kata-kata yang begitu sinis keluar dari bibir seseorang. Dia baru saja keluar dari rumah yang di tempati Arsy. Dia adalah Rani.


"Maaf, Mbak. Apa yang mbak lihat ini tidak seperti yang mbak pikirkan. Saya benar-benar hanya mengantarkan Laili sekolah. Dan hanya kebetulan bareng saja dengan mas Sam." jawab Arsy menjelaskan.


Arsy jadi heran, kenapa Rani jadi sering sekali datang sekarang. Dia juga selalu saja mencari-cari keburukan Arsy.


"Halah, mana ada orang yang selingkuh mau ngaku." Rani seketika melenggang masuk lagi.


"Maaf ya Arsy, ini gara-gara aku. Seandainya aku tidak memaksa kamu untuk ikut denganku maka ini tidak akan terjadi, sekali lagi aku minta maaf."


Sam begitu menyesal karena kejadian ini, tetapi sungguh tidak ada niat buruk dalam hatinya untuk Arsy, dia hanya ingin membantunya saja dan juga tidak tega melihat Arsy jalan dengan kakinya yang kesakitan.


"Tidak apa-apa, Mas. Seharusnya saya yang minta maaf."


"Hem, kalau begitu saya permisi ya," pamit Sam dari hadapan Arsy, tentu saja dia tidak mau berlama-lama berada di sana bisa jadi masalah jika dia terus berada di sana.


Arsy tersenyum kecil juga mengangguk pelan dan setelah itu Sam benar-benar pergi dari hadapan Arsy untuk kembali ke rumahnya sendiri. Kedua orang tuanya pasti juga sudah menunggu kepulangannya.


Arsy masuk ke dalam dan sudah disuguhkan dengan wajah yang begitu tidak suka dari Rani yang kini duduk di ruang tengah dengan begitu angkuh. Kakinya menumpang ke yang satunya, punggung bersandar dan juga kedua tangan yang bersedekap dada juga mata yang menatap tajam ke arah Arsy.


"Suaminya bekerja keras, tapi istrinya malah berselingkuh. Berhubungan pada laki-laki lain. Sepertinya akan menarik jika Adi tahu." ucap Rani begitu sini.


Sepertinya dia tidak main-main dengan apa yang dia katakan untuk memberitahu Adi apa yang telah dia lihat barusan.


"Saya mohon Mbak. Jangan mengatakan yang tidak-tidak kepada Mas Adi, saya dan Mas Sam benar-benar tidak ada hubungan apapun. Saya tidak mau kebohongan yang akan Mbak katakan kepada Mas Adi akan membuat hubungan kami renggang."


"Kebohongan? ini nyata! aku lihat dengan mataku sendiri kamu diantar boleh laki-laki itu."


"Hanya mengantarkan Mbak! bukan berarti kami ada hubungan kan?" Arsy tetap berusaha untuk menghentikan Rani, semoga saja dia mau untuk tidak mengatakan kebohongan pada Adi.


"Sudah ah! aku capek, mau istirahat sembari menunggu Ibu pulang." Rani seketika beranjak dan pergi ke salah satu kamar yang ada di sana dengan langkah yang begitu angkuh.


"Mbak! Mbak!" teriak Arsy namun Rani sudah tidak menghiraukan panggilannya lagi dia tetap melaju pergi mengabaikan Arsy yang memanggilnya.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2