Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Siapa Wanita Itu


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Laili terlihat begitu bahagia setelah pulang dari sekolah. Masih dengan tangan yang memegangi es krim dia juga terus menikmatinya.


Langkahnya begitu pelan hingga akhirnya dia duduk di ruang tengah dan melanjutkan menikmati es yang Sam belikan untuknya.


"Bu, om Sam baik banget ya," ucapnya dan membuat Arsy terdiam, panik juga dengan terus menoleh. Memastikan tak ada siapapun yang ada du rumah atau perkataan Laili barusan akan menjadi sumber masalah.


Arsy lega, tak ada siapapun kecuali mereka berdua. Dia langsung berlari menghampiri Laili dan bicara dengan sangat lembut padanya seraya memberikan pengertian.


"Laili sayang, nanti kalau ada nenek atau ayah jangan bercerita tentang om Sam ya."


Begitu hati-hati Arsy berbicara namun mampu membuat Laili menoleh cepat dan melihat dengan serius pada ibunya tersebut. "Memangnya kenapa?"


"Ya tidak apa-apa, pokoknya jangan cerita sama mereka ya." Arsy mengelus rambut Laili dengan sangat lembut, berharap dengan itu anaknya akan tau dengan sendirinya.


"Baiklah, kalau ibu tidak izinkan Laili tidak akan bercerita. Tapi, ibu tidak marah kan kalau Laili menerima pemberian om Sam?"


"Kenapa harus marah, Ibu tidak marah kok," Arsy tersenyum.


Kembali Laili menikmati es krimnya ingin dia secepatnya menghabiskan lalu bermain bersama teman-teman yang sebentar lagi pasti akan datang.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Arsy terdiam kala melihat Adi yang tengah melepaskan kemejanya yang berwarna biru itu. Bukan kemejanya yang menjadi fokus Arsy tapi apa yang tertempel pada sudut kerah di sebelah kanan. Sebuah lipstik berwarna merah dan berbentuk bibir.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apakah ada yang salah padaku?" Tanya Adi tak sadar. Entah dia memang tidak sadar atau mungkin karena dia pura-pura tak tau dan menunggu reaksi dari Arsy.


Arsy berjalan mendekati dengan langkah yang cepat, dia ingin cepat sampai dan ingin memberitahukan apa yang dia lihat pada Adi.


"Mas, apa ini?" tanya Arsy. Tatapan matanya begitu tajam dengan tangan yang menarik bagian kerah membuat Adi sedikit mengernyit dan berusaha melihat meski sedikit kesusahan.

__ADS_1


"Emangnya apa?" dia masih berusaha untuk bisa melihat tapi akan susah karena tepat di bagian kerahnya.


Karena tak sabar untuk melihat apa yang Arsy tunjukkan Adi langsung melepaskan kemejanya, melihat sendiri dengan pasti.


"Oh ini," ucapnya begitu enteng, seolah tidak terjadi apa-apa dan juga merasa bahwa dia tidak melakukan apapun.


"Jelaskan pada Arsy, Mas. Apa ini," Arsy semakin menegaskan.


"Apakah mas bermain dengan wanita lain?" Arsy menegaskan. Ini bukan yang pertama kalinya, ini sudah yang kesekian kalinya jadi tidak mungkin Arsy akan percaya dengan alasan Adi. Entah alasan apa juga yang akan dia berikan.


"Hem, aku hanya bersenang-senang saja. Hanya bermain saja," ucap Adi.


"Mas mengkhianati pernikahan kita?" mata Arsy kian membulat.


"Aku tidak mengatakan itu." Adi ingin mengelak lagi, dia berjalan menjauh dari Arsy.


"Mas," Arsy terus mengejar. "Siapa wanita itu?"


"Mas!" Arsy masih terus mengikuti dan berhenti di hadapan Adi yang sudah duduk.


"Arsy! jaga batasan mu ya! jangan ikut campur semua urusan ku!" Adi malah marah pada Arsy, dia yang bersalah tapi dia yang marah.


Matanya begitu nyalang penuh kebencian pada Arsy, dia kembali beranjak dan kini berjalan menuju kamar mandi.


Brak!


Dengan kasar Adi menutupnya, membuat Arsy terperanjat. Matanya mulai meremang panas dengan genangan yang mulai penuh di matanya.


Arsy terduduk, kenapa harus dengan pengkhianatan juga. Dia menerima semua yang Adi lakukan padanya tapi tidak jika untuk pengkhianatan.


"Aku harus bagaimana?" gumamnya bersamaan dengan lolosnya beberapa butir air mata.

__ADS_1


Arsy sangat bingung, dia juga belum punya bukti yang nyata untuk mengungkap perselingkuhan Adi, dia juga harus tau lebih dulu siapa wanita itu.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


"Hem, mimpi kok ketinggian, nggak takut terjun bebas?" sinis Rani. Melihat Arsy yang tengah iseng menggambar desain baju membuat dirinya seakan panas.


Rani atau semuanya jelas saja akan berpikir kalau Arsy hanya kebanyakan berkhayal saja, tidak mungkin dia akan bisa mewujudkan apa yang sedang dia lakukan.


"Lagian, mana bisa orang bodoh seperti mu bisa membuat baju-baju seperti itu, mustahil," sinis nya lagi.


Arsy tidak menggubris apa yang Rani katakan, dia lebih memilih menutup bukunya dan membawanya pergi ke kamar. Tidak akan bisa konsentrasi kalau ada Rani di sana.


"Hey, aku belum selesai bicara!" teriak Rani marah.


Bicara apa? pembicaraan yang hanya merendahkan dan menghina Arsy saja? Arsy tidak butuh perkataan tak berfaedah seperti yang Rani katakan. Dia juga tidak butuh nasehat atau apapun darinya.


Brak!


Dengan kasar Rani menendang kursi membuat kursi itu bergerak dan berpindah arah ke tempat lain. Sungguh keras tendangannya juga begitu tak punya etika.


Brak!


Kini Arsy yang masuk dan menutup pintu dengan kasar. Mau Rani melakukan apapun dan juga menghancurkan semua barang-barang di rumah itu Arsy tidak akan peduli, semua barang-barang itu bukan kepunyaannya, tapi punya mertuanya jadi Arsy tidak akan rugi kan?


"Begini nih kalau orang kebanyakan halu! tidak punya sopan santun dan etika yang baik. Baru juga di ajak bicara langsung pergi begitu saja, dasar!"


Sebenarnya siapa yang tidak punya etika dan juga sopan santun, bukankah itu seharusnya sangat cocok jika di sematkan pada Rani?


Semakin kesal Rani karena Arsy sudah tak lagi menggubrisnya, dia sudah masuk kamar dan diam saja tanpa mengatakan apapun lagi meski Rani terus mengoceh.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2