Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Kekesalan Adi


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Sebuah restoran besar dan juga terkenal, adalah tempat yang Frans pilih untuk acara makan siang dengan Arsy. Restoran yang begitu penuh dengan pengunjung yang sudah menikmati juga ada yang masih menunggu pesanan. Tempat itu begitu ramai.


"Kenapa?" tanya Frans. Dia menoleh ke arah Arsy yang terlihat ragu untuk berjalan masuk.


Bagaimana tidak? Arsy belum pernah datang ke tempat yang seperti itu, biasanya hanya makan di warteg saja kan?


"Mas, beneran kita mau makan di sini?" Arsy terlihat begitu ragu. Melihat suasana restoran dan beralih ke arah Frans.


"Kenapa, apakah kamu tidak suka? kalau kamu memang tidak suka kita bisa pindah ke tempat lain."


"A-aku? Baiklah," jawab Arsy yang akhirnya pasrah.


Frans tersenyum, dia terlihat senang karena akhirnya Arsy nurut padang. Keduanya kembali melangkah dan langsung menuju ke tempat yang sudah di pesan oleh Frans bahkan sebelum dia datang.


Tempat duduk di ruang VIP yang menjadi pilihan Frans. Tempat yang jauh dari para pengunjung lain dan tempat yang pasti membuat mereka akan nyaman untuk makan juga untuk berbincang.


Arsy terlihat terperangah, tempat yang begitu mewah yang sudah Frans pesan. Arsy tidak berani bicara lagi, tapi dia yakin untuk tempanya saja pasti sudah sangat mahal.


"Silahkan duduk," pinta Frans. Mengulurkan tangan dan menunjukkan tempat pada Arsy.


Sofa berwarna merah, tempat duduk yang juga sangat nyaman. Bukan hanya tempat duduknya saja rapi ruangannya juga sangat nyaman karena terdapat fasilitas yang luar biasa.


"Hem," Arsy mengangguk, duduk dengan perlahan dan masih terus mengamati sekitar.


Tak lama mereka duduk ada pelayan perempuan yang datang dan menawarkan menu pada keduanya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Frans.


"Sa-saya ngikut Mas Frans saja." jawab Arsy begitu gugup.

__ADS_1


Karena Arsy menyerahkan semua pada Frans dan benar saja, semua makanan dan minuman Frans yang memilihnya. Apapun yang Frans pilih juga Arsy tidak keberatan membuat Frans tenang.


Makan minum sudah datang, keduanya muka menikmati. Arsy terlihat begitu malu, dia terus menunduk dan hanya akan melirik ke arah Frans sesekali saja.


"Bagaimana, kamu suka?" tanya Frans.


"Hem, suka." jawaban Arsy begitu singkat.


Makan siang yang begitu spesial menurut Arsy, meski Frans masih diam dan tidak mengatakan apapun yang lebih dalam namun itu sudah bisa Arsy baca.


"Mas, ini?"


"Tidak ada acara apapun. Hanya saja aku sedang sangat bahagia, aku mendapatkan kepercayaan besar di perusahaan, maka dari itu aku mau berbagi bahagia denganmu."


"Oh, saya pikir ada hal lain."


"Kenapa, apakah kamu menginginkan ada hal lain?" tanya Frans.


Perlahan-lahan Frans ingin hubungannya dengan Arsy akan semakin dekat. Dia ingin semuanya dimudahkan sampai Frans bisa menjadikan Arsy pelabuhan hatinya untuk yang pertama dan terakhir.


'Maaf, Arsy. Sebenarnya aku melakukan ini karena aku ingin semakin dekat denganmu. Aku ingin kamu nyaman denganku hingga akhirnya aku bisa memilikimu. Aku ingin aku bisa menggantikan Adi di dalam hati dan juga kehidupan mu, Arsy.' batin Frans.


Tatapannya begitu lekat pada wajah yang terus menunduk malu. Melihat senyum malu-malunya membuat Frans begitu bahagia, hatinya semakin bergetar tak menentu. Cintanya semakin besar.


...****************...


Adi semakin uring-uringan. Di dalam hatinya masih menyimpan harapan untuk bisa kembali lagu dengan Arsy, tapi sepertinya jalannya tidak akan mudah.


"Mas, ada apa sih. Dari tadi sejak kamu pulang terlihat begitu kesal seperti itu." tanya Siska. Dia bertanya tapi tetap saja bersikap acuh. Bahkan dia juga tetap fokus dengan wajahnya yang ada di depan cermin.


"Tidak ada. Hanya lagi lelah saja." dusta Adi. Tidak mungkin dia akan mengatakan kalau dirinya sedang marah karena tidak bisa bertemu dengan Arsy. Bisa-bisa mereka akan perang saat itu juga.

__ADS_1


"Kalau lelah yang istirahat lah, masak malah melamun seperti itu. Mana mukanya tidak enak di lihat lagi."


Adi tidak menjawab, dia hanya diam dan tetap serius dengan pikirannya sendiri.


"Mas, besok aku ada arisan bersama teman-teman. Aku minta uang ya. Tidak banyak, hanya lima ratus ribu saja." baru Siska menoleh saat itu.


"Apa tidak bisa jika tidak ikut saja?"


"Tidak bisa, Mas. Ini sudah sangat lama aku ikut. Kalau aku keluar begitu saja sebelum selesai nanti aku akan di benci oleh mereka. Bahkan mereka juga akan menuduhku sekarang jadi miskin. Aku tidak mau itu, Mas."


Siska beranjak, dia melangkah menghampiri Adi lalu duduk di sebelahnya. Menyentuh bahu Adi dan mengelus lengannya dengan lembut.


"Boleh ya, Mas." ujar Siska dengan suaranya yang mendayu merayu.


"Hem," Adi hanya mengangguk. Dia masih begitu malas. Sebenarnya dia malas untuk mengeluarkan uang, tapi dia juga lebih malas kalau akhirnya hanya akan berdebat dengan Siska.


Cup!


"Terima kasih ya, Mas." ucap Siska setelah mengecup singkat bibir Adi. Dia tersenyum begitu manis. Tentu tingkah Siska dan juga wajahnya yang terlihat begitu sempurna tidak bisa membuat Adi untuk menahan diri. Seketika dia mulai membalas kecupan Siska hingga keduanya saling berpagutan.


Begitu bergelora hasrat mereka hingga keduanya terlihat begitu semangat dalam mengarungi indahnya cinta. Menyalurkan hasrat yang akan memberikan kenikmatan.


Baru juga akan di mulai, bukannya melihat wajah cantik Siska tapi yang terlihat jelas di matanya adalah wajah Arsy.


"Arghh!" pekik Adi. Seketika dia Adi kembali beranjak dan berlalu ke kamar mandi.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Siska yang sangat terkejut dengan tingkah Adi. Siska begitu bingung, "sebenarnya Adi kenapa?"


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2