Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Bertemu Lagi


__ADS_3

◆◇◆◇◆◇◆◇


Sangat bersemangat Arsy dalam segala hal sekarang. Dia tak lagi peduli apapun yang mertua, suami dan iparnya katakan. Dia akan terus fokus pada tujuannya, yaitu untuk bisa sukses tanpa bantuan dari mereka.


Arsy harus tetap bersyukur dan juga berterima kasih pada mereka, setidaknya dia mendapatkan garapan tanah sepetak yang membuat bekalnya untuk sukses. Untung juga dia juga bisa berkebun meski awalnya hanya belajar saja dengan sendiri. Tapi alhamdulillah semua itu menghasilkan untuknya.


Setelah memanen sedikit cabe kini dia menjualnya sendiri ke pasar. Biasanya dia akan menjual pada orang pembeli di rumah saja tapi tidak untuk sekarang. Dia menjual ke pasar sekaligus untuk membeli perlengkapan jahitnya.


"Alhamdulillah, akhirnya sedikit demi sedikit aku bisa membelinya." gumamnya dengan sangat bahagia.


Dia terus melangkah setelah selesai pada tujuannya, menunggu angkutan yang akan lewat dan akan mengantarkan dia pulang sampai rumah.


Rumah? Bahkan Arsy rasanya tak pantas menyebut itu adalah rumahnya, yang pantas adalah pulang di penginapan. Meski itu rumah suaminya tapi dia tidak pernah mendapatkan hak-hak sebagai seorang istri, dia juga harus memenuhi semua kebutuhan semua orang di dalamnya, bukankah secara tidak langsung itu adalah bayaran yang harus dia bayarkan karena tinggal di sana.


"Mana sih, kok tumben nggak ada angkutan." Arsy terus menoleh ke arah kendaraan berdatangan. Melihat satu persatu siapa tau ada angkutan yang lewat tapi ternyata, tidak ada.


"Aku harus pulang cepat, kalau tidak Laili pasti akan menunggu di sekolah." Arsy semakin gelisah.


Sudah waktunya Laili pulang tapi dirinya malah belum pulang dari pasar. Bagaimana kalau sampai Laili menunggu lama atau mungkin menangis?


"Mana sih," Arsy semakin tak sabaran. Dia terus saja menunggu dengan sangat gelisah.


Tinn!


Arsy terkejut ada motor yang berhenti di depannya. Sepertinya Arsy mengenalnya meski orang yang mengendarai belum membuka helm. Dan sepertinya benar.


"Mas Sam?" gumamnya hampir tak terdengar.


"Arsy, kamu sendiri?" tanya Sam. Dia sudah membuka helmnya dan melihat Arsy hanya sendiri saja.


"I_ iya, Mas." Jawab Arsy begitu gugup.


"Nunggu angkot?" tanyanya. Wajahnya menoleh ke belakang, melihat kendaraan yang datang siapa tau ada angkot datang, tapi tetap belum.


"Iya, Mas." Arsy ikut melihat tapi jelas hasilnya akan sama tak ada angkot yang datang.


Arsy kian gelisah, bagaimana dia bisa tepat waktu menjemput Laili kalau sampai tidak ada angkot lewat. Tumben, biasanya selalu ada angkot setiap sepuluh menit sekali tapi ini sudah hampir setengah jam Arsy menunggu.

__ADS_1


"Kamu kenapa gelisah seperti itu?" Sam sangat penasaran. Wajah Arsy sangat mengisyaratkan gelisah yang sangat besar.


"Saya, saya harus menjemput Laili, Mas. Tapi belum juga ada angkot yang datang." Arsy menjawab tapi sama sekali dia tidak melihat ke arah Sam. Dia tidak mau kalau sampai tatapannya akan terus bertemu dan akan menjadi fitnah jika ada orang yang mengenal mereka dan melihat.


Sam terdiam, dia kembali menoleh melihat belakang namun masih tetap tak ada angkot yang lewat. Pangkalan ojek juga sangat jauh akan sangat melelahkan kalau berjalan kaki.


Sam juga masih terus memikirkan kejadian saat itu, dia takut sekaligus kasihan pada Arsy kalau sampai niat baiknya malah mendatangkan keburukkan untuk Arsy juga suaminya, tapi kalau tidak Arsy pasti akan terlambat menjemput Laili.


"Hem, bagaimana kalau bareng saya saja. Sepertinya akan lama kalau nunggu angkot." Akhirnya Sam memutuskan untuk membantu. Dalam hatinya terus berdoa bahwa niatnya kali ini tidak akan menimbulkan masalah.


Arsy terdiam berpikir, apakah benar dia harus ikut Sam, bagaimana kalau sampai terjadi salah paham lagi? Sampai sekarang saja Adi sama sekali tidak percaya padanya, bagaimana kalau sampai dia tau lagi.


Tapi kalau dia tidak ikut, Laili pasti sudah menunggu, dia pasti sedih, bagaimana kalau malah menangis?


"Tapi saya tidak akan maksa kamu sih." ucap Sam.


"Hem, boleh mas. Tapi sampai sekolah saja ya," Arsy akhirnya putuskan untuk menerima tawaran Sam. Kalau dia turun di sekolahan dan pulang sampai rumahnya jalan kaki pasti tidak akan ada yang tau.


"Baik, ayo." Alhamdulillah, Sam bernafas lega. Dia juga senang bisa mengajak Arsy kembali berboncengan.


Hatinya kadang kesal bahkan penuh amarah saat Adi tidak memperlakukan Arsy dengan baik. Cintanya bukan cinta yang egois dan berharap ingin memiliki seutuhnya. Cinta Sam cinta yang tulus, dia akan bahagia jika yang di cinta bahagia. Tapi jika yang di cinta di perlakukan tak layak jelas saja amarah itu datang.


Mulai perlahan Sam menjalankan motornya, Arsy juga tidak berani berpegangan padanya, dia berpegangan belakang dengan duduk menyamping.


Jantung Sam terus berdebar, dia senang rasanya. Hatinya begitu nyaman bisa memboncengkan lagi wanita idamannya.


Sam sadar perasaannya itu salah, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan cinta itu. Itu adalah sebuah anugrah yang harus dia jaga meski dia tidak bisa memiliki wanitanya.


"Belanjanya banyak banget. Belanja bulanan ya?" tanya Sam memecah hening antara mereka.


Ingin terus Sam mendengar suara Arsy, suaranya sangat lembut dengan malu-malu yang membuat dia selalu merindukan suara itu.


"Bukan, ini beli bahan."


"Bahan, bahan apa?" tentu Sam tidak tau. Jika tau pasti dia akan semakin kagum dengan Arsy yang bisa berdiri sendiri juga bisa berjuang sendiri tanpa siapapun.


Meski Sam tau Adi selalu memperlakukan Arsy dengan buruk tapi dia tidak tau tentang nafkah yang juga tidak pernah di berikan. Tak ada yang tau selain hanya keluarga saja, Arsy begitu pintar menjaga aib suami dan keluarganya, tapi sayang, mereka tetap tidak pernah bersyukur apalagi berterima kasih pada Arsy.

__ADS_1


"Iya, bahan untuk jahit. Arsy lagi belajar jahit." jawabnya. Suara merdunya membuat jantung Sam semakin berdebar, tapi dia sangat menyukainya.


"Oh, semoga cepat bisa ya. Dan semoga bisa berguna untuk mu. Terus semangat."


"Terima kasih, Mas." jawab Arsy. Seandainya saja yang mengatakan ini adalah Adi, pasti Arsy akan sangat senang. Tapi ternyata tidak! Dukungan pertama kalinya malah dia dapatkan dari orang luar.


Tak terasa motor sudah menepi di pinggir sekolah, dan ternyata benar Laili sudah menunggu. Meski di temani gurunya tapi dia sudah menangis karena takut tidak di jemput.


"Ibu!" Teriaknya, dia langsung berlari setelah melihat Arsy turun dari motor Sam.


Arsy merasa begitu bersalah, dia sangat menyesal karena terlambat.


"Maafkan ibu ya." Katanya.


"Ibu kenapa telat jemput Laili, Laili takut." ucapnya yang masih merengek.


"Maaf ya," Kembali Arsy hanya minta maaf, dia juga sudah berjongkok di hadapan Laili dan terus menenangkannya.


Sementara gurunya, dia sudah kembali masuk ke kantor setelah tersenyum sejenak pada Arsy. Arsy juga tentu membalas hal yang sama dan mengangguk berterima kasih.


"Hallo Laili. Kok nangis, jangan nangis dong, nanti cantiknya ilang loh."


Arsy terkejut, dia pikir Sam akan langsung pergi tapi ternyata tidak. Dia malah turun dari motor dan menyapa.


"Om Sam ya."


"Iya, ih pinter ya ternyata Laili masih inget sama om. Hem, bagaimana kalau om beliin eskrim? Tapi Laili tidak boleh nangis lagi."


"Hem mau mau!" jawabnya cepat.


"Yuk," Tangan Sam terulur, dia langsung menggandeng Laili dan menuntunnya.


Arsy terdiam, dia seolah kelu untuk bicara. Dia bingung ingin bicara apa karena pergerakan Sam yang lebih cepat.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2