Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Kekesalan Adi


__ADS_3

◆◇◆◇◆◇◆◇


Sungguh bahagia perasaan Laili ketika Frans datang untuk menjenguknya. Apalagi setelah tahu bahwa hari ini adalah hari kepulangan Laili dia begitu bahagia karena Frans akan ikut mengantarnya sampai rumah.


Sebenarnya Frans besok harus bekerja tetapi karena dia begitu khawatir dengan keadaan Laili dia langsung pulang setelah pulang bekerja, dia bisa berangkat besok pagi-pagi untuk ke tempat bekerjanya.


"Om, terima kasih untuk hadiahnya." ucap Laili girang.


Seorang anak yang tidak pernah mendapatkan mainan sama sekali, tentu dia akan merasa sangat bahagia ketika mendapatkannya meski itu dari orang lain. Bukanlah mainan yang mahal ataupun besar, hanya sebuah boneka Barbie saja tapi mampu membuat Laili terus tersenyum sembari memainkan boneka tersebut.


"He'em, apakah Laili suka?" tanya Frans.


Laili mengangguk cepat, dia begitu bahagia mendapatkan hadiah tersebut dari Frans. Bukan hanya karena mendapatkan hadiah saja yang membuat Laili begitu bahagia, tetapi juga perhatian Frans yang begitu tulus kepadanya.


"Mas, terima kasih sudah membuat Laili bahagia." ucap Arsy.


Frans menoleh, melihat Arsy yang baru saja selesai beres-beres setelah di izinkan untuk pulang.


"Sama-sama." Frans kembali menoleh ke arah Laili. Bocah kecil itu terlihat begitu bahagia dan terus tersenyum sembari sibuk dengan mainan barunya.


Betapa bahagia Frans melihat kebahagiaan Laili. Meski hanya mainan sederhana juga murah tapi mampu menghadirkan senyum yang tiada henti. Wajahnya terus berbinar cerah.


"Mas, terima kasih juga ya sudah membayarkan uang biaya Laili. Aku janji akan mengembalikannya." ucap Arsy lagi.


Ya! Di saat seorang ibu tengah bingung dengan biaya rumah sakit Frans datang dan membantu menyelesaikan semuanya. Padahal sebelumnya Arsy yang begitu kebingungan akan minta tolong pada Adi. Dia tau, pasti hinaan akan dia dapatkan dari keluarga itu, tapi demi Laili dia akan melakukannya.


Tapi, ternyata Allah begitu sayang padanya. Mengirimkan Frans untuk menyelesaikan semua masalahnya. Dia gak harus mendengar semua perkataan dari Adi dan seluruh keluarganya. Dan tentunya, sekarang bertambah lagi dengan istri Adi.


"Tidak usah di pikirkan. Kami bisa mengembalikannya kapan saja. Tapi jika tidak, aku sudah ikhlas." jawab Frans. Sebenarnya dia ikhlas membantu, dia tidak mau di ganti tapi Arsy tidak mau menerima bantuannya jika Frans menolak untuk di kembalikan.


"Tidak, Mas. Arsy akan tetap berusaha untuk mengembalikannya." jawab Arsy. Meski entah sampai kapan dia akan bisa mengembalikannya, tapi dia akan tetap berusaha.


"Baiklah. Terserah kamu saja." Frans begitu pasrah. Yang terpenting Laili bisa pulang dan juga sudah sehat kembali seperti biasanya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Frans.


"He'em." Laili mengangguk. Dia cepat kembali memasukkan semua mainannya lagi ke tempat wadahnya. Setelah selesai dia bergegas berdiri dan ternyata Frans langsung sigap dan membantunya.


"Terima kasih, Om." ucapnya.

__ADS_1


"Sama-sama, Laili sayang." Jawab Frans. Dia langsung mengangkat tubuh kecil Laili dan menggendongnya.


Frans terus berjalan dengan menggendong Laili, membuat Arsy terdiam dan berjalan di belakangnya. Haruskah Arsy bahagia melihat kedekatan Laili dan juga Frans?


Seperti seorang Ayah, Frans begitu telaten dia begitu sayang pada Laili seperti seorang ayah yang sayang lada anaknya. Kasih sayangnya begitu tulus, sangat jelas terlihat dari wajahnya dan juga bagaimana Laili begitu tenang di dekapannya.


Kalau tidak, tidak mungkin Laili akan begitu nyaman ketika bersamanya.


"Ye, Laili busa pulang!" Seru Laili begitu girang. Tangannya melambai-lambai ketika dia berada di gedongan Frans. Frans tertawa membuat Arsy juga tersenyum.


◆◇◆◇◆◇◆◇


Begitu panas hati Adi ketika melihat Arsy dan Laili yang turun dari mobil Frans di depan rumah Bu Tantri. Rasanya ingin marah, terbukti dari tangan yang mengepal lalu memukul pohon yang ada di depan yang dia buat untuk bersembunyi.


"Ternyata ini kan maksud mu? Kamu begitu pintar Arsy. Kamu sengaja melakukan apapun yang membuat aku membencimu lalu menceraikan mu, dan setelah itu kamu mendekati laki-laki yang lebih kaya dariku." gumam Adi dengan tuduhan keji pada Arsy.


Tak akan mungkin Adi mengakui kesalahannya sendiri, dia pasti akan mencari-cari kesalahan Arsy. Dia merasa benar.


"Dasar menjijikkan," ucapnya lagi.


Adi yang melakukan semua kesalahan tapi dia limpahkan pada Arsy karena Arsy mendapatkan pengganti dirinya yang lebih baik. Mungkin jika yang mendekat Arsy orang di bawahnya dia akan menghina dengan terang-terangan, tapi nyatanya? Dia pun gak berani mendekat.


"Brengsek!" serunya. Namun tetap tak ada yang mendengar semua yang telah dia ucapkan. Tangannya memukul lagi pohon gak bersalah itu. Meski tangannya sendiri yang sakit tapi dia tetap belum merasa puas.


"Assalamu'alaikum!" teriak Laili. Begitu lantang suaranya.


"Wa'alaikumsalam!" Pak Nirwan juga Bu Tantri menjawab bersamaan. Mereka yang ada di belakang langsung tergopoh-gopoh menghampirinya dengan senyuman yang begitu bahagia.


"Alhamdulillah, cucuku sudah kembali. Hem, padahal kakek baru bersiap untuk jemput." ucap pak Nirwan.


"Hehehe, kakek kelamaan sih." ucapnya. Semua tertawa mendengar ucapan Laili juga wajahnya yang terlihat begitu menggemaskan.


"Terus bagaimana kita beli ayam gorengnya?" Sesuai janji pak Nirwan tak akan lupa.


"Hem, besok saja, Kek. Lihatlah, om Sam sudah membelikan ayam goreng untuk Laili." ucapnya. Kenaikan kresek putih yang berisi ayam goreng yang di belikan oleh Frans tadi di jalan.


"Wah wah, sudah bilang makasih belum sama om Sam?" tanya Pak Nirwan.


"Sudah dong, Kek. Iya kan Om?" jawab Laili. Dia langsung menoleh ke arah Frans yang juga mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Alhamdulillah," jawab Pak Nirwan.


'Ya Allah, begitu perhatiannya Frans pada Laili. Dia terlihat begitu sayang, dia bela-belain pulang hanya demi Laili. Semoga saja Allah memberikan takdir yang indah untuk mereka.' batin Bu Tantri.


Bu Tantri langsung menghampiri Arsy, membantu membawa barang-barang yang dia bawa.


"Terima kasih, Budhe." ucap Arsy.


"Sama-sama," jawabnya. Dia langsung membantu meski hanya sekadarnya saja.


Sementara Frans dan pak Nirwan sudah duduk di kursi, menengahi Laili yang sudah tak sabar untuk makan ayam gorengnya.


"Mau di makan sekarang?" tanya Frans.


"Iya, sepertinya sangat enak." Bibir Laili sudah berkecamuk melihat ayam goreng yang di bantu Frans untuk membukanya. Tangannya sudah begitu tak sabar ingin segera mengambilnya dengan mata yang tak berkedip.


"Ibu, minta nasi." Pintanya.


"Bentar, ibu ambilkan dulu ya." jawab Arsy dengan begitu lembut.


Arsy dan Bu Tantri masuk, bukan hanya meletakkan semua barang-barang saja tapi juga mengambilkan nasi juga minum untuk Frans.


"Nak, nak Frans sangat baik ya," ucap Bu Tantri.


"Iya, Budhe. Dia sangat baik." Jawab Arsy. Meski tak ada rasa apapun di dalam hatinya tapi dia menyadari kalau Frans memang sangat baik. Dia begitu perhatian pada Laili juga begitu sayang.


Arsy menoleh ke arah Bu Tantri dan melihat tatapannya begitu aneh kepadanya membuat Arsy begitu bingung, sebenarnya ada apa?


"Budhe, ada apa?" tanyanya. Tangannya berhenti bergerak untuk membuat minum.


"Tidak apa-apa. Apakah kamu bahagia?"


"Sangat. Arsy sangat bahagia karena akhirnya Laili sembuh dan bisa pulang." Padahal bahagia yang di maksud bu Tantri adalah karena hal lain, tapi Arsy menangkap hal lain juga.


Bu Tantri tersenyum, dia tidak ingin memperjelas Apa yang dimaksud sebenarnya. Arsy pasti belum siap untuk membicarakan akan hal itu karena bagi dia yang terpenting adalah kebahagiaan anaknya untuk sekarang. Tidak berpikir untuk mencari pendamping baru pengganti dari Adi.


"Alhamdulillah." Bu Tantri tersenyum. Arsy pun juga sama.


Keduanya keluar, Arsy membawa nampan berisi beberapa cangkir di atasnya sementara Bu Tantri membawa piring berisi nasi untuk Laili.

__ADS_1


◆◇◆◇◆◇◆◇


Bersambung...


__ADS_2