
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Senyum Arsy begitu lebar saat bisa melihat uang yang diam-diam dia kumpulkan mulai banyak. Tak ada yang tau kecuali dirinya karena semua orang rumah juga memang tak pernah mau tau apa saja yang dia lakukan.
"Alhamdulillah," ucapnya penuh Syukur.
Rasa syukur tak ada habisnya meski Arsy baru bisa melihat uang lima lembar berwarna merah. Tak seberapa bagi orang yang memiliki gaji tetap setiap bulannya, tapi bagi Arsy? uang lima ratus ribu adalah uang yang begitu banyak.
Perlahan dengan uang yang dia kumpulkan pasti dia bisa membuka usaha kecil-kecilan yang selalu dia harapkan. Tidak perlu langsung besar karena semua harus di awali dari hal yang kecil, benar begitu kan?
Tok tok tok!
"Assalamu'alaikum, Arsy! Nak!" panggil seseorang dari luar bersamaan dengan mengetuk pintu tiga kali.
Arsy menoleh sebentar, kembali melipat uangnya dan menyimpannya di dalam dompet sederhana. Tidak Arsy bawa keluar tapi dia simpan di bawah kasur untuk sementara.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya. Kakinya sudah mulai melangkah dan semakin cepat.
Klek!
"Budhe, ada apa?" tanya nya pada orang yang datang yang ternyata adalah seorang perempuan.
"Masuk dulu, Budhe," ajaknya. dengan ramah.
Perempuan itu masuk, mengikuti Arsy dan duduk di tempat yang Arsy tunjukkan. Keadaan rumah begitu sepi, membuat orang itu juga bisa leluasa untuk bicara.
"Begini, Nak. Saya benar-benar sedang kepepet. Saya butuh uang, tidak banyak sih, hanya dua ratus saja." ucapnya.
Arsy terdiam, apakah perempuan itu datang hanya untuk berhutang padanya? darimana dia tau kalau saat ini Arsy sedang ada rezeki?
"Tapi saya tidak ingin berhutang, Nak. Hem, saya punya mesin jahit sudah sangat lama tidak pernah di pakai, nak Arsy bisa membelinya kalau mau." imbuhnya lagi.
Membeli mesin jahit? bahkan Arsy saja tidak bisa menjahit, lalu buat apa?
__ADS_1
"Tapi, Budhe. Saya tidak bisa menjahit lalu mau saya buat apa?"
"Hem, kalau kamu mau saya bisa ajarkan kamu sampai kamu bisa. Gini-gini saya ahli dalam hal menjahit. Hanya saja mata saya yang sudah tidak bisa jelas kalau jahit makanya saya tidak menjahit lagi. Tapi kalau sekedar mengajari saya bisa kok." terangnya.
Benarkah Arsy harus membelinya?
"Saya benar-benar minta tolong, Nak. Saya benar-benar butuh uang. Dulu saya beli bukan baru dan hanya di tempat rongsokan makanya murah dan saya hanya mau menjual dengan harga yang sama saja."
"Tapi, Budhe?" Arsy masih sangat ragu.
Pernah ada cita-cita untuk bisa menjadi seorang penjahit. Membuka rumah jahit dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Apakah ini adalah salah satu jalan yang Allah tujukan untuk Arsy bisa menggapai mimpi yang dulu hanya sebatas angan saja?
"Saya janji akan ajari sampai bisa," katanya lagi. wajahnya begitu memohon tapi juga penuh keyakinan. Mungkin dia yang ingin menyakinkan Arsy akan mengajarkannya.
"Ba_ baiklah Budhe. Saya akan bantu." jawab Arsy.
Meski niatnya hanya jual beli tapi keduanya jelas sama-sama di untungkan. Arsy juga bisa memiliki mesin jahit dan juga bisa belajar dan Budhe itu bisa menggunakan uangnya entah untuk apa.
"Tapi, Budhe. Biarkan mesinnya di tempat budhe dulu ya. Kalau belajar saya yang akan datang, terus saya minta jangan kasih tau sama keluarga saya ya, biarkan ini hanya saya dan Budhe yang tau." pinta Arsy.
"Iya, Budhe. Sebelumnya Kanaya sangat berterima kasih."
"Budhe tunggu di sini sebentar." Arsy mulai beranjak.
Budhe diam menunggu Arsy yang masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama Arsy kembali keluar dan kembali duduk di tempat yang tadi. Di berikannya uang itu pada Budhe tersebut.
"Terima kasih ya, Nak. Semoga bisa berkah semuanya." ucapnya.
"Iya, Budhe. Terima kasih."
"Terus kamu mau mulai kapan belajarnya?"
"Hem, besok aja, Budhe. Apakah ada yang harus saya beli, Budhe?"
__ADS_1
"Kamu cukup beli buku baru saja yang besar. Yang lainnya sudah ada di tempat budhe kamu bisa memakainya."
Orang yang selalu sabar pastilah akan ada jalan dalam segala kebaikan. Kebaikan akan selalu menghampirinya dengan cara yang tak di sangka.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
benar saja, tak ada yang tau tentang masalah pembelian mesin jahit oleh Arsy. Dia juga sudah mulai belajar.
Tak mudah untuknya belajar. Dia juga sudah lupa dengan cara menulis yang baik sampai-sampai tulisannya juga terlihat tidak beraturan.
"Ini bagaimana, Budhe?" tanyanya.
"Ini begini ya. Kamu masukan di sini dan sini." pertama Arsy di ajari mengenal bagian-bagian dari mesin juga kegunaannya. Di ajari darimana setiap helai benang itu berjalan hingga bisa sampai pada jarum dan bisa di gunakan.
Meski mesin itu sudah sah menjadi miliknya tapi Arsy juga merasa takut juga. Dia belum pernah menggunakannya.m, jangankan menggunakan, menyentuh saja dia belum pernah.
"Sini ya, Budhe?" tanya Arsy.
"Nah iya, sekarang tinggal kamu masukan ke sini saja, m" pintanya lagi dan Arsy langsung lakukan.
"Nah, bisa kan? kamu harus ingat-ingat ya. Jamu harus tau darimana benang itu masuk hingga akhirnya bisa sampai jarum."
"Iya, Budhe."
"Coba sekarang kamu tekan kakinya pelan-pelan," pintanya lagi.
"Baik Budhe." Arsy belajar dengan sangat baik.
Budhe tersebut tersenyum, baru sekali saja mengajari tapi Arsy sudah mulai bisa.
"Sepertinya kamu memang punya besik dalam menjahit, Nak. Semoga kamu bisa cepat bisa ya." ucapnya.
"Hem, semoga saja, Budhe." Arsy menoleh dengan senyum lebar. Dia akan bisa menjahit sekarang.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung...