
◆◇◆◇◆◇◆◇
Mata Arsy benar-benar dimanjakan dengan semua perlengkapan jahit yang sangat komplit di satu tempat saja. Tak butuh muter-muter pasar yang pasti sangatlah panas dan padat hanya untuk mendapatkan barang incarannya, kini Arsy sudah berhasil mendapatkannya dengan begitu tenang dan nyaman tanpa ada rasa gerah. Ada AC yang terpasang di toko.
Semua sudah komplit, hanya tinggal antri sebentar di kasir dan dia sudah bisa membawa semua peralatan yang dia pilih.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Mas. Kalau Mas tidak menunjukkan tempat ini mungkin Arsy tidak akan pernah tau tempat yang sangat rekomended banget." ujar Arsy.
Dia masih terus memegangi troli dan menoleh ke arah Frans yang ada di sebelahnya dengan menggendong Laili yang tertidur.
"Sama-sama," jawab Frans singkat. Meski hanya singkat saja tapi mampu menjadikan hati Arsy begitu senang. Hatinya juga bergetar saat Frans menatapnya begitu lekat.
"Ma-mas kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arsy. Cepat dia memalingkan wajah dari Frans.
"Hem, ti-tidak." Frans ikut gugup karena pertanyaan Arsy. Dia juga langsung menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan rasa gugup yang seketika datang.
"Itu sudah, ayo." Ajak Frans. Menggedikkan wajahnya saat melihat dihadapannya sudah kosong.
"Hem," Arsy mengangguk. Sontak dia mendorong troli ke kasir.
"Ini sudah semua, Mbak?" tanya mbak kasir.
"Sudah, Mbak," Arsy menjawab. Tangannya juga bergerak mulai mengeluarkan satu persatu barang-barang pilihannya.
Kasir itu tak lagi menjawab, dia hanya mengangguk ramah lalu mulai menghitung semuanya.
"Total semuanya tiga juta empat ratus lima puluh empat, Mbak." ucapnya.
"Pakai ini, Mbak." Dengan sedikit kesusahan Frans mengeluarkan dompet di saku lalu mengambil kartu kredit di dalamnya.
"Baik, Mas." kartu di terima.
"Terima kasih, Mas. Arsy janji akan kembalikan secepatnya." Sebenarnya tak enak. Seandainya bukan permintaan Bu Tantri pasti Arsy tidak akan menerima bantuan dari Frans. Tapi karena Bu Tantri sudah seperti ibunya sendiri akhirnya dia menerimanya.
"Kamu tenang saja, tidak perlu buru-buru untuk mengembalikan. Kalau sudah ada baru kembalikan," jawab Frans seraya tersenyum.
__ADS_1
Senyumnya lagi-lagi mampu menggerakkan hati Arsy, namun dengan cepat Arsy menipisnya karena tak mau banyak berharap dan yang paling jelas dia tidak mau sakit hati lagi.
'Tidak, Arsy. Jangan lakukan itu. Itu tidak benar.' batin Arsy.
"Kamu kenapa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Frans. Terlihat aneh saat melihat Arsy yang tiba-tiba terdiam.
"Tidak, Arsy baik-baik saja, Mas." langsung Arsy bersikap biasa-biasa saja. Dia tidak mau tingkahnya yang aneh akan menumbuhkan kecurigaan pada Frans. Dia tidak mau perasan yang tiba-tiba hadir di hatinya akan di ketahui Frans, padahal dia sendiri tidak yakin.
"Setelah ini kita makan dulu. Kamu ataupun Laili pasti lapar."
"Tidak usah, Mas. Kami bisa makan di rumah."
"Tidak apa-apa, sesekali makan di luar." keinginan Frans benar-benar tak bisa terbantahkan. Apa yang dia ingin harus terwujud.
Arsy diam, dia pasrah dan tak berani protes lagi setelah itu. Protes pun juga tidak akan ada artinya.
••*••
Restoran ayam geprek menjadi pilihan Frans untuk memanjakan perutnya, bukan hanya dia saja, tapi juga Arsy dan Laili.
"Bagaimana, Laili sayang. Ayamnya enak?" tanya Frans lembut. Melihat wajah Laili yang menunduk dan fokus pada piringnya.
Laili mengangguk semangat, dia juga mengangkat wajahnya untuk melihat Frans. "Enak banget, Om. Seumur-umur Laili baru makan ayam seenak ini."
Sungguh pilu hati Arsy mendengarnya. Jangankan untuk membelikan ayam yang enak, hanya sekedar ayam goreng di pinggir jalan saja Arsy harus benar-benar berusaha keras baru bisa mewujudkannya.
Seandainya saja Adi bisa mengerti, seandainya dia bisa memberikan limpahan kasih sayang padanya dan juga Laili, pasti Laili tidak akan haus kasih sayang seorang ayah seperti sekarang. Pasti dia akan selalu kecukupan dan bisa makan apapun yang dia mau. Tapi tidak.
'Sudah Arsy, jangan ingat-ingat itu lagi. Semuanya sudah berlalu, sekarang kamu bisa membelikan apapun untuk Laili tanpa harus mengemis pada Mas Adi yang tak ada belas kasih.' batin Arsy.
Dukanya yang masih tersisa membuat dia meneteskan air mata dengan melihat ke arah Laili. Dia begitu hanyut melihat kebahagiaan anaknya itu.
Arsy sangat terkejut, dia menoleh saat ada sapu tangan yang menyapa pipinya yang basah. Arsy menoleh dan mendapatkan Frans yang sedang berusaha mengeringkan air matanya.
Frans menggeleng, dia seolah tau apa yang Arsy pikirkan. "Sudah, jangan sesali semua yang sudah terjadi. Waktunya kamu melanjutkan hidupmu, jemput kebahagiaan kamu dan juga Laili." Tutur Frans. Dia tersenyum.
__ADS_1
Arsy terdiam, merasakan sapu tangan Frans yang terasa begitu lembut menyapa wajahnya.
Seandainya Adi bisa seperti Frans, mungkin Arsy akan sangat bahagia. Kehidupannya tidak akan pernah mendapatkan masalah dan tak akan menemukan kekurangan apapun.
"Te-terima kasih," Arsy tergagap. Dia langsung menjauhkan wajahnya juga mengambil alih sapu tangan Frans dan mengeringkan air matanya sendiri. Dia tidak mau ada masalah setelah ini.
"Hem," Frans hanya mengangguk. Melepaskan sapu tangan tanpa keberatan. Mungkin Arsy memang tidak nyaman dengan perlakuannya.
'Aku janji, Arsy. Suatu saat nanti aku akan membuat kamu bahagia. Tidak akan pernah aku biarkan kamu ada dalam masalah. Cukup penderitaanmu karena Adi kemarin, tidak setelah ini,' batin Frans begitu percaya diri.
"Uluh-uluh manisnya. Janda anak satu sama perjaka tua." Cibir Siska. Ternyata dari tadi dia melihat adegan Arsy dan Frans.
Keduanya menoleh bersamaan.
Ada rasa kesal, tapi juga ada rasa sungkan di hati Arsy. Tapi dia juga tak mau terus di hina. Arsy memandang tanpa rasa takut pada Siska.
"Uluh-uluh, ada perempuan perebut suami orang. Apa sudah nggak percaya diri bisa mendapatkan perjaka sampai-sampai mengembat suami orang?" Gantian Arsy berbicara. Rupanya dia mulai berani sekarang.
"Kamu!" mata Siska membulat lebar. Dia begitu sengit setelah mendengar ucapan Arsy barusan yang begitu menohok dirinya. Padahal memang kenyataan, tapi terlihat kalau dia sangat marah.
"Ya saya. Ada apa?" tantang Arsy, dia juga langsung beranjak seolah ingin menyamakan tinggi Siska.
"Seharusnya kamu ngaca dulu sebelum bicara, bicara boleh, tapi jangan sakit hati jika ucapanmu di balas dengan yang lebih menyakitkan. Kalau kamu diam dan tidak mengusik orang lain tentu orang juga tidak akan berani mengusikmu."
"Orang diam bukan berarti takut, justru orang diam itu memiliki keberanian yang kuat, dia hanya ingin melihat saja seberapa kuatnya lawan. Dan ya! Orang diam bukan berarti bodoh, karena biasanya orang yang diam itu lebih pintar daripada orang yang hanya banyak bicara."
Frans begitu terperangah, dia tak percaya kalau ternyata Arsy memiliki sisi keberanian yang selama ini tidak di ketahui banyak orang. Mungkin penderitaan yang dia alami lah yang mengajarkan dia semua keberanian itu.
"Kurang ajar!" Tangan Siska terangkat, dia hampir memukul wajah Arsy. Frans juga sempat terkejut dan berdiri untuk menghentikan. Tapi ternyata?
"Jauhkan tangan kotormu dariku, atau aku tidak akan segan untuk membalas yang lebih dari apa yang kamu lakukan." Tegas Arsy. Matanya nyala berani setelah tangan juga menangkap pergelangan tangan Siska dan menghentikan supaya tidak sampai di wajahnya.
Dengan kasar Siska menarik tangannya, tentu juga dengan sangat marah. Merasa malu karena kalah dan menjadi tontonan semua orang, Siska langsung melenggang pergi dengan cepat. Tentu dia tidak mau di permalukan, padahal sebenarnya dia sendiri yang mempermalukan dirinya.
◆◇◆◇◆◇◆◇
__ADS_1
Bersambung...