
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Tak ada yang Adi pikirkan lagi saat dia melihat Siska mantan kekasihnya saat SMA di salah satu restoran. Dia masih sangat cantik bahkan semakin cantik bagaimana mungkin Adi akan memiliki keraguan.
Kulitnya putih bersih, pintar berdandan dan juga begitu sempurna penampilannya dengan baju yang terlihat sangat indah. Pasti itu adalah baju yang sangat mahal begitu juga dengan tas yang dia bawa.
"Siska!" pekik Adi girang, benarkah dia hanya secara kebetulan saja bertemu dengan Siska atau memang dia sengaja mencari?
"Mas, Mas Adi ya?" jari telunjuk Siska terangkat ketika sudah berada di hadapan Adi. Menunjuknya sekaligus untuk memastikan apakah dia benar ataukah tidak.
Sudah sangat lama mereka tidak bertemu jelas saja Siska akan pangling atau mungkin malah lupa.
"Iya, Benar. Wah wah, makin cantik saja kamu, Sis." pujinya. Wanita mana yang tidak akan merona malu mendapatkan pujian dari laki-laki yang pernah ada di dalam hatinya dulu, apalagi sampai sekarang dia juga belum bisa melupakan.
Pipi Siska memerah, dia juga langsung menunduk bersamaan dengan tangan yang menyembunyikan rambutnya di atas telinganya.
"Apa sih, Mas. Biasa aja kali ah," Siska begitu malu dengan sedikit pujian dari Adi. Dia tertunduk karena sangat malu sekedar untuk melihat wajah Adi saja yang sekarang ada di hadapannya.
"Boleh gabung?" tanya Adi meminta izin.
Siska mengangguk, hatinya kembali berdebar saat mengangguk juga melihat wajah Adi, cintanya yang dulu seakan kembali bangkit lagi.
Apakah cinta mereka akan kembali bersemi setelah pertemuan mereka saat ini, apakah Adi akan melupakan Arsy yang sudah berjuang dan selalu bertahan meskipun dengan semua perlakuan buruk darinya?
Adi benar-benar duduk di tempat satu lingkar meja bersama Siska. Dia terlihat begitu bahagia bisa bertemu dengan perempuan yang pernah ada di dalam hatinya itu. Meski pernah tergantikan oleh Arsy yang selama ini telah menjadi istrinya tetapi Siska adalah cinta pertamanya yang tidak bisa dia lupakan hingga sekarang.
"Bagaimana, apakah kamu sudah menikah?" pertanyaan basa-basi dari Adi. Dia sudah tau kalau Siska belum menikah hingga sekarang. Entah apa alasannya.
"Belum," Siska menggeleng.
"Kenapa, padahal kamu sangat cantik dan siapapun pasti mau lah dengan kamu."
"Kalau kamu, Mas. Apakah kamu mau?" tanya Siska bergurau. Jelas saja sebenarnya itulah yang Siska ingin. Dia ingin kembali menjadi milik Adi.
Bukan hanya memiliki cintanya saja, tapi Siska sangat menginginkan Adi bisa dia miliki seutuhnya.
__ADS_1
"Tapi itu sangat tidak mungkin karena Mas Adi sudah memiliki istri yang Mas Adi cintai. Tidak akan mungkin bisa menerima cinta Siska lagi, benar begitu kan?" tanya Siska dengan ragu-ragu.
Adi terdiam sesaat, benarkah Siska masih sangat menginginkan dirinya atau mungkin hanya ingin menguji saja. Dan apakah dia mau meskipun hatinya sudah pernah berpindah menjadi milik wanita lain?
"Saya tau, Mas Adi tidak akan mau karena istri mas pasti lebih cantik daripada Siska dan juga lebih bisa memanjakan Mas Adi, itu benar kan?"
"Hem, itu tidak benar. Kamu lebih cantik daripada dirinya." jawab Adi. Ternyata dia juga menanggapi perkataan dari Siska membuat perempuan itu bahagia.
Hatinya begitu berbunga-bunga karena tak akan susah kembali mendapatkan hati Adi karena dia juga terlihat masih berharap.
Dipegang tangan Adi oleh Siska, menatap lekat wajahnya yang juga sontak melihat wajah Siska.
"Bisakah kita menjalani hubungan yang seperti dulu lagi, Mas?" tanya Siska. Padahal tadi awalnya hanya bergurau tapi karena Adi menyambut akhirnya dia benar-benar berharap.
"Tentu saja, kenapa tidak?"
"Lalu istrimu?"
"Biarkan saja, dia tidak lebih penting daripada kamu. Kamu yang lebih penting daripada dia," jawab Adi. tangan satunya terangkat dan menyentuh tangan Siska yang ada di atasnya.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Keringat terus keluar di wajah Arsy, panas matahari terasa menyentuh dan masuk ke dalam ubun-ubunnya yang sebenarnya dia sudah pakai tudung dari bambu.
Meski dalam keadaan panas Arsy tetap semangat, apalagi di kebun dia tengah memanen tanamannya yang akan membuat dirinya mendapatkan uang.
"Alhamdulillah," gumamnya.
Tangannya kembali sibuk meski tadi sempat berhenti dan mendongak melihat matahari yang begitu terik. Bagaimana mungkin wajah Arsy akan putih mulus kalau pekerjaannya terus berasa di ladang dan terus kepanasan seperti sekarang.
"Wah wah, panen lagi ya, Nak." seru seseorang.
Hanya panen cabe yang belum seberapa sih, paling baru satu ember kecil saja tiga kiloan.
"Iya, Budhe. Alhamdulillah." jawabnya dengan ramah.
__ADS_1
"Kok sendiri saja, nggak ada yang bantuin?" tanyanya.
"Tidak Budhe. Ambil budhe kalau mau bikin sambel," ucap Arsy menawarkan.
Itulah Arsy, meski dia yang bekerja keras dia tidak akan menjadi pelit pada orang. Setiap dia panen akan selalu menawari orang yang kebetulan lewat.
Mau atau tidak yang terpenting dia sudah menawarkan, dan itu akan selalu dia lakukan.
"Tidak, terima kasih. Saya juga punya kok meski hanya sedikit. Mari nak pulang, sudah siang loh," ajaknya.
"Iya Budhe, sebentar lagi." jawab Arsy.
Budhe itu langsung pergi dari sana. Kembali Arsy melanjutkan pekerjaannya, dia harus bisa secepatnya menyelesaikan karena sebentar lagi Laili akan pulang dan dia harus sudah ada di rumah.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
"Bu," panggil Laili. ternyata Laili yang lebih dulu sampai di rumah tapi bukan berarti Arsy terlambat, mereka hanya selang beberapa menit saja.
"Eh, maaf ya Ibu sedikit terlambat." jawab Arsy. Dia benar-benar menyesal karena terlambat.
"Tidak apa-apa, Bu. Laili kan juga baru sampai. Laili juga bisa main dengan temen kok kalau Ibu belum pulang."
Begitu senang Arsy bisa memiliki anak yang begitu pengertian seperti Laili. Dia manis dan sangat membanggakan.
"Iya, yuk masuk." ajak Arsy.
Dia sudah tidak lagi membawa cabenya pulang sampai rumah, dia akan selalu mampir ke tempat orang yang akan membelinya. Dengan seperti itu semua keluarga tidak akan tau dapat seberapa panenannya.
Niatnya tidak seperti sekarang ini, ingin Arsy lebih terbuka pada keluarga namun perlakuan semua orang yang membuat Arsy tidak melakukan itu. Lagian semua modal juga dari usaha Arsy.
"Yuk, Bu." Laili langsung bersedia.
Rasa lelah hilang seketika saat melihat anaknya dengan wajahnya yang terus berbinar. Tak ada lelah yang berarti karena semua juga dia lakukan untuk Laili.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
__ADS_1
Bersambung....