
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Begitu bingung Pak Nirwan dan juga Bu Tantri saat pulang dan tak ada Arsy ataupun Laili di rumah. Tadi Arsy mengatakan akan menyusul untuk pergi ke acara pernikahan Adi tapi kenyataannya dia tak datang.
"Pak, Arsy kemana ya?" Bu Tantri sangat bingung. Semua tempat sudah dia lihat namun sama sekali tak ada tanda-tanda akan keberadaan Arsy dan anaknya.
Pak Nirwan juga ikut mencari meski sekuatnya, berjalan dengan pelan menggunakan bantuan dari tongkat besi.
"Bapak juga tidak menemukannya, Bu. Kemana ya kira-kira Arsy?" Pak Nirwan juga ikut bingung.
Kedua orang tua itu sudah saling berhadapan sekarang dan juga sudah mulai kembali berjalan untuk duduk dengan bergandengan.
"Apa mungkin Arsy sedang keluar ya? Semoga saja tidak ada masalah."
"Iya, Pak. Ibu kok sangat khawatir ya. Semoga saja mereka dalam keadaan baik-baik saja." Bu Tantri berucap. Setelah mengatakan hal itu tiba-tiba saja hatinya sangat gelisah, dia tak mengerti, dia bingung apa yang sedang terjadi.
"Iya, Bu. Semoga saja mereka berdua tidak apa-apa." Pak Nirwan mengelus pundak sang istri, dia juga merasakan hal yang sama, sama seperti yang di rasakan.
Arsy juga Laili sudah seperti anak dan cucu bagi mereka berdua, jadi mereka sudah merasa sangat gelisah jika tidak ada mereka berdua. Apalagi tidak keberadaan mereka berdua begitu tiba-tiba seperti sekarang, bahkan mereka juga pergi tanpa pamit.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Ketidakhadiran Arsy dan juga Laili membuat Adi dan juga keluarga merasa kesal. Padahal mereka semua sudah merencanakan untuk menghina Arsy di depan banyaknya orang.
Mungkin karena sudah ada niatan yang tidak baik seperti itu maka Allah memberikan jalan lain untuk Arsy tidak bisa menghadirinya. Kalau hadir pasti Arsy akan di permalukan.
Sudah tak ada tamu satupun selain Rani dan juga anak suaminya. Mereka juga ikutan berwajah penuh kabut sekarang, sama seperti Adi dan juga Lusi.
"Aku tau nih, dia tidak datang karena dia tak sanggup melihat mantan suaminya menikah lagi. Sok dia mengatakan rela, ikhlas pada kenyataannya dia tak datang. Heh! Ikhlas apaan!"
Ucapan Rani semakin memanasi hati semua orang. Dengan menyunggingkan bibirnya dia berucap, seolah meyakinkan semua orang dengan apa yang dia katakan barusan adalah benar.
"Awas kamu Arsy," Kedua tangan Adi menyatu dan saling menggeretak, terdengar bunyi itu dengan sangat jelas di telinga semua yang ada di sana. Matanya juga sudah membulat, menatap fokus ke depan dengan begitu benci.
"Sudahlah, Mas. Datang ataupun tidak dia yang penting sekarang kita sudah menjadi suami istri kan? Untuk masalah itu kita bisa lakukan kapan-kapan," ucap Siska menghibur.
Yang dia katakan memang benar, datang atau tidaknya Arsy mereka tetap menikah? Mereka tetap sah menjadi suami istri kan?
Tapi, kenapa ujungnya harus ada niatan untuk melakukan kapan-kapan? Sungguh, baru menjadi istrinya saja Siska sudah memberikan niat yang tak benar pada Adi.
"Kamu benar, yang terpenting kita sudah sah menjadi suami istri sekarang." Adi menoleh, memaksakan tersenyum meski hanya sebentar saja.
"Secepatnya kalian kasih ibu cucu yang tampan ya. Ibu sudah tidak sabar pengen punya cucu yang tampan dari kalian." ujar Lusi. Wajahnya begitu sumringah dengan apa yang dia inginkan itu.
"Iya, Bu. Semoga saja kita bisa secepatnya memberikan ibu cucu yang ibu mau," jawab Siska dengan menunduk malu-malu.
"Dan kamu Rani, beri ibu cucu lagi yang perempuan yang imut-imut," Beralih Lusi menoleh ke arah Rani.
"Iya, Bu. Pasti. Iya kan mas?" Rani menoleh ke arah dang suami, langsung dia merangkul tangannya dan bergelayut manja. Meski mereka sudah lama menikah tapi urusan itu mereka tak mungkin bisa terkalahkan jiga kan?
__ADS_1
"Iya," Jawab sang suami. Dia juga tersenyum sembari mengelus tangan Rani yang ada di lengannya.
"Bu Bu!" teriak Rey. Dia berlari masuk dan mengejutkan semua orang yang tengah berkhayal dengan keinginan mereka. Seketika mereka menoleh.
"Ada apa, Rey?" tanya Rani. Ada aura kesal meski dia mengatakannya dengan sangat lembut barusan.
Rani terus berusaha menjadi ibu yang baik di depan semua orang, tapi tidak kalau hanya ada dirinya dan Rey saja, dia bisa saja langsung menarik telinganya kalau Rey mengganggu khayalannya.
"Bu, tadi ada Ibu-ibu tetangga bilang, kalau Laili pingsan dan sekarang di bawa ke rumah sakit. Kita ke sana yuk, Bu. Rey pengen tau keadaan Laili." Rey terlihat begitu berharap.
Semuanya tercengang mendengar ucapan Rey. Tatapan mereka juga langsung fokus pada anak laki-laki itu yang terlihat begitu khawatir.
"Kamu nggak salah dengar kan?" tanya Rani.
"Tidak, Bu. Baru saja ibu itu bilang pada Rey."
"Oh, pantesan dia tidak datang." ucap Siska.
Tak terlihat ada kekhawatiran sama sekali di wajah Adi dan juga kedua orang tuanya, wajahnya tetap datar seperti biasanya.
"Heh! Bilang saja nggak mau datang, kenapa anak yang di jadikan alasan. Mana anak di suruh-suruh pingsan segala lagi" ucap Rani.
"Aku mau lihat. Dia beneran pingsan atau hanya sebagai alasan saja." Adi langsung beranjak. Melepas jas nya dan langsung bergegas.
"Mas, aku ikut!" teriak Siska. Dia juga mau lihat juga lah apa yang akan terjadi nanti di rumah sakit, pasti sangat menyenangkan.
"Mas, kita ikut yuk," ajak Rani pada sang suami.
"Hem," Suami mengangguk setuju. Kedua langsung bergegas juga, Rey pasti ikut karena dia yang sangat khawatir pada Laili.
"Sudah lah Siska. Lebih baik kamu siapkan saja dirimu untuk malam pertama nanti." ucap Lusi.
"Iya, Bu." Jawabnya. Bersiap untuk malam pertama, padahal mereka akan melakukan hal itu bukan yang pertama, tapi sudah yang kesekian kalinya. Tapi memang pertama kali setelah menikah.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Terduduk di ruang perawatan Laili yang belum juga sadarkan diri. Arsy masih terus menangis, menggenggam tangan mungil anaknya yang terlihat begitu lemas seolah tak ada tulang.
Seharusnya Frans juga sudah pergi, tapi dia begitu tak tega melihat Arsy yang begitu terpuruk seperti sekarang ini. Dia memutuskan untuk ikut menunggu, menemani Arsy, setidaknya sampai Laili sadar.
"Kamu yang sabar, Arsy. Berdoa, semoga Laili cepat sadar dan cepat sembuh." ucap Frans mencoba menghibur Arsy.
Cepat Arsy menghapus air matanya meski pada akhirnya akan kembali keluar. Rasanya air mata itu tak ada habisnya sedari tadi, terus saja keluar sesuka hati.
"Terima kasih, Mas." ucap Arsy.
"Bukankah mas harus berangkat? Berangkatlah," ucap Arsy lagi.
"Tidak, aku akan menemanimu di sini. Aku bisa berangkat pagi-pagi sekali besok." jawab Frans.
__ADS_1
"Tapi, Mas?"
"Sudah, jangan khawatirkan aku." Frans tersenyum. Terlihat begitu tulus senyumannya.
'Ya Allah, orang lain terasa seperti seorang ayah bagi Laili. Tapi seorang ayah terasa seperti orang asing.' batin Arsy pilu. Tersayat hatinya.
Tak masalah jika dirinya yang di abaikan, tapi Laili? Dia adalah darah dagingnya kan? Dia tetap wajib mendapatkan perhatiannya.
'Pasti sekarang mas Adi sedang bersenang-senang dengan istri barunya, jadi tak akan peduli meski dia tau. Maafkan ayah ya, Nak. Semoga kamu tak akan pernah membencinya meski seperti apapun ayahmu.' batin Arsy lagi.
Berdiri Frans di samping Arsy, mengelus pundaknya dan menyalurkan kekuatan untuknya. Itu sangat manjur untuk Arsy yang merasa sendiri sekarang, setidaknya ada orang yang peduli pada dirinya.
"Sabar," ucap Frans. Bukan dia mencari kesempatan. Dia juga melakukannya hanya sebentar saja.
Tangannya perlahan dia tarik saat Arsy kian tenang, namun menjauhnya tangannya dari pundak Arsy bersamaan dengan datangnya Adi di ruangan itu.
"Oh, ternyata seperti ini kebenarannya. Kau hanya menjadikan anakmu sebagai alasan untuk kamu bisa berduaan dengannya." Mata Adi begitu membulat, dia begitu tak suka melihat hal itu.
Arsy dan Frans langsung menoleh, Arsy juga langsung berdiri karena begitu terkejut dengan kedatangan Adi. Dia pikir dia tidak akan datang.
"Apa yang kamu ucapkan, Mas." tanya Arsy. Kakinya melangkah dan kini berdiri di hadapan Adi di depan Frans.
"Kamu benar-benar busuk, Arsy. Kau membuat anakmu pingsan supaya kamu bisa berduaan dengan perjaka tua ini. Supaya kamu bisa leluasa bermesraan di sini, iya kan!" sadis tuduhan Adi pada Arsy.
Entah apa maksudnya Ado marah, dia sudah menceraikan Arsy, dia sudah menikah lagi, jadi buat apa dia marah dan mencampuri kehidupan Arsy. Apakah sebenarnya masih ada sedikit cinta yang tersimpan di dalam hatinya? Apakah ada penyesalan yang tumbuh setelah dia berhasil menceraikannya?
"Dasar munafik! Kamu tak lebih dari seorang pel*cur!"
Plak!
Dengan begitu berani Arsy menampar Adi, begitu keras sekeras hatinya yang begitu kuat karena terus dia sakiti. Mata Arsy membulat begitu sempurna. Dia sangat tak habis pikir dengan apa yang Adi katakan tentangnya.
"Ya! Kalau Arsy seorang pel*cur lalu apa dengan dirimu, Mas! Malaikat!"
"Kamu tidak cari tau dulu apa yang sudah Mas Frans lakukan untuk anakmu, dia yang menyelamatkannya, dia yang membuat Laili mendapatkan pertolongan di sini. Terlambat sedikit saja, aku tidak tau apa yang akan terjadi pada Laili."
"Hal yang seharusnya kamu lakukan, ternyata orang lain yang melakukannya. Di mana hatimu, Mas! Di mana tugasmu sebagai seorang ayah!"
"Kamu hanya memikirkan kesenangan mu sendiri kan, maka pergilah dan nikmati kesenangan mu. Pergi!" usir Arsy.
Frans hanya diam, dia tak mau ikut campur dalam urusan Arsy juga Adi. Tapi jika ada kekerasan barulah dia akan bertindak.
"Pergi, dan nikmati kesenangan mu. Jangan datang dan jangan pedulikan Laili lagi. Dia akan bahagia tanpa kamu. Pergi!"
Amarah begitu menggebu dalam diri Arsy, mungkin inilah amarah terbesarnya. Atau mungkin akan masih ada lagi jika itu menyangkut kehormatan dirinya dan juga Laili.
◆◇◆◇◆◇◆◇
Bersambung....
__ADS_1