
◆◇◆◇◆◇◆◇
Senyum Arsy terus mengembang sempurna setelah melihat hasil dari kerja keras tangannya sendiri yang dibantu oleh Budhe Tantri. Melihat beberapa potong baju hasil karyanya yang akan dia berikan kepada Laili.
Berjumlah 5 potong baju dengan berbagai model yang berbeda, tentunya juga dengan warna yang berbeda pula. Arsy terus tersenyum dengan melihat dan kembali menjajarkan baju-baju tersebut dengan tatapan yang tak pernah berkedip juga senyum yang tidak pudar.
Bukan hanya Arsy saja yang terlihat sangat bahagia karena keberhasilannya, tetapi juga kebahagiaan itu dirasakan oleh Budhe Tantri yang telah mengajarkannya.
"Akhirnya, kamu berhasil juga, Arsy," ucap Budhe Tantri. Dengan meteran yang masih menggantung di lehernya dia melangkah mendekat.
"Alhamdulillah, Budhe. Semua ini juga karena Budhe," Arsy menoleh sebentar. Tersenyum dan tak lama kembali mengagumi apa yang telah dia buat sendiri.
Akhirnya, Arsy bisa memberikan baju untuk Laili. Baju baru yang biasanya hanya akan dia beli dalam satu tahun sekali untuk Laili dan biasanya Laili hanya akan mendapatkannya dari bekas-bekas yang para tetangganya beri.
Tak pernah ada kemampuan untuk membeli baju baru untuk Laili untuk setiap bulan karena Arsy juga memang tidak pernah mendapatkan gaji bulanan. Tapi sekarang?
Air mata menetes dari matanya, Arsy sangat bahagia karena sebentar lagi akan melihat anaknya tersenyum karena mendapatkan baju-baju baru dan itu adalah buatannya sendiri.
Dengan kasar Arsy mengusap air matanya, meski seperti itu tetap saja tak bisa menghentikan yang masih terus keluar.
"Kok malah nangis, bukankah seharusnya kamu seneng?" tanya Budhe Tantri.
"Terima kasih, Budhe," hanya itu yang Arsy katakan, dia juga langsung memeluk budhe Tantri yang ada di sebelahnya dengan memperhatikan.
Arsy pikir di desa tersebut tak akan ada orang yang peduli, tapi ternyata? Arsy mendapatkan orang yang peduli bahkan sangat tulus padanya. Mengajarkan ilmunya tanpa meminta imbalan apapun padanya.
"Sudah, jangan nangis lagi. Budhe senang kamu berhasil. Pokoknya jangan menyerah dan terus berusaha, teruslah datang kesini dan belajar sama budhe sampai kamu benar-benar bisa menguasai semuanya. Budhe yakin, kamu akan sukses di kemudian hari," ucap Budhe Tantri.
"Keyakinan budhe adalah doa untuk Arsy, terima kasih." Perlahan Arsy melepaskan menatap sejenak perempuan tua itu yang sebenarnya penglihatannya sudah tidak lagi jelas. Hanya tinggal samar-samar saja namun dia berhasil mengajari Arsy, sungguh luar biasa.
"Hem," Budhe Tantri mengangguk. Sejenak ikut merasa haru karena keberhasilan Arsy yang semula sempat dia ragukan juga.
Siapapun pasti akan meragukannya, begitu juga dengan dirinya. Bagaimana tidak! Arsy hanya lulusan SD saja yang belum banyak akan ilmu, masih begitu kurang dalam ilmu pengetahuan.
__ADS_1
"Sekarang pulanglah dan tunjukkan pada anakmu, dia pasti sangat senang." ucap Budhe Tantri.
"Iya, Budhe. Sekali lagi terima kasih." Arsy buru-buru beranjak.
Begitu dia bersyukur ada orang yang sungguh tulus padanya dan membantu tanpa mengharap apapun. Jika di minta sesuatu Arsy juga tidak akan bisa memberikan apapun.
Arsy segera pulang, melangkah dengan pasti hingga rumah dan akhirnya melupakan anaknya yang sedang bermain.
"Laili!" panggil Arsy dan bergegas.
Laili yang bermain dengan beberapa temannya terlihat terkejut, dia juga langsung menyambut dengan bingung melihat ibunya yang terus berlarian ke arahnya.
"Laili, kami pulang dulu ya," Pamit teman-temannya.
"Iya, nanti main lagi ya," jawab Laili.
Tak ada satupun yang tersisa, semuanya berlarian pergi dari rumah Laili setelah kedatangan Arsy. Apakah mereka takut? Mungkin saja karena pelataran yang menjadi sangat kotor pasti mereka semua takut Arsy akan marah, padahal tidak mungkin dia akan marah.
"Bu," Laili sendiri pun menunduk takut, dia juga andil dalam mengotori pelatarannya. "Hem, nanti Laili yang akan menyapunya," ucapnya.
"Ini apa, Bu?" tanyanya. Melihat Arsy yang sudah mulai membuka kresek hitam tadi.
"Lihatlah, baju-baju Laili sudah jadi." Tak pernah pudar senyum Arsy tapi juga ada beberapa tetes air mata yang masih terus keluar.
"Bu, ini baju-baju untuk Laili?!" Gadis kecil itu juga langsung tersenyum dengan sangat a bahagia, melihat beberapa baju yang langsung ibunya perlihatkan.
"Hem," Arsy mengangguk. Hatinya sungguh bahagia, dia sangat puas dengan semua hasilnya apalagi bisa melihat senyum ceria di wajah anaknya, tentu adalah kepuasan tersendiri.
"Di coba ya," Arsy mulai bergerak membantu. Meminta Laili untuk mencoba satu persatu.
"Ibu, ini sangat indah. Laili sangat menyukainya," Semakin lebar senyum Laili, begitu juga dengan senyuman Arsy bahkan saking senangnya Laili sampai berputar-putar dengan memperlihatkan bajunya itu yang mengembang.
◆◇◆◇◆◇◆◇
__ADS_1
"Ayah, lihatlah. Laili punya baju baru," Baru saja melihat Adi pulang bekerja Laili yang baru selesai mandi dan berpakaian baru kini berlari menghampiri Adi.
Dengan sangat sumringah dia mendekat, sifat menggemaskannya sangat terlihat jelas dari wajahnya membuat Arsy juga tersenyum karenanya.
Adi hanya melirik kecil daja, itupun juga hanya sebentar dan beralih duduk di ruang tengah dengan melepaskan sepatunya.
"Ayah, apa ini sangat indah? Cobalah lihat." Laili bahkan mengikuti Adi dan kini berdiri di hadapannya.
Wajahnya kian berbinar dengan menunggu apa yang akan Adi katakan tentang dirinya yang memakai baju baru.
"Bagaimana, Yah?" Laili masih setia menunggu. Menunggu apa yang akan Adi katakan padanya.
"Hem," Adi melihat sebentar kearahnya, memperhatikan penampilan Laili yang sedikit berbeda. Baju barunya sangat cocok dengan dirinya yang yang kini rambutnya di kuncir dia kanan kiri.
Tak ada lagi yang Adi katakan, dia juga langsung beranjak dari tempat itu dengan sedikit mendorong Laili untuk menjauh lalu dia pergi dan tak mengabaikan Laili lagi.
Kecewa. Jelas saja si kecil itu kecewa karena melihat ayahnya yang tak peduli padanya. Padahal hanya mendapat pujian kecil juga senyum tulus saja seorang anak sudah sangat bahagia, tapi kenapa itu tidak bisa Adi berikan.
Laili hanya terdiam, berdiri di tempat dengan terus melihat Adi yang melangkah semakin jauh.
Arsy ikut sedih melihatnya, dia mendekat dan berjongkok di hadapan Laili yang kecewa.
"Kenapa, hem?" tanya Arsy.
"Jangan sedih, ada ibu untuk Laili." ucap Arsy dan Laili mengangguk kecil lalu memeluk ibunya dengan erat.
"Bu, apakah ayah tidak sayang dengan Laili?"
"Laili bilang apa, ayah pasti sangat sayang sama Laili ayah hanya sedang lelah saja." jawab Arsy.
Sementara Adi. Dia sudah berada di dalam kamar dan sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan sibuk dengan ponsel.
"Hem, nanti aku akan datang. Tunggu aku ya dan berdandanlah yang cantik." ucapnya sembari mengetikkan kata yang dia ucapkan pada ponsel.
__ADS_1
◆◇◆◇◆◇◆◇
Bersambung.....