Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Niat Frans


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Melihat yang telah terjadi sangat berada di butik membuat Frans langsung memutuskan untuk segera memberitahu Arsy, dia merasa sangat kasihan dengan perempuan itu yang ternyata telah dikhianati oleh suaminya.


Namun Frans sangat bingung harus mulai dari mana, tidak mungkin dia akan langsung datang ke rumahnya dan menemui Arsy, pasti akan terjadi masalah jika itu yang dilakukan mengingat bagaimana perilaku semua keluarganya kepada Arsy.


"Aku harus bagaimana, bagaimana aku bisa bertemu dengan Arsy tanpa meninggalkan masalah untuknya," gumamnya.


Bingung jelas saja hal itu yang dirasakan oleh Frans sekarang, dia tidak boleh gegabah demi niat baik untuk memberitahu kebenaran kepada Arsy tentang suaminya yang ternyata tidak setia.


"Nak, kamu kau kemana?" suara dari Budhe Tantri mengejutkan Frans yang masih berdiri dengan jarak aman dari rumah Arsy. Seketika saja Frans menoleh.


"I_ ini Budhe," Frans menggaruk tengkuknya sendiri yang sebenarnya tidak gatal, juga nyengir kuda untuk menyembunyikan kebingungannya.


"Ada apa, apa ada masalah?" tanya Budhe Tantri lagi.


Dengan jelas tadi dia melihat bahwa Frans sedang melihat Arsy yang berada di pelataran rumahnya yang sedang mengangkat jemuran, apakah dia ingin bicara dengan Arsy? pikir Budhe Tantri, dia hanya ingin memastikan saja kalau apa yang dia pikirkan tidakkah salah.


"Apakah kamu mau menemuinya tapi kamu takut?" tebak Budhe Tantri.


"Hah! sa_ saya..., I_ iya, Budhe," Frans mengakuinya meski dengan kata-kata yang sangat gugup, bagaimana mungkin dia tidak gugup karena dia ketahuan ingin bertemu dengan istri orang.


"Kenapa tidak kamu temui saja sekarang?"


"Sa_ saya takut akan terjadi masalah, Budhe."


Budhe Tantri terdiam, apa yang telah dikatakan oleh Frans ada benarnya juga. Tidak sembarang orang bisa bertemu dengan Arsy apalagi dia seorang laki-laki, pastilah akan ada buntut setelah kepergiannya nanti.


"Apakah ada masalah penting?" tanya Budhe Tantri penasaran.


Melihat bagaimana ekspresi dari wajah Frans tentu saja ada masalah dan itu berkaitan dengan Arsy. Bude Tantri jadi sangat penasaran sebenarnya masalah apa yang Frans ketahui hingga dia sangat ingin bertemu dengan Arsy.


"Hem, begini saja. Kalau kamu belum berangkat lebih baik kamu datang ke rumah Bude nanti sore, kamu bisa bicara dengan Arsy tanpa ada keluarganya yang tahu. Tapi kalau kamu belum berangkat sih, biasanya kan kamu akan berangkat saat siang hari kan?" tanya Bude Tantri.

__ADS_1


Frans terdiam. Memang biasanya dia akan berangkat setelah ba'da dzuhur, tapi untuk sekarang apakah dia tidak bisa berangkat terlambat? Bukankah dia yang sangat ingin mengatakan kebenaran kepada Arsy, bukankah dia juga yang sangat tidak tega juga tidak rela jika perempuan yang dia sukai ternyata disakiti oleh laki-laki begitu dia percaya?


"Hem, bagaimana?" Budhe Tantri menekankan.


"Baiklah Budhe, Frans akan datang nanti sore." jawab Frans.


Sebenarnya Frans juga sangat penasaran sebenarnya apa yang Arsy dilakukan di rumah Budhe Tantri, dia sering mendengar bahwa Arsy selalu saja ke sana setiap sore. Apakah ada hal penting hingga membuat Arsy terus berada di sana setiap sore hari?


Keduanya berpisah pergi ke tujuan mereka masing-masing.


Sore hari Frans benar-benar datang ke rumah Bude Tantri, saat dia datang ternyata Arsy belum datang jadi dia masih terus menunggu dengan sangat tidak sabar.


Kadang dia akan duduk di kursi yang sudah tersedia, juga kadang dia akan berdiri dan berjalan menuju pintu melihat apakah Arsy sudah datang atau belum.


"Tenangkan dirimu, sebentar lagi Arsy pasti akan datang." ucap Budhe Tantri.


Frans yang berdiri di belakang pintu langsung memutar dan ternyata melihat Bude Tantri sedang meletakkan cangkir di atas meja, sepertinya dia membuatkan minum untuk Frans.


"Minumlah dulu, dan buat dirimu nyaman." ucap Budhe Tantri lagi. Dia sudah duduk sekarang melihat Frans yang juga perlahan berjalan laku duduk di kursi yang lain.


"Dia akan datang, ada kerjaan yang belum selesai. Jadi tunggu saja." jawabnya dengan sangat yakin. Matanya melirik ke arah setumpuk kain yang sudah di potong dan hanya tinggal di jahit, bahkan ada juga yang sudah jadi dan menggantung di dinding dengan hanger.


Frans menoleh, 'Apakah itu Arsy yang mengerjakannya? apakah itu artinya dia belajar menjahit sama Budhe Tantri?' batin Frans asal menebak saja.


"Kenapa, sepertinya kamu begitu tidak sabar untuk bertemu dengannya. Ingat Nak, dia adalah istri orang, kamu tidak menyukainya kan?"


"Heh!" Frans langsung tersadar, dia tertegun karena perkataan Budhe Tantri barusan.


Ya! dia memang menyukai Arsy, perempuan yang kini berstatus sebagai seorang istri dari orang lain. Tapi bukan berarti dia ingin memiliki, dia tidak seegois itu.


"Kenapa kamu tak kunjung menikah juga, Apakah kamu mengharapkan Arsy?" Bude Tantri hanya menebak saja, apalagi gelagat Frans yang mengatakan semua hal itu.


"Budhe, saya..."

__ADS_1


"Budhe sudah tau jawabannya. Tapi, Nak. Kamu akan terus sakit hati jika berharap padanya, dia adalah perempuan yang setia juga berprinsip jadi tidak akan mudah baginya pergi dari suaminya meski apapun yang terjadi."


"Budhe sendiri sangat kasihan pada dia sebenarnya, tapi Budhe juga sangat bangga padanya. Adi sangat beruntung memiliki istri seperti dirinya, tapi sayangnya dia tidak menyadari hal itu."


Frans terdiam mendengarkan, sejauh apa Budhe Tantri mengenal Arsy, apakah dia tau bagaimana kehidupan rumah tangganya?


"Tak ada cinta yang tak ingin memiliki, Nak. Meski kamu terus berusaha menyangkalnya, tapi pasti ada setitik harap di dalam hati untuk bisa bersama."


Apa yang Bude Tantri katakan ada benarnya juga, meskipun bibir Frans selalu mengatakan bahwa dia hanya menyukai dan tidak menginginkan memiliki, tapi dalam hati kecilnya selalu saja ada kata 'Seandainya' jika mereka bisa hidup bersama.


Tak mudah menyimpan rasa yang begitu besar namun tidak bisa memiliki apa yang membuat Dia merasakan perasaan itu. Cinta datang pasti bersamaan dengan rasa ingin memiliki. Benar begitu kan?


"Sa_ saya..."


Frans menunduk dengan perkataannya, rasanya sangat tak mampu untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Apakah mungkin dia harus mengurungkan niatnya untuk tidak mengatakan kepada Arsy tentang suaminya, dan membiarkan Arsy tahu sendiri?


"Semoga Allah memberi takdir yang indah untukmu, meskipun tidak bersama dengan Arsy Bude berdoa akan ada perempuan yang baik sama seperti dirinya." Budhe Tantri tersenyum.


Rasanya begitu tenang dan sangat nyaman saat berbicara dengan Bude Tantri hingga membuat Frans merasa betah mendengar semua kata-katanya yang begitu bijak.


Tok tok tok!


"Assalamu'alaikum," sapa Arsy.


Keduanya menoleh bersamaan dan tentunya langsung melihat wajah Arsy yang begitu berbinar, sepertinya dia juga tidak sabar untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Tetapi senyum itu perlahan mulai pudar saat melihat keberadaan Frans di sana.


"Wa'alaikumsalam," jawab Frans dan juga Bude Tantri bersamaan.


'Kok ada Mas Frans?' batin Arsy bingung.


Arsy terus melangkah meski pikirannya begitu kebingungan, ada maksud apa Frans datang ke rumah Budhe Tantri, apakah mereka ada masalah? Atau mungkin dia datang untuk bertemu dengannya, tapi untuk apa?


...◆◇◆◇◆◇◆◇...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2