
◆◇◆◇◆◇◆◇
"Ini makannya hanya sama sayur lagi gitu?" tanya Lusi. Begitu sinis dia mengatakan kepada Arsy yang kini berdiri di sampingnya dan menyiapkan makan malamnya.
Seperti biasa hanya makanan sederhana dan juga sayuran gratis yang dia petik sendiri dari sawah. Namun itu sepertinya tidak mempengaruhi Lusi sama sekali, dia sama sekali tidak menghargai jerit payah menantunya. Setiap hari harus kepanasan di sawah demi bisa mencukupi kebutuhan semua keluarganya.
"Sayur bayam sama sambal pecel gini aja?" Matanya membulat pada Arsy. Jelas sekali bahwa Lusi tidak suka kepada semua yang dilakukan oleh Arsy, dia akan selalu mencari-cari kesalahan dari Arsy supaya bisa merendahkannya.
"Iya, Bu. Maaf, hanya ini yang bisa Arsy masak untuk makan malam." jawab Arsy.
Sebenarnya Arsy juga menginginkan bisa sama seperti yang lainnya, bisa memberikan makanan yang enak dan juga bergizi untuk semua keluarganya, tapi mau bagaimana lagi dia hanya mampu memberi itu saja.
"Hah, hilang sudah selera makan ku." Lusi seketika beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju ruang tengah dan duduk di sana dengan wajah yang kesal.
Tangannya seketika menyambar remote TV dan langsung menyalakannya, melihat siaran TV akan bisa membuat dirinya tenang, siapa tahu rasa laparnya juga akan hilang setelah melihat iklan-iklan makanan yang berterbangan di depan mata.
"Nah, tuh sudah mulai film kesukaan ku." ucapnya. Senyumnya mengembang sangat jelas, matanya sudah langsung fokus pada televisi yang ada di hadapannya. Yang mulai menampilkan apa yang menjadi kesukaannya.
Arsy hanya bisa mengelus dada ketika melihat tabiat ibu mertuanya yang bersikap seperti seorang ratu. Selama ada Arsy di rumah itu dia sama sekali tak mau menggerakkan tubuhnya untuk melakukan apapun pekerjaan rumah, semua sudah dia berikan tanggung jawab itu pada Arsy.
"Arsy, bukannya sebentar lagi panen? Besok kalau panen belilah daging, kasihan ibu kalau hanya makan seperti ini terus." kata Adi.
"Tapi, Mas?" Bagaimana mungkin Arsy akan diam kalau Adi meminta hal seperti itu. Iya kalau panenannya banyak dan juga harganya pas bagus, kalau tidak?
Arsy sudah rencanakan uangnya untuk membayar sekolah Laili, bagaimana dia akan gunakan untuk membeli daging yang menurut dia tak murah. Kalau ayam saja mungkin lebih murah, tapi kalau daging?
Mata Adi langsung melotot tak suka ke arah Arsy, apakah Arsy akan menentang permintaannya?
"I_iya," Langsung Arsy menunduk, takut? Jelas saja Arsy takut akan adzab Tuhan yang begitu pedih jika menentang perintah suami. Tapi bagaimana jika dengan suami yang seperti Adi, yang sama sekali tidak peduli dengan dirinya dan tidak peduli dengan anaknya.
Bukan harta benda, bukan uang sedikit atau banyak, bahkan kasih sayang dan perhatian saja tidak di dapatkan. Lalu, apa yang harus Arsy lakukan?
Sabar?
__ADS_1
Tapi sampai kapan Arsy harus sabar dengan kehidupan yang seperti sekarang ini. Hubungan yang dulu sangat dia mimpikan, tapi sekarang? Setelah hubungan terjalin dan terlihatlah tabiat asli dari Adi dan orang tuanya.
Dengan begitu lahap Adi memakan makanan yang Arsy masak. Tak masalah untuk dirinya, dia akan menerima apapun yang Arsy masak.
Dia memang sadar kalau dia tidak memberi pada Arsy itu sebabnya dia tak banyak komentar. Yang terpenting Arsy bisa bertahan di sana, itulah yang dia inginkan.
Setelah selesai makan Adi langsung pergi begitu saja dari sana. Meninggalkan Arsy dan Laili yang tengah makan dengan begitu acuh. Tak ada sapa, tak ada kata terima kasih, tak ada apapun dan di langsung menuju ke tempat ibunya berada.
"Di, mbok bilang sama istrimu, jangan masa itu-itu saja. Ibu bosan. Lihat aja udah nek apalagi makan? Ibu jadi kayak kambing makan seperti itu terus." ucapnya.
"Adi sudah bilang pada Arsy, Bu. Besok kalau panen tak suruh beli daging. Apa ibu suka?" Adi tersenyum.
"Hem, kamu memang selalu tau ibu." Tentu saja Lusi sangat bahagia.
"Permisi," Keduanya menoleh, ada yang datang dengan buah tangan dan juga senyum bahagia.
"Rani!" Lusi langsung tersenyum, dia beranjak dengan bahagia menyambut wanita yang datang.
Rani, juga bahagia dia langsung berlari dan memeluk Lusi.
"Wah, benar-benar menantu kebanggaan. Ibu lagi ingin makan rendang eh udah beliin. Kamu tuh benar-benar bisa bikin ibu bahagia. Tidak seperti dia tuh."
Dengan begitu sinisnya Lusi menoleh ke arah Arsy yang jelas mendengar semua yang dia katakan kepada Rani kakak iparnya. Rani adalah istri dari kakaknya Adi namun mereka tidak tinggal di daerah situ namun jaraknya juga tidak terlalu jauh.
"Rani, terima kasih ya. Ibu sangat bahagia." Jelas aja Lusi akan sangat bahagia mendapatkan makanan mahal yang diberikan oleh Rani.
Hanya sesekali saja Rani datang dengan membawa makanan-makanan yang enak namun mampu mengalahkan pengorbanan Arsy yang harus menyediakan makanan untuk setiap harinya.
Jika saja Arsy tinggal tidak serumah dengan ibu mertuanya bisa saja dia membawakan makanan yang enak sekali dua kali, dan dia bisa dipuji olehnya. Tapi sayangnya nasibnya tidak sama seperti Rani.
"Rani sangat senang kalau ibu suka." jawabnya.
Kedatangan Rani tentu saja Arsy paham karena dia datang biasanya bukan tanpa maksud tertentu, pastilah ada sesuatu yang dia inginkan pada Ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Bagi Lusi pendidikan adalah segalanya hingga dia tidak melihat semua yang sudah Arsy lakukan karena dia hanya lulusan SD saja, sementara Rani dia lebih dianggap dan selalu mendapat pujian karena dia lulusan SMK dan sekarang bisa masuk pabrik tentu dengan gaji yang tidak sedikit sedikit dan juga pasti di setiap bulannya.
"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Lusi yang sudah kembali duduk.
"Bias, Bu. Selalu sukses."
"Hem, apa kamu benar-benar sudah mau sewa butik untuk usaha sendiri?"
"Itu dia, Bu. Rani masih kurang dananya. Rani masih butuh beberapa bulan lagi untuk mempersiapkan segalanya." ucapnya.
Tebakan Arsy benar kan? Kedatangan Rani bukankah tanpa sebab. Dia akan mengadu supaya bisa mendapatkan bantuan dari ibu mertua untuk keinginannya. Tapi benarkah untuk usaha?
"Jangan khawatir. Kamu bertahan lah sebentar lagi, nanti kalau semua sudah beres dan sudah siap, ibu bantu untuk modal lainnya. Nanti..., oh! Ibu bisa belikan kamu mesinnya."
"Benarkah!" Rani terlihat bahagia.
"Iya!" Lusi begitu yakin.
Begitu sinis Rani melirik pada Arsy, dia sepertinya tak suka dengan keberadaan Arsy di rumah itu. Entah apa yang dua incar sebenarnya.
'Tak akan aku biarkan kamu menguasai semua uang ibu, Arsy. Kamu tuh harus sadar diri, kamu tidak kerja. Aku tidak rela kalau semua uang ibu kamu yang habiskan.' batin Rani.
Arsy tetap diam meski mendapatkan tatapan tak enak dari Rani, dia tak akan menegur dan akan terjadi masalah nantinya.
"Bu, Laili sudah selesai makannya." ucap Laili.
"Alhamdulillah, kalau begitu kita ke dapur yuk, kita cuci tangan." Ajak Arsy.
Laili nurut, dia langsung turun dari kursi dengan tangan kotornya, sementara Arsy berjalan dengan membawa piring kotor.
"Arsy! Ambilkan aku piring bersih juga!" teriak Lusi.
Arsy menoleh sebentar dan mengangguk kecil tanpa menjawab dengan kata-kata.
__ADS_1
◆◇◆◇◆◇◆◇
Bersambung....