Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Bersama Frans


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Terduduk Arsy di ruang tengah, membuka lalu melihat amplop yang tadi Adi berikan padanya. Ternyata benar, surat yang ada di dalamnya adalah Akta perceraian mereka berdua.


Berubahlah status Arsy sekarang, tapi dia tidak bersedih juga tidak bahagia. Entah bagaimana dia bisa mengungkapkan perasaan itu yang ada di dalam hatinya.


"Nduk, apa itu?" tanya Pak Nirwan. Dia melangkah dengan hati- hati menggunakan tongkat yang membantunya berjalan. Tangannya juga tak tinggal diam dan sesekali akan berguna untuk berpegangan.


Arsy menoleh pelan dan Pak Nirwan sudah duduk di dalam satu kursi tepat di depannya.


"Itu apa? kenapa wajahnya terlihat muram begitu?" tanyanya lagi.


"Ini, Pak Dhe. Akta perceraian Arsy dengan Mas Adi."


"Apa kamu sedih karena telah benar-benar berpisah dengan Adi?" tanyanya dan Arsy menggeleng. "Tidak usah kamu sedih hanya karena laki-laki tak bertanggung jawab seperti dirinya. Kamu harus bahagia."


"Jika Allah memberikan mu jodoh lagi pak Dhe hanya bisa berharap itu adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan akan bisa membahagiakanmu dan Laili." ucapnya dengan terlihat begitu tulus.


Arsy tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya tersenyum simpul saja dan juga mengangguk pelan. Arsy belum bisa memikirkan akan hal itu, dia hanya ingin fokus kepada dirinya sendiri juga dengan Laili.


"Oh ya, di mana Budhe mu tadi?" tanya pak Nirwan.


"Budhe ke warung, tadi saya bilang biar saya saja yang pergi tetapi Budhe menolaknya. Katanya dia ingin jalan-jalan sebentar." jawab Arsy.


Pak Nirwan mengangguk, dia juga tersenyum kepada Arsy. Sungguh, kedatangan Arsy dan Laili memberikan kebahagiaan untuk pak Nirwan juga Bu Tantri.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Malam yang begitu dingin, tapi bintang-bintang dan juga bulan begitu cerah memperlihatkan diri di atas sana. Pijarnya dan terangnya terasa menentramkan.


Begitu gugup Arsy sekarang, kedatangan Frans yang begitu tiba-tiba membuat dirinya menjadi kikuk saat berbicara. Bukan hanya Arsy saja yang merasa seperti itu tapi Frans juga sama.


"Aku dengar, sebentar lagi mas Adi akan menikah lagi apakah kamu sudah tau?" tanya Frans Samuel.


"Hem, sudah," jawabnya.


"Lalu, apa yang kamu rasakan, apakah kamu sedih?" tanyanya lagi.


Arsy menggeleng, buat apa sedih karena laki-laki seperti Adi yang tak bertanggung jawab juga tak pernah menghargainya. Tapi Arsy juga tidak bahagia.

__ADS_1


Frans mengangguk.


"Lalu apa rencana mu?" Frans menoleh, bahkan tubuhnya juga ikut menghadap ke arah Arsy.


"Tidak ada." Arsy hanya melirik kecil, dia kembali menggeleng.


Hari dimana Frans pulang, besok hari minggu dan seperti biasa. Dia juga mencari tahu lebih dulu sebelum akhirnya datang ke rumah Pak Nirwan.


Seandainya Arsy pergi dari desa itu mungkin dia akan sangat pusing mencarinya, tapi untungnya Allah masih mempermudah dirinya untuk bertemu dengan Arsy juga Laili.


"Laili sudah tidur?" tanyanya.


"Sudah," kembali Arsy mengangguk.


"Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya, aku merindukannya," terlihat ada semburat kecewa di wajah Frans tapi itu tidak lama karena dia jug sangat bahagia bisa bertemu dengan Arsy.


"Hem, Mas Sam bisa datang lagi besok sebelum berangkat. Laili juga pasti senang." bukan niat untuk terus bertemu dengan Frans, tapi jika Frans memang benar merindukan kenapa tidak?


"Baiklah, besok aku akan datang." jawab Frans, wajahnya begitu berbinar sekarang. Tak harus ada alasan lagi untuk datang besok, dia bisa bertemu dengan Arsy sekaligus dengan Laili.


Teng teng teng!


Terdengar suara mangkuk yang di ketuk beberapa kali, ada berobat yang melintas di jalan depan rumah.


"Tidak usah, Mas. Sa_ saya sudah... kruk!"


Frans tersenyum, mulut mengatakan tidak dan sepertinya Arsy juga akan beralasan bahwa dia sudah makan tapi ternyata? perutnya tidak bisa di bohongi.


"Pak!" panggil Frans. Tangannya melambai dengan dia yang juga beranjak lalu berjalan.


"Mas, tidak usah!" ucap Arsy tapi Frans tetap melangkah mendekati penjual itu yang sudah berhenti.


Arsy terdiam sekarang, Frans tidak akan mendengar apa yang dia katakan. Dia juga tidak akan mengurungkan niatnya meski Arsy bilang tidak.


Sementara Frans dia sudah ada di samping gerobak, dia sudah memesan dua porsi bakso untuk dirinya juga untuk Arsy.


"Dua ya, Pak." ucapnya.


"Siap, Mas." jawab penjual itu girang. Tentu dia sangat senang karena Frans adalah pembeli pertamanya.

__ADS_1


"Komplit, Mas?"


"Iya, Pak. Komplit."


Begitu cekatan penjual itu membuatkan pesanan Frans tak ada perbincangan lagi pidato keduanya.


"Nih, Mas." ucap Penjual, memberikan dua mangkuk tersebut pada Frans setelah jadi. Terlihat begitu nikmat, makanan enak panas yang akan menghangatkan tubuh mereka di tengah-tengah dinginnya malam.


"Terima kasih, Pak." Frans seketika menerima, mulai melangkah kembali ke arah Arsy yang menunggu dengan begitu sungkan.


Tak enak sebenarnya jika harus di makan bersama dengan Frans, seandainya ada yang lihat pasti juga akan terjadi masalah. Arsy sangat khawatir akan kata-kata orang lain yang selalu saja di lebih-lebihkan.


"Ini untuk mu," Frans langsung menyodorkan mangkuk tersebut pada Arsy, tersenyum begitu manis di hadapannya juga terlihat begitu memohon.


"Te_ terima kasih, Mas. Tapi seharusnya tidak usah."


"Tidak apa-apa, mumpung ada saja. Lagian aku juga belum makan."ucap Frans berbohong, padahal sebenarnya dia sudah makan tadi tapi sekarang dia mengatakan belum.


Frans duduk di tempat yang tadi, sejenak melihat Arsy, kembali tersenyum sebelum dia mulai menikmati bakso yang dia beli.


"Ayo di makan," pinta Frans.


"Hem," Arsy mengangguk pelan, membalas senyumnya dengan begitu kecil juga sebentar saja.


Sangat ragi Arsy untuk memulai, saat Frans tak melihatnya baru dia mulai dengan sangat pelan itupun dengan terus menunduk.


Dalam diam Frans menoleh, melihat bagaimana Arsy makan. Begitu pelan, entah malu atau memang cara dia makan seperti itu, tapi Frans suka melihatnya.


'Di mana mata dan hati Mas Adi sampai-sampai dia tak melihat kamu yang begitu cantik dan manis seperti ini. Seandainya dia menyadari, pasti akan menyesal telah menceraikan mu. Ya Allah, jika takdir ku bukan Arsy jodohku, aku meminta Engkau gantikan Arsy yang menjadi takdir untukku.' batin Frans.


"Hem, a_ ada apa?" tanya Arsy.


"Hah! tidak," cepat Frans mengelak setelah tersadar dari lamunannya. Tidak mungkin dia akan mengatakan apa yang dia ingin di dalam hatinya.


Bagi dirinya tak masalah karena apa yang dia pikirkan adalah hal kebaikan, tapi bagi Arsy pasti masih terlalu cepat untuk membicarakan masalah hati. Apalagi Arsy masih dalam masa idah.


"Enak?" ucap Frans mengalihkan.


"I_ iya."

__ADS_1


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Bersambung...


__ADS_2