
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
"Hey, darimana saja kamu. Setiap hari pergi terus dan sore baru pulang! apa tidak ada kerjaan!" seru Lusi dengan amarahnya yang begitu menggebu.
Sudah beberapa hari dia tahan amarahnya, dan sekarang akhirnya meledak begitu saja saat melihat Arsy pas pulang dari rumah Budhe Tantri untuk belajar menjahit.
Matanya kian nyalang dengan penuh penekanan, begitu tajam dan seolah akan mampu untuk menusuk Arsy begitu saja. Tapi tetap saja tidak, itu hanya sebuah perumpamaan ya.
"Darimana sih!?" tanyanya lagi dengan sangat kasar.
"Sa_ saya dari tempat budhe Tantri, Bu." jawab Arsy jujur. Meski dia harus tetap menyembunyikan apa yang sebenarnya dia lakukan di sana.
"Ngapain, ghibah!" semakin nyelekit pertanyaannya.
Dengan begitu menyeramkannya Lusi menghadang Arsy di tengah-tengah pintu dan jelas saja akan membuat Arsy sangat susah untuk masuk, bahkan tidak akan bisa masuk.
"Tidak, Bu. Hanya nemenin budhe Tantri saja beliau lagi kurang enak badan," jawab Arsy dengan jujur lagi.
"Halah, alesan!" kini Lusi berjalan dengan begitu angkuh, masuk ke dalam rumah dengan kedua tangan yang tetap menyilang dada.
"Cepat buatkan saya teh," pintanya.
Lusi duduk di kursi, menunggu Arsy membuatkan apa yang dia minta barusan.
"Ba_ baik, Bu." Arsy harus tetap bersabar, dia harus tetap patuh untuk sekarang. Dia tak akan bisa membuat semua orang rumah marah padanya karena dia tak mau di usir.
Beberapa kali Arsy mencoba membangkang, tapi ancaman pengusiran dia dapatkan dari Lusi bahkan pernah dari Adi juga.
"Sore, Bu!"
Arsy menoleh sebelum dia masuk ke dapur melihat siapa yang datang dan ternyata adalah Rani. Dia lagi dia lagi, nggak ada lelahnya dia terus datang mungkin karena apa yang dia ingin belum dia dapat makanya dia masih terus datang.
"Eh, Rani. Ada apa?" giliran bicara dengan Rani Lusi begitu manis-manis madu, sangat jelas kalau dia sangat pilih kasih.
"Gini, Bu. Saya mau pinjem uang boleh nggak? itu, Rey demam dan harus di bawah ke dokter."
"Rey demam, kok bisa? sejak kapan?" Lusi terlihat begitu syok, dia begitu khawatir dengan cucu laki-lakinya itu.
Kembali Arsy merasa sedih, jika Rey yang sakit Lusi akan sangat khawatir bahkan dia akan dengan ikhlas memberikan uang untuk membawa ke dokter, tapi giliran Laili yang demam, dia hanya meminta Arsy mengompres saja. Bukan hanya dari posisi menantu saja yang di bedakan tapi dari cucu pun juga iya.
__ADS_1
"Baru kemarin, Bu. Tapi Rani sangat khawatir." dengan wajah memelas Rani bicara. Duduk menghadap Lusi dengan wajah yang sok meyakinkan.
Arsy keluar dengan membawa satu gelas saja dan itu langsung dia berikan pada Lusi yang tengah mengambil dompet pada kantongnya.
"Bu, minumnya," ucap Arsy.
"Taruh dulu," jawabnya. Tangannya masih sibuk tentu dengan mata yang tak melihat.
"Semoga Rey cepat sembuh ya, Mbak." ucap Arsy.
"Hem," hanya itu saja yang Rani katakan itupun dengan begitu sinis dan terlihat begitu menyebalkan.
"Nih, kamu cepat bawa Rey ke dokter. Cepat di periksakan sebelum terlambat."
Arsy melihat tangan keduanya yang tengah menyatu dengan menggenggam uang berwarna merah. Entah berapa jumlahnya, tapi sepertinya bukan hanya satu.
"Terima kasih ya, Bu. Kalau begitu saya pulang ya mau berangkat ke dokter nganter Rey dulu." Rani begitu bergegas.
"Iya, cepat sana."
"Napa lihat-lihat, pergi sana," baru saja menoleh Lusi langsung mengusir Arsy yang tengah melihat kepergian Rani. Sungguh mertua yang sangat tidak adil.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
"Mas, tumben baru pulang?" Arsy menatap wajah suaminya yang terlihat begitu sumringah, bibirnya terus mengembangkan senyum namun sama sekali tidak melihat ke arah Arsy.
"Mas," panggil Arsy lagi. Sangat aneh karena kelakuan Adi saat ini.
Bukannya menjawab Adi malah langsung duduk di ranjang, tetap tak melirik sama sekali kearah Arsy yang begitu penasaran.
Bukannya menjawab apa yang menjadi pertanyaan istrinya Adi malah mengambil ponsel, membukanya dan semakin tersenyum.
"Mas, mas chat sama siapa?" tanya Arsy penasaran.
Ingin sekali Arsy tau dengan siapa Adi berkirim pesan tapi baru saja Arsy duduk sudah langsung di bentak.
"Ngapain kamu di sini, pergi sana!" ucapnya kasar. Arsy bahkan sampai terperanjat dan belum jadi duduk.
"Kenapa lihat-lihat!" mata Adi kian besar, membulat lebar dengan semakin tajam kepada Arsy.
__ADS_1
Mendapatkan teguran seperti itu jelas saja Arsy langsung beranjak lagi, Dia mengurungkan niat untuk duduk di sebelah Adi dan ingin tahu pada siapa suaminya itu berkirim pesan. Belum juga Arsy pergi dari sana mata Adi semakin bulat terang menatap Arsy tanpa berkedip.
"Kenapa masih di situ, pergi pergi!" usir Adi.
Adi benar-benar tidak mau melihat Arsy berada di sana. Tentu saja Arsy langsung pergi dari hadapan suaminya. Sebentar Arsy menoleh ke arah Adi sebelum dia benar-benar keluar dan terlihat suaminya itu sudah kembali berwajah sumringah juga tersenyum begitu manis.
'Sebenarnya dengan siapa mas Adi berkirim pesan. Dia tidak selingkuh kan?' batin Arsy.
Wanita mana yang tidak akan berpikiran seperti itu jika tingkah suaminya sangat berbeda dari biasanya. Dia selalu kasar kepada istrinya tetapi hanya sekedar melihat ponsel saja dia sudah langsung tersenyum, bukankah itu sangat aneh.
"Semoga saja kamu tidak mengkhianati pernikahan kita, Mas." gumam Arsy dan kini benar-benar berlalu keluar meninggalkan suaminya yang tengah asyik dengan ponselnya.
Baru saja sampai luar Arsy sudah di kejutkan dengan Laili yang tengah menangis. Sungguh keras hingga membuat Arsy langsung berlari.
"Laili!" teriak Arsy. Langkahnya begitu cepat dan ternyata, matanya langsung terbelalak melihat apa yang terjadi.
"Ibu!" teriak Arsy keras. Menghentikan tangan Lusi yang sudah siap memukul Laili.
Laili terus menangis, begitu berderai air matanya wajahnya sudah menunduk, dia sangat ketakutan. Arsy langsung menarik Laili dari genggaman Lusi dan memeluknya.
"Bu, apa yang ibu lakukan pada Laili?!" tanya Arsy panik. Jelas saja seorang ibu akan panik melihat anaknya yang di perlakukan sedemikian rupa.
"Apa yang aku lakukan! seharusnya kamu tanya apa yang anakmu itu lakukan. Lihat! anakmu mengotori bajuku!" amarah Lusi begitu besar.
"Laili tidak sengaja, Bu." ucap Laili sembari tersedu.
Memang sangat jelas baju Lusi kotor di bagian bawahnya karena terkena apa yang Laili mainkan. Lebih tepatnya sebuah dauh yang di tumbuk dan airnya mengenai baju Lusi.
"Sudah sudah, jangan menangis lagi ya," ucap Arsy menenangkan dengan begitu lembut.
"Dasar ibu dan anak sama saja," Lusi cepat bergegas masuk.
Hanya karena kotor sedikit saja Lusi sampai memukul Laili dengan keras, terlihat lengan Laili yang memerah pasti juga karena di cengkeram begitu kuat. Sungguh kasar Lusi memperlakukan Laili cucunya sendiri.
"Bu, kenapa sih nenek selalu marah-marah sama Laili," ucapnya sendu.
"Maafkan nenek ya, nenek hanya sedang lelah saja kok," jawab Arsy. Tidak mungkin juga dia akan mengatakan kalau Lusi tidak menyukai Laili, pasti Laili akan sangat sedih nantinya.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
__ADS_1
Bersambung...