
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Meski selalu di bikin kecewa namun tidak membuat Arsy menyerah begitu saja dengan kehidupannya. Dia semakin bekerja keras untuk bisa menjadi lebih baik.
Semua dia usahakan supaya dia bisa hidup mandiri kelak dan tidak tergantung pada siapapun, ya! meski sebenarnya sekarang pun juga tidak. Dia tidak pernah tergantung pada siapapun untuk kehidupannya, bahkan suaminya pun juga tidak.
Pagi ke ladang, siang menemani Laili main dan juga belajar sementara sore dia akan ke tempat Budhe Tantri dan seperti itu terus di setiap harinya.
Tidak dia peduli pada omongan mertuanya yang selalu menghina dan merendahkannya. Tak peduli dengan sikap Adi yang makin ke sini makin mejadi, Arsy tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya akan peduli dengan masa depannya juga Laili.
Dia bertahan karena Laili, dan jika suatu saat dia harus pergi maka itu juga demi Laili, tak ada yang lain.
Begitu serius dirinya belajar di tempat Budhe Tantri, hingga semakin lama dia semakin menguasai semuanya. Dulu awalnya ingin membuka usaha warung kecil-kecilan di depan rumah, tapi sepertinya tidak untuk sekarang. Dia akan membuka rumah jahit.
"Aku yakin sebentar lagi kamu sudah bisa buka rumah jahit, Nak." ucapan Budhe Tantri membuat Arsy terdiam sembari menoleh kearahnya.
"Kenapa, apa kamu belum percaya kalau kamu sudah bisa?" tanya Budhe Tantri lagi karena Arsy masih diam.
Seketika Arsy menggeleng. Membuka rumah jahit tentu saja harus ada modalnya kan? dan dia juga harus membeli beberapa perlengkapan lagi, seperti mesin obras juga yang lainnya. Lalu?
"Bukan seperti itu, Budhe. Tapi Arsy masih bingung karena tidak punya peralatan yang lainnya, terus Arsy juga bingung mau buka di mana." jawabnya.
Budhe Tantri mengangguk membenarkan.
"Iya juga sih. Begini saja, ini mesin-mesin yang ada di sini bisa kamu pakai dulu. Budhe kan sudah tidak membutuhkan jadi kamu bawa saja dan jika kamu cocok besok-besok kamu bisa membelinya." sarannya.
Arsy tertegun. Haruskah dia bahagia atau bersedih haru?
Budhe Tantri sudah sangat baik padanya. Dia sudah bersedia mengajarkan ilmunya untuk Arsy lalu sekarang dia meminta Arsy untuk memakai semuanya? Arsy takut kalau sampai ada orang yang mengatakan kalau Arsy hanya ingin memanfaatkan orang tua itu saja.
"Terima kasih, Budhe. Tapi... "
__ADS_1
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Dan juga jangan pernah mendengarkan kata orang lain yang mungkin suatu saat nanti akan mengungkit masalah ini."
Semakin merasa berhutang budi Arsy pada Budhe Tantri. Dia memang tidak takut kalau akan ada anak-anaknya yang mempermasalahkannya, karena Budhe Tantri memang tidak mempunyai anak, dan suaminya pun juga sudah tua sama seperti dirinya bahkan juga sudah sakit-sakitan.
Arsy kembali diam, dia masih terus berpikir apa yang harus dia lakukan. Ini memang peluang, tapi semua juga harus di persiapkan dengan matang.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Terduduk Arsy di dalam kamar, membuka dompetnya dan menghitung uang yang dia miliki. Dia butuh modal jika mau membuka rumah jahit. Meski semua sudah budhe Tantri berikan tapi dia masih membutuhkan yang lain lagi.
"Ini masih sangat kurang. Aku tidak mungkin bisa buka rumah jahit hanya dengan uang lima ratus ribu ini. Dapat apa dengan ini? semua perlengkapan yang lainnya pasti sangat mahal, mana mesin juga butuh di servis lagi." Gumamnya.
Arsy begitu bingung, dari mana dia akan mendapatkan uang untuk modal. Dia tidak bisa meminta pada suaminya apalagi pinjam dengan mertuanya? tidak akan dapat.
"Hem, aku tunggu panen cabe dulu deh. Siapa tau nanti panennya banyak dan bisa buat modal." ucapnya lagi.
Wajahnya terlihat sumringah juga senyum yang kian lebar. Cabe yang dia tanam sebentar lagi akan memerah, jelas saja tidak akan butuh waktu lama.
Kembali Arsy mengantongi uangnya dan menyimpan lagi di lemari. Dia kembali tersenyum di saat menutup lemari lagi.
"Hem, lebih baik aku bicara sama Budhe Tantri untuk memasang plakatnya lagi di rumahnya, nanti kalau ada orang yang jahit biar aku bisa kerjakan dan sekalian di ajarin oleh budhe Tantri. Tak apa-apa nanti hasilnya di bagi dua." Gumamnya.
Sepertinya itu adalah rencana yang sangat baik untuk sekarang. Dia bisa menjahit di rumah budhe Tantri dan juga sekalian bisa berbagi hasil dengannya, jadi bisa membantu keuangannya juga.
Setelah mantap Arsy keluar, dan di sana sudah ada seluruh anggota keluarga yang duduk santai sambil nonton televisi.
Bruk!
Baru saja ingin duduk Lusi memberikan koran dengan melemparkan di hadapan Arsy, jelas saja membuatnya sangat terkejut.
"Tuh, di situ banyak lowongan pekerjaan. Kamu bisa mencari pekerjaan di situ, ya meski hanya jadi pembantu atau buruh cuci." ucap Lusi begitu sinis.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Tapi saya tidak tertarik untuk bekerja." jawabnya berani.
"Tidak tertarik untuk bekerja! memangnya kamu hanya akan jadi pengangguran seperti ini selamanya!? kamu nggak malu pada para tetangga yang terus menggunjing mu karena hanya terus nganggur di rumah saja!"
Terlihat Lusi sangat marah karena Arsy tidak mau bekerja. Wajahnya bahkan sudah terlihat merah.
"Sudah lah, Bu. Tidak usah buang-buang tenaga menasehati orang yang pemalas seperti dirinya. Itu hanya akan membuat ibu jadi pusing sendiri nanti." ucap Adi.
Bukannya membela istri tapi Adi malah semakin membuat dirinya kian terhina di mata keluarganya. Aneh, Adi yang membawanya ke sana, menjadikan istri yang seharusnya dia lindungi dan dia dukung, tapi kenyataannya?
"Mas benar, tidak usah menasehati orang pemalas sepertiku. Tapi akan saya buktikan, kalau orang yang pemalas ini akan bisa sukses di masa mendatang."
Arsy langsung beranjak, dia pergi dari hadapan semua orang yang tak pernah menganggapnya. Buat apa ada di sekitar mereka jika ujung-ujungnya hanya mendapat penghinaan.
"Sukses? sukses yang seperti apa! sukses jadi pengangguran!" teriak Lusi.
Arsy tak lagi menjawab, dia diam dan tetap pergi keluar ruangan itu dan menghampiri Laili yang masih ada di luar bersama teman-temannya.
"Laili, sudah malam, sudah ya mainnya." panggil Arsy dengan sangat lembut.
"Teman-teman, Laili udah ya mainnya, besok sambung lagi." pamit Arsy.
Semua teman-temannya mengangguk sebagai jawaban mereka juga langsung berhamburan pulang untuk menyudahi permainan mereka semuanya.
Arsy masuk dan tetap tak menoleh pada semua orang, dia tetap acuh karena semua orang juga seperti itu, bahkan tatapan mereka terlihat sinis padanya.
"Mimpi saja sana!" seru Lusi ketika Arsy hendak membuka pintu kamar.
Arsy tetap diam, dia masuk begitu saja tanpa mempedulikan lagi.
"Akan aku buktikan, bahwa aku akan sukses dan kalian tidak bisa menertawakan ku lagi yang hanya lulusan SD." Gumamnya.
__ADS_1
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
^^^Bersambung... ^^^