
◆◇◆◇◆◇◆◇
Setelah mendengar bahwa Laili berada di rumah sakit, Bu Tantri juga Pak Nirwan langsung bergegas untuk menjenguknya. Melihat bagaimana keadaannya, apakah sudah membaik atau belum.
Keduanya tentu saja sangat khawatir dengan Laili. Gadis kecil yang sudah selesai cucu untuk mereka berdua, jika ada apapun yang terjadi pastilah mereka akan sangat sedih dan khawatir.
Dengan mengendarai angkutan umum akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit, berjalan dengan bergandengan tangan seperti ketika masih muda. Masih terlihat jelas kemesraan mereka meski usia tak lagi muda.
Hal yang membuat para pasangan ini pada orang-orang tua yang seperti mereka, sudah tau tapi mampu menjaga cinta mereka. Apalagi Arsy, dia selalu menatap penuh kagum kehangatan keduanya saat berada di rumah.
"Assalamu'alaikum," sapa Pak Nirwan. Perlahan dia masuk setelah Bu Tantri membuka pintu ruangan Laili berada.
"Wa'alaikumsalam," Arsy yang tengah menyuapi Laili seketika menoleh, dan bersambung dengan tersenyum melihat keduanya yang datang.
"Wa'alaikumsalam, Nek, Kek," jawab Laili. Mulutnya masih penuh dengan bubur yang di siapkan dari rumah sakit.
Keduanya terus berjalan, menghampiri hingga akhirnya berhenti di sebelah kasur Laili juga sebelah Arsy. Arsy langsung meraih tangan keduanya bergantian.
"Bagaimana keadaan Laili sekarang, dia sudah membaik kan?" tanya Bu Tantri.
"Alhamdulillah, Budhe. Laili sudah mulai membaik. Maaf ya, membuat Budhe dan Pak Dhe jadi khawatir." jawab Arsy.
"Nggak," jawab Pak Nirwan.
"Laili, masih sakit?" tanya Pak Nirwan begitu lembut. Tangannya terangkat dan mengelus kepala bocah kecil itu juga menyelipkan rambut Laili pada daun telinga.
"Nggak sakit lagi kok, Kek. Hanya masih pusing sedikit." jawabnya dengan begitu polosnya.
"Alhamdulillah, sekarang makan yang banyak supaya cepat sembuh dan cepat pulang. Kalau sudah pulang nanti kakek ajak pergi ke___, ke pasar! Kita beli ayam goreng kremes." ucap Pak Nirwan.
"Benarkah!" Laili begitu antusias menjawab.
Tak muluk-muluk untuk membuat Laili bahagia, hanya sepotong ayam goreng saja dia sudah begitu bahagia. Tak perlu barang-barang atau makanan mahal. Tapi sayangnya hal itu jarang sekali dia dapatkan.
"He'em, kakek sudah ada uang sekarang besok kita pergi ke pasar ya. Atau, kalau pas pulang kita mampir di pasar sebentar."
"Hem__," Laili diam berpikir, matanya melihat ke atas sebagai bentuk dia yang tengah berpikir keras.
Arsy dan Bu Tantri tersenyum melihat begitu menggemaskannya Laili saat ini. Arsy menoleh, Bu Tantri menyentuh pundaknya. Keduanya sama-sama tersenyum bahagia melihat Laili yang bahagia dan melupakan rasa sakit juga rasa bosannya.
"Kita mampir saja, Kek. Semoga saja belum habis ya," jawab Laili memberikan keputusan.
"Baiklah, makanya Laili makan yang banyak biar bisa cepat pulang."
Laili mengangguk, dia langsung semangat untuk makan. Meski rasanya buburnya terasa hambar tapi terlihat nikmat ketika berhasil masuk pada mulut Laili. Dia begitu lahab dan membuat semuanya senang.
__ADS_1
◆◇◆◇◆◇◆◇
Setelah pengusiran oleh Arsy di rumah sakit kemarin Adi menjadi pendiam di rumah, dia sering melamun saat duduk sendiri. Apakah mungkin dia sadar sekarang?
"Mas, ada apa?" Siska datang. Langsung dia duduk di sebelahnya.
Siska jelas merasa sangat heran pada perubahan Adi. Kemarin-kemarin dia tidak seperti ini, tapi sekarang? Dia bahkan jarang bicara dengannya.
"Nggak ada apa-apa, mungkin hanya karena lelah saja," jawab Adi, dia tersenyum manis saat bicara pasa Siska.
"Oh, kirain ada apa. Mas, bagi uang dong. Make-up Siska habis." ucap Siska. Wajahnya di buat sok imut di hadapan Adi.
"Besok ya, Mas belum gajian, dan sekarang tidak pegang uang." jawab Adi.
"Kok besok sih, Mas. Kan Siska mintanya sekarang!" Siska terlihat begitu kesal. Tak biasa apa yang dia ingin tidak di beri dan biasanya langsung ada saat itu juga, tapi Adi! Kenapa harus pakai besok?
"Tapi aku nggak ada uang, Siska. Adanya besok." ucapan Adi mulai dengan nada yang berbeda, sudah mulai kian meninggi dari sebelumnya.
Mata Siska yang kian melotot. Dia sangat ingin tapi tidak di berikan.
"Aku ini istri kamu loh, Mas. Wajib kamu nafkahi, wajib kamu penuni semua kebutuhannya. Jangan hanya di jadikan teman tidur saja, enak di kamu tidak di aku dong!" seru Siska mulai terpancing amarahnya.
"Istri baru beberapa hati saja sudah banyak nuntut kamu ya, lihat tuh Arsy! Selama jadi istriku dia tidak pernah menuntut!" Adi langsung beranjak.
Amarah Siska kian mencak-mencak karena Adi membandingkan dirinya dengan Arsy. Perempuan mana yang akan mau di bandingkan seperti itu?
Hatinya begitu panas akan amarah, matanya merah dan membulat begitu jelas. Bahkan Siska juga sudah berdiri menghadap Adi, berdiri tegak seolah menantangnya.
"Siska!" teriak Adi tak terima.
"Apa! Kamu tidak terima kalau aku mengatakan mantan istrimu itu bodoh! Jangan-jangan kamu masih cinta sama dia, Mas? Kamu menyesal telah menceraikannya, iya!"
"Argh! Bukan urusan mu!" teriak Adi. Seketika tubuhnya memutar, dia melangkahkan kaki dengan cepat untuk keluar dari rumahnya. Hatinya sungguh kesal dengan Siska.
"Mas! Aku belum selesai bicara, Mas!" Teriak Siska memanggil, tapi Adi tak lagi mau dengar dan malah pergi mengendarai motornya.
"Pasti mau menemui perempuan bodoh itu," semakin memerah mata Siska, seketika dia berlari masuk kamar, mengambil tas nya dan bergegas untuk mengejar Adi dengan mobilnya.
******
Dengan terus menggerutu Adi terus menjalankan motornya. Membelah jalanan dengan amarah yang sama sekali belum reda.
Pikirannya terus membandingkan Arsy dan juga Siska, Arsy tidak pernah meminta dengan ngeyel seperti Siska, juga tidak pernah meminta untuk membeli make-up, tapi Siska?
Tak sadar ternyata motor berjalan menuju arah rumah sakit. Ado menghentikannya setelah melihat rumah sakit tempat Laili di rawat.
__ADS_1
"Apakah dia sudah pulang?" gumamnya. Matanya terus fokus pada bangunan bercat putih dan abu-abu itu.
"Aku akan melihatnya," Kembali Adi menjalankan motornya. Tak mengingat bagaimana Arsy kemarin mengusirnya dari sana dan sekarang bertekat lagi untuk datang. Entah benar-benar akan datang di hadapan Arsy atau hanya melihat saja dari jauh?
Dengan langkah pasti Adi masuk ke rumah sakit, bergegas ke ruangan Laili berada. Berharap Laili belum pulang jadi dia bisa bertemu, setidaknya sekedar melihat meski dari jauh.
Dan benar saja ternyata Laili belum pulang dia masih berada di ruangan yang kemarin dia datang. Terdengar begitu ramai keadaan di dalam, mereka bercanda bahkan tertawa bersama ketika mendengar celotehan dari Laili.
Tertegun Adi melihat tawa Laili juga Arsy dari luar, ternyata dia tak berani masuk dan menemui mereka. Ada ketakutan saja kalau sampai Arsy kembali mengusirnya.
Mulai terasa ada yang hilang dari bagian tubuhnya, ada sebuah perasaan menyesal yang datang setelah melihat kebahagiaan mereka berdua yang sedang bercanda dengan pak Nirwan juga Bu Tantri.
Mereka yang hanya orang luar saja begitu peduli, lalu dirinya?
"Aku harus menemui mereka, entah di terima atau tidak aku harus tetap masuk." ucapnya yakin.
Kakinya mulai melangkah, tapi baru saja dua langkah lengannya di tarik seseorang. Jelas Adi langsung menoleh.
"Siska?!" pekik Adi tertahan. Darimana Siska tau kalau doa datang ke sana?
"Ya, kenapa? Mas mau menemui mereka? Mas mau mengatakan kalau mas menyesal dan akan meminta untuk mereka kembali? Tidak mas! Siska tidak akan biarkan itu terjadi."
Siska begitu menegaskan, tangannya juga memegangi erat lengan Adi. Tak akan dia biarkan Adi pergi untuk menemui mereka.
"Lepas, Siska. Aku mau masuk."
"Tidak, aku tidak mau mas menemui mereka. Kita pulang sekarang, pulang!" Kata Siska membulat tajam pada Adi dengan tangan yang juga langsung bergerak menarik untuk keluar.
"Kita pulang, Mas. Jangan pernah datangi mereka lagi, toh mereka tidak butuh mas lagi kan? Mereka sudah bahagia kan?" ucap Siska sembari terus berjalan.
Begitu di atur hidup Adi oleh Siska, dan kenapa juga Adi hanya menurut saja sepet itu.
Sementara di dalam ruangan Laili langsung menghentikan tawa, dia melihat ada sekelebat Ayahnya namun hanya sebentar saja.
"Sayang ada apa?" tanya Arsy penasaran, dia juga ikut melihat ke arah yang sama dengan Laili, begitu juga dengan pak Nirwan dan bu Tantri.
"Tadi Laili seperti lihat ayah, tapi kok sekarang tidak ada ya, apa Laili salah lihat?" ucap Laili.
Arsy tertegun sejenak, beralih melihat ke arah Laili melihat, tak ada siapapun di sana.
"Tidak ada, Sayang. Mungkin Laili hanya salah lihat." Arsy tersenyum.
'Apakah Laili merindukan Mas Adi?' batin Arsy. Kembali hatinya sakit setiap mengingat laki-laki tak bertanggung jawab itu.
◆◇◆◇◆◇◆◇
__ADS_1
Bersambung...