
Author
Hari baru kembali tiba, arra sudah bangun terlebih dahulu meninggalkan jimin yang masih bergelut dengan selimutnya.
Dengan sigap satu persatu pekerjaan setiap pagi ia lakoni sampai beres tinggal menyiapkan sarapan berupa susu, teh, juga roti tawar beserta isiannya selai ataupun telur, tak lupa ia juga menyiapkan bekal untuk suaminya walau bagaimana pun sebagai seorang istri dirinya tidak bisa melalaikan kewajibannya.
"Kau sudah bangun" ucap arra saat mendapati jimin dengan rambut yang kusut menuruni anak tangga.
Jimin tak membalas..terbukti karna kejadian semalan yang menguras emosinya.
"Lebih baik kau sarapan dulu, aku akan menyiapkan pakaian mu" ucap arra menuntun jimin menuju meja makan.
Awalnya ragu memegang tangannya, karna memang kenyataannya arra tidak pernah melakukannya dengan sengaja.
Tiba di meja makan arra menyiapkan piring untuk jimin mengoles roti tawar dengan selai coklat, ataupun meletakan roti tawar dengan telur mata sapi di atasnya, juga setelah itu menuangkan air susu yang masih hangat kedalam gelas dan diberikan untuk jimin.
Jimin sendiri dari tadi tidak bergeming, menuruti yang arra ucap, mulutnya pun tak bisa berkata untuk menolak karna perutnya tidak munafik seperti orang diluaran sana.
Arra pergi meninggalkan jimin sendiri di ruang makan, untuk menuju kamar sperti yang ia bilang hendak menyiapkan pakaian kantor jimin.
Mulai dari celana hitam panjang , kemeja biru, juga jas ia letakan dia tas kasur yang sebelumnya ia rapihkan sembelum mengambil barang barang itu..tak lupa arra mengelap sepatu pantofel milik jimin sampai mengkilap.
Selesai semuanya arra pergi untuk mandi..karna hari ini ia akan berkunjung ke rumah mertuanya memberikan kabar duka yang ia hadapi.
Tak butuh waktu lama arra untuk mandi , dengan handuk yang membelit tubuhnya ia keluar dari kamar mandi di kamarnya dan mendapati jimin yang berdiri menatapnya..
Arra tidak mempedulikan tatapan yang di berikan jimin..dengan merundukan kepala ia berjalan menuju lemari mengambil beberapa baju untuk ia kenakan pergi ke rumah mertuannya.
"Jika kau merasa risih ...Aku akan memakainya di kamar lain.." ucap arra meninggalkan jimin di ruangan
Jimin seketika kembali dari pikiran kosongnya..entah kenapa sejak tadi pagi ia merasa ragu dengan dirinya dan itu entah karna apa ??
Jimin melangkahkan kakinya untuk pergi mandi ke kamar mandi ,, keran shower ia nyalakan satu persatu pakaian ia tanggalkan pada gantungan baju
Lalu ia merendam dengan suasana hati bersalah yang tak tau sebabnya.
__ADS_1
L
I
M
A
B
E
L
A
S menit jimin selesai ia meninggalkan kamar mandi dan berjalan menatap pakaian yang disiapkan sang istri, tanpa ia sadar jimin tersenyum menatap kemeja dengan warna kesukaannya.
"Pintar juga kau memilih pakaian" gumam jimin
"Jangan mudah luluh dengan nya jimin"
Sekejap jimin menjauhkan pikirannya ,dan langsung membuka lemari mencari kemeja yang ia akan pakai, rupanya devil mampu mempengaruhi jimin dan mengalahkan peri kebaikan di telinganya.
Saat sudah memakai semuanya, getaran handphone yang berada di meja rias milik arra mengalihkan pandangannya,
Ya itu handphone arra , ia belum kembali dari kamar yang lain
Dengan beberapa langkah jimin menghampiri handphone itu, terlihat panggilan masuk mengihiasi layar hadphone itu.
Tertera nama "석진오빠" pemanggil nya.
"Seokjin oppa" lirih jimin membaca nama panggilan itu, awalnya ia hendak mengangkatnya namun..
Seketika pandangannya tertuju pada pintu menampakan arra dengan penampilan yang rapih melangkahkan kakinya kearah meja rias dimana posisi jimin berada,
__ADS_1
"Ouh...rupanya kau kenal dengan jin hyung?" ucap jimin yang memang faktanya ia sudah mengetahui tentang hyungnya dengan istrinya
"Ya.bukan urusan mu,," ucap arra mengambil ponsel melihat notif pangilan tak terjawab
"Lagi pula aku dengannya tidak memiliki hubungan apapun" lanjut arra
" oh yah ...kau pikir aku percaya" ucap jimin mencekal lengan arra yang hendak pergi dari hadapannya
"Apa pedulimu huh?" __ arra yang kini berani menetang ucapan jimin
"Tapi jika aku memiliki hubungan denganya kenapa? Lagi pun Aku tidak keberatan jika kau mau menikah lagi dengan wanita jal--- "
Pllaaaaaaakkkkk...
Suara tamparan menggema di kamar itu,
"Jangan katakan dia jalang..seharusnya kau yang di sebut jalang bukan ??" ucap jimin
Dengan merintih kesakitan merasakan panasnya kulit yang berbenturan sambil memegang pipi, arra tersenyum sinis
"Apa hak mu melarang ku?" tanya arra menatap tajam
Jimin ingin mengatakan kalau "aku suami mu" tapi rasanya tidak mungkin mengingat rasa gengsi yang besar,untuk itu jimin memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari arra
"Sekali lagi kau panggil seulgi jalang...lihat keluargamu nanti kalau saja sahamnya berkurang, dan jika kau bermacam maacam dengan ku lihat akibatnya nanti" ancam jimin
"Jadi ku harap turuti apa yang kukatakan..diam dan jalani hidup atas apa yang ku mau" lanjut jimin dengan senyum mematikannya
Arra diam..tak mampu untuk berkata apapun jika soal keluarganya sudah di sangkut pautkan..ia memilih mengalah menerima perlakuan kasar sang suami,
Arra memutuskan untuk pergi sesuai apa yang ia rencanakan tadi pagi, dengan langkah gontai ia mengambil tas selempangnya dan pergi meninggalkan jimin
"Hye..mau kemana kau jalang..apa kau akan menemui oppa mu " teriak jimin namun tak di hiraukan arra.
like, vote and coment readrs
__ADS_1
hay..readers..aku mau bikin ff lagi tapi takut gx ada yng baca..gimana?