Me And IDOL_Perjodohan_ (Parkjimin)

Me And IDOL_Perjodohan_ (Parkjimin)
54.Remedy


__ADS_3

Dua bulan berlalu, semenjak kepergian sang appa  dari keluarga park pemilik perusahaan elektronik park hoesa, jimin berusaha tegar demi sang ibu yang sudah keluar dari rumah sakit satu bulan lalu yg tak ingin menambah bebannya, yang sama juga merasa kehilangan sampai sampai mogok makan selama satu minggu, walau dirinya dan harinya juga merasaa sepi tanpa peringatan dari sang ayah,


Seulgi, kini kandungan nya pun mulai membesar sudah tiga bulan dua minggu tepatnya, semakin sensitif dan semakin banyak maunya , yang sering orang  sebut suka ngidam yang berbau hal hal aneh.


Arra , kini lebih sibuk mengurus sang ipar yang tengah bersekolah, usia enam belas tahun sudah dikantongi sang adik, namun keperluannya belum bisa diatur sendiri, juga arra lebih memperhatikan mertuanya yang kini hanya bisa duduk dikursi roda karna remuknya tulang kaki dua bulan yang lalu. Tapi walaupun begitu arra tetap mengurusi jimin untuk keperluan seharinya mulai memasak,mencuci ,mensetrika ia lakukan karna kebetulan jimin menitah ibunya tinggal bersamanya.


Dan satu bulan yang lalu orang tua arra datang kemari memberikan ucapan bela sungkawa , dan sekalian menengok keadaan anaknya dengan kata "miris" yang di keluar dari bibir sang eomma, "seprti tak ada lelaki lain saja di seoul ini sampai anaknya sendiri mau di madu".


Kemudian semunggi setelahnya polisi yang menyelidiki kasus kecelakaan, mengatakan bahwa " kecelakaan itu terjadi real karna rem yang blong sebab tidak di servis, tidak ada sangkut pautnya dengan tangan tangan jahat, juga karna tidak ada bukti untuk itu"


Jimin sempat tak percaya dengan ucapan polisi itu karna hampir setiap bulannya mobil dirinya juga appanya slalu di servis untuk menganti hal hal yang sudah tidak layak pakai..namun pada akhirnya jimin menerimanya, berfikir positif bahwa ia telah mengalami musibah.


Sekarang arra tengah menyiapkan sarapan untuk semuanya dengan memasak Kalguksu satu jam yang lalu, dan kini telah menghidangkannya pada mangkuk berukuran sedang untuk dinikmati semuanya.


Jimin menjadi orang pertama yang menghapiri meja makan,


Melihat arra dengan telaten menyiapkan hidangan di depannya


"Ayoo dimakan, aku akan memanggil jihyun, dan membawa eomma kemari" ucap arra setelah menyiapkan empat mangkuk sedang berisikan Kalguksu


Jimin mengangguk , lalu arra pun meninggalkan jimin.


yang pertama ia tuju adalah kamar jihyun yang berada di depan ruang keluarga.


"Jihyun...apa kau sudah siap untuk kesekolah.?" tanya arra mengetuk pintu


"Nee..noona aku akan keluar sebentar lagi" teriak jihyun dari luar


"Ouh...cepatlah..nanti makanan mu dingin"


"Nee..noona..sebentar lagi aku keluar" teriak jihyun lagi


"Baiklah..ku harap kau cepat karna hyung mu sudah menunggu di meja makan" ucap arra dan mendapat timpalan dari jihyun yang berkata "iya"


Langkah selanjutnya arra menuju kamar eomma yang beberapa waktu lalu ia masuki guna mengurusinya untuk mandi, mungkin sekarang ia sedang terbaring di tempat tidurnya sambil menatap TV.


Dua menit dari kamar Jihyun arra sudah tiba di kamar sang mertua , lalu membukanya, benar apa yang ia katakan tadi jika sekarang eomma nya tengah menonton Tv,


"Eomma...ayo kita sarapan" ucap arra membuat pandangan eomma park teralihkan dari benda datar itu


"Eoh..arra,, " pekiknya


"Nee..ayo kita sarapan dulu setelah itu lanjut menonton TVnya, eomma kan harus meminum obat setelahnya" ucap arra


"Harus sampai kapan aku meminum obat, karna sampai saat ini tubuhku masih lemas" protesnya


"Eomma...kau tak boleh berkata seperti, banyak orang yang kehilangan nyawanya karna kecelakaan, setidaknya eomma di beri keselamatan oleh tuhan" ucap arra menghampirinya


"Aku tau..tapi jika tanpa suamiku apa gunanya aku disini"


"Eomma....kau masih punya dua orang putra dan dua orang menantu yang menyangimu dan berharap pada mu agar kau sembuh.. Soal tadi jangan katakan lagi" pinta arra


"Ya sudah ...eomma harus sembuh  untuk itu eomma harus makan, jimin sudah menunggu di sana" bujuk arra


Eomma park mengangguk , lalu membangunkan badannya untuk duduk diatas ranjang...arra dengan sigap mengambil kursi roda nya, lalu mengangkatnya untuk beralih duduk pada kursi roda .


Beberapa menit arra dan eomma sampai di ruang makan di dapati jimin dan jihyun yang masih berkutik dengan kedua tangan memegang alat makan


"Dimana seulgi?" tanya eomma


"Ah.. Dia belum bangun dari tidurnya" ucap jimin karna memang semalam jimin kedapatan giliran untuk tidur dengan seulgi selama empat hari dalam seminggu sisanya dengan arra.


"Aish.....jam segini belum bangun, istri macam apa dia itu" ucap eomma park , karna muak setiap harinya seulgi seperti itu


"Eomma..sebaiknya eomma sarapan,,sayang nanti sup nya dingin" ucap arra mengalihkan pembicaraan karna arra lihat jimin menampilkan wajah malu karna tingkah seulgi


🐍🐍🐍🐍


Sarapan sudah selesai lima belas menit yang lalu, jimin dan jihyun pun sudah berlalu pergi keluar untuk aktivitasnya,


Sedangkan sampai saat ini arra tak kunjung melihat seulgi yang turun dari kamarnya.

__ADS_1


Selepas membereskan dan mencuci piring , arra terlebih dahulu mengantar eommanya untuk kembali kekamar seperti yang tadi lalu ia janjikan.


"Eomma...dimana obatnya?" tanya arra saat sudah tiba dikamar milik eommanya


"Bukannya diatas nakas huh?" tanya eomma


"Tidak ada,.." timpal arra karna sudah kali ia melihat nakas itu yang kosong dengan obat yang biasa ia simpan disana.


"Tidak mungkin kalau habis karna kemarin masih tersisa banyak, jika pun begitu pasti ada bekasnya," ucap arra.. Karna arra tidak membuangnya,


"Ah...itu..obatnya" ucap eomma parka menunjuk pada bawah kaki arra yang berpijak sebelahan dengan nakas


"Eoh...ini rupannya, " ucap arra


"Sudah berapa ratus butir obat yang aku telan selama dua bulan ini" tanya eomma park yang kesal


"Seharusnya aku sudah sembuh dari rasa lemas dan pusingku, tapi ini" lanjutnya


"Eomma..semuanya butuh proses,,apa salahnya harus rela untuk sembuh" tanya arra balik


Sang eomma diam, rasanya tak mungkin ia membantah ucapan sang menantu karna tau bagaimana letihnya mengurus dirinya , yang belum lagi mengurus jihyun dan jimin juga tampat  ini.,


Kadang eomma park merasa geram pada seulgi yang tak pernah memegang satu pun pekerjaan rumah, dan hanya menitah arra sebagai alatnya, sudah berapa kali ia memarahinya, dan berkata pada jimin namun ia membelannya dengan alasan tengah " hamil"


"Eomma..bukannya obat ini baru kemarin membelinya kenapa warna sudah pucat?" tanya arra menatap butiran obat yang berada dalam botol mini itu


Eomma park ,tersadar


" entalah..eomma tak tau menau tentang obat, melihatnya saja membebani pikiranku" ucapnya


"Eomma...tidak boleh begitu, setidaknya demi  jihyun yang membutuhkan kasih sayang eomma harus sembuh"


"Ayo...sekarang eomma minum obatnya," ucap arra memberikan dua pil berwarna merah dengan segelas air putih


Setelah eomma park meneguk habis air nya , arra pun membantu eomma untuk beralih pada ranjangnya


"Sekarang eomma istirahat aku akan menemui seulgi " ucap arra


"Jika kau lelah sebaiknya hentikan pekerjaan mu, kau butuh istirahat"


"Ne..gwaenchanhaeo..aku pergi dulu eomma jika butuh sesuatu panggil aku"


"Nee."


Kini arra melangkah kan kakinya berjalan menaiki anak tangga, untuk menuju kamar seulgi,


"Ku harap kau memasok obatnya"


"Nee...kalau begitu aku akan  tutup sambungannya , sampai jumpa"


Arra menajamkan pendengarannya, tak sengaja mendengar pembicaraan seulgi yang entah dengan siapa yang membicarkan masalah obat.


Belum sempat mengetuk pintu arra sudah terkejut duluan karna mendapati seulgi yang keluar dari kamarnya


"Ah...kau sejak kapan kau disini?" tanya seulgi yang sama terkejutnya


"Aku...baru saja tiba,"


"Ada perlu apa kau kemari huh?" tanya seulgi menghela nafas


"Kenapa kau tidak ikut sarapan, bayimu butuh asupan" ucap arra


"Aku tau, kau lihat sendiri bukan aku sekarang keluar untuk makan" ucap seulgi ketus


"Ouh...baik lah..., tapi---" potong arra merasa gugup


"Tapi apa?" tanya seulgi


"Kau tadi berbicara dengan siapa?" tanya arra terus terang


"Apa kau mendengarnya ?" ucap seulgi panik

__ADS_1


"Tidak banyak aku hanya mendengar kau mengatakan obat" ucap arra menatap mimik wajah seulgi


Lagi lagi seulgi menghela nafas lalu ber "oh" ria membalas arra


"Eoh ada apa dengan mu?" tanya arra penasaran


"Tidak...kau mendengar kata obat, kau tau  bulan kehamilan ku saat ini membuatku lelah, dan aku butuh obat berupa vitamin dan aku sedang memesannya" jelas seulgi


Arra merasa aneh, saat seulgi menjelaskannya, padahal arra tidak menanyakannya.


"Baiklah...kau pergi makan sanah, jika perlu hangatkan saja, aku akan membersihkan kamarku" ucap arra


"Nee."


____***___***


Malam tiba.


Arra kini sedang duduk di taman belakang rumahnya..hari ini begitu cerah sampai langit pun menyajikan ribuan bintang dengan bulan yang menyinari


Arra menatapnya, sungguh rasanya tenang melihat ini semua


Terlintas pikirannya pada jimin yang akhir akhir ini diam padanya


arra merasa jimin kembali pada jati dirinya yang awal, yang dua bulan lalu berlainan sikap dengan yang aslinya,


Entah ,,, arra merasa kalau dirinya benar benar sebagai pelampiasan


"Ini sudah malam kenapa tidak masuk"


Suara itu menyadarkan arra dari lamunan dan pandangannya


"Eoh...kau,," pekik arra melihat jimin yang datang dengan celana boxer dan baju kaos merah


"Nee.., kenapa belum tidur" ucap jimin yang ikut duduk di sisi arra


"Aku belum mengantuk" timpal arra


"Aish....kau ini tak baik untuk kesehatan mu" ucap jimin


Arra tersenyum


"Dan kau kenapa, kau disini huh?"


"Bukankah seharusnya kau tidur dengan seulgi" ucap arra lagi


"Aku sama seperti mu belum mengantuk."


"Bukannya kau besok harus kekantor?" tanya arra


"Ya kau benar,  tapi ku rasa kau sedang kesepian jadi aku kemari!" ucap jimin


Arra tak menyangka jimin akan mengatakan seperti sunggu ia rasa ini mimpi tapi aingin malam mampu menyadarkannya dan membuktikan kalau arra dalam keadaan sadar.


"


Apa maksudmu" tanya arra


"Tidak..., ayo kita masuk ini sudah malam" ucap jimin menarik tangan arra


Arra diam terperangah.


"Ayo .bangun, apa kau sudah mengantuk sampai kau tak mendengar ucapanku" ucap jimin


Tapi tetap saja arra diam menatap jimin


Tanpa aba aba jimin pun mengambil keputusan sepihak, ia pun melumat bibir arra dengan cepat


Lagi lagi arra terkejut, namun ia hanyut dalam perasaanya, dan tak ayal ia membalasnya


"My be you change?" batin arra

__ADS_1


__ADS_2