
Suasana kantor kini kian ramai karna orang orang berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing Masing
Produk yang dulu jimin berkerjasama dengan samsung kini sudah di launcingkan, dan mendapat banyak respons baik , dan mendapat permintaan banyak dari para pelanggan sehingga omset perusahaan meningkat..
Sekarang jimin tengah sibuk dengan pengerjaan produk elektronik yang akan di launcingkan bersama peerusahaan paris lalu .
getaran handphone jimin mengganggunya, Saat tengah fokus menata bagian bagian barang , ia mencoba mengabaikan untuk dua kali panggilan dari jihyun, karna ia pikir mungkin jihyun akan meminta tolong untuk membelikannya makanan manis seperti minggu lalu.
Tapi semakin di abaikan panggilan kian terus menerus hingga dering yang ke lima kalinya..jimin mencoba mengalah untuk mengangkat panggilan dari sang adik,
"Yee..ada apa,,bisa kah kau menelponku di lain waktu aku sedang sibuk " ucap jimin kesal
"Hyung" suara isakan terdengar di sebrang sana
"Wae?? Ada apa dengan mu?, apa kau dimarahi eomma," ucap jimin bingung
"A..ani...." masih dengan suara isakan jihyun
"Aish..lalu kenapa,,katakan yang sebenarnya, kau mengganggu ku bekerja" ucap jimin bertambah emosi
"Eomma ,,hyung..hiksss😢😢😢😢"
"Eomma...ada apa dengan eomma?" tanya jimjn mulai khawatir jika menyangkut orang tuanya
"Eomma hyung,,
kecelakaan"
"Muoes?...bagaimana bisa??" tanya jimin panik
"Ceritanya panjang"
"Baiklah...sekarang kau dimana , noona arra dengan mu kan?" ucap jimin kelewat panik
"Ye...aku ada di rumah sakit kemarin lalu eomma di rawat"
"Baiklah tunggu disana aku "
"Nee..hyung"
..
..
.
.
..
..
.
.
__ADS_1
Perasaan takut ,khawatir, panik, juga sedih ,membuat jimin gelisah memikirkan keadaan eomma ,, yang kali ini sudah dua kali mengalami kecelakaan,
Dengan menancap gas di atas rata ,, dua puluh menit kemudian jimin sudah sampai, dengan cepat ia berlari menuju administrator menanyakan dimana sang eomma di rawat,, dan setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya menuju lift, karna suster mengatakan kalau eommanya dirawat di lantai dua kamar 24E.
Suara lift terdengar membuatnya bergegas keluar dari sana, dicari kamar 24B, yg kebetulan jarak nya tak jauh dari lift itu sendiri
jimin menghampirinya, Didapati arra sedang menangis tiada henti, dan jihyun mencoba menenangkannya dalam keadaan yang sama seperti arra.
"Apa yang terjadi ? " Tanya jimin dengan nafas memburu
Keduanya menatap jimin,,arra yang biasanya yg menjelaskan kronologis, seperti sebelumnya kini tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya..
Jihyun pun mulai sama diamnya seperti arra tak kuasa untuk menceritakan kronolgisnya,,, melihat sang eomma bercucuran darah ,, ketakutannya yg dulu kini muncul kembali
🐍🐍🐍🐍
Jihyun mencoba menenangkan sang noona, yang sendari tadi menyalahi dirinya sendiri, mengatai bahwa dirinya bodoh, karna kecelekaan yang menyangkut eomma nya.
Memang Rasa bersalah sangat menyelimuti arra ,,dan jalan satu satunya untuk ia ungkapkan hanya bisa menangis sendari tadi kejadian..pikirannya teringat pada kejadian yang begitu cepat baru satu jam yang lalu dirinya melihat sang mertua tersenyum padanya, tapi kini ia hanya bisa menatapnya dalam wajah pucat
Sungguh arra tak habis pikir, jika tau akan seperti ini ia lebih baik tidak mengajak sang eomma untuk pergi, ataupun ia mengurungkan niat untuk pergi melawan rasa bosannya.
Jimin datang meminta penjelasan. arra diam, tak mampu berkata ,karna rasa takut akan kesalahan, pada jimin.
Begitu pula jihyun hanya diam...
"Cepat jawab..kenapa bisa terjadi?" bentak jimin karna tak mendapat respon
Jihyun akhirnya angkat bicara ketika melihat tatapan sang hyung meminta penjelasan.
"Tidak ...ini salah ku...seharusnya aku mengurungkan niat ku untuk keluar" ucap arra
"Ada apa dengan kalian.....ucapkan dengan jelas kronologinya" ucap jimin
Arra meneguk salivanya sendiri membasahi tenggorokannya karna rasa takut sekaligus gugup untuk menjelaskan
Jimin mendengarkan secara seksama..
"Pagi tadi noona arra hendak pergi keluar, untuk menghilangkan rasa bosannya. Dan aku melihatnya untuk meminta ikut , awalnya ia menolak karna alasan eomma, tapi aku memaksa, sampai akhirnya eomma datang dan juga ingin ikut dengan noona..awalnya juga noona melarang tapi eomma juga memaksa, lalu kami bertiga pun pergi ke lotte world , untuk bermain, setelah dua jam berlalu akhirnya kami memutuskan untuk pulang..saat tiba di parkiran ketika hendak menyebrang jalan menuju halte mobil melaju cepat lalu menabrak eomma,, padahal keadaan jalan semua kendaraan sedang berhenti karna lampu merah." ucap jihyun yang pada akhirnya membuka suara sambil dengan isakan.
kesal dan marah Yang jimin rasakan sekarang, matanya mulai memerah menahan emosi
"Arra...kenapa kau tak mendengarku huh" bentak jimin
"Sudah ku bilang kau tak boleh membawa eomma keluar, tapi kenapa kau membangkang?" lanjutnya
"Mianhae...aku memang bodoh" ucap arra dengan isakan
"Aku melarangnya bukan aku tak menyanginya,, aku sangat menyanginya apalagi dia satu satunya orang tua ku sekarang., tapi udara dan luaran sana sangat rentan bahaya untuk eomma,, bahaya pasti akan datang tanpa di duga," ucap jimin
Arra bersujud dikaki jimin meminta maaf atas kejadian yang menimpa eommanya
"Mianhae..jimin" ucapnya dalam isakan tangis
Seketika jimin menepisnya dengan kaki, yang membuat arra jatuh tersungkur mengenai lantai
__ADS_1
"Sudah hyung...ini bukan sepenuhnya noona yang salah..kalau saja aku menuruti ucapan noona ini pasti takan terjadi." ucap jihyu
Jimin diam, menuruti ucapan sang adik, ia kemudian menyenderkan diri pada dinding rumah sakit sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan karna frustasi.
dalam hati nya.seketika membenci arra untuk yang kedua kalinya,
..
..
.
.
.
Selepas pertangakaran kecil tadi
Suara kaki melangkah terdengar di koridor ruangan menghampiri mereka bertiga
"Jimin...ada apa dengan eomma?" tanya seulgi
"Tanyakan semua pada penyebabnya" ucap jimin melirik arra sekilas
"Arra..ada apa dengan eomma" tanya ulang seulgi menatapa arra yang menangis
Belum sempat menjawab
ruangan unit gawat darurat terbuka
Jimin segara mengalihkan pandangannya menatap pintu
"Dokter..bagaimana keadaan eomma saya?" jimin menghampirinya dengan raut wajah panik
"Mmm....sekarang beliau sudah sadar, dan ingin bertemu dengan anda" ucap dokter
Tanpa menjawab jimin masuk bersama sang dokter,
Sampai didalam sang dokter meninggalkan keduanya.
Jimin melihat wajah sang eomma yang pucat sambil tersenyum padanya dengan kondisi perban dikepala serta selang yang di sudut tubuhnya yang entah jimin tak tau fungsinya untuk apa.
Di pegang tangan sang eomma yang berinfuskan itu jimin berkata " eomma...kau pasti sakit?" tak sadar air mata jimin mulai mengalir
"Ani...gwaenchanha, " ucap eomma park masih tersenyum
"Aku tau kau bohong...kau pasti menahan sakit kan" ucap jimin sambil memeluk tangannya
"Sudah....aku hanya berpesan pada mu jangan tinggalkan arra, jika pun eomma mati kau harus dengannya, karna eomma yakin kau akan membutuhkan dia suatu saat nanti" ucap eomma park tersenyum lalu perlahan menutup matanya,
Suara sirine pendeteksi jantungpun berbunyi, menandakan hilangnya detakkan jantung sang pasien..seketika jimin tak karuan..menjerit sekuat tenaga..karna tak rela
Orang orang yang diluar pun kebingungan lantas masuk untuk mengecek nya..dilihat jimin yang memeluk eomma park yang tak sadarkan diri sambil menangis dengan mengatakan
"Jangan tinggalkan aku..eomma." teriak jimin
__ADS_1
..author sedih yang vote sedikit..yang komen gx ada satu pun padahal sengaja di buat kesalahan..tatapi gax ada yang peduli..yang baca pun sedikit 😭😭😭😭😭