Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 11 Rencana Jahat Lagi


__ADS_3

Berita tentang undangan Zubaidah kepada Medina Al-Hasan ke istana Khalifah Harun Al-Rasyid semakin ramai diberitakan di seluruh penjuru kota Baghdad.


Orang tua Medina yang selama ini dikenal sebagai orang miskin di daerahnya kini semakin terangkat derajatnya.


Banyak pencinta Ilmu yang ikut bangga dengan kecerdasan yang dimiliki oleh gadis itu.


Hasan yang selama ini tidak perduli pada Medina kini harus berbangga diri karena ikut diundang di istana itu.


Semua orang termasuk Khalifah Harun Al-Rasyid dan istrinya Zubaedah mengucapkan selamat kepada orangtua gadis itu yang telah mendidik putrinya menjadi gadis yang mencintai ilmu dan berani mengembangkannya untuk kemajuan Baghdad kedepannya.


"Ibu, aku bersyukur dan senang sekali karena bisa bertemu dengan Khalifah dan penasehatnya itu Abu Nawas." Medina memeluk ibunya dengan wajah gembira.


"Ibu juga senang sayang, sudah lama hidup di negara ini. Saya punya kesempatan bertemu dengan Khalifah yang terkenal bijaksana itu karena kamu nak."


"Iya ibu. Dan aku semakin semangat untuk belajar dan belajar. sayyidah Zubaidah juga sangat baik. Perempuan hebat yang sangat menyukai ilmu."


Salah satu diantara para wanita yang berbagai keutamaannya tercatat dalam lembaran-lembaran sejarah yang bersinar terang adalah sayyidah zubaidah. Dia adalah ibunda Khalifah Al-Amin bin Harun Ar-Rasyid, dan dia dikenal dengan panggilan Ummu Al-Fadhl dan Umu Ja’far, sedangkan nama aslinya adalah Azizah.


Dia termasuk ke dalam jajaran para pembesar Quraisy. Tidak ada seorang wanita dari bani Hasyim yang melahirkan seorang pemimpin dari bani Hasyim, kecuali Fatimah binti Asad yang melahirkan Ali bin Abi Thalib, dan sayyidah Fatimah binti Rasulullah yang telah melahirkan Al Hasan bin Ali.


Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentangnya, “Dia adalah wanita ahli ilmu dan ahli fiqih.” Sedangkan Ibnu Khalkan menyebutkan,


“Dia memiliki seratus orang budak perempuan yang semuanya hafal Al-Qur’an, kecuali budak-budak yang hanya bisa membaca sekedarnya dan budak-budak yang tidak bisa membaca.


Mereka semua memperdengarkan Al-Qur’an di dalam istana seperti suara lebah, dan wirid setiap orang dari mereka adalah sepersepuluh dari Al-Qur’an.”


Zubaidah adalah sosok wanita yang dermawan, dia menginfakkan banyak hartanya di jalan Allah, khususnya untuk pemeliharaan dan pengolahan Baitullah Al-Haram.


Al-Makki mengatakan, “Melalui tinta sejarah saya mendapatkan beberapa ahli sejarah menyebutkan bahwasanya dia sangat memperhatikan penggalian sumur-sumur di wilayah Arafah, Mina, dan Mekah.”


Dikatakan juga, “Pada suatu hari, orang kepercayaannya datang kepadanya dan mengatakan bahwa kini dia telah mengeluarkan uang sekitar empat ratus ribu dirham.

__ADS_1


Maka Zubaidah pun berkata, ‘Sungguh, maksud dari perkataanmu ini tidak lain hanya untuk mencelaku dengan keras, membuatku menyesal dan mencegahku dari kebaikan. Keluarkanlah uangku dan sempurnakanlah pekerjaan tersebut, meskipun harus mengeluarkan uang berpuluh kali lipat dari itu.”


Demikianlah Zubaidah rahimahullah menginfakkan banyak harta untuk memilihara negeri Allah, Al-Haram.


Dia juga sangat memperhatikan sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir kepada seorang muslim meskipun dia telah meninggal dunia, sepanjang orang-orang masih memanfaatkannya.


"Ibu, aku ingin suatu saat nanti bisa seperti sayyidah Zubaidah." ujar Medina dengan senyum diwajahnya. Rasanya kehidupannya kini telah sempurna. Ibu dan ayahnya sudah bahagia dan juga cita-citanya untuk bertemu dengan Khalifah Harun Al-Rasyid dan keluarganya sudah tercapai.


"Kamu akan menjadi sayyidah Zubaidah dikehidupanmu dengan tuan Ali Ahmed Ameer nak," ujar Umayma dengan senyum diwajahnya.


"Maksud ibu apa?" tanya Medina tidak mengerti arah pembicaraan ini ibunya.


"Tuan Ahmed Ameer melamarmu untuk putranya sayang. Pria itu sudah lama ingin menjadikanmu istrinya." Medina terdiam.


Entah kenapa kalau ada yang membahas pernikahan hatinya merasa tidak nyaman. Ia seperti sudah dikhitbah oleh orang lain dan ia tentu saja tidak boleh menerima lamaran dari pria lainnya.


"Kenapa kamu diam saja sayang, apakah kamu tidak menyukai putra tuan Ahmed Ali?" Medina tersenyum. Ia sebenarnya sangat menyukai pria cerdas itu. Mereka berdua sering berdiskusi tentang apa saja.


🍀


Thania meraung keras karena sakit hatinya pada Medina tidak bisa ia balas. Ia sangat tidak rela kalau kakak iparnya itu lebih daripada dirinya. Hingga gadis itu bersama dengan ibunya merencanakan akan membuat Medina hancur.


Thania yang juga belajar di Universitas Nizamiyyah mulai menghembuskan cerita-cerita buruk saudara tirinya itu.


Fitnah keji ia sebarkan kalau sebenarnya keberhasilan gadis itu bukanlah hasil pemikirannya sendiri tetapi bantuan dari seorang dosen bernama Ali Ahmed Ameer.


Beruntunglah komunitas yang ada di Universitas Nizamiyyah yang merupakan tempat untuk menuntut ilmu terbesar saat itu tidak ada yang percaya akan berita buruk tentang Medina.


Mereka adalah pencinta Ilmu dan Medina bisa membuktikan pada semua orang tentang kehebatannya tentang teori dan praktek keilmuwan tersebut.


"Ibu, apalagi yang harus kita lakukan agar Medina itu hancur?" tanya Thania dengan wajah gelap.

__ADS_1


"Minta ayahmu untuk mengatur pertemuan dengan kakakmu itu sayang dan kita akan melakukan sesuatu dengannya." ujar Salma dengan rencana kotor baru diotaknya.


Mereka berdua pun menghadap Hasan agar mengatur pertemuan dengan putri pertama pria itu dengan mereka.


"Medina itu sangat sibuk. Ia mungkin tidak punya waktu untuk menemui kalian," ujar Hasan saat kedua orang itu merengek ingin bertemu dengan Medina yang semakin terkenal dan mendapatkan undangan dimana-mana.


"Tapi aku ingin bertemu secara pribadi ayah, kak Medina kan sangat pintar dan cerdas jadi aku juga ingin belajar dengannya." Thania terus menerus membujuk agar keinginannya tercapai.


"Temui saja ia saat ada acara amal di istana Khalifah. Medina akan berada di sana untuk mengobati orang-orang yang sakit."


"Baiklah ayah, aku akan segera berangkat kesana bersama dengan ibuku." ujar Thania dengan senyum diwajahnya.


Salma dan Thania bertatapan dengan seringaian jahat. Mereka bertekad untuk menghancurkan Medina saat itu juga.


"Jangan pernah berpikir untuk menggali lubang pada orang lain Thania apalagi Medina adalah kakakmu sendiri." ujar Hasan dengan suara tenangnya. Thania dan Salma saling menukar pandangan lagi. Mereka tidak menyangka Hasan tahu apa yang mereka pikirkan.


"Kenapa ayah berkata seperti itu?"


"Kalian adalah keluarga dekat ayah. Aku tidak mau melihat kalian merusak diri sendiri dengan kebencian yang tidak beralasan seperti itu pada saudaramu sendiri." Thania memutar bola matanya malas.


"Ayah, apa kami tampak ingin mencelakakan kak Medina?" Hasan tersenyum kemudian menjawab.


"Tanyakan pada hatimu nak. Disanalah jawaban yang benarnya. Ayah hanya ingin menjagamu dan ibumu dari api neraka."


"Terimakasih banyak ayah atas nasehatmu." ujar Thania tersenyum sinis.


🍀


Bersambung


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2