Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 53 Mari Berolahraga


__ADS_3

Setelah berolahraga pagi itu, Abu Zubair mendatangi sang istri yang masih berada di dalam kamar pribadinya.


Keadaan Zarah yang sudah hampir melahirkan itu membuatnya tidak bisa lagi melayani putri Medina Al-Akhmaar.


Sehingga pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu lebih banyak waktu berdua dengan istrinya itu.


"Zarah, pangeran Hasan dan pangeran Husain memintamu untuk banyak berolahraga sayang," ucap sang pengawal pada istrinya yang masih berbaring santai sembari memakan buah-buahan segar.


"Dua pangeran itu selalu memintaku untuk berolahraga padahal kan perutku sudah sangat besar seperti ini, suamiku."


"Olahraga itu bagus Zarah, karena bisa membuat tubuh kita sehat."


"Iya tuan." jawab Zarah singkat. Ia sudah tahu dari dulu kalau berolahraga itu banyak manfaatnya jadi ia tidak ingin berdebat. Suaminya pasti mengatakan hal yang benar.


"Lihatlah tubuhku ini jadi sangat kuat karena rajin berolahraga." Abu Zubair sengaja membuka pakaiannya dan memperlihatkan otot-ototnya agar sang istri tertarik untuk berolahraga dengannya pagi itu.


Mata bulat Zarah binti Abdullah segera teralihkan dari buah-buahan segar yang sedang ia makan. Ia paling suka dan selalu terpana jika melihat tubuh kekar sang pengawal tampan itu.


Tubuhnya langsung bereaksi dengan sangat baik.. Tangannya segera bergerak menyentuh otot-otot yang sangat keras itu dengan sangat lembut.


Abu Zubair tersenyum karena berhasil menarik perhatian sang istri.


"Bagaimana Zarah? aku sehatkan sayang?" tanya Abu Zubair dengan pandangan terus tertuju pada wajah cantik sang istri yang semakin menunjukkan aura berbeda karena sedang hamil.


"Eh iya tuan, anda semakin hari semakin sehat dan kuat. Aku jadi malu karena tidak bisa mengimbangi anda," Zarah binti Abdullah berucap dengan wajah malu. Apalagi otaknya sekarang sudah mulai memikirkan yang macam-macam.


"Kalau begitu pagi ini aku akan menuntunmu untuk berolahraga sayangku. Supaya nafasmu bisa lebih lama dan panjang. Saat melahirkan nanti kamu juga akan mudah." ucap Abu Zubair dengan senyum diwajahnya.


"Ah tidak perlu tuan. Aku sedang tidak ingin berolahraga seperti naik kuda atau main pedang seperti yang anda lakukan bersama dengan pangeran ElRasyid Al-Hasan." ucap Zarah berusaha menolak. Ia benar-benar tidak suka melakukan hal-hal berat yang berhubungan dengan olah fisik.

__ADS_1


"Eh ini bukan olahraga berkuda atau bermain pedang. Kita akan berolahraga yang lain yang lebih menyenangkan."


"Yang namanya olahraga pasti membuat kita lelah tuan." Zarah sepertinya masih bertahan dengan pendapatnya. Ia langsung melepaskan tangannya dari tubuh sang suami.


"Tapi kamu harus Zarah, supaya kandunganmu sehat sayangku. Aku juga ingin tahu kondisi bayi yang ada di dalam sini." Abu Zubair tetap berusaha meminta istrinya untuk mengikuti keinginannya dengan memberikan banyak alasan.


Pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu bahkan mulai membuka pakaian sang istri dan menyentuh perut yang sudah membuncit itu.


"Tapi aku takut kelelahan tuan." timpal Zarah dengan wajah polosnya. Abu Zubair hanya bisa tersenyum dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh istrinya itu.


"Tidak apa lelah sedikit asalkan menyenangkan Zarah. Kamu bersedia kan?" Zarah binti Abdullah akhirnya mengangguk pasrah dengan keinginan suaminya. Tapi kemudian ia segera menahan tangan Abu Zubair yang sudah berhasil membuka seluruh pakaiannya.


"Apa kita berolahraga harus tidak memakai pakaian tuan?"


"Iya Zarah, supaya kamu bisa tampil seperti aku ini. Otot-ototmu jadi bisa terlihat dengan baik. Dan juga perutmu itu bisa aku lihat dengan sangat baik." Zarah tersenyum maklum. Ia mengikuti semua kata-kata suaminya.


"Gerakan ibu hamil tidak harus menggunakan tenaga besar istriku. Cukup seperti ini." Abu Zubair mulai menunjukkan gerakan-gerakan biasa agar istrinya bisa menirukan semua yang ia lakukan.


"Nah sekarang berikan kakimu sayang," pinta pria itu untuk ia berikan pijatan lembut. Apalagi kaki istrinya sudah mulai membengkak karena usia kehamilan yang memasuki minggu ke 30.


"Nah bagaimana rasanya Zarah?" tanya Abu Zubair saat melihat istrinya itu menutup matanya menikmati Pijatannya.


"Rasanya tubuhku lebih ringan tuan. Mungkin kalau aku rajin berolahraga aku jadi lebih lincah lagi bergerak ya tuan."


"Tentu saja Zarah. Peredaran darah juga jadi lancar, Kulit cerah, dan perasaan juga akan sangat baik."


"Ah iya tuan, Al Aqlu Salim filjismi Salim, begitu kan kalau kita bahagia?"


"Iya Zarah, Istriku memang pintar dan cerdas." Zarah binti Abdullah tersenyum senang mendapatkan pujian dari suaminya itu.

__ADS_1


"Nah sekarang aku ingin memeriksa keadaan bayi kita di dalam sini, apakah ia juga sehat dan kuat seperti ibunya?" ucap Abu Zubair sembari mengelus lembut perut buncit Zarah.


Perempuan itu langsung tersenyum malu karena otaknya sudah bisa menangkap dengan baik keinginan sang suami. Ia yakin suaminya itu bukan hanya ingin memeriksa keadaan bayi dalam kandungannya tetapi lebih ingin berolahraga dengan cara yang lain.


"Bolehkan Zarah? aku sudah sangat rindu ingin menyapa bayi kita." lanjut sang pengawal tampan tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah sang istri yang nampak malu-malu itu.


"Silahkan tuan, anda bebas berkunjung dari arah manapun yang anda inginkan." Abu Zubair tersenyum senang. Hasratnya yang sejak tadi dengan sabar ia tahan sekarang sudah mendapatkan surat izin untuk maju.


"MasyaAllah Zarah, aku sangat senang Zarah. Aku berjanji akan membuatmu bahagia sayangku." ucap Abu Zubair dan mulai melakukan pemanasan dengan menyentuh seluruh permukaan kulit sang istri dengan bibirnya.


Zarah binti Abdullah mendessah nikmat dengan segala perlakuan manis dan lembut sang suami. Hingga mereka berdua bersama-sama melakukan gerakan-gerakan olahraga yang cukup bisa menjadi terapi agar mudah melahirkan.


"Tuan, anda belajar dari mana kalau gerakan seperti ini bisa membuatku nanti mudah melahirkan?" tanya Zarah diantara cumbuan Abu Zubair pada tubuhnya.


"Pangeran ElRasyid Al-Hasan yang mengajarkannya padaku Zarah, dan terbukti kan kalau pangeran Hasan dan Husain lahir dengan sangat mudah."


"Oh begitu ya tuan, aaaaakh," Zarah tidak sadar berteriak tertahan dengan aksi suaminya dibawah sana.


"Kalau begitu aku siap berolahraga denganmu setiap saat kalau rasanya tidak melelahkan seperti gerakan olahraga lainnya tuan.". Abu Zubair tersenyum dengan sangat senang.


"Alhamdulillah, aku sangat setuju Zarah. Dan pastinya akan sangat menyenangkan dan membuat berkeringat."


Mereka terus bercakap-cakap sambil mengayuh dengan sangat nikmat. Sekali-kali suara mereka terjeda oleh suara rintihan Zarah sang istri.


Sampai mereka berdua tumbang dan kelelahan setelah saling melepaskan ledakan di tempat yang diberkahi.


🍀🍀🍀


Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2