
Bagaikan seekor kuda terlatih yang sangat tangguh dalam peperangan, Pangeran ElRasyid Al-Hasan terus memacu dirinya dalam tubuh putri Medina Al-Akhmaar dengan penuh kekuatan.
Pria tampan berdarah Quraish itu sepertinya tak mengenal lelah menyerang benteng pertahanan sang putri mahkota kerajaan merah AlHambra.
Semakin dalam ia mengobrak-abrik istana yang sangat indah milik sang putri cantik semakin berteriak tak karuanlah pemiliknya.
Berkali-kali sang putri memohon ampun tetapi sang pangeran tetap menyerang titik-titik sensitifnya hingga membuatnya ikut melawan dengan segenap tenaga yang ada.
"El Ra Syid..." racau putri Medina Al-Akhmaar sembari tangannya menggapai pegangan untuk tetap bertahan.
Rambut tebal sang pangeran tak luput dari cengkramannya ketika gelombang dahsyat itu menggulungnya dan memutarnya dalam puncak kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"MasyaAllah, Allahu Akbar!" pangeran ElRasyid Al-Hasan menjatuhkan tubuhnya yang basah oleh keringat ke samping tubuh sang putri. Ia mengerang dengan menyebut nama Tuhan ketika pelepasan itu tiba.
Layaknya seperti prajurit yang telah memenangkan pertarungan yang sangat dahsyat ia merasakan dadanya membuncah bahagia. Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum puas dengan rasa yang tak terbendung.
Sedangkan sang putri mahkota yang berada disampingnya menutup kelopak matanya dengan air mata bahagia yang mengalir dari ujung matanya.
"Tuan putriku sayang, apakah aku menyakiti anda?" bisiknya pelan kemudian mencium kelopak mata istrinya itu. Ia ingin menghapus air mata itu dengan bibirnya.
"Tidak Pangeran. Aku merasa sangat bahagia. Anda memberiku kebahagiaan yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata. Ini terlalu indah. Terimakasih banyak." jawab putri Medina Al-Akhmaar sembari menatap mata elang suaminya yang begitu tak berjarak dengannya.
"Bahkan dunia beserta isinya tak mampu mengalahkan rasa nikmat yang anda berikan tuan putri. MasyaAllah, Alhamdulillah. Nikmat ini sungguh nyata tuan putri." pangeran ElRasyid Al-Hasan kembali menyentuhkan bibirnya dan mengulum lembut daging kenyal tak bertulang itu dengan penuh perasaan.
"Istirahatlah belahan jiwaku. Aku sangat mencintaimu Medina Al-Akhmaar." jari-jari sang pangeran mengelus lembut bibir yang masih basah dan sangat membengkak itu dengan lembut.
Putri Medina Al-Akhmaar tersenyum kemudian berusaha untuk bangkit dari posisinya tetapi kemudian ia mengernyit merasakan sakit dan perih pada daerah bawahnya.
"Anda mau kemana tuan putri?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Aku ingin membersihkan diri pangeran. Aku merasa sangat lengket." wajah merona putri Medina Al-Akhmaar ia tampilkan dan membuat sang pangeran tersenyum.
Tangannya bergerak ke bawah dan menyentuh bagian bawah perut istrinya itu sembari membaca sholawat atas nabi Muhammad Saw.
Ia mendorongnya dengan keras hingga membuat putri mahkota yang cantik itu menutup matanya merasakan kenyamanan lain yang diberikan suaminya.
"Allohumma Sholli Alaa sayyidina Muhammad wa ala Alihi sayyidina Muhammad. Semoga Allah SWT memberi keturunan yang baik dan Soleh Solehah, Aamin."
"Aaamiin ya Allah." ulang putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah bahagia.
"Aku mencintaimu pangeran ElRasyid Al-Hasan," ucap sang putri kemudian menutup wajahnya karena malu dengan pernyataan cintanya itu.
"Hey, apa yang anda katakan tuan putri. Aku tidak mendengarnya dengan baik." pangeran ElRasyid Al-Hasan meraih kedua tangan sang putri agar wajahnya yang sangat cantik itu bisa ia pandang dengan baik.
"Aku malu pangeran. Sekarang aku ingin membersihkan diriku sebelum tidur." putri Medina Al-Akhmaar bertahan tidak ingin mengulangi kata-katanya lagi. Ia sudah sangat maju saat ini.
"Rasulullah Muhammad dan ibunda sayyidah Aisyah juga sering mandi bersama. Dan sekarang kita akan melakukannya juga."
"Anda masih belum mundur dari niat berendam bersama sejak dari kota Cordoba pangeran." ucap putri Medina Al-Akhmaar yang mulai merasakan air hangat sudah mulai memijat tubuhnya yang ia rasakan remuk karena serangan panglima perang kerajaan Al Amin itu.
Ia sekarang memberikan pengakuan kalau pangeran ElRasyid Al-Hasan itu sangat layak menjadi panglima perang karena ia betul-betul gigih menghancurkan benteng pertahanannya meskipun ia sudah mengangkat bendera putih.
"Kegiatan berendam seperti ini harus kita lakukan setiap selesai beradu kekuatan tuan putri. Air hangat ini akan melemaskan otot-otot kita yang sudah sangat tegang dan pastinya akan menegang kembali." senyum samar diwajah pangeran ElRasyid Al-Hasan membuat putri mahkota itu merinding.
Apalagi tangan sang pangeran di bawah kolam sudah mulai bergerak mengelus lembut bagian bawah tubuhnya. Memijatnya dengan sangat lembut sampai ia merasakan sensasi baru yang sangat menyenangkan.
"Pangeran... Aaaakh," kembali putri Medina Al-Akhmaar mendessah nikmat saat jari-jari sangat pangeran bermain sangat indah dibawah sana. Tubuhnya kembali bergetar hebat.
"Nikmati saja tuan putri sayangku," bisik pria tampan itu kemudian meraih bibir Istrinya dengan sangat lembut. Mereka berdua seperti tak mengenal lelah untuk meraup kebahagiaan dunia dengan cara saling berbagi rasa.
__ADS_1
Percikan dan gelombang air di dalam kolam itu menjadi saksi betapa mereka berdua saling mencintai dan saling membahagiakan.
Sementara itu di luar sana, Abu Zubair mulai menguap berkali-kali. Rasa lelah dari perjalanan panjang berkeliling Granada Andalusia baru terasa kini. Tubuh kekarnya juga butuh istirahat.
Pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu pun memanggil pengawal kepercayaan lainnya untuk menggantikannya berjaga di depan pintu kamar calon penguasa kerajaan AlHambra itu.
Di lorong menuju kamar pribadinya ia bertemu dengan Zarah binti Abdullah yang membawakannya minuman hangat dan kue kering buatan koki kerajaan.
"Assalamualaikum warahmatullahi. Saya baru membawakan anda minuman hangat tuan." sapa gadis itu dengan menundukkan pandangannya.
"Waalaikumussalam warahmatullahi Zarah. Sesungguhnya itu bukanlah tugasmu untuk melayaniku tapi saya ucapkan terimakasih banyak."
"Kamu bisa memberikan minuman itu untuk pengawal yang berjaga di depan kamar pangeran dan tuan putri." Abu Zubair berlalu dengan wajah dingin tak bersahabat. Nampak sekali kalau wajah gadis itu sangat kecewa.
"Ah ya tapi aku bisa mencobanya kalau kamu memaksa." langkah pengawal itu terhenti setelah beberapa langkah karena dari ekor matanya ia melihat gadis itu tidak bergerak dari posisinya.
Abu Zubair mengambil nampan dari tangan Zarah dengan cepat kemudian melanjutkan langkahnya dengan senyum samar diwajahnya.
Zarah binti Abdullah hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang terjadi. Baru saja ia merasa sangat kecewa tetapi pria itu malah membuatnya berubah bahagia.
Ia pun kembali ke kamarnya dengan hati berbunga-bunga bahagia. Ia tak ingin meminta lebih pada Tuhan. Ia hanya ingin perasaannya terbungkus dengan sangat baik dan berakhir dengan keberkahan.
🍀🍀🍀
Bersambung
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1