
"Ya Allah, Zarah apa kamu sedang tidak sehat nak?" tanya permaisuri Umi Kalsum dengan wajah khawatir. Ia mencoba membantu pelayan pribadi menantunya itu dengan memberi segelas air putih.
"Minumlah Zarah, insyaallah batukmu bisa langsung reda."
"Terimakasih banyak permaisuri. Anda sangat baik." Zarah mengambil air itu dan meminumnya sampai habis.
"Kamu tidak lupa menyebut nama Allah 'kan Zarah?"
"Insyaallah tidak permaisuri. Terimakasih." Zarah menunduk sembari menyimpan gelas itu kembali ke atas meja.
Sedangkan putri mahkota hanya bisa menahan tawanya agar tidak meledak. Ia sudah mulai mencurigai sesuatu terjadi pada pelayannya itu jika semua orang menyebut Abu Zubair.
"Zarah, Apakah kamu menerima lamaran permaisuri?" tanya putri Medina Al-Akhmaar masih dengan senyum diwajahnya. Zarah menunduk dengan debaran yang sangat kencang didadanya. Ia tentu saja mau tapi apa pengawal berwajah datar itu juga menginginkannya?
"Zarah, kamu harus menjawab." putri Medina Al-Akhmaar memaksa pelayannya itu untuk menjawab.
"Insya Allah saya mau putri. Tetapi tuan Abu Zubair tidak pernah ramah padaku. Saya takut ia tidak setuju dengan rencana permaisuri."
"Jangan berkata seperti itu Zarah. Abu Zubair sudah kurawat sejak ia masih kecil bersama dengan Pangeran ElRasyid Al-Hasan. Ia pasti mendengar apa yang saya perintahkan padanya. Karena sesungguhnya ia pemuda yang taat."
"Saya terima apa saja keputusan permaisuri dan putri mahkota karena saya tidak punya orang tua." Zarah semakin menunduk dan menyusut airmatanya. Ia sangat terharu karena keluarga kerajaan besar ini memperhatikannya dan menganggapnya sebagai keluarga.
"Persiapkan dirimu Zarah, saya akan memberi tahu hal ini pada Abu Zubair."
"Terimakasih banyak permaisuri. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya pada anda berdua."
"Baiklah, sekarang saya akan kembali ke Ambajadores aula istana. Berita baik ini harus segera diterima oleh putraku Abu Zubair." permaisuri Umi Kalsum yang baik hati itu segera keluar dari kamar menantunya untuk menemui Abu Zubair.
"Tuan putri, apa menurut anda tuan Abu Zubair akan menyetujui keinginan permaisuri?" Zarah dengan segala kegalauan hatinya menanyakan hal tersebut kepada sang putri mahkota.
Putri Medina Al-Akhmaar nampak tersenyum di dalam kaca besar dengan rambut yang sedang disisir oleh pelayannya itu.
"Bagaimana perasaanmu Zarah? apakah engkau meragukan peristiwa baik ini?"
"Mohon maafkan saya tuan putri tetapi hatiku takut. Tuan Abu Zubair tidak pernah sedikitpun bersikap ramah padaku. Saya khawatir ia kalau saya bukan perempuan yang dinginkannya tuan putri." Zarah binti Abdullah menarik nafasnya dalam-dalam.
"Saya hanya seorang pelayan yatim piatu dan tidak punya harta kekayaan kecuali pakaian ini saja."
"Zarah, jangan merendahkan dirimu seperti itu. Aku lihat Abu Zubair bukanlah pria yang memandang perempuan itu dari latarbelakang yang seperti itu. Jadi tenanglah."
"Tapi tuan putri, saya takut."
"Zarah, serahkan semuanya pada Allah SWT. Ia yang tahu jodoh yang terbaik untuk hambaNya. Berdoa saja semua akan dilancarkan olehNya."
__ADS_1
"Baik tuan putri."
"Nah sekarang, bayi-bayiku sudah sangat lapar Zarah. Beritahu pelayan di dapur kalau aku ingin makan sup hangat dan juga nasi putih."
"Baik tuan putri. Saya akan segera meminta pelayan untuk menyiapkan keinginan anda." Zarah berpamitan dan mengundurkan dirinya untuk meminta pelayan yang lain menyambung lidahnya ini.
Di depan pintu ia tidak sengaja bertemu dengan Abu Zubair yang sengaja datang untuk menemuinya.
"Eh, tuan. Saya akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk tuan putri. Kalau anda berkenan saya juga akan meminta mereka membawakan makanan untuk anda tuan."
"Terimakasih Zarah. Tetapi entah kenapa saya ingin makan dari hasil masakan tanganmu sendiri, bolehkan?" Abu Zubair menatap sekilas wajah Zarah binti Abdullah yang nampak sangat kaget dengan permintaannya kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Eh iya, saya akan membuatnya untuk anda. Apakah ada jenis makanan yang anda inginkan tuan?"
"Aku ingin Qatayef yang sangat nikmat dan lezat khas orang Arab."
Deg
Zarah menelan Salivanya dengan kasar. Ia tidak pernah memasak makanan atau panganan itu meskipun ia pernah memakannya sekali-kali. Apakah ini ujian dari Abu Zubair untuknya?
"Baiklah tuan. Saya akan membuatkannya untuk anda." Zarah binti Abdullah menundukkan kepalanya kemudian kembali masuk ke kamar tuan putri Medina untuk meminta izin ke dapur.
"Zarah!" langkahnya terhenti karena ia mendengar namanya dipanggil dengan pelan oleh pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu.
"Kenapa kamu mau repot-repot melakukan keinginanku Zarah?"
Deg
Zarah terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena sesungguhnya ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa begitu ramah pada pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu.
"Kamu tidak perlu melakukannya kalau hatimu tidak menginginkannya Zarah." ucap Abu Zubair dari belakang punggungnya.
"Tetapi hatiku ingin tuan." jawab Zarah dengan suara pelan kemudian meninggalkan pengawal itu.
Abu Zubair tersenyum samar dibuatnya. Ia sudah yakin kalau gadis itu juga menginginkan hubungan ini seperti ia menginginkannya sejak lama.
Untungnya ia sudah berterima kasih pada Permaisuri Umi Kalsum karena telah mempunyai rencana seperti ini sebelum ia mengutarakan niatnya.
"Zarah? ada apa?" putri Medina Al-Akhmaar merasa sangat khawatir dengan ekspresi wajah pelayan pribadinya itu.
"Mohon maafkan saya tuan putri karena harus kembali kemari sebelum memberi tahu pelayan untuk membuatkan anda makanan."
"Iya Zarah, tapi ada apa sampai kamu sesak nafas begitu?" dada Zarah nampak turun naik menahan debaran didadanya yang seakan ingin meledak karena bahagia.
__ADS_1
"Zarah katakan apa yang terjadi?"
"Tuan Abu Zubair memintaku memasak sebuah makanan yang saya sendiri tidak tahu cara memasaknya tuan putri."
"Apa menurut anda, itu adalah ujian buat saya tuan putri?"
"Ujian apa maksudmu Zarah? bicaralah yang jelas!" Putri Medina Al-Akhmaar sepertinya sudah mulai tidak sabar dengan pelayan pribadinya itu. Teka-teki yang dibawanya membuatnya sedikit bingung.
"Bagaimana kalau saya tidak bisa memasak makanan yang ia mau. Apakah itu berarti saya tidak layak menjadi istrinya? jawab saya tuan putri?!"
"Ya Allah Zarah. Aku sekarang mengerti maksudmu. Nah katakan makanan apa yang diminta oleh pengawal suamiku itu?"
"Qatayef khas Arab tuan putri." jawab Zarah dengan perasaan campur aduk.
"Qatayef?" putri Medina Al-Akhmaar mengulangi kata itu dengan dahi mengernyit. Entah kenapa ia sangat dekat dengan makanan khas timur tengah itu.
Putri mahkota itu menutup matanya dan seakan berada di sebuah dapur sederhana dimana aroma hazelnut dan vanilla menguar sangat tajam. Tanpa sadar ia menelan Salivanya.
"Aku juga ingin makan Qatayef Zarah," putri Medina Al-Akhmaar tersenyum dengan tatapan memohon pada pelayan pribadinya itu.
"Hah?" mulut Zarah binti Abdullah membola tak percaya dengan keinginan tuan putrinya yang sama dengan Abu Zubair.
"Tapi tuan putri, saya tidak tahu cara membuatnya. Saya sendiri baru memakan makanan itu baru sekali seumur hidup saya." putri Medina Al-Akhmaar kembali tersenyum kemudian menutup matanya kembali.
Bayangan seorang perempuan paruh baya baik hati sedang memberinya resep makanan asli Mesir atau Timur tengah itu.
"Siapkan Bahan utamanya Zarah."
Dengan wajah bingung gadis itu mulai menyimak tuan putri menyebutkan bahan-bahan yang harus disiapkannya.
"Keju tawar, atau campuran hazelnut , walnut , almond , pistachio , kismis , gula bubuk , ekstrak vanila , dan kayu manis."
"Baik tuan putri. Saya akan segera membuatnya untuk anda."
"Usahakan rasanya harus sama dengan buatan ibuku Umayma."
"Eh?" Zarah mengernyit semakin bingung.
🍀🍀🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍