Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 23 Syair Cinta Sang Pangeran


__ADS_3

Abu Zubair sang pengawal setia pangeran ElRasyid Al-Hasan merasa tidak nyaman dengan beberapa pelayan yang membawa makanan pesanan tuannya di dalam sana.


Para pelayan itu berdiri saja di depan pintu tenda karena tidak bisa masuk tanpa seizin dirinya.


Sedangkan ia sendiri yakin kalau penghuni tenda itu pasti sedang tidak ingin diganggu.


Meskipun ia sangat takut dan segan mengganggu kesenangan kedua orang itu tetapi demi kenyamanan para pelayan yang sudah dengan ikhlas dan sabar menunggu sangat lama.


Akhirnya Abu Zubair berdehem dengan keras kemudian membacakan sya'ir yang biasa ia bacakan ketika ingin memberikan informasi khusus pada sang pangeran.


Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah agar para pelayan itu bisa masuk ke dalam dan menghidangkan makanannya.


Berhentilah kisah raja Hindustan


Tersebutlah pula suatu perkataan


Abdul Hamit syah paduka sultan,


Duduklah baginda bersuka-sukaan.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan yang sudah bisa memahami makna syair Abu Zubair di depan sana segera menutup kembali tubuh putri Medina Al-Akhmaar dengan pakaian bagian atasnya yang sempat ia buka.


Sekali lagi pangeran ElRasyid Al-Hasan meraih bibir Istrinya dan mengulumnya lembut. Ia belum rela melepaskan tetapi kode dari Abu Zubair membuatnya harus melepaskannya. Pangeran tampan itu pun berucap,


Cinta yang ada di ini dada


Kian merekah bagai sang bunga


Yang β€˜tlah merekahkan kelopaknya


Yang punya warna indah di mata


Putri Medina Al-Akhmaar tersenyum dengan debaran dada bagaikan genderang perang. Ia sampai tidak bisa lagi bangun dari posisi berbaringnya.


"Berbaringlah tuan putri, yang lebih dari inipun akan anda rasakan setelah sampai di istana," pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum kemudian mengecup kening sang istri.

__ADS_1


Ia kemudian memakai pakaiannya kembali dan berjalan ke arah pintu tenda dan menepuk tangannya agar para pelayan itu segera masuk dan mengatur makanan yang akan mereka makan.


Mata Zarah binti Abdullah menelisik kesekeliling tenda itu mencari sang tuan putri. Pangeran ElRasyid Al-Hasan yang mengerti arah pandangan pelayan pribadi istrinya segera memerintahkan gadis itu untuk membantu putri mahkota bersiap.


"Zarah, bantu tuan putri bersiap untuk menikmati hidangan yang sangat lezat ini."


"Baik tuanku," ujar Zarah binti Abdullah dan segera melangkah ke arah tempat tidur dimana putri Medina Al-Akhmaar sedang berbaring dengan dada yang masih berdetak kencang.


"Tuan putri, apa yang bisa saya lakukan untuk anda?"


"Zarah, untunglah kamu segera datang. bantu aku menata rambutku."


"Baik tuan putri." Zarah segera membantu putri mahkota kerajaan AlHambra itu untuk bangun dan membawanya ke depan kaca rias. Di sana pelayan itu menyisir rambut sang putri yang tampak sedikit kusut kemudian menatanya dengan sangat indah bagaikan sebuah sanggul yang sangat cantik.


Riasannya juga diperbaiki yang nampak sangat kacau akibat perbuatan pangeran ElRasyid Al-Hasan yang menyerangnya dengan sangat lapar.


Putri Medina Al-Akhmaar berusaha menutupi rasa malunya pada pelayan pribadinya itu yang mungkin sedang berpikir macam-macam tentang dirinya.


"Anda sudah cantik tuan putri. Dan sekarang anda bisa menikmati hidangan istimewa dari kami."


"Terimakasih banyak Zarah. Aku sudah sangat lapar." pelayan itu tersenyum kemudian mengiringi langkah putri mahkota itu ke meja makan tempat pangeran ElRasyid Al-Hasan sedang menunggunya.


Putri Medina Al-Akhmaar makan dengan menundukkan wajahnya. Ia masih merasa malu bertemu pandang dengan suaminya setelah apa yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu.


"Apakah hanya aku yang merasa makanan ini kurang manis tuan putri?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan mata terus memandang wajah cantik yang mengunyah makanan itu sembari menunduk.


"Apa maksud anda pangeran? yang memasak makanan ini adalah koki terbaik dari istana AlHambra." jawab putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah tak percaya dengan penilaian lidah sang suami.


"Oh ya? maafkan aku kalau penilaian lidahku terasa berbeda tuan putri." wajah pangeran ElRasyid Al-Hasan menunjukkan rasa bersalahnya karena memberikan penilaian buruk pada makanan Gozpacho itu.


Putri Medina Al-Akhmaar berusaha tersenyum meskipun ia sedang tidak terima karena menurutnya semua makanan yang dihidangkan terasa pas dilidahnya.


Perempuan cantik putri raja Lukman Al-Akhmaar itu kemudian melanjutkan mencicipi sup Gozpacho segar itu dan kembali menunduk. Mata elang suaminya ia rasakan bagai di sinar matahari siang yang mampu membakarnya karena hawa panas.


"Atau apa mungkin rasa manis makanan ini semuanya berpindah ke wajahmu tuan putri," ucap pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari tersenyum samar.

__ADS_1


Putri Medina Al-Akhmaar mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang pangeran yang sedang mengedipkan matanya.


"Ya Allah, pangeran sengaja membuat lelucon seperti ini ya? aku sampai ingin menegur koki istana," mata indah putri Medina Al-Akhmaar melotot tak percaya atas rayuan yang sangat manis dari suaminya itu.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum kemudian menyentuh ujung bibir sang istri yang terkena saus tomat yang baru ia makan.


"Sesungguhnya aku sangat ingin merasakan rasa saus tomat ini apakah jadi lebih manis jika sudah menempel pada bibir tuan putri." pangeran ElRasyid Al-Hasan menjilati jari-jarinya yang terdapat sisa saus tomat tadi.


Putri Medina Al-Akhmaar merasakan gelenyar aneh merambat ke seluruh tubuhnya dengan perlakuan romantis sang suami.


Ia serasa ingin terbang ke nirwana sekarang juga bersama sang pangeran dengan perasaan yang tak terbendung. Hatinya dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Begitu sangat indah.


"Pangeran, jangan membuatku malu," bisiknya dengan suara pelan. Wajahnya ia rasakan menghangat begitupun Jantungnya berdetak diluar batas kewajaran.


"Makanlah dengan benar tuan putri. Karena sesungguhnya dengan melihat anda makan seperti ini perutku sudah sangat kenyang."


Putri Medina Al-Akhmaar terdiam dengan berusaha menahan perasaannya yang ingin meledak.


Dan pada akhirnya hidangan yang sangat nikmat itu mereka habiskan dengan waktu yang cukup lama karena selalu diselingi oleh kalimat-kalimat rayuan yang membuat putri mahkota kerajaan AlHambra itu merasa diatas angin.


"Aku sudah tidak sabar tuan putri kita sampai di istana dan berendam bersama."


"Ya ampun pangeran, anda masih memikirkan hal itu?"


"Tentu saja istriku yang sangat cantik. Aku ingin berbagi rasa panas denganmu tuan putri." senyum samar muncul lagi diwajah pangeran ElRasyid Al-Hasan dari kerajaan Al Amin itu.


"Bisakah kita tidak membicarakan ini dulu Pangeran? perjalanan ini masih akan kita tempuh kurang lebih 24 jam."


"Dengan memikirkan hal yang menyenangkan seperti itu. Perjalanan ini akan lebih singkat tuan putri."


"Baiklah, terserah anda kalau begitu." putri Medina Al-Akhmaar tersenyum kemudian meminum anggur khas Andalusia.


πŸ€πŸ€πŸ€


Bersambung

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2