
Pangeran ElRasyid Al-Hasan mengangkat tubuh istrinya yang sudah mulai lemas itu ke atas ranjang. Ia baru menyadari kalau ternyata pakaian yang saat ini tuan putri gunakan benar-benar sudah disiapkannya dengan sedemikian sangat indah.
"MasyaAllah, anda sangat cantik tuan putri," bisik pangeran tampan itu dengan penuh pemujaan. Pipi putri Medina Al-Akhmaar kembali merona. Ia memalingkan wajahnya ke samping karena sudah tidak sanggup menerima pujian yang begitu indah dari bibir suaminya.
Tangan sang pangeran mulai membuka semua penghalang yang ada dihadapannya. Dan yang tersisa adalah kain yang sangat tipis yang hanya menutupi sebagian kecil dari ciptaan Tuhan yang sangat indah dihadapannya.
Tak berhenti sang pangeran memuji kekuasaan Allah yang telah menciptakan makhluk yang sangat cantik di hadapan ini.
Andai ia tidak takut kufur dari nikmat Allah maka kata sempurnalah yang ia sematkan pada sosok cantik yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu.
Cantik, berbudi baik, dan juga cerdas. Itulah Medina Al-Akhmaar sang putri mahkota kerajaan AlHambra.
Perlahan ia mendekatkan dirinya pada tubuh istrinya itu.
Mengelus lembut seluruh permukaan kulit sang putri dengan jari-jarinya. Hingga perempuan cantik itu menggeliat geli dengan berusaha menggigit bibirnya.
"Maafkan aku tuan putri, maafkan aku sayangku," bisik pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari mengecup lengan putri Medina Al-Akhmaar yang menunjukkan bekas sabetan pedangnya waktu itu.
Hatinya sangat nyeri melihat kulit mulus ini menjadi tak sempurna karena perbuatannya dulu. Lama ia berhenti disana dengan perasaan bersalah.
"Ada apa pangeran? apakah cacat pada tubuhku membuat anda kecewa?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan perasaan khawatir. Ia takut suaminya akan berubah hatinya ketika melihat bekas luka itu.
Perlakuan lembut yang sangat ia nikmati tadi tiba-tiba berhenti ketika bibir suaminya itu sampai pada lengannya.
"Maafkan aku pangeran kalau aku tidak sempurna," ujar putri Medina Al-Akhmaar sembari berusaha untuk bangun dari posisinya tadi.
Pakaian yang sudah sempat dibuka oleh sang suami ia raih kembali untuk menutupi tubuhnya. Ada rasa kecewa dan sedih yang terbit dari dalam hatinya.
"Aku yang salah tuan putri. Aku yang harus minta maaf pada anda." pangeran ElRasyid Al-Hasan meraih kedua bahu sang putri dan menatap kedua bola mata indah dihadapannya
"Aku yang membuat kulit yang sangat mulus dan putih ini menjadi cacat. Tolong hukum aku tuan putri. Aku rela jika anda ingin membalasku." pangeran ElRasyid Al-Hasan mengecup lembut bekas luka sabetan pedangnya itu kemudian membuka pakaiannya satu-satu.
__ADS_1
"Dibagian mana tuan putri ingin membalasku? aku persilakan. Sakit dan perihnya luka anda saat itu ingin aku rasakan juga sekarang." putri Medina Al-Akhmaar merasakan haru yang teramat sangat di dalam hatinya.
Perempuan cantik yang hanya berbalut pakaian dalam tipis itu segera berlari memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat.
"Apa anda pikir kalau anda terluka aku tidak akan merasa terluka juga Pangeran?"
"Bukankah anda diciptakan oleh Allah SWT sebagai pakaianku dan aku adalah pakaian anda? mana bisa aku melihat pakaianku sobek." tangan putri Medina Al-Akhmaar bergerak pelan mengelus lembut bulu-bulu di dada bidang sang pangeran.
"Jangan membuatku sakit lagi dengan permintaan anda itu. Aku tidak akan kuat." pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum kemudian segera meraih dagu istrinya agar bisa menatapnya.
"Demi Allah, aku tidak akan membuatmu meneteskan airmata sedih lagi tuan putri. Hanya airmata bahagia saja yang akan aku berikan." perlahan ia meraih bibir Istrinya dengan lembut. Mengulumnya dengan penuh perasaan sampai putri Medina Al-Akhmaar mendessah pelan.
Sang putri melingkarkan tangannya ke leher kuat sang pangeran karena merasakan kakinya tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Ia kembali dibuat lemas oleh sentuhan-sentuhan yang sangat nikmat dari sang kekasih hati.
Sementara itu di kamar pribadi putri Jasmine. permaisuri Hindun dan sang putri mondar-mandir tidak jelas memikirkan rencana apalagi yang akan mereka lakukan untuk membuat putri Medina Al-Akhmaar menderita.
"Ibu, aku tidak rela kalau pangeran ElRasyid Al-Hasan itu memiliki putri Medina ataupun sebaliknya."
"Mereka berdua sudah menikah Jasmine. Sudah pasti mereka akan saling memiliki."
"Ya ampun Jasmine. Jadi itu yang ada didalam pikiranmu, hah?" permaisuri Hindun menatap putrinya dengan tatapan tajam. Ia tidak menyangka seorang gadis perawan bisa sampai memikirkan hal sejauh itu.
"Ibu, sesungguh engkau pernah mengatakan padaku kalau hubungan pasangan suami istri itu akan semakin erat setelah mereka saling memiliki jadi seharusnya kita pisahkan mereka berdua saat mereka belum melakukannya."
"Itu ide yang bagus Jasmine. Sekarang ayo kita menyuruh pelayanmu itu untuk mengganggu mereka berdua dengan membuat sebuah kerusuhan di istana. Ibu yakin mereka pasti akan sibuk dengan itu. hahaha."
"Baiklah ibu. Aku setuju dengan apa yang kamu pikirkan. Akan sangat menyenangkan mengganggu sepasang pengantin baru yang awalnya memang saling membenci."
Plak
Plak
__ADS_1
Plak
Putri Jasmine menepuk tangannya sebagai kode panggilan kepada para pelayannya. Mereka akan merundingkan sesuatu untuk membuat kekacauan di istana merah Andalusia itu.
Beberapa pelayan pun masuk ke kamarnya dengan menundukkan kepalanya. Mereka siap untuk diperintah oleh Permaisuri kerajaan AlHambra itu.
Permaisuri Hindun dan putri Jasmine saling menatap kemudian tersenyum miring.
"Apakah harus malam ini ibu? atau kita tunggu besok saja?" tanya putri Jasmine dengan alis terangkat.
"Lebih cepat lebih baik putriku. Dan hasil akan kita dapatkan lebih cepat."
"Baiklah ibu. Kita laksanakan malam ini juga." putri Jasmine pun mulai memberikan perintah agar para pelayannya itu membuat sebuah kekacauan di depan kamar pribadi sang putri mahkota.
Para pelayan itu segera keluar dari kamar pribadi putri Jasmine dan segera melaksanakan perintah dengan sangat cepat.
Abu Zubair yang melihat beberapa pelayan pribadi putri Jasmine sedang melakukan kekacauan berupa pertengkaran dan aksi pukul memukul khas para pelayan segera menghalau mereka semua agar keadaan kamar tuannya selalu aman.
Sebuah pedang panjang dan tajam ia keluarkan dari sarungnya untuk menakut-nakuti para pelayan itu.
Sementara itu didalam kamar sang putri mahkota. Putri Medina Al-Akhmaar mendessah nikmat saat sang suami menyapu keseluruhan kulitnya dengan bibir dan jari-jarinya.
"Aaaaakh pangeran," putri Medina Al-Akhmaar menggigit bibirnya tak kuat menahan gelenyar aneh yang semakin kuat berlarian di dalam pembuluh darahnya. Terlalu nikmat. Sampai ia tumbang berkali-kali.
"Panggil aku ElRasyid tuan putri," bisik sang pangeran ketika ia sudah ingin berkunjung untuk yang pertama kalinya.
"Aaaaaakh El Ra Syid!" putri Medina Al-Akhmaar mencengkram kuat permadani lembut dibawah tubuhnya ketika bagian tubuh dari suaminya itu menghancurkan benteng pertahanannya.
🍀🍀🍀
Bersambung
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍