Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 51 Syukur Nikmat


__ADS_3

Abu Zubair tiba-tiba muncul di kamar itu setelah mendapat kabar dari para pelayan kalau istrinya sedang sakit dan diperiksa oleh seorang tabib.


Pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu menyaksikan sendiri tangan tabib menekan-nekan bagian bawah perut Zarah sang istri.


Dalam hati ia merasa sangat menyesal karena telah kesal pada perempuan yang telah dinikahinya itu beberapa hari ini. Kekesalannya karena sang istri tidak bersedia dan selalu menolak untuk disentuh.


Pantas saja Zarah selalu menolak dengan alasan sakit padahal sesungguhnya ia memang sedang sakit.


Ujarnya membatin dengan perasaan tak nyaman. Ia berjanji setelah putri Medina Al-Akhmaar dan tabib ini keluar dari kamarnya, ia akan meminta maaf pada sang istri.


"Ya sayyidah, sudah berapa lama anda tidak haid?" tanya tabib dengan tangan masih berada pada perut bagian bawah Zarah yang cukup keras.


Perempuan itu tidak menjawab. Ia nampak berpikir lama kemudian menjawab,


"Saya tidak ingat ya tabib, terakhir saya haid sewaktu istana merayakan kelahiran Baginda nabi Muhammad Saw. Saya ingat waktu itu tidak ikut masuk ke dalam Masjid." jawab Zarah dengan kening mengernyit.


"Itu berarti sudah 3 bulan Sayidah. Dan melihat tanda-tanda dari tubuh anda. Sepertinya anda sedang hamil."


"Be-benarkah ya tabib?" tanya Zarah binti Abdullah dengan wajah berubah gugup. Istri Abu Zubair itu berharap telinganya tidak salah dengar.


"Insyaallah benar ya Sayidah." jawab sang tabib yang langsung disambut ucapan syukur dari putri mahkota kerajaan AlHambra yang sedang menyaksikan sendiri tabib itu memeriksa.


"Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT." ucapnya seraya meraih tangan Zarah binti Abdullah dengan wajah bahagia.


"Alhamdulillah ya Allah." Abu Zubair yang berdiri tak jauh dari tempat itu mengucapkan kalimat yang sama dengan raut wajah tak kalah bahagianya. Ingin ia mendekati istrinya itu dan mengucapkan terimakasihnya tetapi ia berusaha bersabar dengan tetap berdiri di sana.


"Istirahat yang cukup ya Sayidah dan jangan melakukan sesuatu yang berat-berat dan berbahaya."


"Dan juga perbanyaklah memakan makanan yang bergizi. Minta pada suami anda tuan Abu Zubair untuk menyiapkan semuanya untuk anda. Dan ingat satu hal. Hati anda harus bahagia."


"Iya Tabib. Terimakasih banyak atas kebaikan hati anda."


"Sesungguhnya ini adalah tugas saya sebagai pelayan di kerajaan ini sayyidah. Jadi anda tidak perlu mengucapkan terimakasih." ucap sang tabib kemudian memohon izin pada putri mahkota Medina Al-Akhmaar untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah Zarah, adikku. Engkau akan merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu."


"Iya tuan putri. Saya sangat senang sekali. Tetapi saya tetap harus meminta maaf pada tuan Abu Zubair." ucap Zarah sembari menutup wajahnya malu.


"Baiklah Zarah, minta maaflah yang benar pada suamimu. Dan ingat kamu harus makan dulu supaya bayimu sehat dan kuat."


"Iya tuan putri. Terimakasih banyak."


"Aku permisi Zarah, kamu bisa istirahat yang cukup dan tidak perlu melayaniku."


"Bagaimana dengan pangeran Hasan dan Husain tuan putri?'


"Jangan pikirkan itu. Akan ada orang lain yang akan menjaga mereka. Lagi pula kedua pangeran itu sudah besar."


"Nah, sekarang waktunya aku kembali ke istana. Akan ada pelayan yang akan membantu dan mengurusmu Zarah."


"Terimakasih banyak tuan putri."


Putri Medina Al-Akhmaar pun meninggalkan kamar itu dengan hati bahagia. Ia bertemu dengan Abu Zubair di depan pintu lantas berucap.


"Selamat Abu Zubair, perlakukan Zarah dengan baik. Dan juga limpahkan ia dengan kasih sayang yang banyak."


"Insyaallah tuan putri. Terimakasih banyak." jawab pria itu dengan wajah menunduk hormat. Pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu pun melangkah mendekati ranjang tempat istrinya berbaring setelah putri mahkota meninggalkan kamar mereka.


"Zarah," panggilnya dengan suara bergetar menahan rasa bahagia di hatinya.


"Tuan," jawab istrinya dengan berusaha untuk bangkit dari posisinya. Seketika Abu Zubair langsung mendekati perempuan cantik itu untuk melarangnya bangun.


"Berbaringlah saja Zarah." istrinya pun kembali berbaring dengan tatapan tak lepas dari mata suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Maafkan aku tuan, karena selama beberapa hari ini tidak..." ucapannya tidak dilanjutkannya karena jari Abu Zubair sudah berada di bibirnya.


"Minta maaflah yang benar Zarah, karena aku sudah lama menantikannya." ucap Abu Zubair dengan tatapan penuh cinta pada sang istri. Ia juga ingin meminta maaf sekaligus berterima kasih dengan cara yang baik pada perempuan yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


"Tapi aku lapar tuan, aku belum makan seharian ini." jawab Zarah dengan wajah polosnya. Abu Zubair langsung tersenyum samar. Kepolosan sang istri inilah uang paling ia sukai dari seorang Zarah binti Abdullah.


"Akan ada makanan yang lezat yang akan diantar oleh pelayan kemari. Untuk sementara kamu bisa memakan ini terlebih dahulu." ujar pria sang suami sembari mendekatkan wajahnya pada sang istri tercintanya. Ia menyentuhkan bibirnya pada bibir sang istri dengan sangat lembut.


Bak orang haus dan lapar, Zarah menyambutnya dengan suka cita. Ia benar-benar menikmati pemberian suaminya itu sampai beberapa pelayan mengetuk pintu kamarnya barulah mereka berdua saling melepaskan.


Para pelayan khusus itu datang untuk mengantarkan banyak makanan yang bergizi atas perintah putri Medina Al-Akhmaar.


"Makanlah istriku, aku akan menemanimu di sini." ucap Abu Zubair sembari membantu istrinya itu untuk bangun pelan-pelan.


"Temani aku tuan," ucap Zarah sembari mengisi makanan pada satu piring kosong untuk suaminya tercinta. Abu Zubair hanya tersenyum. Ia tak pernah mau melepaskan tatapannya pada wajah istrinya yang masih nampak pucat itu.


"Makanlah juga tuan,"


"Terimakasih Zarah, kamu baik sekali."


"Eh?' Zarah memandang wajah suaminya dengan pandangan tanya.


"Kamu sangat baik karena mau mengandung anakku. Terima kasih banyak ya,"


"Anda terlalu berlebihan tuan. Aku yang harusnya berterima kasih karena anda mau membuat saya hamil hihihihi." ucap Zarah dengan tawa renyahnya. Wajah pucat dan mata sembabnya kini berubah menjadi cerah.


"Ya Allah, hahaha, kamu lucu sekali Zarah." untuk pertama kalinya pria itu tertawa terbahak-bahak di depan Istrinya. Mereka berdua tampak sangat bahagia. Mereka menikmati makanan itu dengan penuh rasa syukur.


Syukur yang tak terhingga pada Tuhan yang telah memberikan mereka kesehatan dan kesempatan menjadi orang tua atas bayi yang sedang dikandung oleh Zarah binti Abdullah sang istri.


🍀🍀🍀


Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2