Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 12 Pembalasan Yang Setimpal


__ADS_3

Thania dan Salma menangis dan memohon ampun di depan Khalifah Harun Al-Rasyid dan semua jajaran staf Istana.


Mereka berdua bersujud meminta ampun karena kedapatan mencampurkan racun pada makanan rakyat yang akan berobat pada acara pengobatan massal pada hari itu.


Medina binti Abu Hassan dan juga beberapa saksi dari para dokter yang hadir pada acara itu diminta untuk bersaksi. Mereka dibawah sumpah bahwasanya kedua perempuan itu adalah pelaku kejahatan yang telah berhasil membuat banyak orang keracunan.


Meskipun Medina merasa kasihan pada anggota keluarganya itu ia tetap harus berlaku adil. Dari semua saksi, semuanya memberatkan kedua orang itu yang berakhir harus dihukum mati.


Medina hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar mereka bertaubat sebelum mereka berdua dihukum dengan hukuman yang setimpal.


Sudah terlalu banyak penderitaan yang sudah mereka berdua torehkan pada ibunya dan dirinya sendiri.


Salma dan Thania tidak pernah lelah untuk mencelakainya bersama dengan sang Ibunda meskipun mereka sudah mendapat hukuman atas segala perbuatannya.


Hari ini Medina pulang ke rumahnya untuk menemui sang ibu. Pekerjaannya sudah selesai dan ia merasa sangat lelah. Ia rasanya ingin tidur bersama sang ibu tercinta.


"Assalamualaikum ibu," salamnya ketika masuk ke dalam rumahnya. Waktu itu Umayma sedang bersama dengan sang suami tercinta, Abu Hasan.


"Waalaikumussalam warahmatullahi. Kamu sudah pulang nak," jawab Umayma dengan wajah cerah. Sebuah kabar gembira ingin ia sampaikan pada putrinya tercinta.


"Ia ibu Alhamdulillah tetapi maafkan aku karena aku sangat lelah. Dan Aku ingin tidur terlebih dahulu." jawab Medina dengan mata yang sangat berat dan sulit untuk dibuka.


Tapi Umayma sepertinya sangat ingin menyampaikan sebuah kabar gembira sampai perempuan paruh baya itu mengikutinya sampai di dalam kamar putrinya.


"Kalau begitu katakanlah ibu, aku akan mendengarkanmu sambil berbaring." Medina menutup mulutnya karena ingin menguap.


"Tuan Ahmed Ameer sudah tidak sabar melaksanakan pesta pernikahan untukmu dengan putranya Medina. Ayahmu juga sudah setuju begitupun dengan ibu." ujar Umayma dengan nada gembira. Ia terus membicarakan kebaikan keluarga tuan Ahmed Ameer itu.

__ADS_1


"Medina, apa kamu masih mendengarkan Ibumu sayang?" tanyanya karena putrinya tidak merespon sama sekali.


Akhirnya perempuan paruh baya itu keluar dari kamar putrinya setelah menutup tubuh gadis cantik itu dengan selimut. Ia tidak menyadari kalau Medina Al-Akhmaar telah kembali ke istana kerajaan AlHambra di Andalusia.


Kerajaan AlHambra Andalusia tahun 1400 M.


Zarah yang selama beberapa hari ini menemani tidur panjang sang putri mahkota kini tersenyum gembira.


Jari-jari putri Medina Al-Akhmaar bergerak perlahan. Dan kemudian disusul oleh beberapa anggota tubuhnya yang lain juga ikut bergerak.


Pelayan itu menutup mulutnya untuk tidak berteriak bahagia. Segera ia mengirim pesan kepada pangeran ElRasyid di kerajaan Al Amin lewat pelayan kepercayaannya.


Abu Zubair yang selalu berjaga di depan kamar putri mahkota sejak dinyatakan tertidur panjang tanpa alasan yang jelas dengan cepat mengambil kudanya untuk segera keluar istana menuju kerajaan Al Amin.


Ia akan menyampaikan kabar gembira ini kepada pangeran ElRasyid selaku calon suami putri mahkota AlHambra.


"Benarkah yang kamu katakan itu Jasmine?" tanya ibunya tidak percaya. Pasalnya selama ini Abu Zubair tak pernah berpindah sedikitpun dari depan kamar putri mahkota meskipun ada gempa bumi sekalipun.


"Tentu saja benar ibu. Aku sendiri yang melihatnya pergi dengan terburu-buru."


"Kalau begitu ayo cepat ke sana, kita harus tahu apa yang terjadi di dalam kamar putri mahkota itu." timpal Permaisuri itu dengan ekspresi tak terbaca.


Kedua ibu dan anak itu pun segera melangkah ke arah kamar pribadi putri Medina yang selama ini tertutup untuk untuk mereka berdua.


Pangeran ElRasyid memerintahkan hanya Zarah sang pelayan pribadinya saja yang bebas keluar masuk dari kamar itu. Makanya ia membawa pengawal pribadinya untuk berjaga di sana.


"Bagiamana kabarmu putri?" tanya Zarah yang melihat putri mahkota itu memandangnya dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Zarah, dimana ibuku?" tanyanya sembari memandang seluruh kamarnya dengan pandangan bingung.


"Permaisuri Sabrina sudah meninggal beberapa tahun yang lalu putri," jawab Zarah dengan wajah menunduk.


"Ah tidak Zarah. Aku baru saja bertemu dengannya sebelum pergi tidur. Dan ini aku dimana?" Zarah hanya bisa terdiam dengan wajah khawatir dan bingung.


Apa dalam tidurnya putri Medina bertemu dengan ibunya?


Zarah binti Abdullah membatin sembari memperhatikan wajah putri Medina yang masih nampak pucat.


"Wahhh, putri kita sudah bangun rupanya. Kami mengira anda tidak akan pernah bangun putri," ujar putri Jasmine dengan senyum mencibir. Medina memandang dua orang itu dengan tersenyum miring.


"Aku akan bangun dan membuat kalian berdua yang akan tertidur panjang."


"Heh Kamu tidak gila kan?" tanya Permaisuri dengan lidahnya yang sangat tajam.


"Tentu saja tidak yang mulia permaisuri. Aku sangat baik saat ini. Tenaga dan semangatku sudah kembali."


Puteri Jasmine dan ibunya saling berpandangan. Mereka berdua yakin yang ada dihadapan mereka bukanlah Medina Al-Akhmaar.


🍀🍀🍀


Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2