
Hari berganti hari bulan berganti bulan. Tak terasa sudah dua tahun lebih usia putra-putra putri Medina Al-Akhmaar bersama pangeran ElRasyid Al-Hasan.
Dua pangeran kecil kerajaan AlHambra sudah lancar berjalan dan bahkan berlari.
Mereka berdua sudah pintar berbicara meskipun masih kurang jelas. Zarah binti Abdullah yang selalu mendampinginya semakin dilanda kesedihan. Keinginannya untuk memberikan seorang anak pada Abu Zubair belum juga terlaksana sampai ia sering melamun dan bahkan menangis sendiri.
Suatu hari pangeran Hasan melaporkan hal tersebut kepada sang ibu yaitu pada putri Medina Al-Akhmaar.
"Ibu, bibi Zarah suka menangis sendirian dan tidak mau bermain dengan kami lagi."
"Eh, kenapa bisa seperti itu wahai putraku. Kalian berdua tidak suka mengganggunya 'kan?"
"Tentu saja tidak ibu. Bibi Zarah mungkin sedang sakit."
"Ah iya itu mungkin saja terjadi. Dan sebaiknya kalian bermain sendiri saja. Jangan ganggu bibi Zarah ya."
"Iya ibu," jawab pangeran Hasan dan pangeran Husain seraya keluar dari ruangan dimana ibunya sedang membaca sebuah kitab.
Lama putri Medina Al-Akhmaar membolak-balik halaman kitab itu tetapi perhatiannya selalu teralihkan oleh laporan putra-putranya. Rasa khawatir akan keadaan pelayan pribadinya itu membuatnya menutup kitab yang sedang dibacanya.
Putri Medina Al-Akhmaar melangkahkan kakinya keluar ruangan itu dan mencoba mencari tahu apa sebenarnya masalah yang sedang melilit Zarah binti Abdullah itu.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Zarah," sapanya pada pelayan pribadinya itu yang sedang termenung di depan kolam Arrayyaan. Zarah tersentak kaget. Ia menoleh ke sumber suara dan langsung tersenyum. Air mata yang meleleh di pipinya cepat-cepat ia hapus.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh tuan putri."
"Maafkan saya karena tidak melihat anda." Zarah langsung berdiri dari duduknya dan menundukkan wajahnya hormat.
"Apa ada yang sedang terjadi Zarah? apakah tubuhmu sedang tidak sehat?" tanya putri Medina Al-Akhmaar sembari melangkah lebih dekat ke arah pelayannya itu.
"Ah tidak tuan putri. Saya baik-baik saja."
"Tapi kenapa matamu merah Zarah? apakah kamu sudah menangis?" putri Medina Al-Akhmaar terus memberondong berbagai pertanyaan pada perempuan cantik di hadapan itu.
"Saya hanya merasa sedikit pusing tuan putri. Tapi sekarang sudah baik-baik saja."
"Kalau begitu aku akan panggilkan kamu tabib, ia akan memeriksa keadaan tubuhmu." ucap putri mahkota itu sembari menarik tangan pelayan sekaligus adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Tuan putri tidak perlu repot-repot. Bagaimana dengan pangeran Hasan dan pangeran Husain. Siapa yang akan menjaga mereka tuan putri?" Zarah berusaha menolak karena tugasnya menjaga dua pangeran itu akan terbengkalai kalau ia mengikuti permintaan tuan putrinya.
"Zarah! ini perintah. Akan ada pelayan lain yang akan menjaga kedua pangeran itu. Jadi kamu tidak perlu khawatir." seru putri Medina Al-Akhmaar dengan tegas. Ia tahu kalau Zarah pasti sedang tidak sehat dan butuh istirahat yang banyak.
Zarah binti Abdullah akhirnya pasrah mengikuti kemauan tuan putrinya. Ia melangkah kearah kamarnya diantar oleh ibu dari dua pangeran Hasan dan Husain itu.
"Berbaringlah dan tunggu tabibnya datang. Aku akan disini bersamamu."
"Tapi tuan putri,"
"Zarah!"
"Iya tuan putri." lama mereka berdua terdiam karena tidak mempunyai bahan pembicaraan dan akhirnya istri dari Abu Zubair itu bangun dari posisinya dan memeluk tuan putri Medina Al-Akhmaar yang masih setia menemaninya menunggu kedatangan sang tabib.
"Tuan putri, hiks..." Zarah memanggil tuan putri Medina sembari menitikkan air matanya.
"Zarah ada apa? katakan apa yang terjadi? apakah Abu Zubair menyakiti hatimu?" Zarah menggelengkan kepalanya masih dengan tangisan diwajahnya.
"Tuan Abu Zubair sangat baik padaku tetapi aku yang tidak bisa membahagiakannya hiks."
"Tuan Abu Zubair sangat menginginkan anak dariku tetapi saya belum juga bisa memberikannya tuan putri, hiks." tubuh Zarah bergetar menahan tangisnya. Hatinya begitu sangat sedih dengan keadaan yang sedang menimpanya.
Putri Medina Al-Akhmaar menarik nafas dalam-dalam kemudian melepaskan pelukan perempuan itu. Ia menatap wajah cantik Zarah binti Abdullah yang sudah sangat sembab karena terlalu banyak menangis itu.
"Saya menolaknya akhir-akhir ini tuan putri dan saya jadi takut karena mungkin ia akan semakin kecewa dan meninggalkan saya, huaaaa." Zarah kembali menangis dengan sangat keras.
Perasaan sesal semakin mencekam hatinya. Karena ia cukup stress dan tertekan dengan masalah keturunan, ia jadi sering mengaku sedang sakit dan tidak lagi mau melayani suaminya di ranjang. Hubungan mereka berdua jadi sangat dingin sekarang ini.
"Astagfirullah Zarah, sesungguhnya perbuatanmu itu sangat berlebihan dan salah. Kamu tidak takut akan ancaman dari Tuhan?"
"Saya menyesal tuan putri dan sekarang saya tidak mau tuan Zubair meninggalkan saya karena belum mempunyai anak huaaaa." Zarah semakin tidak bisa menahan rasa sedih dihatinya.
*Assalamualaikum warahmatullahi tuan putri," seorang tabib yang sudah lama ditunggu akhirnya muncul di dalam kamar itu.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh ya tabib. Masuklah dan tolong periksa kesehatan Zarah."
"Baik tuan putri."
__ADS_1
"Silahkan ya sayyidah berbaring." ucap sang tabib meminta istri dari pengawal kerajaan AlHambra itu untuk berbaring.
"Saya tidak perlu diperiksa tuan putri. Saya hanya ingin meminta maaf pada tuan Abu Zubair." ucap perempuan itu sembari meremas kepalanya yang terasa sangat berat.
"Zarah! dengarkan perintahku."
"Tapi tuan putri, kepalaku terasa pusing bukan karena sakit tetapi terlalu banyak menangis."
"Zarah!"
"Iya tuan putri, Saya akan patuh pada anda." ucap perempuan itu dan mulai membaringkan tubuhnya dengan tenang. Tetapi kemudian ia n bangun lagi karena seluruh ruangan ia rasakan berputar dengan keras dan membuatnya mual.
"Ueeeekkk, ya Allah kenapa ruangan ini terasa berputar." ucapnya sembari berusaha menutup matanya.
"Ueeeekkk,"
"Ya ampun Zarah, kamu benar-benar sedang sakit." putri Medina Al-Akhmaar sudah menampakkan wajah khawatirnya.
"Tabib, lakukan sesuatu."
"Iya tuan putri." tabib itu segera memberikan obat berupa minyak yang ia sapukan ke seluruh tubuh perempuan yang sudah nampak pucat itu.
"Apakah anda makan tadi pagi ya Sayidah?" Zarah menggelengkan kepalanya lemah.
"Anda mungkin masuk angin, sekarang saya ingin meminta izin memeriksa perut anda." ucap sang tabib meminta izin.
"Iya tabib. Silahkan saja lakukan yang terbaik untuk Zarah." ucap putri Medina Al-Akhmaar memberi izin. Sebenarnya ia bisa saja mengobati pelayannya itu dengan ramuan yang ia biasa buat tetapi untuk saat ini ia ingin menyaksikan sendiri tabib kerajaan memberikan pelayanan terbaiknya untuk sang sahabat.
Tabib itu mulai membuka pakaian yang sedang digunakan oleh Zarah binti Abdullah dan mulai memeriksa perut perempuan itu dan menekan-nekannya.
🍀🍀🍀
Bersambung
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1