Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 27 Gelombang Dahsyat


__ADS_3

Pangeran ElRasyid Al-Hasan segera menutup pintu kamarnya dan meraih tangan istrinya untuk duduk di atas ranjang mereka.


Pangeran tampan itu membingkai wajah cantik putri Medina Al-Akhmaar dengan kedua telapak tangannya yang besar.


"Tuan putri kenapa lama sekali? Aku menunggu anda sangat lama seperti orang bodoh di sini." wajah tampan pangeran ElRasyid Al-Hasan nampak sangat menggemaskan bagi putri Medina Al-Akhmaar.


"Ya Allah, maafkan aku suamiku yang sangat tampan." ucap putri sembari mencium pipi pangeran ElRasyid Al-Hasan kiri dan kanan.


"Aku tadi ada masalah dalam perjalanan ke kamar ini pangeran."


"Masalah apa? apakah tentang penyakit batuk Zarah pelayan pribadi anda?"


"Bukan. Ini tentang putri Jasmine yang sangat membuatku kesal dan marah."


"Katakan apa yang diperbuat adik anda itu tuan putri?"


"Ia berani membicarakan hal yang buruk tentang ibuku dan aku sangat tidak suka. Bahkan ia berani mengatakan hal yang sangat buruk tentang pengawal anda Abu Zubair." wajah putri Medina Al-Akhmaar yang putih berubah warna menjadi merah karena rasa emosi yang memancar dari dalam hatinya.


"Lalu apa yang terjadi tuan putri?" pangeran ElRasyid Al-Hasan semakin tertarik dengan kisah yang disampaikan oleh istrinya itu. Ia sendiri sudah merasa jengah dengan tingkah laku putri Jasmine yang sepertinya sengaja ingin mendekatinya dengan maksud tertentu.


"Aku membuatnya jatuh ke dalam kolam Arrayyaan dan aku tahu ia tidak bisa berenang hihihi." putri Medina Al-Akhmaar tertawa cekikikan dengan ulahnya itu hingga membuat pangeran ElRasyid Al-Hasan juga ikut tertawa.


"Bagus. Sekali-kali adik anda perlu mendapatkan pelajaran penting seperti latihan berenang secara gratis hahaha." jawab pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari meraih tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.


"Aku rindu sekali padamu tuan putri," bisiknya dengan sangat lembut dikuping sang istri tercinta. Putri Medina Al-Akhmaar tersenyum dan merasakan Hatinya menghangat.


Selain Zarah pelayan pribadinya, sekarang ia sudah dekat kembali dengan ayahnya dan juga mempunyai suami yang akan menjadi sahabatnya, teman berbagi rasa sedih dan bahagia. Tak terasa airmatanya mengalir kembali.


"Kenapa anda menangis sayangku?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan tatapan penuh perhatian pada istrinya. Jari-jarinya bergerak menghapus bulir-bulir bening itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Aku bahagia sekali pangeran. Aku bersyukur kepada Allah SWT yang memberiku banyak kasih sayang. Terima kasih banyak karena mau menikahiku." jawab putri Medina dengan sesenggukan. Tubuhnya bergetar di dalam pelukan suaminya.


"Aku yang banyak bersyukur karena tuan putri bangun dari tidur panjang anda dan mau menerimaku."


"Benarkah aku tertidur lama pangeran?" putri Medina Al-Akhmaar melepaskan dirinya dari pelukan sang suami dan menatap mata elang itu lekat-lekat.


"Iya tuan putri. Anda tidur sampai berbulan-bulan lamanya. Sudah banyak tabib yang datang untuk mengobati anda tetapi tak kunjung berhasil."


"Dan apakah itu karena anda sangat membenciku waktu itu? dan menolak perjodohan ini tuan putri?" putri Medina Al-Akhmaar terdiam. Dahinya mengernyit berusaha mengingat apa yang pernah terjadi padanya beberapa bulan yang lalu.


Bayangan kota Baghdad Irak, Universitas Nizamiyyah dan juga perpustakaan Baitul Hikmah berkelebatan dalam kepalanya.


Seorang perempuan paruh baya yang ia sangat sayangi disana tersenyum sangat lembut dengan senampan panganan Qatayef yang masih hangat dan menguarkan aroma susu dan rasa vanilla.


"Ibu..." ujarnya tanpa sadar. Air mata kembali keluar dari kelopak matanya.


"Tuan putri, ada apa? katakan padaku apa aku menyakiti perasaan anda?"


"Aku benci diriku yang lemah ini. Maafkan aku pangeran." ucapnya disela-sela tangisnya.


"Tidak apa-apa menangislah. Dengan menangis perasaan tuan putri pasti akan lebih baik." Pria tampan itu mengelus lembut punggung istrinya dengan memberikan ucapan-ucapan yang menenangkan sampai ia tidak sadar kalau mereka berdua cukup lama dalam posisi itu.


Putri Medina Al-Akhmaar tertidur di dalam buaiannya. Dengan pelan dan hati-hati ia menidurkan istrinya dengan posisi yang sangat nyaman kemudian membuka Khimar yang menutup kepala sang tuan putri.


"Istirahatlah belahan jiwaku. Tuan putri pasti sangat lelah." bisik pangeran ElRasyid Al-Hasan kemudian mengecup lembut kelopak mata yang masih tampak basah dengan sisa-sisa air mata itu.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan berdiri dari duduknya kemudian melangkah ke kamar mandi tempat ia sudah menyiapkan bak mandi untuk berendam dengan sang istri tercinta.


Pria tampan itu mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat dua rakaat. Membaca beberapa ayat suci Al-Quran kemudian membuka kitab-kitab koleksi istrinya disebuah lemari buku.

__ADS_1


Pangeran ElRasyid Al-Hasan terkenal ahli dalam ilmu tata kota dan pemerintahan tetapi ia tidak ingin berhenti belajar.


Lama ia duduk di sebuah kursi malas yang mungkin selalu digunakan oleh sang putri mahkota untuk membaca kitab selama ini.


Pria cerdas itu tidak menyadari kalau ia sudah berjam-jam membaca dengan sangat serius sampai putri Medina Al-Akhmaar datang padanya dan memeluknya dari belakang.


"Astagfirullah. Semoga Allah memaafkanku. Aku tidak melihat tuan putri ada disini." pangeran ElRasyid Al-Hasan tersentak kaget dengan kehadiran istrinya yang secara tiba-tiba itu.


"Ah ya Allah, aku mengangetkan anda pangeran. Maafkan aku. Anda terlalu serius membaca."


"Kemarilah tuan putri." pangeran ElRasyid Al-Hasan mencium kitab karangan ilmuwan Al Farabi itu kemudian menyimpannya di atas meja. Setelah itu ia meraih tangan istrinya yang terasa sangat dingin dan mendudukkannya diatas pangkuannya.


"Anda sangat cantik tuan putri dan sangat segar serta harum." Hidung pangeran ElRasyid Al-Hasan mengendus pipi dan leher istrinya dengan penuh cinta dan rindu.


"Aku sudah mandi pangeran. Dan maafkan aku karena tidak mengajak anda." putri Medina Al-Akhmaar menutup matanya merasakan sensasi yang sangat nikmat pada tubuhnya.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan bukan cuma mengendus lehernya tetapi juga menghisapnya dengan sangat lembut.


"Ya Allah, tubuh anda sangat nikmat tuan putri hmmm," putri Medina Al-Akhmaar merasakan suara bisikan suaminya bagaikan dawai-dawai yang sangat syahdu ditelinganya.


Tangan besar pangeran ElRasyid Al-Hasan sudah mulai mengelus lembut punggung sang putri mahkota dengan penuh irama. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan pandangan mata berkabut hasrat.


Perlahan bibir mereka berdua saling bertaut dengan perasaan yang membuncah. Tangan putri Medina Al-Akhmaar meremas rambut sang pangeran sedangkan pangeran ElRasyid Al-Hasan menekan tengkuk istrinya semakin dalam.


Tubuh mereka berdua bergetar hebat dan tak bisa lagi mengendalikan gelombang hasrat yang semakin besar menghantam pertahanan keduanya.


🍀🍀🍀


Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan tahan nafas 🤭😍


__ADS_2