
"Zarah, bangun istriku," panggil Abu Zubair dengan wajah khawatir. Pria itu berusaha membuat istrinya sadar dengan menepuk-nepuk pipi perempuan itu dengan lembut.
"Zarah, maafkan aku istriku." Abu Zubair meraup wajahnya kasar. Sungguh memalukan kalau kejadian di malam istimewa ini tersiar keluar kamar. Ia yang mempunyai tubuh yang sangat kuat karena sering ditempa oleh latihan keras ternyata membuat istri tercinta tidak sadarkan diri.
Dengan cepat ia memakai pakaiannya kembali dan mengambil air dan memercikkannya ke wajah Zarah yang sangat pucat itu.
"Hmmmpt," perempuan cantik yang sudah ia nikahi itu mulai merespon. Tubuhnya ia gerakkan kemudian membuat matanya.
"Zarah, kamu sudah sadar istriku?" pelayan pribadi putri Medina Al-Akhmaar itu tersenyum meskipun dengan wajah memucat.
"Alhamdulillah ya Allah. Aku sangat khawatir Zarah. Dan sesungguhnya ketakutanku ini lebih dari saat aku menghadapi seorang musuh di dalam medan perang."
"Maafkan aku tuan. Itu karena aku belum makan sama sekali dan juga anda sangat kuat. Aku kira seluruh tubuhku akan anda koyak-koyak."
"Ya Allah Zarah. Aku tidak mungkin melakukan itu padamu istriku. Kamu sangat istimewa. Tidak mungkin aku menghancurkan tubuhmu yang sangat indah dan nikmat ini."
"Tapi tubuh anda tuan. Itu sangat besar dan aku merasakan bagian bawahku robek dan hancur." Zarah dengan otak polosnya memandang wajah suaminya dengan tatapan ngeri.
"Astagfirullah. Maafkan aku Zarah." ucap Abu Zubair dan mulai membuka kembali kaki istrinya lebar-lebar tetapi perempuan itu bertahan untuk tidak membukanya.
Perempuan itu malu sekaligus takut. Suaminya yang mempunyai tubuh tinggi tegap dan besar itu benar-benar akan mengoyaknya lagi dan lagi.
"Tidak apa Zarah, aku hanya akan mengobatimu." ucap Abu Zubair dengan rasa khawatir yang teramat sangat di wajahnya.
"Kamu tahu Zarah, sejak mengawal pangeran ElRasyid Al-Hasan aku selalu siap sedia. Baik itu tenaga, waktu, dan obat untuk sang pangeran. Makanya itu aku harus kuat untuk selalu melindunginya. Jadi jangan heran kalau aku begitu kuat juga padamu."
"Maafkan aku sayangku, aku terlalu sering bekerja dengan cara kasar dan aku terlambat menyadari kalau kamu tidak sekuat aku." Abu Zubair terus berbicara dan memandang wajah istrinya hingga Zarah tidak menyadari kalau ia sudah berhasil membuka kaki dan paha Istrinya lebar-lebar.
Abu Zubair memandang istana istrinya yang sangat indah itu nampak membengkak. Ia lantas berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Tuan mau kemana? jangan tinggalkan aku sendiri?'" tangannya ditarik agak kasar oleh Zarah sang istri. Abu Zubair tersenyum menenangkan.
"Aku hanya ingin mengambil kain dan air hangat untuk membuatmu lebih nyaman."
Tak lama kemudian pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu duduk di atas tempat tidur dan melakukan perawatan khusus pada tubuh sang istri.
"Eh? Anda tidak perlu repot-repot seperti itu tuan." Zarah berusaha menolak. Tapi Abu Zubair memaksanya dengan terus berusaha melakukan tugasnya sebagai suami.
"Sesungguhnya aku sangat malu tuan. Aku yang seharusnya melayani anda." Zarah menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Sifat pelayannya kembali menguasai dirinya. Ia ingin melayani sang suami sesuai keyakinannya meskipun ia mungkin sedang tidak sanggup.
"Jangan seperti itu Zarah. Istri itu bukanlah pelayan bagi suaminya. Dan Aku diperintahkan untuk mempergauli istriku dengan baik sesuai perintah Allah SWT." perempuan itu terharu. Tanpa sadar cairan bening keluar dari pelupuk matanya.
Ia tidak menyangka kalau ia yang hanya seorang pelayan akan diperlakukan sangat istimewa seperti ini oleh seorang pria yang sudah menjadi suaminya.
"Kita akan mengulanginya lagi Zarah, dan aku pastikan tidak akan sakit lagi." ucap Abu Zubair dengan tatapan sendu pada wajah sang istri. Zarah mengangguk meskipun ketakutan menerpa kembali dirinya.
"Kamu harus santai Zarah," bisiknya lembut ditelinga sang istri tercinta dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang bisa menenangkan sekaligus membuatnya nyaman untuk membuka diri kembali.
"MasyaAllah Zarah, ini sungguh berbeda. Kamu memberiku surga sayang..." Abu Zubair terus meracau nikmat tanpa henti memuji kekuasaan Allah yang menciptakan kenikmatan dunia seperti ini.
Zarah hanya tersenyum bahagia dengan berusaha menahan untuk tidak ikut meracau. Untuk kunjungan kedua ini ia sudah merasa lebih baik meskipun rasa perih dan sakit itu masih ada.
Sementara itu di dalam kamar sang putri mahkota.
Putri Medina Al-Akhmaar sedang bersandar di dada bidang sang pangeran tampan berdarah Quraish itu dengan senyum diwajahnya.
"Pangeran, apa menurut anda Abu Zubair akan melakukan tugasnya malam ini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan dari maslahat kerajaan yang sedang mereka bahas berdua.
__ADS_1
"Tuan putri, tidak benar sayangku memikirkan pria lain sedangkan anda mempunyai seorang suami yang sangat tampan di samping anda."
"Astagfirullah maafkan aku suamiku. Bukan maksud aku untuk memikirkan yang seperti itu. Abu Zubair itu hanya milik Zarah binti Abdullah."
"Lalu apa yang ingin anda tahu, Hem?" goda pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari mengelus lembut perut sang putri mahkota.
"Ah tidak. Aku hanya merasa jadi pengantin baru lagi saat mengingat mereka berdua. Semoga saja Zarah tidak pingsan pangeran, hihihihi."
Putri Medina Al-Akhmaar tiba-tiba tertawa cekikikan mengingat tubuh mungil pelayannya itu yang tidak biasa melakukan hal-hal yang berat dan kini berhadapan dengan tubuh besi Abu Zubair.
"Ya Allah, tuan putri. Otak anda harus aku cuci sekarang juga." pangeran ElRasyid Al-Hasan langsung memindahkan tangannya dari perut sang istri kebagian atas dimana ada dua benda kenyal lembut yang juga sedang menunggu untuk disentuh.
"El Ra Syid... aaaakh," pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum saat nama itu keluar dari bibir istrinya. Hal itu menunjukkan kalau sang putri sedang sangat menikmati apa yang sedang ia berikan padanya.
Malam ini sang pangeran ingin membuat istrinya merasakan jadi pengantin baru lagi seperti apa yang dialami oleh pengawal setianya, Abu Zubair dan istrinya Zarah binti Abdullah.
Di luar sana, bulan tampak sangat cerah dengan sinarnya yang begitu terang menyinari bukit La Sabica.
Suasana kerajaan AlHambra pada malam itu begitu syahdu dengan banyaknya kebahagiaan yang hadir di dalam hati seluruh rakyat.
Tak terkecuali pasangan-pasangan yang sedang memadu kasih dengan kekasih halal mereka. Begitu luas ciptaan Tuhan dan begitu banyak nikmat yang telah diberikanNya pada setiap hamba yang Bersyukur.
🍀🍀🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1