
Putri Jasmine dan beberapa pengawalnya sedang mencari keberadaan permaisuri Hindun yang tidak ia temui di mana-mana.
Rencananya untuk melakukan kudeta dan kekacauan di dalam istana ingin ia laksanakan sebelum prajurit-prajurit terbaik kerajaan AlHambra kembali dari medan perang.
"Dimana permaisuri kerajaan ini?!" tanyanya pada para pengawal pribadi ibunya yang sedang berjaga di depan kamar itu.
"Mohon maaf tuan putri. Kami rasa permaisuri masih berada di dalam kamarnya." jawab pengawal itu sembari menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya akan masuk dan jangan biarkan seorang pun untuk masuk ke kamar ini. Siapa pun itu!"
"Baik tuan putri."
Putri Jasmine segera memasuki kamar pribadi ibunya untuk melaporkan kalau semua persiapannya sudah selesai tinggal menunggu perintah dari sang ibu yang akan menjadi ratu di kerajaan ini jika semuanya berhasil.
"Ibu, semua prajurit sudah bersiap di depan gerbang istana. Mereka siap menyerang dan merebut kerajaan ini jika ibu sudah memberi perintah." lapor putri Jasmine pada seorang perempuan yang sedang duduk membelakanginya.
"Ibu, katakan secepatnya. Apa kita akan memulainya sekarang juga?" tanyanya lagi karena permaisuri Hindun tidak memberi respon apa yang sedang disampaikannya.
Sepi, tidak ada jawaban.
Dengan rasa khawatir dan penasaran ia mendekati ibunya dan meraih bahunya.
"Ibu?"
"Hai putri Jasmine?!" seketika tubuh putri Jasmine membeku karena perempuan yang sedang duduk itu membalikkan badannya dan menatap putri Jasmine dengan seringai diwajahnya.
"Putri Medina Al-Akhmaar?! Dimana permaisuri Hindun? Dan kenapa anda yang berada di kamar pribadi ibuku?" dengan menahan emosinya Puteri Jasmine menunjuk wajah putri mahkota kerajaan AlHambra itu dengan tangannya.
"Tenangkan dirimu putri Jasmine adikku sayang. Ibumu yang sangat kamu cinta itu sedang baik-baik saja dan juga sedang menunggumu."
"Katakan dimana ibuku?! Atau aku akan memerintahkan para prajurit itu untuk menyerang kerajaan ini sekarang juga."
"Sabar tuan putri Jasmine yang sangat baik." Jangan terburu-buru. Karena sesungguhnya pekerjaan yang dilakukan tanpa persiapan yang matang biasanya akan rapuh dan tidak berhasil."
Nampak putri kedua dari raja Lukman Al-Akhmaar itu mengepalkan tangannya disamping tubuhnya. Ia sudah tidak sabar menyerang putri mahkota itu dengan tangannya sendiri.
"Aku tidak habis pikir kenapa anda dan ibu anda yang terhormat itu ingin melakukan kejahatan yang sangat besar seperti ini?"
"Anda lahir dan besar di negara ini. Semua kebaikan dan kemewahan anda dapatkan sebagai putri kerajaan besar di Andalusia. Tetapi kenapa anda tidak bersyukur tuan putri?"
__ADS_1
"Karena aku tidak suka kalau anda yang.akan melanjutkan pemerintahan di kerajaan ini putri mahkota?!"
"Aku membencimu dan tidak rela hidup bersama denganmu!" putri Jasmine dengan gerakan cepat langsung menyerang kakak tirinya itu dengan tangannya.
Hiyaaaa
Bugh
Putri Medina Al-Akhmaar sudah sangat waspada dan hati-hati sejak kedatangan gadis itu di dalam kamar permaisuri Hindun.
Dengan gesit ia menahan tangan putri Jasmine dan memutarnya ke belakang punggungnya.
"Awwww lepaskan aku! pengawal!" putri Jasmine terus berteriak keras agar pengawal yang berjaga di depan pintu kamar itu segera masuk dan menolongnya.
Bugh
"Awwww!" putri Jasmine berteriak keras karena tubuhnya didorong sangat keras oleh putri Medina Al-Akhmaar ke atas lantai.
"Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi putri Jasmine?! aku mencintai negaraku. Dan tak akan kuizinkan orang seperti kamu mau menghancurkannya."
"Tanah air ini harus dijaga karena perjuangan para pendahulu yang berjuang membangun kerajaan ini hingga bisa sejahtera dan kuat sampai sekarang!"
"Aaawww!" putri Jasmine kembali berteriak keras karena kakinya ditekan oleh ujung pedang putri Medina Al-Akhmaar. Darah segar mengucur dari kulitnya yang mulus dan putih.
"Tidak semudah itu putri Jasmine. Kamu harus mempertanggung jawabkan kesalahanmu ini di depan hakim kerajaan. Kamu adalah penghianat negara. Hukumanmu adalah hukuman mati."
"Tidak!" putri Jasmine berusaha untuk bangun dan memohon dengan sangat baik tetapi tangannya masih ditancapkan ujung pedang nan tajam putri mahkota kerajaan itu.
"Ampuni aku dan ibuku putri. Kami siap menjadi pelayan pribadimu jika maaf itu Anda berikan." putri Medina Al-Akhmaar tersenyum miring.
"Aku sudah pernah memaafkanmu putri Jasmine. karena waktu itu pribadiku yang kamu serang tetapi sekarang, kamu dan ibumu sangat berbahaya untuk negara dan kerajaan. Hukumanmu bukan hanya sekedar dimaafkan."
Plak!
Sekali lagi putri Medina Al-Akhmaar memberi tamparan keras pada pipi adik tirinya itu.
Kesabarannya sungguh berbatas. Ia sudah sangat lelah dengan orang yang tidak pernah bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik meskipun sudah diberikan banyak kesempatan.
"Pengawal! bawa tawanan ini ke penjaga bawah tanah sekarang juga!" titahnya pada para pengawal yang sedang berjaga di depan pintu kamar itu.
__ADS_1
"Ampun tuan putri. Jangan penjarakan aku." Putri Jasmine terus memohon saat ia diseret oleh para pengawal untuk dibawa ke penjara bawah tanah.
Putri Medina Al-Akhmaar menutup mata dan telinganya. Ia tidak ingin terpengaruh oleh teriakan permohonan ampun saudara tirinya itu.
"Selamat tuan putri!" ucap Raja Lukman Al-Akhmaar yang tiba-tiba muncul di depan putri mahkota kerajaan AlHambra itu.
Rupanya ia sudah lama menyaksikan bagaimana putrinya yang dilahirkan oleh istri pertamanya itu menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam kerajaan.
"Assalamualaikum warahmatullahi paduka raja," salamnya dengan wajah menunggu.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh tuan putri mahkota." jawab raja Lukman Al-Akhmaar dengan senyum diwajahnya.
"Kemarilah putriku. Kamu sudah membuktikan di depan mata kepalaku sendiri kalau kamu pantas menjadi pelanjut pemerintahan di kerajaan ini kedepannya." putri Medina Al-Akhmaar tersenyum kemudian memeluk ayahnya.
"Apakah ayah sudah lama berada di dalam kamar ini?" tanya putri Medina sembari menatap wajah sang paduka raja.
"Iya putriku. Aku takut kalau putri Jasmine menyerangmu padahal engkau sedang membawa dua bayi kembar."
"Terimakasih banyak ayah atas perhatianmu tetapi sesungguhnya aku sudah tahu sifat Jasmine yang pengecut itu.Dan aku sudah mempersiapkan diri dengan baik."
"MasyaAllah. Aku sangat gembira melihatmu bisa membongkar kejahatan mereka berdua. Aku sangat menyesal karena dulu termakan fitnah mereka. Dan ibumu yang jadi korban." raja Lukman Al-Akhmaar berucap dengan wajah sendu.
Rasa sesal karena tidak membahagiakan permaisuri Sabrina kembali menyeruak dalam hatinya yang paling dalam.
"Sudahlah ayah, semua yang lalu biarlah menjadi pelajaran untuk kita semua. Dan jangan sampai. mempercayai fitnah dari orang-orang seperti mereka."
"Iya putriku. Ini semua akan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak gampang mempercayai fitnah dan cerita yang buruk dari orang lain sebelum ada bukti dan saksi yang bisa dipercaya."
"Iya ayah, sekarang kita harus mempersiapkan diri melawan sekutu permaisuri Hindun yang sudah siap menyerang kerajaan kita."
"Iya, putriku. Sekarang kita harus meminta sisa prajurit yang masih bertahan di dalam kerajaan untuk menyambut serangan mereka dengan sangat baik."
"Baiklah. Sekarang kita berangkat ke Ambajadores untuk mengadakan pertemuan penting."
"Iya ayah." putri Medina Al-Akhmaar taat pada perkataan ayahnya. Mereka berdua pun keluar dari kamar itu dan segera mengumpulkan prajurit dan panglima perangnya yang bersiap di dalam Istana.
🍀🍀🍀
Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍