
"Tuan putri mau makan apa?" tanya Zarah binti Abdullah sang pelayan ketika rombongan mereka sudah menginjakan kaki di Sevilla atau kota Andalusia.
"Aku ingin makan makanan yang katanya sangat terkenal di kota ini Zarah."
"Apa itu tuan putri? akan kami sediakan."
"Yaitu seni flamenco dan makan tapas. Pasti akan sangat enak sekali." jawab putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah membayangkan tampilan makanan khas Andalusia itu.
"Bagaimana mana dengan pangeran ElRasyid Al-Hasan tuan putri? apakah ia ingin Makan sesuatu juga?"
"Akan aku tanyakan pada pangeran ElRasyid Al-Hasan, Zarah. Ia mau makan apa dicuaca yang sangat panas ini." ucap putri Medina Al-Akhmaar kemudian melangkah mendekati pangeran ElRasyid Al-Hasan yang sedang duduk tak jauh dari dirinya.
"Mohon maaf pangeran, anda ingin makan apa sebelum kita kembali melanjutkan perjalanan ke istana AlHambra?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan senyum diwajahnya.
"Boleh aku minta sesuatu yang istimewa tuan putri?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan balas tersenyum. Sebuah rencana yang sangat menarik berkelebat di dalam pikirannya.
"Katakan saja pangeran. Insyaallah akan aku kabulkan asal tidak terlalu berat dan juga tidak merepotkan pelayan." Pria tampan itu tidak menjawab dan berharap sang putri cantik itu penasaran dengan keinginannnya.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan sangat memaklumi keadaan mereka saat ini yang sedang dalam perjalanan ke istana AlHambra dari kota Cordoba.
Temperatur musim panas di Andalusia diketahui bisa mencapai 45ΒΊC. Pada suhu sepanas itu semua orang bisa kehilangan banyak energi dan mengidam-idamkan sesuatu yang dapat menyegarkan tubuh.
"Katakan pangeran apa yang anda inginkan." putri Medina Al-Akhmaar tampaknya memang sangat penasaran dengan kemauan suaminya.
"Bolehkah aku meminta tuan putri berendam bersamaku saat ini? kurasa itu adalah solusi terbaik sebelum memakan Gazpacho." semburat merah tiba-tiba muncul di wajah putri Medina Al-Akhmaar.
Ia tak pernah membayangkan pangeran ElRasyid Al-Hasan memikirkan akan berendam bersama di tengah perjalanan mereka pulang dari Cordoba.
"Bagaimana tuan putri? apa anda bersedia?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari meraih dagu putri Medina Al-Akhmaar yang menunduk karena malu.
"Sesungguhnya aku juga ingin pangeran, tetapi aku sedang tidak suci dan juga tidak ingin merepotkan semua pelayan kita." jawabnya dengan perasaan tidak enak hati. Hampir seminggu pernikahan mereka tetapi ia belum memberikan hak suaminya padanya.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum maklum. Ia ingin sekali meraih bibir merah sang istri saat itu juga tetapi ia berusaha menahannya karena ada banyak pelayan yang sedang mengiringi mereka saat ini. Bagaimana pun juga mereka berdua harus menjaga sikap.
"Baiklah, aku mengerti tapi tuan putri maukan berjanji padaku saat kita kembali ke istana, anda mau mengabulkan keinginanku ini?" putri Medina Al-Akhmaar tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum lebar seperti anak kecil yang sedang dijanjikan sebuah mainan jenis baru.
"Alhamdulillah. Kalau begitu aku ingin Gazpacho."
Gazpacho adalah salah satu hidangan Granada yang paling dikenal dunia.
Hidangan ini berupa sup dingin, yang terkadang juga disebut dengan salad cair, sehingga banyak disajikan di musim panas.
Terdapat banyak variasi gazpacho di seluruh dataran Spanyol dan juga Portugal, tetapi yang paling dikenal adalah gazpacho regional Andalusia terutama kota Sevilla dan Cordoba.
Bahan-bahan utamanya adalah air, roti, tomat, bawang putih, mentimun, cabe merah, garam, minyak zaitun, dan vinegar atau cuka anggur. Tomat dan cabe lah yang membuat warna gazpacho menjadi merah.
"Baiklah pangeran aku akan menyampaikan keinginanmu pada Zarah." ucap putri Medina Al-Akhmaar dan berniat meninggalkan pangeran ElRasyid Al-Hasan untuk memberi tahu pelayannya agar meneruskannya pada kepala pelayan bagian dapur.
Tetapi sebelum pergi tangannya cepat diraih oleh sang suami.
"Aku ingin berdua denganmu tuan putri sebelum makanan itu siap." pipi putih sang putri kembali berubah warna.
"Iya pangeran. Aku akan menyiapkan waktuku untukmu." tangan putri Medina Al-Akhmaar dilepaskan oleh sang pangeran agar bisa segera meminta semua pelayan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar yang terbuat dari tenda itu.
"Baik tuan putri, saya dan yang lainnya akan menunggu di luar."
Putri Medina Alkmaar lalu kembali menghampiri tempat suaminya yang sedang duduk di atas sebuah ranjang.
"Duduklah tuan putri." putri Medina Al-Akhmaar menurut. Ia duduk disamping sang pangeran yang langsung meraih tangannya dan mengecupnya lembut.
"Boleh aku meminta satu hal lagi?" mata elang pangeran ElRasyid Al-Hasan serasa menembus jantung Putri Medina Alkmaar. Putri Medina Al-Akhmaar menunduk karena tidak kuat dengan tatapan mata suaminya.
"Kita bisa bersenang-senang meskipun tuan putri belum suci," bisik pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan sangat lembut di sela-sela rambutnya yang terurai panjang.
Putri Medina Al-Akhmaar terlambat menyadari kalau jarak mereka berdua sudah sangat dekat. Rupanya pangeran ElRasyid Al-Hasan bukan cuma ahli pedang dan berkuda tetapi ahli juga dengan gerakan cepat.
Putri Mahkota kerajaan AlHambra itu menutup matanya merasakan belaian lembut tangan besar suaminya di pipinya yang kemudian berhenti di bibirnya yang terbuka.
Sebuah rasa yang tak pernah dirasakannya sebelumnya kini menyerangnya dengan sangat indah dan nikmat ketika bibir sang pangeran mengulumnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
Ia tanpa sadar meremas rambut suaminya itu dengan keras karena tak mampu menghalau rasa baru yang ia rasakan.
Sepekan pernikahan mereka pangeran ElRasyid Al-Hasan berusaha menahan diri dengan hanya menyentuh tangan dan bagian-bagian lain dengan ciuman kecupan biasa.
Tetapi kali ini pria berdarah Quraish itu sepertinya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia seperti musafir dari perjalanan yang sangat jauh dari gurun pasir Sahara. Cuaca panas di luar sana membuatnya sangat kegerahan.
Dengan cepat ia membuka pakaiannya dan juga pakaian Putri Medina Al-Akhmaar.
"Apa yang akan anda lakukan pangeran?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan suara bergetar menahan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu.
"Aku sangat haus tuan putri. Aku ingin meminum yang banyak dari sumber yang diberkahi, hemmmm," pangeran ElRasyid Al-Hasan segera melahap habis dua sumber nutrisi yang terpampang indah indahnya.
Tangan putri Medina Al-Akhmaar bergerak tak karuan pada rambut tebal suaminya karena tidak bisa membendung perasaan yang teramat indah dan nikmat yang ia rasakan. Ia berusaha menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suaranya dessahan.
Bayangan-bayangan para pengawal di luar tenda mereka berdua membuatnya tak bebas mengekspresikan diri dan perasaannya.
Para pengawal itu berdiri di setiap penjuru tenda untuk berjaga melindungi pangeran ElRasyid Al-Hasan dan tuan putri Medina Al-Akhmaar yang sedang beristirahat di dalam tenda itu.
"Pangeran, hentikan Aaaaaakh," putri Medina Al-Akhmaar berbisik dengan suara tertahan ditengah-tengah buaian sang suami pada tubuhnya.
"Tidak tuan putri, aku masih sangat haus sayangku." pangeran ElRasyid Al-Hasan sekarang mengganti lagi kebagian satunya agar lebih adil menurutnya.
"Pelayan akan segera datang pangeran Aaaaaakh," putri Medina Al-Akhmaar menggigit bibirnya keras dengan tangan menjambak rambut sang suami yang benar-benar sangat kehausan.
"Mereka tidak akan berani masuk selama Abu Zubair ada di depan sana tuan putri. Ini baru perkenalan sayangku," bisik pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari mengunyah dan mengulum sesuatu dari tubuh putri Medina Al-Akhmaar tanpa mau melepaskannya.
"MasyaAllah pangeran..." tubuh putri Medina Al-Akhmaar melorot ke atas tempat tidur karena sudah tidak sanggup menahan serangan-serangan yang diberikan oleh sang pangeran. Ia pasrah. Semuanya ia berikan dari dirinya kecuali satu hal yang penting karena ia sedang tidak suci.
πππ
Bersambung
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1