Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 39 Perang Bergolak


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu Zarah?" tanya putri Medina Al-Akhmaar saat gadis itu sudah berhasil membuat Abu Zubair merasakan masakan tangannya sendiri.


Pelayan muda itu tersenyum malu kemudian menjawab, "Tuan Abu Zubair mengatakan kalau ia masih ingin nambah tuan putri."


"MasyaAllah, artinya lidahnya sangat bisa menilai makanan dengan baik. Kamu ternyata memang pintar memasak Zarah."


"Terimakasih banyak tuan putri. Tapi yang saya lihat tuan Abu Zubair mungkin hanya ingin menyenangkan hatiku saja. Makanan ini belumlah terlalu sempurna tuan putri."


"Eh, jangan merendahkan dirimu seperti itu Zarah. Aku juga sudah mencobanya bersama dengan pangeran ElRasyid Al-Hasan. Dan kami berdua menyatakan kalau Qatayef buatanmu tidak kalah dengan buatan ibu Umayma.


"Tuan putri selalu menyebut nama itu, Bibi Umayma itu siapa? apa saya pernah bertemu dengannya di dalam istana ini?'


"Ibu Umayma adalah ibuku di Baghdad."


"Eh, maaf tuan putri. Setahu saya tuan putri belum pernah ke Baghdad. Apa anda sedang berhalusinasi?" putri Medina Al-Akhmaar terdiam. Ia juga merasa sangat heran dengan kata-katanya.


"Aku pernah ke Baghdad Zarah, dan juga bertemu dengan Khalifah Harun Al-Rasyid begitupula istrinya sayyidah Zubaidah." Zarah mengernyit semakin bingung. Akhir-akhir ini putri mahkota yang sedang hamil itu sering sekali menyatakan hal-hal yang diluar nalarnya.


"Mohon maafkan saya tuan putri. Tapi selama saya bersama dengan anda di kerajaan ini anda belum pernah pergi meninggalkan Andalusia terlalu jauh sampai ke Baghdad."


"Dan juga Khalifah Harun Al-Rasyid sudah lama meninggal tuan putri."


"Zarah, kamu meragukan aku ya?" tanya tuan putri itu sembari mengunyah sisa Qatayef yang ada di atas mejanya.


"Ah tidak tuan putri. Saya mana mungkin meragukan anda. Apa mungkin ibu hamil kembar bisa berhalusinasi ke zaman lampau?" Zarah berusaha menggali pengalaman yang pernah ia pelajari tetapi sepertinya otak kecilnya tidak sampai menjangkaunya.


"Ah sudahlah Zarah. Jangan dipikirkan apa yang aku katakan. Nanti kepalamu jadi pusing."


"Iya tuan putri. Saya benar-benar suka pusing kalau memikirkan cerita anda yang tidak masuk akal."


"Sekarang pikirkan saja persiapan pernikahanmu karena calon suamimu itu sudah tidak sabar menikahimu Zarah."


"Ya Allah, apa mungkin secepat itu? tuan Abu Zubair saja tidak mengatakan apapun padaku tuan putri. Saya takut kecewa."


"Pria itu tidak harus mengatakannya langsung Zarah. Sudah cukup Abu Zubair memintamu memasak untuknya dan ia suka. Itu sudah sangat jelas kalau ia menginginkanmu."


"Benarkah tuan putri? lalu apa yang harus saya persiapkan?" Zarah merasakan dadanya berdebar kencang. Bibirnya tak berhenti berkedut karena rasa bahagia yang membuncah.

__ADS_1


"Rawat dirimu Zarah, seperti engkau biasa melakukannya untukku. Berikan persembahan terbaik pada pengawal pangeran ElRasyid Al-Hasan itu." wajah gadis muda itu berubah menjadi kemerahan. Ia begitu malu membayangkan akan bersanding dengan sang pengawal tampan.


"Aku akan mengajarimu bagaimana membuat suamimu bahagia Zarah." bisik putri Medina Al-Akhmaar dengan senyum menggoda diwajahnya dan alhasil membuat wajah Zarah semakin memanas.


"Terimakasih banyak tuan putri, anda sungguh baik sekali."


"Aku menganggapmu sebagai adikku Zarah. Apa pun akan kulakukan untuk kebahagiaanmu." putri mahkota itu memeluk tubuh pelayannya dengan rasa bahagia.


Zarah semakin merasa terharu. Tidak pernah ia mendengar ada seorang putri kerajaan mau memperlakukan pelayannya seperti saudara sendiri.


🍀


Persiapan pernikahan Zarah binti Abdullah dan Abu Zubair sudah hampir memasuki tahap terakhir.


Permaisuri Umi Kalsum dari kerajaan Al Amin itu sangat menginginkan agar anak angkatnya itu juga merasakan pesta yang meriah meskipun ia hanya seorang pengawal istana.


Karena sesungguhnya sang permaisuri tidak ingin membedakan antara putranya sendiri dengan Abu Zubair yang bukan merupakan anak kandungnya. Ia menginginkan yang terbaik untuk pengawal putranya itu.


Tetapi berita yang ia dengar hari ini membuatnya bersedih hati. Beberapa Kerajaan kecil di sekitar Kerajaan AlHambra saat ini bersatu untuk menyerang kerajaan merah itu.


Peperangan pun tak bisa dihindarkan. Pangeran ElRasyid Al-Hasan sebagai panglima perang kerajaan Al Amin harus turun tangan membela dan mempertahankan kerajaan AlHambra.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan menciumi seluruh permukaan wajah sang istri begitupun perutnya yang sudah sangat besar itu.


"Doakan aku kembali dengan selamat," pamit pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan senyum diwajahnya. Ia tidak boleh menampakkan wajah khawatir pada sang istri.


"Allah SWT bersamamu pangeran. Dan putra-putra kita menginginkan anda pulang dengan membawa kemenangan." ujar putri Medina Al-Akhmaar sembari membantu suaminya memasang jubah besinya.


Tak ada rasa khawatir didalam mata tajam putri Medina Al-Akhmaar. Ia bertawakal kepada Allah SWT.


"Doamu menyertaiku istriku. Insyaallah aku akan membawa Kemenangan."


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." pangeran ElRasyid Al-Hasan keluar dari kamarnya dengan langkah tegap. Diikuti oleh langkah Abu Zubair dibawah pandangan mata penuh harap Zarah binti Abdullah.


Dua kerajaan besar itu bersatu padu melawan kerajaan-kerajaan itu. Mereka mengerahkan segala kekuatan atas perintah panglima perang pangeran ElRasyid Al-Hasan.

__ADS_1


Berhari-hari mereka berada di Medan perang untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Islam yang selam berabad-abad menguasai Eropa dan semenanjung Granada.


Pemimpin dan prajurit Islam yang kuat, ulet, cakap, berani, kompak, bersatu dan  percaya diri dalam menghadapi setiap masalah membuat mereka berhasil memenangkan peperangan itu.


Lokasi kerajaan AlHambra yang berada di atas bukit menjadikan posisinya yang sangat strategis dan sulit untuk diserang dan dilumpuhkan.


Ajaran Islam yang disebarkan oleh  tentara Islam adalah toleransi, persaudaraan dan gotong royong. Sehingga beberapa kerajaan Kristen pun ikut membantu.


Sementara itu di kerajaan AlHambra. Putri Jasmine dan ibunya berusaha melakukan kekacauan di dalam Istana. Mereka berdua berusaha mencari sekutu dari kerajaan Islam lainnya untuk menghancurkan kerajaan AlHambra dari dalam.


Itikad buruk itu sudah tercium oleh putri mahkota Medina Al-Akhmaar yang masih berada di dalam kerajaan sebagai benteng pertahanan di dalam Istana.


"Apa yang ingin anda lakukan Permaisuri?" tanya putri Medina Al-Akhmaar saat mendengar kabar kalau istri dari paduka raja Lukman Al-Akhmaar itu sedang merencanakan hal yang buruk bagi kerajaan.


"Aku ingin mengambil alih tahta ini putri mahkota!" jawab permaisuri Hindun dengan senyum mencibir. Sebentar lagi beberapa orang kepercayaannya akan datang dan menguasai kerajaan.


Dengan gerakan cepat putri Medina Al-Akhmaar mencabut pedangnya dari sarungnya. Saat ini ia sudah menggunakan pakaian perang untuk melindungi kandungannya.


"Aaaaakh. Lepaskan aku Medina!" teriak permaisuri Hindun seraya berusaha mendorong tubuh putri Medina Al-Akhmaar agar bisa melepaskan dirinya dari mata pedang yang sedang menempel rapat di lehernya itu.


"Bergerak sedikit saja, anda akan terluka permaisuri." ucap putri Medina Al-Akhmaar dengan seringai diwajahnya.


"Anda tahu hukuman untuk penghianat 'kan?"


"Aaakh... lepaskan aku!" permaisuri terus berteriak karena sisi tajam pedang itu benar-benar membuat darah segar keluar dari lehernya.


"Tak akan aku lepaskan sampai hukuman yang pantas anda dapatkan!" geram putri Medina kemudian memerintahkan pengawalnya untuk membawa permaisuri ke penjara bawah tanah.


"Hukuman anda akan ditentukan setelah semua prajurit pulang berperang, jadi nikmatilah dinginnya Penjara bawah tanah!"


🍀


Bersambung.


Hai readers tersayangnya Othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2