Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 54 Berita Gembira


__ADS_3

"Aaaaargh..." Zarah meremas pinggangnya dan mendesis kesakitan di tengah malam yang sangat dingin itu. Sakit dan nyeri ia rasakan seakan mampu membuat tubuhnya bagaikan dicabik-cabik.


"Tuan Abu Zubair, bangun. Perutku sangat sakit." Zarah memanggil-manggil suaminya supaya segera bangun dan menolongnya.


Abu Zubair tersentak dan segera bangun dari posisinya. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya kemudian menarik nafas panjang.


"Ada apa Zarah, apa ada masalah istriku?" tanyanya dengan wajah khawatir. Ia bisa melihat bulir-bulir keringat keluar dari seluruh pori-pori kulit sang istri.


"Perut bagian bawahku sangat sakit tuan, Aaaaargh." jawab Zarah sembari mencengkram kuat permadani lembut yang menjadi alasnya tidur.


"Ya Allah, apa karena aku terlalu memaksa kamu berolah raga Zarah?" tanya sang suami dengan wajah sangat khawatir. Zarah binti Abdullah menggelengkan kepalanya keras sembari menghembuskan nafasnya lewat mulutnya.


"Aku tidak tahu tuan. Tapi sungguh ini sangat sakit Aaaargh." Zarah kembali mendesis tertahan. Abu Zubair semakin panik melihat kondisi istrinya yang sangat menyedihkan itu.


Sifat Abu Zubair yang terkenal sangat tenang itu kini sudah tidak tampak. Kekhawatiran yang sangat tinggi pada perempuan yang sedang mengandung bayinya itu membuatnya langsung memeriksa seluruh tubuh istrinya itu layaknya seorang dokter.


"Berbaringlah istriku, aku akan memeriksa keadaanmu." ucapnya dengan suara berusaha tenang.


"Tapi ini sangat sakit tuan, tolong panggilkan tabib untuk menolongku." ucap Zarah dengan suara gemetar. Air mata perempuan cantik itu meleleh dipipinya dengan sangat deras.


"Aku tidak yakin ada tabib yang masih terjaga di jam seperti ini Zarah? saat ini kita sedang berada sepertiga malam."


"Lalu siapa yang akan menolongku tuan, aaaargh sakit." Zarah terus mengeluh sembari meremas pinggangnya yang ia rasakan seperti akan patah.


"Apa mungkin kamu akan melahirkan sayangku?" tanya Abu Zubair sembari membuka kain yang sedang menutupi bagian bawah istrinya itu.


"Oh tidak. Aku takut tuan, aku takut melahirkan." Zarah merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia semakin panik dengan mendengar kalau ia akan melahirkan. Ada banyak kisah yang pernah ia dengar tentang sakitnya melahirkan.


"Tuan aku takut, aku takut melahirkan Aaaaaakh sakit." Abu Zubair semakin bingung dengan tingkah istrinya yang takut menghadapi peristiwa melahirkan sedangkan sekarang ini ia sudah berada pada fase itu.


"Zarah, dengarkan aku istriku. Semua perempuan hamil pasti akan merasakan yang namanya melahirkan. Jadi sekarang tarik nafas lewat hidung dan buang lewat mulutmu ya?"


"Tidak, tidak, aku takut tuan." ujar Zarah menggeleng sembari mengikuti petunjuk dari suaminya.

__ADS_1


Huuuft Aaaaaa


Huuuft Aaaaaa


"Nah seperti itu Zarah, aku tahu kamu calon ibu yang pintar sayang," ucap Abu Zubair tersenyum sembari memeriksa keadaan jalan lahir istrinya.


"Apa yang anda lakukan tuan?" tanya istrinya karena tersentak kaget merasakan tangan suaminya membuka lebar-lebar pahanya kemudian memeriksa jalan lahirnya.


"Aku sedang memeriksamu Zarah," jawab sang suami yang berusaha semakin membuka pintu lahir itu.


"Anda bukan tabib tuan, aku takut." Zarah berusaha menutup kedua pahanya tetapi sang suami berusaha terus membukanya.


"Sewaktu ada perang di kerajaan Al Amin. Aku pernah melihat seorang ibu yang dibantu melahirkan di saat genting seperti itu Zarah. Jadi, aku sedikit tahu cara membantu orang melahirkan."


"Aaaargh, sakit lagi tuan, huaaaa." Zarah kembali merasakan rasa sakit datang lagi menyerang setelah beristirahat sekitar 5 menit.


"Kalau kamu merasakan sakit tarik nafas saja seperti tadi ya," ucap Abu Zubair sudah berubah menjadi seorang tabib pribadi untuk istrinya sendiri.


"Aaaargh," Zarah terus menerus merintih kesakitan dan tak lama kemudian bayi perempuan benar-benar lahir atas bantuan Abu Zubair, suaminya sendiri.


"Oeeeek Oeeeek Oeeeek," suara bayi perempuan itu melengking dengan sangat kerasnya. Tangisannya cukup membuat keriuhan disepinya waktu yang sudah hampir subuh hari itu.


Sementara Abu Zubair mengurus istrinya, Lamat-lamat terdengar suara panggilan sholat dari Bilal di dalam Masjid dalam kompleks istana kerajaan itu.


"MasyaAllah, terimakasih banyak istriku, kamu sudah berhasil melahirkan bayi kita yang sangat sehat dan cantik."


"Berikan padaku tuan, aku ingin melihatnya." ucap Zarah sembari merentangkan tangannya untuk meraih bayi mungil yang sudah dibalut selimut oleh Abu Zubair. Pria yang bertindak menjadi suami dan juga seorang tabib.


Abu Zubair menyerahkan bayi perempuan itu untuk dilihat lebih istrinya setelah mengazaninya.


Pria itu baru melaksanakan sholat subuh setelah tubuh istrinya sudah sangat bersih dan bisa ditinggalkan.


"Assalamualaikum warahmatullahi Abu Zubair," sapa pangeran ElRasyid Al-Hasan pada pengawalnya yang baru tiba di dalam masjid itu saat semua orang sudah pulang.

__ADS_1


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh,tuan."


"Apa ada hal yang terjadi sampai kamu terlambat ikut sholat berjamaah?'


"Mohon maafkan saya tuan. Saya akan sholat dulu barulah saya akan menceritakan penyebab saya terlambat untuk sholat berjamaah."


"Ah iya Abu Zubair. Aku akan menunggumu sampai selesai." jawab pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan senyum diwajahnya lantas mengambil mushaf Al-Qur'an dan membacanya bersama dengan 2 orang putra kembarnya.


Tak lama kemudian, sang pengawal pun telah selesai menghadapkan laporan ibadahnya pada sang sang khalik. Setelah berzikir sebentar ia pun mendatangi halaqah pangeran ElRasyid Al-Hasan.


"Alhamdulillah. Zarah, istriku telah melahirkan seorang bayi perempuan tuan." ucap Abu Zubair saat pangeran ElRasyid Al-Hasan menunggunya menceritakan sebab musabab dia terlambat.


"Alhamdulillah. Selamat Abu Zubair. Engkau sekarang sudah menjadi seorang ayah. Lalu bagaimana keadaannya sekarang ini?"


"Alhamdulillah. Zarah dan bayi kami sehat pangeran. Aku sendiri yang membantunya melahirkan karena takut mengganggu waktu tidur para tabib istana."


"MasyaAllah, itu adalah hal yang luar biasa Abu Zubair. Kamu benar-benar hebat." pangeran ElRasyid Al-Hasan langsung memeluk tubuh pengawalnya itu dengan rasa haru dan bangga berlipat-lipat.


Sesungguhnya ia belum pernah mendengar tentang seorang laki-laki yang membantu persalinan seorang ibu. Apalagi Abu Zubair bukanlah seorang Tabib.


"Selamat paman. Itu artinya, kami berdua akan mempunyai seorang teman bermain yang baru." ucap pangeran Hasan dengan diangguki oleh pangeran Hussain.


"Ah iya, terimakasih banyak pangeran atas ucapannya. Dan sekarang saya akan cepat kembali ke kamar. Saya ingin melihat keadaan istri dan putriku."


"Ya, pergilah. Aku juga akan memberi tahu putri Medina Al-Akhmaar. Aku yakin ia pasti sangat senang dengan kabar baik ini."


"Ayo pangeran Husain dan Hasan, kita akan memberitahu ibu kalian."


"Iya Ayah." jawab mereka berdua kompak. Ketiganya pun menyimpan mushaf Al-Qur'an yang telah mereka baca dan segera keluar dari Masjid itu.


🍀


Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2