
"Assalamualaikum warahmatullahi istriku tersayang," sapa pangeran ElRasyid Al-Hasan dipagi yang masih buta itu.
Pria berdarah Quraish itu baru saja melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid istana dengan membawa putra-putranya ikut serta.
Dua orang pangeran tampan dan cerdas sedang ikut bersamanya membangunkan sang ibunda yang masih bermalas-malasan di atas ranjangnya.
"Ibu, bangun. Matahari sudah bersinar terang diluar sana." panggil pangeran Hasan pada ibunya. Putri Medina Al-Akhmaar perlahan membuka kelopak matanya kemudian tersenyum pada tiga pria tampan yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Apakah ibu sudah sholat subuh?" kali ini Pangeran Husain yang bertanya kepada sang ibu.
"Ibu tidak bisa sholat wahai putra-putra kesayangan ibu."
"Tapi Kenapa ibu?" bukankah semua makhluk wajib beribadah kepada Allah SWT?" tanyanya lagi dengan wajah penasaran.
"Karena ibu sedang tidak boleh sholat wahai putra-putra ibu yang tercinta. Ibu sekarang sedang sakit."
"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun, ibunda sakit?" kedua pangeran kecil itu langsung berhamburan ke atas tempat tidur dan bersamaan menyentuh kening putri Medina Al-Akhmaar.
"Tubuh ibu kenapa tidak panas?" tanya salah satu dari mereka lagi setelah menyentuh kening dan juga leher sang putri mahkota.
Putri Medina Al-Akhmaar tersenyum kemudian menjawab,
"Perempuan seperti ibu biasanya setiap sebulan sekali sakit seperti ini dan karena hal itu ibu jadi tidak boleh sholat atau melakukan beberapa ibadah lainnya."
"Oh, tapi kenapa harus perempuan saja ibu?"
"Karena perempuan itu spesial sayang, ia mempunyai satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh laki-laki."
"Hah? kelebihan apa itu ibu?" pangeran Husain tampak kebingungan dengan penjelasan putri Medina Al-Akhmaar sedangkan ayahnya pangeran ElRasyid Al-Hasan hanya bisa tersenyum melihat daya ingin tahu putranya yang begitu besar.
"Apakah ia lebih hebat dalam bermain pedang?" tanya pangeran Hasan sembari memandang wajah sang ibu yang sudah mulai bangun dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjangnya.
"Atau lebih hebat dalam membaca kitab suci?" lanjut pangeran Husain.
"Kelebihannya bukan seperti itu wahai putraku yang tampan."
__ADS_1
"Lalu kelebihan dalam hal apa ibu?" sepertinya rasa penasaran kedua pangeran itu benar-benar membuatnya terus bertanya dan meminta jawaban yang sangat memuaskan.
"Kalian bisa melihat bibi Zarah saat ini 'kan?" tanya balik putri Medina Al-Akhmaar. Kedua pangeran kecil itu saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Tentu saja ibu, bibi Zarah sekarang memiliki perut yang besar dan katanya sedang mengandung bayi kecil di dalam perutnya hihihi." jawab pangeran Husain cekikikan.
"Nah itu dia, bibi Zarah dan ibu serta semua perempuan di dunia ini mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh para pria seperti kalian berdua. Hanya perempuan yang bisa mengandung bayi kecil di dalam perutnya." jelas putri Medina Al-Akhmaar dengan senyum diwajahnya.
"Hamalathu ummuhu wahnan ala wahnin, dialah ibu yang mengandung dalam keadaan payah diatas payah, ada dalam surat Lukman yang sering ayah bacakan, ingat kan sayang?" pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum kemudian menambahkan jawaban sang istri tercinta.
"Nah, seperti itulah perempuan, ia sangat istimewa karena diberikan oleh Allah nikmat untuk menjadi seorang ibu. Begitupun sakit yang sedang diderita oleh ibu kalian berdua."
"Oh begitu? jadi aku dan pangeran Husain tidak bisa memiliki perut besar seperti bibi Zarah ibu?" putri Medina Al-Akhmaar dan juga pangeran ElRasyid Al-Hasan tertawa mendengar pertanyaan pangeran Hasan.
"Saat besar nanti kalian berdua pasti akan lebih paham. Untuk itu teruslah belajar anakku. Masih banyak lagi rahasia alam yang akan kalian tahu dengan banyak belajar."
"Iya ibu, ayah. Kami akan rajin belajar agar jadi anak pintar."
"MasyaAllah. Semoga kalian berdua sehat selalu dan bisa menjadi duta ilmu pengetahuan di kemudian hari anak-anakku." putri Medina Al-Akhmaar segera meraih dua putranya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah ayah, kami akan rajin juga berolah raga." ujar pangeran Hasan kemudian melompat dari atas tempat tidur sang ibu.
"Karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Al aqlu Salim filjismi Salim." balas pangeran Husain dengan wajah gembira dan ikut juga melompat dari atas ranjang itu.
"Assalamualaikum warahmatullahi ibu. Kami akan berolahraga setelah itu ibu juga harus mandi supaya lebih cantik lagi."
Putri Medina Al-Akhmaar hanya bisa tersenyum dengan melihat tingkah putra-putranya itu.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Kalian berlatih yang bagus ya."
"Iya ibu." jawab mereka berdua kompak. Pangeran ElRasyid Al-Hasan mengecup kening sang istri kemudian mengikuti langkah kedua putranya yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Di depan pintu kamar itu sang pengawal setia Abu Zubair menyambut kedua pangeran kecil itu dengan wajah gembira.
"Assalamualaikum warahmatullahi paman Abu Zubair," sapa keduanya dengan wajah tak kalah senang.
__ADS_1
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh pangeran tampan."
"Bagaimana kabar bibi Zarah paman?"
"Alhamdulillah baik pangeran Hasan."
"Ingat paman, bibi Zarah adalah perempuan istimewa karena telah mengandung bayi kecil di dalam perutnya, jadi paman harus selalu sayang padanya."
"Eh?" Abu Zubair nampak sangat bingung dengan putra dari tuannya itu yang tiba-tiba berubah jadi sangat dewasa dalam berucap.
"Paman dengar kan?"
"Eh iya pangeran. Saya mendengarnya dan akan menjaga bibi Zarah dengan baik."
"Itu bagus sekali paman. Dan sekarang ayo kita pergi berlatih pedang agar sehat dan kuat." Abu Zubair tersenyum kembali. Ia merasa berminat karena kedua pangeran kecil ini tiba-tiba jadi sangat berbeda pagi ini.
"Kamu tidak perlu bingung Abu Zubair. Saat anakmu lahir nanti maka akan kamu temukan dia akan berbicara dan kadang memberi kita pertanyaan yang diluar nalar."
"Eh iya pangeran. Saya sudah melihatnya sendiri pada putra-putra anda. Mereka sangat cerdas."
"Semoga saja kecerdasan mereka berdua diiringi oleh Adab yang baik Abu Zubair."
"Insyaallah tuanku. Kita semua akan mendoakannya. Karena ilmu tanpa adab akan seperti kendaraan tanpa pengemudi." pangeran ElRasyid Al-Hasan menepuk pundak pengawalnya dengan wajah bahagia.
"Semoga anakmu lahir dengan selamat dan tumbuh sehat Abu Zubair."
"Terimakasih banyak pangeran atas do'anya. Saya sudah tidak sabar menimang anakku sendiri."
Mereka berdua melangkah ke arah ruangan tempat latihan olahraga. Dimana pangeran Hasan dan Husain sudah lama menunggu.
🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍