
Pagi pun menjelang. Matahari bersinar begitu cerah dari atas bukit La Sabica. Kerajaan AlHambra yang tampak merah itu semakin cantik dengan kilauan sang surya hari itu.
Semua makhluk tak berhenti berhenti bertasbih penuh syukur atas nikmat Tuhan yang begitu banyak pada alam raya ini. Begitupun bagi dua makhluk ciptaan Tuhan yang sedang memadu kasih di atas pembaringan pagi itu.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan dan putri Medina Al-Akhmaar rasanya belum merasa puas dengan apa yang mereka lakukan semalaman.
Meskipun lelah mendera tubuh mereka tetapi sang pangeran tak berhenti merayu dan merajuk bagaikan seorang bayi yang sedang membutuhkan kasih sayang yang sangat banyak dari sang ibu tercinta.
Panglima perang kerajaan Al Amin itu menjadi sangat garang di Medan pertempuran tetapi saat berada pada posisi menyerang istana indah sang putri mahkota, ia berubah menjadi singa lapar yang sangat lembut dan pandai merayu.
"MasyaAllah, anda minum ramuan apa sampai sangat kuat seperti ini pangeran?" tanya putri Medina Al-Akhmaar saat mereka berdua kembali tumbang dengan keringat bercucuran disekujur tubuhnya.
"Apa anda ingin tahu rahasianya tuan putri?" pangeran ElRasyid Al-Hasan mengatur nafasnya yang masih belum normal setelah perjalanannya yang cukup menguras tenaga.
Putri Medina Al-Akhmaar tersenyum kemudian menyapu keringat suaminya dengan selembar sapu tangan miliknya dan mencium dada berbulu halus itu dengan lembut. Ia paling suka bagian tubuh dari pangeran ElRasyid Al-Hasan itu.
"Aku tidak perlu ramuan tuan putri. Kelezatan tubuh anda yang membuatku tak bisa berhenti. Anda adalah anugrah terindah yang aku dapatkan dalam hidupku."
"Terimakasih banyak pangeran. Aku hanya ingin meminta satu hal pada anda."
"Katakan tuan putri, insyaallah akan aku kabulkan." pangeran ElRasyid Al-Hasan mencium kening putri Medina Al-Akhmaar dengan lembut.
"Sesungguhnya aku tidak sanggup berbagi cinta pangeran jadi kumohon untuk tidak menduakan aku. Dan Jika nanti anda ingin menikah lagi maka lepaskan aku dan kembalikan aku pada ayahku." putri Medina Al-Akhmaar melepaskan rengkuhannya pada tubuh pangeran dari kerajaan Al Amin itu dan menatapnya meminta jawaban.
Pangeran tampan itu tersenyum kemudian meraih kembali perempuan cantik yang sangat dicintainya itu ke dalam pelukannya lalu berucap,
"Insyaallah aku tidak akan pernah berniat untuk membagi cinta anda tuan putri. Hatiku dan ini hanya milik anda seorang." tangan pangeran ElRasyid Al-Hasan membawa tangan istrinya ke bagian bawah tubuhnya untuk menunjukkan kepemilikan perempuan itu pada dirinya seutuhnya.
"Ah, ya Allah. Hihihi," putri Medina Al-Akhmaar langsung tertawa cekikikan dengan aksi suaminya itu yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Hey ada yang lucu tuan putriku sayang? jangan tertawa seperti itu. Anda membuatnya bangun lagi."
"Oh tidak. Aku sekarang perlu makan. Tubuhku sangat lelah pangeran." Pria tampan itu langsung bangun dan menggendong tubuh sang putri ke kamar mandi.
__ADS_1
"Apa kita akan mandi bersama lagi pangeran?" tanya sang putri ketika tubuhnya diletakkan kembali kedalam air yang sudah penuh dengan kembang dan juga susu.
"Aku kan sudah mengatakannya tuan putri kalau ini akan menjadi ritual kita setiap selesai bercinta." putri Medina Al-Akhmaar menutup wajahnya karena merasa pipinya menghangat.
Kata "Bercinta" yang diucapkan oleh suaminya membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda didalam hatinya.
"Tapi kita hanya akan mandi saja kan pangeran? aku lapar sekali." putri Medina Al-Akhmaar tak bisa membayangkan kalau suaminya meminta lagi saat berada di bawah air seperti semalam.
"Ya tentu saja tuan putri. Percayalah padaku."
Dan mereka berdua benar-benar hanya mandi saja tanpa melakukan hal-hal yang sangat ekstrim dan memacu adrenalin.
Di luar sana di depan pintu kamar mereka. Zarah sudah tampak gelisah dan khawatir. Gadis itu mondar-mandir di depan para pengawal dan juga pelayan hingga Abu Zubair menegurmya karena lelah dengan tingkah gadis itu.
"Zarah!"
"Eh iya tuan."
"Bisakah kamu menunggu dengan tenang?"
"Kamu tidak perlu khawatir Zarah, ada pangeran ElRasyid Al-Hasan di dalam bersamanya. Aku yakin tuanku sangat tahu cara membuat tuan putri nyaman."
"Tapi ini sudah siang. Saya yakin tuan putri sudah sangat lapar. Ini sudah lewat waktu sarapannya tuan Zubair."
Mereka berdua saling berdebat sampai tidak sadar kalau Pangeran ElRasyid Al-Hasan sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang sangat segar dan berkilau tampan.
"Masuklah Zarah, tuan putri menunggumu di dalam."
"Baik tuan." Zarah binti Abdullah memasuki kamar sang putri mahkota dengan menundukkan kepalanya.
"Assalamualaikum tuan putri. Selamat siang."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh Zarah. Aku tahu kalau ini sudah siang jadi kamu tidak perlu mengatakannya."
__ADS_1
"Maafkan saya tuan putri. Anda kenapa tampak lebih cantik dari biasanya?" Zarah menatap wajah putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah takjub. Rona merah di pipi sang putri sangat jelas terlihat.
Wajah Putri Mahkota AlHambra itu memancarkan aura kecantikan khas pengantin baru yang sudah melaksanakan separuh agama.
"Jangan menatapku seperti itu Zarah." putri Medina Al-Akhmaar merasa sangat malu dengan tatapan pelayan pribadinya itu melalui kaca yang ada dihadapannya. Gadis itu sedang mengeringkan rambut sang putri mahkota yang masih sangat basah.
"Astagfirullah tuan putri. Kulit anda kenapa?" Zarah binti Abdullah berteriak karena panik melihat leher jenjang sang putri berwarna merah keunguan.
"Ada apa Zarah?" pangeran ElRasyid Al-Hasan yang mendengar teriakan pelayan pribadi istrinya itu langsung mendatangi mereka berdua.
"Saya minta maaf pangeran. Karena di dalam kamar ini mungkin terdapat nyamuk atau binatang kecil sehingga kulit tuan putri jadi seperti ini." pelayan itu seperti biasa akan merasa bersalah jika ada hal buruk yang terjadi pada tuan putrinya.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan segera memeriksa leher istrinya dan tersenyum samar. Ia menatap istrinya yang juga sedang menunggu konfirmasi dari pelaku utama kulit merah keunguan dilehernya itu.
"Zarah, kamu tidak perlu khawatir. Tuan putri tidak apa-apa. Aku yang akan mengobatinya."
"Terimakasih banyak tuan. Tapi saya tetap akan memeriksa kebersihan kamar ini. Maafkan saya yang tidak becus bekerja."
"Zarah, kamu tidak perlu melakukannya. Kamar ini sangat bersih. Tanda-tanda merah ini pasti karena ulah seseorang." putri Medina Al-Akhmaar menatap suaminya dengan pandangan penuh cinta.
"Ya Allah, Itu berbahaya sekali tuan putri. Saya rasa tuan Abu Zubair perlu menangkap orang itu."
"Zarah! aku lapar. Berhentilah membahas hal ini. Suatu saat kamu juga pasti akan mendapatkan tanda yang seperti ini jika sudah menikah."
"Hah?" pelayan pribadinya itu mengernyit bingung.
🍀🍀🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya.
Like dan komentarnya dong agar aku semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍